
Tidak mengerti jalan pikiran orangtua sekarang. Acara makan-makan dengan keluarga Mia benar-benar terjadi. Ingin menolak, takut menyingung orangtua dan tamu, jadi hanya mengalah dan ikuti alur mereka saja.
Sebenarnya hati begitu gundah. Perasaan terus saja gelisah, saat menyesal telah mengatakan tak pantas didengar untuk Karin. Semua sudah terjadi, jadi kepala mulai mencari akal gimana caranya menjelaskan tanpa harus membuat Karin sedih lagi.
Ingin menjelaskan secepatmya, namun karena emosi yang ada dalam hati, cukup takut juga akan mengatakan yang aneh-aneh lagi melebihi kata pertunagan tadi.
"Maafkan aku, Karin. Sebenarnya tidak ingin melukai kamu, tapi rasa sakitku yang selama ini terpendam tiba-tiba tadi terluapkan saja."
"Cukup menyesal, yang pastinya iya! Tapi rasa takut akan melukaimu lagi membuatku terus berangan, apakah kita memang harus ditakdirkan tidak bisa bersama." Hati yang terus gundah.
Kamu masih belum mengetahui
Betapa istimewanya dirimu.
Aku berharap diriku yang seperti ini
Bisa terus mengapai hatimu.
Aku merasa itu sedikit dalam
Saat aku sering bersamamu.
Aku merindukanmu, menunggumu
Saat hati ini selalu tertuju untuk kau seorang.
Bahkan hari ini aku terus menunggumu
Dan kini aku mulai lagi rasa kekhawatiran.
Sepanjang hari hanya memikirkan dirimu seorang
Hingga separuh nyawa seakan-akan tak mau terpisah.
Sungguh, aku tak ingin melupakamu
Hanya dirimulah yang pantas menjaga hati ini.
"Kenapa kamu belum siap-siap, Chris." Mama menghampiriku disaat temenung diluar kamar.
"Untuk apaan sih, Ma!" ketus menjawab.
"Hadeh, anak ini benar-benar minta digetok. Apa kamu lupa kalau keluarga Mia sebentar lagi akan datang ke rumah kita."
"Iya, Chris tidak lupa." Pandangan mata hanya kosong menatap ke arah jalanan depan rumah.
"Kalau tidak lupa, kenapa belum ganti juga?."
"Penampilanku cukup gini-gini saja 'lah, Ma."
"Ya, jangan dong Chris. Malu sama tamu penting kita. Ayolah, cepetan ganti," Paksa beliau sudah menarik-narik tangan.
"Hhh, iya ... iya!" Akhirnya nurut saja atas permintaan.
Sebenarnya cukup malas. Tapi tidak ingin mempermalukan orangtua dan berdebat.
Sedikit rapi dan ada perubahan. Yang tadinya hanya memakai kaos oblong, sekarang sedikir rapi mengunakan jas. Acara yang tidak penting bagiku, namun orangtua kelihatan berharap sekali kalau bisa dekat sama Mia secepatnya.
Semua sudah berkumpul. Banyak makanan yang lezat tersedia. Saat menuruni anak tangga, kelihatan banget kalau keluarga Mia cukup sukses nengambil hati orangtua. Mereka cukup sibuk membicarakan tentang jati diri kami masing-masing, dengan terus menyerempet tentang pertunangan juga.
Wajah penuh dengan keceriaan, namun hanya diriku yang cemberut akibat tidak suka. Mia sesekali melirik kearahku, yang hanya mengaduk-aduk nasi saja dari tadi.
Wajahnya yang terpancar senyuman paksa, mengisyaratkan jika dia tidak setuju juga akan percakapan para orangtua.
"Gimana, Chris. Apakah kamu akan setuju atas rencana kami?" tanya Papa.
"Chris? Hei Chris?" panggil Mama.
Sikap awalnya yang melamun, jadi salah tingkah atas pertanyaan. Walau raut wajah menampakkan tidak fokus namun pendengaran masih baik. Cukup tersentak juga ketika ada pertanyaan tadi.
"Chris, tidak tahu."
"Loh, kok gitu?" Papa kembali bertanya.
