Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kembali pada orang tua


Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan saat Karin kini benar-benar butuh semangat dan dukunganku, ketika baby Naya kini sedang terbaring lemah akibat penyakitnya.


"Kamu kenapa lagi, Karin?" tanyaku saat dia melamun, dibangku menunggu kepunyaan rumah sakit.


"Eeh, kamu Chris. Biasalah."


"Ya, biasa itu apa?."


"Aku hanya sedang memikirkan keadaan anakku dan biaya untuk pengobatannya. Aku sekarang sedang dilanda kebingungan bagaimana aku bisa mendapatkan biaya sebanyak itu, sedangkan aku sekarang tak punya uang sama sekali," jelas kebingungan Karin.


"Kamu jangan binggung begitu, 'kan ada aku yang akan siap membantu kamu," jawabku memberikan solusi.



"Tapi, Chris. Kamu sudah beberapa kali sering membantu. Tak mungkin kali ini kamu juga akan membantuku lagi. Emm, apakah aku harus memberitahu ayah kandung baby Naya mengenai hal ini, saat anaknya sedang sakit? Tapi ... tapi, aku tak ingin kembali ke masa lalu yang menyakitkan itu. Tapi kalau aku tidak meminta bantuannya, bagaimana anakku bisa diselamatkan," Kebimbangan Karin berucap.


Aku hanya bisa mengkerutkan kening dan memicingkan mata sebelah, saat tanpa sadar Karin telah menyebut pria yang sudah menodai dan meninggalkannya.


"Apa tidak salah apa yang kamu katakan barusan? Aku sangat tersinggung lho!" ketusku menjawab.


"Eeh ... eeh, maaf Chris. Bukan maksud hatiku mengenang masa lalu, tapi aku benar-benar bingung dan dibuat pusing atas masalah ini. Sementara aku tak ingin merepotkan kamu, sebab aku tahu bahwa kamu sendiri saja lagi kebingungan masalah keuangan, karena profesi kamu sebagai model lagi merosot, dan kini telah mulai mengkikis pendapatan kamu," terang Karin tak enak hati.


"Ooh, begitu. Aku tahu kamu tak ingin menjadikan diriku kesusahan, tapi tolong dan tolong kali ini kamu harus mengikuti keinginanku lagi, untuk membantu kamu dan baby Naya. Aku tahu sekarang keuanganku sedang kritis, tapi insyallah jika aku tetap berusaha pasti akan ada jalan untuk mendapatkan uang itu," jelasku meyakinkan Karin, sambil kini wajahnya kutangkup untuk menatapku balik.


"Kamu jangan khawatir, ada aku disini yang siap membantu kamu dengan ikhlas," imbuh jawabku.


"Aku tahu, Chris. Kamu ingin sekali membantuku, tapi ini masalahnya beda, sebab bukan satu atau dua juta saja untuk mengatasi masalah pengobatan anakku, tapi butuh ratusan juta lebih sekian untuk pengobatan, operasi, perawatan, dan itu bukan hanya sehari dua hari tapi berbulan-bukan lamanya. Aku tidak tahu bagaimana harus mendapatkan semua itu, jadi kamu janganlah repot-repot untuk membantuku terus," cegah ucapnya.


"Aku tahu, Karin. Pokoknya kamu jangan pusing masalah biaya itu. Yang jelas akan aku usahakan untuk mendapatkannya, sebab aku menyayangi kalian melebihi hidupku, dan aku tidak mau kamu kembali ke masa lalu yang bisa-bisa membuat hatiku sakit, paham!" ujarku memperjelas.


"Heeh, terima kasih Chris. Kamu selalu ada untukku, dengan cinta kasihku tak akan pudar," ucapnya yang kini telah bisa tersenyum lebar, sambil langsung memeluk tubuhku.


Tak tahu lagi apa yang kukatakan barusan, saat pandai sekali mulut ini berbicara tak payah memusingkan tentang masalah biaya baby Naya. Yang padahal kepala kini sedang berpusing ria, atas bagaimana mencari jalan agar mendapatkan uang sebanyak itu dengan waktu dekat ini, untuk segera menangani anak Karin dengan penyembuhan segera.


