Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N²=Istriku Yang Hilang>> Mencoba Berkenalan


Semakin membingungkan. Kenapa masalah semakin pelik dan terlalu rumit. Dimanakah kebenarannya? Yang satu bicara A namun yang lain menjawab B, hingga harus benar-benar memilih dan meneliti siapakah disini perkataan yang benar atau salah.


"Bukankah kemarin kakak bilang, kalau adik suami kamu sedang diluar negeri," tuturku mengingatkan.


"Iya Ana, dari keterangan suamiku bahwa memang adiknya sedang berada diluar negeri. Sungguh aku benar-benar tidak tahu sama sekali atas rahasia ini, dan aku baru tahu hari ini bahwa adik yang selama ini tidak pernah pulang dan tak tahu bentuk rupanya, ternyata dia ada di Indonesia dan sekarang sedang sakit," jelas Kak Nola.



"Baiklah, Kak. Aku percaya sama kamu."


"Apakah dia sudah lama disini?" tanyaku penasaran.


"Iya, dia sudah lama berada disini. Kalau boleh dibilang ketika masih remaja. Eeem ... kalau ngak salah sih ketika masih SMA," tutur pria pegawai menjelaskan.


"Apa?" Untuk yang kedua kalinya, kami menjawab kaget secara bersamaan.


"Wah ... itu lama banget, dan sampai sekarang belum sembuh-sembuh juga?" responku sedikit merasa sedih.


"Iya, dia belum sembuh sampai sekarang. Kami sudah berusaha menyembuhkannya, tapi sepertinya susah sekali. Dia tidak banyak tingkah ataupun mengoceh, cuma dia diam melamun saja, seperti yang kalian lihat didepan kalian sekarang," Penuturan pria pegawai memberitahu.


"Apakah suamiku sering kali menjeguk adeknya ini?"


"Hampir setiap hari menjenguk, tapi tidak tentu waktunya. Kadang mampir ke sini siang maupun sore," jawab pria pegawai.


"Apakah aku boleh mendekatinya?" pintaku meminta izin.


"Boleh saja, kalau dia mau. Kamu harus hati-hati, sebab kadang-kadang dia mengamuk, kalau orang yang tidak disukainya ataupun tak dikenal, dia suka berlebihan seperti marah," terang pria pegawai.


"Aku akan coba, siapa tahu dia akan mau bersahabat denganku," ujarku yang penasaran.



Langkah sudah berjalan perlahan-lahan, untuk mendekati wanita yang menjadi adik dari suami Kak Nola. Sekarang aku tepat berdiri didepannya, tapi matanya masih mengisyaratkan penuh tatapan kosong.


Netra yang semula kosong sayu ada kesedihan, kini malah melotot tajam seperti tersimpan kemarahan.


"Aaah .... aaa .... aaaahh" teriaknya tiba-tiba.


"Pergi kamu ... pergi, aku tidak sudi bersamamu, kamu jahat ... pergi ... aaaahh," rancaunya yang diiringi teriakkan.



Aku yang awalnya berani mau berkenalan, kini menjadi takut dengan langkah kaki mulai mundur-mundur menjauhinya. Kak Nola yang melihat itupun, langsung merangkul bahuku, supaya aku sedikit tenang dan tidak panik. Dan pria pegawai segera mendekati perempuan bernama Putri itu, untuk mencoba menenangkannya.


"Kamu gak pa-pa, Ana?" tanya kak Nola.


"Aku baik-baik saja, Kak."


"Aaa ... ahhh .... aaa ... pergi ... lepaskan?" teriak suara Putri semakin menjadi-jadi.


"Tenang Putri ... tenang, mereka orangnya baik dan hanya ingin berkenalan dengan kamu saja," ucap pria pegawai mencoba menenangkan keadaan Putri.


"Aaa ... aaa ... kamu jahat, aku tidak mau bersama kamu, aku benci ... aaa ... benci!" rancau Putri yang kian tak karuan atas maksudnya.


"Kalian pegang tangannya sebentar, aku akan menyuntikan obat supaya dia tenang," suruh pria pegawai.


"Baik!" jawab kami berdua kompak.


Karena Putri semakin berteriak dan merancau tak karuan, akhirnya aku dan kak Nola membantu memegang tangan Putri disebelah kiri dan kanan. Pria pegawai sudah siap, dengan jarum suntik ingin segera tertancap di lengan putri. Tak butuh waktu lama untuk menyuntikkan obat, dan pada akhirnya Putri sedikit lemah seperti tidak ada kekuatan lagi untuk meronta-ronta.


"Adit ... Adit," Suara rancauan Putri.


Deeg, jantung telah terkejut saat Putri memangil nama suamiku, sungguh rasanya aku begitu tak percaya apa yang barusan dia ucapkan.