
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kata-kata ini sudah cukup sering didengar orang. Banyak alasan seseorang yang pada akhirnya harus meninggalkan orang yang mereka sayangi. Seperti keluarga, kekasih hingga sahabat.
Setiap kesedihan mengajarkan diriku untuk tegar. Aku merelakan hati untuk diproses menjadi dewasa. Mengikhlaskan artinya merelakan dia bersama siapa pun. Sebab, akhirnya aku paham. Kita dipertemukan hanya untuk menjadi teman.
Kehilangan membuat kita belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang masih kita miliki.
Terkadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Mungkin harus membaskan dia. Doakan kebahagiaan untuknya dan merelakan dia, dan paling utama mungkin bebaskan diri sendiri agar tidak ada beban yang mengahalangi masa depan.
Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan ketika waktu itu.
Terkadang manusia harus merasakan kehilangan terlebih dahulu, untuk bisa mengartikan sebuah kehadiran seseorang yang selama ini ada disamping orang itu.
"Aku berharap sekali kamu bisa memahami keberadaanku selama ini, tapi semua diluar dugaan kalau diriku mungkin tak berarti untukmu, karin?" Hati terus saja galau memikirkan orang yang kita sayangi.
Teh dalam pegangan tangan terus saja kuseruput, sambil memandagi wajahnya yang sedang tersenyum ceriia kala waktu kita masih akrab dan bersama.
"Aaah, rasanya aku tidak tahan lagi untuk menghubungi kamu lagi," guman hati yang ingin video call.
Tidak ingin berbasa-basi, langsung saja nomor karin kutekan.
"Syukurlah, kalau tersambung dengan mudah denganmu," Kegembiraan.
[Hai, Chris]
[Hai juga, Karin]
Tangan telah melambai-lambai, tanda menyambut hangat sapaannya.
[Wah, kamu cantik sekali hari ini]
[Benarkah? Masak sih? Jadi malu rasanya kamu melihatnya]
Karin kelihatan berbeda sekali hari ini. Ada sedikit risasan tipis dari wajahnya, menambah kesan kalau dia adalah wanita jelita, bagai bidadari yang selalu patut diacungi jempol.
[Emm, ngomong-ngomong kamu tumben berias dan berpakaian dres begitu?]
Rasa penasaran membuat terus bertanya, sebab selama jadian dengan Karin dia tidak pernah menampakkan keanggunan seperti sekarang.
[Hehehe, lagi menghadiri acara pernikahan seseorang]
[Ooh, gitu]
[Kamu tidak kerja 'kah? Kok jam segini menelpon?]
[Kerja. Lagi nyantai istirahat makan siang]
[Ooh]
[Kamu sekarang kelihatan berbeda banget?]
[Berbeda apa lagi Chris?]
[Ya itu. Wajah kamu]
[Maksudnya?]
[Heehe, alhamdulillah. Sekarang aku memamg sudah bebas dan melepaskan semua beban]
[Wah, benarkah itu?]
[Iya, Chris. Kalau dipikir-pikir tidak baik dan rasanya bikin kehidupan tersendat tidak bisa maju ke depan. Kalau terus-terusan begitu, kasihan sama Naya nanti]
[Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya keceriaan yang selama ini selalu terukir diwajahmu telah kembali]
[Iya, ini berrkkka--?]
[Karin ... karin?] Terdengar suara seorang pria sedang memanggil.
Sedikit kesal, ucapan Karin jadi tertunda akibat panggilan seseorang.
[Iya, Chan. Sebentar ... sebentar, nanti akan nyusul kamu, aku lagi sibuk melakukan panggilan dulu] Karin terdengar berteriak.
"Chan? Siapa dia?" guman hati bertanya-tanya.
[Hallo Karin ... hallo?]
Tangan melambai-lambai mencoba. Memanggil dia saat padangannya sudah teralih ke arah lain.
[Eeh, maaf jika menganggu kamu]
Deg, betapa syoknya diri ini, saat sekelebat sesosok pria yang wajahnya mirip dengan orang yang kukenal.
"Astagfirullah, apakah yang kulihat barusan adalah kenyataan?" guman hati tidak percaya.
[Eeh, Chris. Maaf ya, pembicaraan kita tadi ada gangguan sedikit]
[Iya, tidak apa-apa]
[Sampai mana arah pembicaraan kita tadi?]
[Heheheh, aku juga lupa. Ya sudah, kamu lanjutkan kesibukanmu. Aku mau lanjut kerja juga, nih!]
Alasan yang berpura-pura.
[Oh ya, sudah kalau begitu. Kapan-kapan kita lanjutkan obrolannya, sebab banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu]
[Iya, pasti itu. Bye ... bye]
[Iya, Chris. Bye ... bye]
Lambaian tangan telah terukir.
Gawai langsung kuletakkan disembarangan meja. Tubuh rasanya hilang separuh kekuatan, saat yang telihat tadi benar-benar nyata.
"Astagfirullah, apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah Adrian telah hidup kembali?" Tangan sudah meraup wajah kasar, saat kepala rasanya mulai berat memikirkan.
"Apakah engkau memang tidak ditakdirkan untuk menjadi milikku, Karin? Mungkinkah aku telah bodoh, selalu berharap kau akan menjadi milikku?" guman hati yang bersedih.
"Ini semua nyata? Tapi, Adrian kemarin benar-benar sudah meninggal. Tidak ... tidak mungkin, jika dia hidup kembali? Pasti ini ada sesuatu yang tidak beres."
"Apakah aku harus pulang untuk membuktikan, apakah itu tadi beneran Adrian atau bukan?" Kegalauan tentang seseorang.
Lama sekali berpikir, sehingga kemantapan mulai datang untuk menapakki negara Kelahiran. Semoga saja dugaan yang berpikiran jelek tidak akan terjadi, sebab jika itu benar, maka tiga kali akan patah hati oleh kekecewaaan cinta yang tidak bisa diraih.