"Aah, bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, yang padahal tabunganku sangatlah menipis untuk makan sehari-hari dan biaya toko roti. Apakah aku harus meminta tolong pada orang tua? Aah, tidak ... tidak, itu tidak mungkin. Tapi jika aku tidak meminta bantuan mereka, bagaimana aku bisa mendapatkan uang itu secepatnya, dan kayaknya hanya merekalah yang bisa membantuku segera. Ya, aku harus meminta bantuan orangtuaku untuk mendapatkan biaya baby Naya," guman hati dalam kebingungan meminta bantuan.



"Aku mau pergi sebentar," pamitku pada Karin dan bu Fatimah.


"Mau kemana kamu, Chris?" tanya Karin dengan tatapan keheranannya.


"Hanya keluar sebentar saja, sebab ada hal yang ingin kuurus ditoko roti, sebentar saja!" jawabku berbohong.


"Emm, baiklah. Kamu hati-hati dijalan."


"Iya."


Langsung saja kaki berjalan dengan berlarian kecil, agar secepatnya sampai ke tempat parkiran mobil. Aku harus segera menemui orangtua, karena biaya itu harus segera kubayarkan agar baby Naya secepatnya mendapatkan penanganan kesembuhan.


Wess, dengan kecepatan penuh mobil sudah melaju pesat, tanpa berpikir panjang lagi apakah akan terjadi kecelakaan atau tidak, sebab dalam pikiran ini secepatnya harus segera sampai.


Ceklek, pintu langsung saja kubuka tanpa mengetuknya dulu. Kaki berusaha nyelonong masuk, dan mencoba mencari orangtua yang semoga saja masih ada dirumah.


"Wah ... wah, hey ... hey, siapa ini? Kelihatannya aku kenal, tapi rasa-rasanya aku tak mengenali kamu lagi," sindir mama dengan nada ketusnya.


"Aku tidak punya banyak waktu dan berbasa-basi sama kamu, ma. Yang jelas kedatanganku kesini sebab ada perlu penting sama kamu," jelasku yang langsung ingin to the point.


"Wow, apakah ini etika yang selalu kami ajarkan pada kamu? Bahwa kamu datang kesini hanya ada keperluan penting saja, hah!" ujar beliau yang nampak mulai emosi.


"Bukan begitu, ma. Aku sangat menyayangi kalian, namun aku tak mau dikekang oleh kalian, yang selalu saja membuatku mengikuti keinginan kalian itu. Aku hanya ingin kebebasan hidup dalam mengarungi hidup," jelasku.


"Ya, itu terserah sama kamu, mau ngapain dan berbuat apa! Yang jelas mama dan papa tak ada maksud lain selain ingin memberikan yang terbaik pada kamu," ucap beliau yang tak mau kalah berucap.


"Sudahlah, ma. Aku tak ingin berdebat sama kamu, sebab aku kesini hanya ingin meminta bantuan sama kamu?" tuturku berusaha menurunkan intonasi nada pembicaraan.


"Emm," jawab beliau singkat, yang kini duduk disofa mencoba mengacuhkanku.


"Ayolah, ma. Aku benar-benar butuh bantuan kamu," rengekku meminta.


"Aku sekarang butuh uang yang banyak secepatnya," jelasku sambil menundukkan kepala, sebab malu habis marahan sama beliau kini aku kembali ke markas meminta bantuan.


"Apa, heuuueh. Dasar," jawab beliau kelihatan tak suka.


"Ayolah, ma. Bantu Chris anak kamu, yang benar-benar lagi membutuhkan uang ini," pintaku memohon.


"Hadeh, memang uang kamu menipis 'kah? Sampai kamu mau mengemis datang kesini,?" tanya beliau.


Aku tak peduli beliau berkata menghina lagi, yang jelas sekarang aku harus pandai merayu beliau agar kedatanganku ini tak sia-sia.


"Kenapa kamu hanya diam? Berarti benar dugaan mama, bahwa uang kamu menipis. Kenapa? Apa pekerjaan kamu yang kamu elu-elu dan banggakan itu sudah mulai sepi?" Selidik tanya mama.


"Mama tak perlu tahu, atas kenapa aku sekarang tak punya uang. Yang jelas mama sekarang mau bantu Chris apa tidak, kalau tidak berarti aku tak payah berlama-lama berada disini lagi," ketusku berkata, sebab tak tahan atas ocehan mama itu.


"Jangan tersingung begitu, sayang. Walau kamu sekarang membenci mama, tapi sebagai anak tetap aku hargai dan sayangi, paham. Jadi katakan berapa yang kamu butuhkan sekarang?" tanya beliau.