"Biarkan saja, kawan. Mungkin Chris masih ragu dan bingung atas rencana mendadak kita ini," Papa Mia membantu menjawab.
"Iya, Om. Chris, masih dalam keadaan tidak baik, jadi jangan dipaksakan dulu," Mia ikut angkat bicara.
"Ya sudah. Kalau menurut kalian kita tidak boleh memaksa dan memberikan pertanyaan pada Chris."
"Maafkan aku, Om, Pa."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu memang butuh banyak waktu, untuk memberikan jawaban yang pas kepada kami."
"Iya, Om. Terima kasih. Rasanya jadi tidak ini."
"Kami baik-baik saja kok, Chris. Kamu butuh berpikir. Tidak baik jika jawaban itu dipaksakan, namun hati kamu tidak menginginkan. Kami semua bisa memahami itu. Tetaplah semangat, jangan menyerah begini. Aku sangat tahu apa yang ada dipikiranmu sekarang," Tebak Mia yang membuatku sedikit tersontak kaget.
Wajahnya yang manis, selalu memberikan kedamaian ketika senyuman itu terukir indah didepan mata.
Hanya wajah Mama nampak tak suka atas jawabanku, sedangkan yang lain mereka kelihatan setuju saja atas barusan terucap.
Keluarga Mia baik dan ramah. Jika ada yang bisa menjadi bagian keluarga mereka, pasti terjamin akan betah dan hidup tentram. Sangat disayangkan bila tidak bisa masuk ditengah-tengah mereka, namun hati yang tertaut hanya satu nama tentu tidak bisa terus dipaksakan.
"Maafkan aku, Mia. Kamu adalah wanita baik. Mungkin aku belum pantas untuk bersama kamu, maka hanya bisa berdoa untukmu agar kau akan mendapatkan pria yang lebih baik lagi. Semoga, kau akan tetap tersenyum indah seperti itu, walau harus tak bersamaku," Dalam hati terus menyesal.
Cukup merasa sungkan saja pada pihak mereka. Tatapan terus memperhatikan Mia, saat ingin mengucapkan perminta maaf, namun mulut terasa kelu tak bisa berbicara. Ada semua orang, rasanya tak enak jika mengungkapkan sekarang kalau pertunagan ini tidak bisa dilanjut lagi.
Nasi yang sudah dingin bercampur kuah sayur sop, dan tadi sempat kuaduk-aduk yang sekarang berubah bagaikan jadi bubur, diujung sendok berusaha kupaksakan untuk segera masuk mulut.
"Uhuuuk ... uhuuuk," Tiba-tiba tenggorokan tersedak.
"Kamu kenapa, Chris?" Mama kaget sekaligus khawatir.
"Kamu ngak pa-pa 'kan, Chris!" Mia sudah menyodorkan selembar tisu.
"Uhuuk ... uhuuk, aku baik." Langsung menerima tisu dan mengelap semua mulut yang belepotan.
"Kamu hati-hati, Nak." Mama sudah menghelakan nafas panjang.
"Iya, Ma. Maafkan aku!" Habis mengelap mulut, langsung berdiri tegak ingin menjauhi kursi.
"Kamu mau kemana, Chris? Acara makan kita belum selesai," Papa ikutan bicara.
"Maafkan aku, Pa, Om, Tante. Chris harus pergi. Ada sesuatu hal penting yang ingin kukejar," Izin ingin meninggalkan segera acara keluarga.
"Kamu mau ke mana, nak? Hei, Chris ... kamu mau kemana?" teriak Mama saat melihatku sudah melenggang berlari.
Dalam pikiran hanya ada satu kata dan nama yang tergiang yaitu Karin. Disaat makan tadi sayu-sayu terdengar, bibi pembantu dengan lantangnya memanggil nama itu.
"Apakah itu kau, Karin? Kenapa tidak ingin menemuiku? Aku akan menemuimu, jadi tetaplah disitu agar bisa segera memelukmu," Hati sudah cukup gelisah.
Kaki berlari cukup kencang. Tidak ingin terlambat sampai ke halaman depan rumah. Wanita yang tersayang pasti berkeinginan ingin menemuiku. Semua belum terlambat. Semua harus jelas dan akan menjadi akhir kisah percintaan kami, yang sempat putus ditengah jalan kemarin.