
Sedikit Flasback sebelum ketemu Adrian.
Alhamdulillah, walau aku hanya sebagai pegawai ditoko roti milik Chris, namun gaji yang aku dapat bisa membantu dan memenuhi kebutuhan keluarga bu Fatimah dan diriku, yang terutama sekarang bisa menyekolahkan Naya.
Kring ... kring, telepon toko tiba-tiba berbunyi.
[Selamat siang, bisa saya bantu]
Tangan kini sudah sibuk menerima telepon, yang sepertinya adalah seorang pelanggan dari toko Chris.
[Antarkan kue nanti. Seperti biasa ditempat kerja saya, namun ada tambahan teman yang ingin juga pesan roti dengan pia isi selai kacang dan keju]
[Siap, mbak. Nanti akan saya antarkan segera]
[Jangan lupa seperti biasa ya, ditempat kerja saya]
[Ok, sipp 'lah mbak]
Alhamdulillah, lagi-lagi dapat orderan dari pelanggan. Kini dengan berpakaian seragam khas toko, aku akan segera mengantarkan pesanan.
"Hei Karin, tunggu. Kamu mau mengantar kemana?" tanya Rohmat saat diriku sudah duduk dimotor yang disediakan toko.
"Mau antar kue 'lah, memang mau kemana lagi selain itu," cakapku santai.
"Iya, aku tahu. Cuma mau antar ke daerah mana maksudnya?" imbuh tanyanya.
"Ooh, itu maksud kamu. Aku mau antar ke perusahaan xxx seperti biasa," jawabku.
"Kebetulan kita sama. Gimana kalau bareng saja kita mengantarnya," Ide Rohmat.
"Hmm, ok 'lah. Tapi kamu yang bonceng."
"Siip, bos."
Motor sudah melaju perlahan-lahan, dengan Rohmat yang beneran jadi sopir kendaraan ke tujuan perusahaan yang sama.
"Nanti kalau sudah selesai urusannya, langsung call me, ok!" perintah centil si Rohmat.
"Iya ... iya, rembes dech."
Kaki seperti biasa langsung menuju ketempat kerja pelanggan yang memesan. Banyak sekali ternyata pegawai diperusahaan ini, hingga matapun sempat bosan melihatnya.
"Ini mbak, pesanan dan ini bonnya," ucapku menyodorkan kue dan sebuah lembaran kertas.
"Oh, iya. Terima kasih."
Setelah melakukan transaksi pembayaran, kini aku segera mengambil gawai untuk menelpon Rohmat yang belum nampak bat*ng hidungnya.
[Ayo cepat, kesini. Aku sudah menunggu kamu, nih]
[Ok ... ok, aku akan segera kesana. Kerjaanku sudah beres juga, kok]
Saat sibuk sama gawai, tiba-tiba tak sengaja netra melihat sesosok anak kecil yang sepertinya kukenal.
"Bukankah itu seperti Naya? Aah, mana mungkin dia ada disini? Tapi--? Aku tadi beneran tidak salah lihat. Aku harus memastikan dia anakku atau bukan?" guman hati yang bimbang.
Secepatnya kaki melangkah mencoba mengejar seorang anak kecil telah digandeng oleh perempuan.
"Hei tunggu ... tunggu?" panggilku pada mereka.
"Bunda?" jawab Naya saat menoleh kearahku.
"Ternyata ini benar kamu, nak? Kok bisa keluyuran ada disini, bukannya sekolah?" tanyaku curiga.
"Tadi memang sempat sekolah, bunda. Tapi pihak sekolah sudah menyuruh pulang kerumah, karena para guru ada kepentingan, dan untung saja ada Ayah yang tadi datang, yang mencoba mau mengantar Naya?" jawab terang Naya.
"Ayah? Mana dia?" tanyaku sudah clingak-clinguk mencoba mencari siapakah yang dipanggil ayah sebenarnya.
