Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Bayangan Yang Membingungkan


Malam kian merangkak dipertengahan malam, tapi mata rasanya enggan sekali terpejam. Kepala sekarang sudah dipenuhi oleh bayang-bayang kata Ana. Suaranya terus saja nyaring protes ditelinga. Entah mengapa perasaanku begitu galau, apa yang harus kulakukan, dan terasa sekali dia sekarang begitu membenciku.


Sungguh penyesalan terus saja datang menghantui, atas semua perkataanku yang tak akan mudah untuk dimaafkan.


Rasa khawatir begitu menelusup hatiku, jantung terasa kian berdetak hebat akibat rasa gelisah.


Allah pasti tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Sungguh jangan sampai diri ini nantinya terisak menangis, karena sebuah penyesalan cinta yang sudah terbangun tapi telah hilang.


"Pagi Bosku yang ganteng!" sapa Rudi sekertarisku saat diri ini sudah pagi-pagi di kantor.


"Pagi juga," balik sapaku.


Wajah sudah ambigu. Tidak ada ekspresi apapun yang tertera. Kepala terus saja berputar-putar memikirkan sesuatu hal. Jari telunjuk berdiri tegak dikening.



"Kok wajahnya kelihatan ditekuk begitu, biasanya bahagia ... bahagia dan terus bahagia sangat bersama Salwa," sindir Rudi.


Masih saja tidak kugubris ucapan Rudi. Hanya melirik sebentar memastikan kalau dia mencoba menyingung. Air putih yang sempat nganggur dimeja mulai terteguk. Rasa haus yang mendera membuat air itu jadi korban keganasannku dengan meneguk seluruhnya.



"Ada apaan sih, Bos. Sedang ada masalah 'kah sama Salwa?" imbuh bertanya.


"Kami baik-baik saja. Ada hal lain yang sedang aku pikirkan dan itu sangat membuatku jadi pusing kepala," jawabku dengan mata menerawang ke arah jalanan dari kaca perusahaan.


Banyak kendaraan sudah padat merayap untuk berlomba-lomba sampai dengan aktifitas masing-masing. Berbeda sekali denganku yang sibuk memikirkan sesuatu. Tangan masuk dalam kedua kantong celana. Berhasil menyembunyikan semua kegelisahanku.



"Terus kenapa pagi-pagi muka cemberut begitu? Kayak benang kusut gitu," Rudi berusaha menyelidiki.


"Pikiranku lagi pusing dan kalut memikirkan Ana!" jelasku.


"Hah, Ana? Apa aku tidak salah dengar ini."



"Iya Ana. Kamu tidak salah 'lah."


"Memang kenapa? Emm, apakah Bos sudah ingat tentangnya 'kah?" tanya Rudi yang membuatku sedikit terkejut.


"Maksud kamu? Ingat yang bagaimana ini?" Sungguh tidak kumengerti.


"Ya begitu 'lah. Maksudku, Bos sekarang itu sudah ingatkah tentang kenangan bersama Ana? Bukankah selama ini kamu tidak mengenalinya karena sedang amnesia!" penjelasan Rudi.


"Apa? amnesia?" Keterkejutan yang masih membingungkan.


Diluar dugaan ada fakta yang masih tidak bisa dicerna. Mana mungkin aku yang sehat walfiat begini bisa kena sakit sesuai yang dilontarkan Rudi sekarang.



"Iya. Memang selama delapan bulan ini Bos gak tahu?" tanya Rudi lagi.


"Aku ngak tahu Rudi, dan mamapun tidak pernah menceritakan padaku. Kok bisa sih ini terjadi?" Lesunya jawabanku.


"Ya bisa 'lah, sebab telah terjadi kecelakaan padamu kemarin."


"Masak sih? Aku kok tidak ingat sama sekali, ya."


Selama beberapa bulan ini banyak kehampaan yang menghampiri. Tidak ada semangat hidup. Semua terasa sepi. Heran juga apa yang terjadi, ketika aku yang dulu selalu ceria kini terus saja dalam kesuraman.


"Ya iyalah Bos gak tahu, sebab tengah asyik terus menerus memadu kasih dengan Salwa," sindirnya lagi.


"Ciiih, kamu ini!" Decih tidak suka.


"Memang kenapa? Memang kenyataannya begitu'kan, sudah terbukti di depan mata kami. Apa kamu mau mengelak sekarang?" ucap kebenaran Rudi.



"Nah gitu dong! Terus apa yang akan kamu lakukan dan pikirkan sekarang?" tanya Rudi yang mulai membingungkanku.