"Aku butuh sekitaran dua ratus juta lebih," jawabku langsung.


"Apa? Sebanyak itu? Untuk apa? Kamu lagi tak gila uang atau melakukan judi? Atau kamu berulah yang merugikan orang, bahkan sampai membunuh orang, tidak 'kan?" cecar kecurigaan mama.


"Enggaklah, ma. Chris ini masih menjadi anak baik yang patut kamu banggakan."


"Lha, terus untuk apa?" Ulang tanya beliau.


"In-inn-ini, demi anak Karin, ma!" jawabku terbata-bata karena takut.


"Apa? Demi wanita itu?" Keterkejutan beliau tak percaya.


"Iya, ma. Demi dia."


"Memang kenapa lagi dengan wanita itu? Kamu jangan gila mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya demi wanita kampung itu. Kamu lagi tak diguna-guna atau diperas dia 'kan? Kamu masih waras 'kan, untuk memberikan uang sebanyak itu pada wanita yang namanya Karin?" tanya keheranan mama dengan segala tuduhan beliau.


"Mama, ngaco kalau ngomong. Karin walau kampungan begitu, tak akan mungkin berbuat kayak gituan pada Chris, apalagi yang mengarah pada kejahatan," jelasku.


"Lalu untuk apa? Nominal itu bukan sedikit, dan mungkin gaji dia kerja selama sepuluh tahun dirumah kamupun, tak akan bisa dia dapatkan," tutur tanya mama lagi.


"Ini demi anaknya yang lagi sakit, jadi Chris meminta tolong pada mama untuk membantu kami mengobati babynya," terangku.


"Oh'ooh, begitu. Rupanya dia sudah melahirkan. Emm, baiklah. Mama akan bantu kamu," jawab beliau kini sudah santai.


"Benarkah?" tanyaku tak percaya saking gembiranya.


"Iya, Chris. Tapi dengan syarat," jawab beliau yang mengherankanku.


Aku sedikit tak percaya atas penuturan mama barusan, hingga wajah yang senang berubah dratis mengekerutkan kening.


"Syarat?" tanyaku.


"Iya, syarat. Mama akan menambah uang itu dua kali lipat, asalkan kamu mau mengikuti perjanjian sama mama, gimana?" balik tanya beliau.


"Benarkah? Perjanjian?."


"Emm."


"Kalau begitu katakan syaratnya apa itu? Pasti aku akan penuhi syarat itu," ucapku gamblang.


"Syaratnya cukup mudah. Hanya satu saja, yaitu kamu harus menuruti keinginan mama untuk menjalankan bisnis papa yang ada diluar negeri, dan lebih jelasnya kamu harus meninggalkan wanita kampungan itu dari sisi kamu, gimana?" Tawar mama atas persyaratan yang membuatku tak percaya akan hal itu.


"Apa? Mama jangan aneh-aneh atas persyaratan itu? Tidak ... tidak, aku tidak akan bisa meninggalkan Karin begitu saja, apalagi disaat dia membutuhkan semangat dariku," tolakku.


"Terserah kamu, sih! Yang jelas hanya itu syaratnya. Mama bisa memberikan kamu uang itu cash sekarang juga. Mama akan beri waktu kamu menemui dan menjaga anak itu sampai sembuh, tapi dengan syarat setelah itu kamu tinggalkan dia untuk menjalankan bisnis diluar negeri, gimana? Kamu setuju 'kan? Pasti kamu akan setuju, sebab jika kamu tidak mengambil uang itu, maka anak itu akan mati sebab kesalahan kamu yang tak bisa mendapatkan uang, ingatlah itu!" Tepuk-tepuk tangan mama dibahuku, saat aku melamun bingung atas pilihan sebuah keputusan yang sulit bagiku saat ini.


Aku hanya dia terpaku tak bisa mengucap sepatah kata lagi, saat hati dan pikiran dilanda kebingungan antara dua pilihan yang sulit. Mengambil uang itu akan berpisah dengan Karin, tapi jika tak kuambil uang itu maka nyawa baby Naya adalah taruhannya, dan kemungkinan seumur hidup diri ini akan merasa bersalah pada diri sendiri dan Karin.


"Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan. Ahh, kenapa aku terjebak atas pilihan yang sulit ini?" Kekesalanku dalam hati binggung.