"Dia lagi rapat, bunda."
"Owh. Ya sudah, ngak pa-pa. Sekarang kamu ikut bunda pulang saja."
"Emm."
"Maaf, mbak. Ini anak saya, jadi biar dia pergi sama saya saja sekarang," pintaku pada perempuan yang sempat mengandeng Naya.
"Baiklah, nona."
"Makasih, tante. Sudah rela menemani Naya bermain tadi, bye ... bye!" pamit Naya pada perempuan itu.
"Iya, bye ... bye juga."
Lama sekali Rohmat tak muncul-muncul juga, hingga rasanya hati mulai gondok
kesal saja sama itu pria.
"Hei, sayang. Kok ada disini?" sapa Rohmat pada Naya.
"Iya, om. Tadi kebetulan ngak sengaja ketemu sama bunda disini," tutur manis si Naya.
"Ooh. Ayo sini ... sini, biar om saja yang gendong kamu, 'kan nanti bunda capek mengendong berat badan kamu, yang makin lama makin ndut dalam masa pertumbuhan," pinta Rohmat.
"Beneran ngak pa-pa, Rohmat. Jika Naya kamu gendong, berat lho dia?" tanyaku tak enak hati-hati.
"Beneran, Karin. Ngak pa-pa, kok."
Kini tubuh si cantik Naya berpindah digendong oleh Rohmat. Akupun yang tak ada beban dan santai, mencoba berjalan duluan dan mereka hanya mengiringi dari belakang.
"Bunda tunggu. Tunggu bunda, jangan cepat-cepat jalannya!" panggil si Naya saat dia kutinggal jauh didepan.
Langsung saja aku menoleh kebelakang, dan berusaha menunggu mereka saat Rohmat mulai lelet berjalan.
"Kamu turun saja, untuk berjalan sendirian. Kasian om Rohmat yang kelihatannya sudah capek," suruhku.
"Iya, sayang. Om, ngak pa-pa kok."
Kami bertiga akhirnya sudah berjalan cepat sampai diluar kaca pintu utama perusahaan, yaitu dilobi lantai paling bawah sekali alias lantai satu. Pusat perhatianku kini teralih saat netra sudah menengok kebelakang, ketika orang-orang mau keluar namun dihalangi oleh para satpam, yang kelihatannya ada perintah mendadak.
Karena ini masih jam kerja, dengan terpaksa Naya kubawa ikut serta ke tempat kerja.
Sheet, saat motor akhirnya telah sampai juga ketempat tujuan kerja.
"Eghem ... hemm," Suara kuat deheman seseorang, yang mengangetkanku saat masih sibuk melepas helm.
Seketika wajah menoleh kebelakang, mencoba melihat siapa gerangan yang telah bersuarakan seorang pria sudah menganggu aktifitasku.
"Chris? Kamu?" kekagetanku saat melihat dia sudah berdiri tegak didepan toko, dengan senyum lesung pipit khas manisnya.
Dengan segera aku langsung berlari menghampiri dan mencoba menubruk memeluk. Dan tanpa ragu juga tangan Chris berbalik memelukku erat.
"Kamu ternyata sudah pulang? Kenapa mendadak begini, tak memberitahu?" keluhku yang sudah melepaskan pelukan.
"Maafkan aku sayang. Aku tau kamu lagi sibuk bekerja, jadi tak mau merepotkan kamu. Lagian tak jadi suprise kalau memberitahu kamu," jawabnya santai.
"Sekarang mulai nakal dan banyak ide, membuat kejutan secara diam-diam. Gimana kabar kamu sekarang?" tanyaku mencubit sayang perutnya.
"Aww, alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat sekarang, aku pastinya baik-baik saja."
"Wah, bos. Akhirnya kamu kembali juga ke Indonesia, setelah empat tahun lebih kamu betah disana," tutur Rohmat yang bahagia juga atas kedatangan Chris.
