Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang>>Rindu Akan Kerjaan Lama


Mentang-mentang pernah jadi suamiku seenaknya saja main cium. Kalau tidak berpikir atas rasa masih sayang, pasti sudah kutendang saja pusakanya itu. Walau benci sekalipun dia masih tetap orang pujaan dalam hati.


"Kamu jangan meremehkan aku, Mas. Aku bukanlah Ana yng dulu, yang suka kamu rendahkan dan tidak kau anggap. Kau telah mengajarkan aku menjadi wanita kuat, jadi rasakan itu sekarang," Ngedumelnya hati.


Berkali-kali tersenyum aneh, saat mengingat mas Adit meringis kesakitan akibat highells.


Sudah lama sekali tidak menginjakkan diperusahaannya. Tidak tahu berapa tahun. Rasanya jadi rindu kerja disini ketika dulu. Walau sebentar banyak kenangan yang kualami. Bahkan mengajarkan banyak hal tentang rendah hati.


Kaki yang jenjang sudah menapakkan beberapa ruangan ketika dulu menjadi tukang bersih-bersih. Ada sapu yang berdiri tegak ditembok. Segera kuambil dan membolak-baliknya. Kerjaan yang penuh suka cita, walau gaji dikit tapi bisa memenuhi semua kebutuhan kami. Waktu itu kami serba kekurangan. Kadang harus makan sehari cuma sekali. Tapi Bapak tidak menyerah dan selalu sabar atas kondisi kami.


"E'eeh, Bu Ana. Apa kabarnya?" sapa seseorang sudah menepuk pundakku.


Langsung melihat ke arah sumber suara dari belakang. Badan yang sedikit gemuk menjadi ciri khas atasanku ketika dulu. Walau katanya berkali-kali diet tapi susah untuk menurunkan. Kasihan juga sih, melihatnya tidak bisa berlama-lama berjalan jauh akibat mudah kelelahan.


"Eeh, Bu atasan. Akhamdulillah saya baik. Kalau Ibu kabarnya gimana. Lama ya kita tidak bertemu?"


"Syukurlah kalau baik. Ya beginilah saya. Kabar baik juhlga."


"Iya, Bu. Masih segar saja nih. Masih awet muda juga."


"Heheh, Ibu bisa saja."


"Jangan panggil Ibu 'lah. Cukup Ana saja. Ngak enak didegarnya sementara Ibu atasan lebih tua dari saya."


"Tidak bisa gitu juga dong, Bu Ana. Sementara anda adalah istri Bos kami. Tidak sopan kalau manggil nama saja. Nanti saya malah kena marah sebab sembarangan memanggil."


"Ya sudah, kalau Bu Nur tetap memaksa."


Karena tidak enak, terpaksa melayani beliau yang sepertinya ingin bercakap-cakap lama denganku, maka akupun mencari tempat duduk agar kami berdua bisa nyaman.


"Gimana keadaan semua karyawan bagian kebersihan? Tidak ada yang bandel seperti saya kemarin-kemarin 'kan, Bu?"


"Ooh, tidak ada. Saya merasa Ibu tidak bandel kok, cuma kemarin hanya sedikit ceroboh saja. Malah saya pikir Ibu Ana adalah pekerja yang teladan dan rajin," puji beliau.


"Hehehe, jadi besar kepala nih."


"Beneran lho itu, Bu Ana."


Senyuman palsu terukir. Masalah yang menghampiri tidak ada lagi senyuman kejujuran. Semua semangat terasa terbawa angin hilang begitu saja, entah dimana berlabuh akan kembali.


"Oh ya, Bu. Apakah benar kalau hubungan kamu sama Bos besar sedang ada masalah?" tanya beliau yang bikin terkejut.


"Ahhh, siapa bilang, Bu? Tidak ada 'lah," pungkir ingin menutupi.


"Astagfirullah. Kenapa berita ini begitu cepatnya menyebar. Padahal aku baru saja ingin minta cerai. Ternyata gosip yang pedas lebih cepat beritanya diluar dugaan, sebelum tindakan yang kami lakukan," Ksedihan hati.


"Bu ... Bu Ana."


"Eeh, maaf, Bu. Tadi bilang apa? Maaf ya piiiran saya tadi lagi memikirkan hal lain jadi tidak dengar."


"Tidak apa-apa, Kok. Itu, tadi saya bilang atas gosip perusahaan yang sedang santru beredar."


"Ahh, itu hanya rumor orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih tepatnya suka gosipin orang tanpa tahu kejelasannya dulu."


"Syukurlah kalau itu hanya rumor."


"Iya, Bu. Hubungan kami baik-baik saja kok. Apalagi ditambah ada buah hati kami yang sudah lahir.


Menutupi semuanya dengan kobohongan. Tidak ingin gosip itu tambah runyam tanpa kejelasan yang pasti atas kenyataan. Takut perusahaan mas Adit akan berdampak, maka mencoba mencuci otak Bu Nur agar nanti bisa ambil tindakan tegas kepada karyawan. Semua orang takut pada beliau. Selain wajahnya garang, mulutnya kalau sedang marah menakutkan.


"Wah, saya sampai lupa mengucapkan sama Bu Ana atas kelahiran si kecil. Maaf ya, Bu."


"Tidak apa-apa. Memang banyak orang yang belum tahu kalau kami sudah punya buah hati."


"Iya juga, sih. Saya itupun baru dengar dari teman tadi. Pak Adit sih tidak kasih pengumuman kabar bahagia ini. Pasti karyawan lain akan bahagia juga."


Wajar saja kalau Bu Nur tidak tahu, sebab masalah yang menerpa kami tidak ingin orang lain tahu ataupun mengumbarnya. Gosip yang beredar membuat sedih, namun sudah tersebar ke semua karyawan. Sekarang hanya pasrah atas keadaan.


"Tahu sendirilah, Bu. Kalau suami saya ini orangnya super sibuk, jadi tidak ada waktu untuk sekedar memberitahu kalian."


"Iya, Bu Ana. Saya memahami. Semoga nanti ada kabar baiknya dari kalian. Mungkin atas rasa syukur. Itung-itung ngajak kami makan tidak apa-apalah, yang penting kita bisa kumpul dan sama-sama mengucap syukur atas lahir sang penguasa baru diperusahaan ini."


"Ibu bisa aja. Sang penguasa utama belum lengser, jadi ya tidak bisa digantikan."


"Heheh, saya cuma bercanda saja kok. Mungkin saat ini belum waktunya, tapi suatu saat akan jatuh ketangan anak kalian juga, sebab memang pewaris yang berhak."


"Iya, Bu. Amin, terima kasih. Ya sudah saya mau pamit dulu. Ada kerjaan yang saya harus selesaikan."


"Oh, iya ... iya. Silahkan. Maaf menganggu waktu anda."


"Tidak apa-apa, Bu Nur. Kalau tidak begini kita tidak akan bisa bertegur sapa maupun berbicara lepas ."


"Iya."


Tangan melambai-lambai ke arah beliau yang menutku badannya tiga kali lipat dari tubuhku. Sangat gemuk bahkan duduk saja kadang beliau bersusah payah dengan pelan-pelan sambil memegang sesuatu agar tidak jatuh.