"Entahlah Rudi, akupun rasanya binggung sendiri. Aku seakan-akan penasaran betul hubunganku dengan Ana, tapi sayangnya diri ini benar-benar tak ingat satupun akan dirinya," jelasku penuh kebimbangan.


Obrolan makin serius. Mungkin curhat dengan Rudi akan membawa setitik keterangan.


"Kamu pelan-pelan saja, ngak usah terlalu memaksa, bisa-bisa nanti akan berakibat fatal jika kamu memaksanya. Dan yang pastinya suatu saat nanti pasti kamu mengingatnya. Mulai 'lah dari hal kecil. Terlebih lagi mulai jaga jarak sama Salwa jika kamu ingin tahu kebenaran tentang Ana," Rudi memberi semangat.


"Harus begitu 'kah?."


"Kalau bisa kamu jangan ceraikan Ana dulu, sebab dulu kamu penuh perjuangan untuk mendapatkannya, yaitu setelah enam tahun berpisah dan mencarinya kemana-mana," imbuh Rudi.


"Benarkah itu?" tanyaku tak percaya.


"Iya bosku, sayang."


"Ciih sayang ... sayang. Kepalamu peyang. Kepala tuh bisa-bisa melayang," ketus tak suka.


"Hahahaha, kalau kepalaku melayang, yang pertama kali aku temui dan hantui dulu adalah kamu, Bos. Hahaahaha" Gelak tawa Rudi puas.


"Dasar hantu kurang kerjaan, memang gak ada orang lain yang kamu kejar untuk kamu hantui? Kayak cewek-cewek kamu gitu?" Goda penuh penasaran.


"Kalau mereka yang pastinya jangan dong! Cantik-cantik masak mau digangguin 'kan sayang. Pantesnya bos itu 'tuh yang harus dihantui akibat suka menyakiti hati orang, biar kapok dan tahu rasa, hahahaa" Imbuhnya berhasil mengejek.


Haaap, sebuah kertas kulempar tepat masuk mulut Rudi saat dia tertawa puas.


"Makan tu kertas biar kenyang, biar mulut kamu yang suka mencemooh itu berhenti!" Kekesalanku.


"Masak kertas begini di suruh makan, kasih steak atau burger kek! Jangan kertas begini, ngak enak tahu," ketus Rudi berkata.


"Kalau mau enak ya beli sendiri. Aku cuma bisa kasih kamu makan kertas, hahahhah." Balik tawaku berhasil mengerjai Rudi.


"E'eehh, tunggu sebentar. Benarkah yang kamu katakan tadi?."


Masih tidak percaya. Mulai sekarang akan mengintrogasi pada Rudi secara detail.


"Iya, Bos. Kamu sangat mencintainya di waktu kemarin-kemarin. Bahkan kamu akan rela melakukan apapun untuk membahagiakannya. Sampai lompat ke jurangpun kalau Ana yang minta pasti akan kamu lakukan," jelas Rudi.


"Benarkah sampai segitunya!" ucapku tak percaya lagi.


"Masak Rudi sekertarimu yang ganteng ini pernah berbohong, sih!."


"Ciiih, ganteng dari hongkong. Muka pas-pasan dan playboy gitu aja dibanggain," ucapku tak senang.


"Hhahaha, biar ngak ganteng tapi dompet cukup tebal 'mah! Cewek-cewekpun sampai ngantri minta dipacarin sama aku lho," penjelasan Rudi penuh kesombongan.


"Mereka bukan ngatri untuk dipacari kamu, tapi ngantri minta putus sebab gak tahan sama sikap kamu yang playboy itu, hahaha."


"Kamu memang Bos kejam, tak suka sekali melihat teman bahagia."


Rudi nampak kesal padaku. Bibir sempat menyunging tak senang atas perkataanku barusan.


"Bukan itu, Rudi. Aku tidak mau kamu terus-terusan terjerumus menyakiti wanita terus," ucapku pelan berusaha menasehatnya.


"Iya, Bos. Sekarang hanya dua cewek saja kok yang mengisi hatiku.


"Walau dua 'kah atau seratuspun, kalau bisa cukup hanya satu wanita saja didalam hati, mengerti!" imbuhku menasehati.


"Siiiip, dah! Pasti itu Bos," jawab Rudi menyetujuinya.


Mata kembali nanar menerawang ke arah jalanan, dengan pikiran yang masih saja pusing, akibat mencari cara bagaimana aku harus mengingat kembali kenangan bersama Ana.