"Iya, Rohmat. Biasalah, selama itu aku betah disana pastinya akibat orangtua," jawab Chris lesu.
"Ini siapa, bunda?" tanya penasaran buah hatiku.
"Oh, dia. Dia adalah om Chris."
"Hei, om. Kenalkan Namaku Naya," celoteh imut si manis.
"Wah, baby Naya yang dulu tangannya mungil, kini telapak tangan kamu hampir sama besarnya dengan punya, om nih. Salam kenal juga, sayang!" balas cakap Chris ramah, sambil meraup tangan Naya.
Dert ... dert, tiba-tiba gawai berbunyi.
Karena tak ingin menganngu moment bahagia pertemuan Chris dan Naya, kini aku berusaha untuk menepi sedikit menjauh dari mereka. Sungguh kesal diri ini, saat sibuk ingin lebih lama menemui Chris, kini harus dihadapkan oleh permasalahan pengiriman kue salah isi, dan pelanggan itu minta ganti kuenya segera.
Karena tak ingin mengecewakan pelanggan, kini akupun pergi dengan mengendarai motor sendirian, yang tentunya sudah pamit pada Chris, dan mencoba menitipkan Naya sebentar padanya.
Flasback off
*******
Rasanya sungguh aneh sekali saat memasuki ruangan gelap tanpa ada penerangan sama sekali. Hati sempat ragu masuk, namun sesuai arahan pegawai perusahaan tadi, ini adalah benar-benar tempatnya. Karena tak ingin pelanggan setia marah lagi, kaki mencoba masuk dengan penuh keberanian.
Dengan tak siap, diriku kini dikejutkan oleh seseorang mencekal tangan, dan berhasil membuat tubuh ini mepet ketembok dan mengunci tangan hingga tak bisa lari.
Sungguh batapa terkejutnya diriku, saat mengetahui bahwa pelaku utama adalah orang yang kubenci dan tak ingin bertemu dengannya yaitu kak Adrian.
"Lepaskan aku, kak. Lepaskan," pintaku memohon terus menerus.
"Entah apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang, yang jelas aku ingin kau kembali seperti Karin yang dulu. Sudah sekian tahun diri ini lelah mencari kamu, tapi saat bertemu ternyata kau menolakku sadis dengan rasa kebencian yang ada dihati kamu. Aku tahu sekali kamu marah, kecewa dan terutama tak bisa memaafkan lagi kesalahan yang telah berani menodai kamu. Tapi yang jelas, diriku sangat-sangat berharap sekali kesalahan itu bisa kuperbaiki," tutur lembut kak Adrian penuh kesenduan, yang masih mengkunci tanganku.
"Tiada lagi yang perlu dimaafkan dan memaafkan. Masa lalu yang menyakitkan itu sudah kulupakan, jadi kumohon sekarang lepaskan diriku, sebab tak ada gunanya untuk memperbaiki semuanya. Kesalahan yang fatal dimasa lalu sudah kukubur dalam hatiku yang terdalam, dan kini aku tak mau mengalinya lagi, saat semua luka itu bisa saja membayangi lagi, hingga akan terus menganga menyiksa diriku. Kamu tak payah menyesal seperti itu, sebab semua sudah terjadi dan tak perlu ada perbaikan, yang bagiku buls*t tak ada gunanya," ketusku menjawab secara kasar.
"Tapi Karin. Aku kali ini benar-benar tulus untuk memperbaiki hubungah kita, yang musnah akibat kesalahan bodohku itu," kekuhnya kak Adrian berkata.
"Sudahlah, kak. Rasanya aku muak sekali atas kata-katamu yang penuh drama ini," ujarku kembali merasa kesal.
"Pak ... pak, ini ada berkas yang harus di---?" Suara tertahan seseorang.
Ada sekitar tiga orang tiba-tiba masuk nyelonong begitu saja keruangan kak Adrian, hingga kini tak sengaja mereka melihat adegan kak adrian yang begitu dekatnya ditubuhku, sambil tengah mengkunci pergelangan tangan.
"Maafkan kami, pak. Maaf ... maaf!" ucap pegawainya.
Karena kepergok oleh pegawai sendiri dengan adegan yang tak pantas dilihat, seketika tangan kak Adrian terlepas juga, hingga kebebasan yang sudah datang tak kusia-siakan kesempatan itu untuk kabur. Kaki kini mencoba sekuat tenaga berlari, untuk menjauhi kak Adrian yang kukira sudah tak terkontrol lagi atas emosi kerinduan.
"Hei Karin ... hei tunggu, hei?" panggilnya yang berusaha mengejarku.
"Pak, tunggu ... tunggu. Jangan pergi, sebab ini penting ada yang harus ditandatangani," cegah pegawainya.
Saat terdengar pegawai kak Adrian berusaha agar tak mengejar, membuat nasib kini sungguh berpihak padaku, agar tak berlama-lama bersama pria yang sudah sempat menghancurkan masa remajaku.
Ketakutan yang melanda, membuat diri ini segera bersembunyi ketempat yang aman untuk sementara. Tubuh secara rapat telah kusembunyikan dibalik tembok sebuah ruangan yang telah gelap didalamnya.
Terdengar kuat sekali kak Adrian berkali-kali memanggil namaku, namun dengan kuat pulak diri ini membekap mulut sendiri, agar sedikitpun tak mengeluarkan suara.
"Ya Allah, kak Adrian. Jangan sampai kamu sekarang menemukanku. Aku sungguh tak siap menghadapi kamu sekarang ini. Aku juga sangat rindu padamu dan berharap kita bisa bertemu dan kembali seperti dulu, namun dalam hati yang terdalam aku juga sangat membenci kamu, agar bisa menghilangkan semua rasa ini untuk kita tak bisa ketemu selama-lamanya. Namun atas takdir pertemuan tadi, begitu membuatku syok, hingga untuk menatap wajah kamupun diri ini tak sanggup lagi. Luka yang yang telah kau toreh, tak mungkin diri ini akan membukanya lagi, sebab pintu kesembuhan sudah menutup segalanya, agar kamu tak hadir lagi dalam hatiku," rancau hati sedang dalam kebimbangan.
Nampak dari bayangannya tubuh kak Adrian sudah berlari kesana-kemari untuk terus mendapatkanku, namun diri ini terlalu lihai bersembunyi, hingga tubuh kecil ini sudah hilang bagai sihir membantu menutupinya.
Sekuat tenaga tangan memukul-mukul dada yang mulai terasa sesak sekali, akibat lelehan airmata tak bisa terbendung lagi untuk menahannya. Ketika luka itu hadir lagi, membuat diri ini cukup gelisah untuk mengatasi, yaitu bagaimana agar luka itu tak menempel lagi menorehkan jiwa, yang sudah rapuh seperti kemarin-kemarin.
******
Wah, Adrian dan Chris sekarang sama-sama muncul dihadapan Karin, nih?.
Cerita pasti bakalan seru dipart-part berikutnya, atas dua pria yang kini telah menjadi belahan hati Karin.
Kira-kira pada siapa ya Karin akan melabuhkan hatinya? Chris adalah pria baik yang selalu saja menolong Karin diwaktu terpuruk, namun Adrian adalah pria pertama yang membuat hati Karin meleleh, dan membuat dia hamil.
Pasti ini adalah keputusan yang sulit, hingga kepala authornya ikut sulit menentukan alurnya๐๐๐. Semangat buat diriku sendiri, sebab kisahnya makin ruwet๐ ๐ .
Terima kasih๐๐๐yang sudah hadir membaca, like, vote, coment, dan selalu mengikuti kisahku. Authornya hanya bisa memberikan doa agar kalian diberikan rezeki yang lancar dan sehat selalu. Amin ya robbal alamin.