
Anapun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena keadaannya kian membaik, tapi dia tidak kuboyong ke apartemen langsung melainkan ke rumah orangtua, sebab biar ada yang mengawasi Ana saat kutinggal bekerja.
"Kamu beneran mau berangkat kerja jam segini, Mas?" tanya Ana saat pagi masih mengelapkan harinya.
"Iya, sayang. Mas harus menyelesaikan masalah perusahaan yang belum selesai nih! Apalagi masalah ganti rugi toko yang sudah tersetorkan pakaian. Mas harus segera menyelesaikan itu, biar toko yang menjadi pelanggan perusahaan Mas selama ini tidak akan berpindah ke perusahaan lain," jelasku.
"Tapi, Mas! Ini masih gelap, apa ngak sebaiknya kamu menunggu biar hari agak sedikit terang dulu," ujarnya sambil membantuku memasangkan dasi.
Membenahi dasi yang sedikit miring. Ana membantu. Menepuk pelan agar debu yang menempel hilang.
"Iya, tahu. Tapi alangkah baiknya Mas harus berangkat pagi, sebab biar cepat menyelesaikannya masalah itu."
"Okelah, kalau mas ngotot mau berangkat juga. Sreeeet," ujarnya sambil menarik tali siku dasi keatas secara cepat.
"Aaaa," Suaraku tertahan.
"Jangan kenceng-kenceng, Ana! Kamu mau membunuh suami kamu ini," keluhku tak suka.
"Hihihihi maaf, Mas. Tak sengaja," jawabnya sambil tertawa pelan.
"Kamu baik-baik dirumah, jangan terlalu kecapek'an. Awas saja kalau terjadi apa-apa sama kamu lagi, bakal kuhabisi dirimu nanti," ancamku mengajak bercanda.
Aku suka sekali mengodanya. Menurut penelitian mengajak bercanda dan bisa bikin tertawa, akan menghilangkan stres dan bertambah awet muda.
"Wah ... wah, istri sendiri mau dibunuh, sungguh kejamnya kamu itu. Kenapa? Sudah bosankah?" tanya balik Ana mengajak bergurau.
"Hehehehe, bukan itu maksud, Mas. Maksudnya menghabisi seluruh yang kamu punya, contohnya ya tentang itu tuh!"
"Isssh, apaan?"
"Sebuah pelayanan," candaku memancingnya.
"Aku merasa Mas ini sudah kecanduan sama yang namanya mesum-mesum terus dech! Gak ada habis-habisnya mengarah ke situ terus," jawab Ana agak kesal.
"Hahahaha, tahu aja kamu ini! Mas, itu 'kan sudah menikah, jadi wajarlah kalau selalu ngomong masalah urusan dikasur," responku.
Tertawa lepas dengan kerasnya. Wajahnya yang kesal semakin gencar untuk mengoda.
"Menikah sih menikah, tapi apa gak bosen ngomongin itu terus."
"Mana ada bosen sayank, ngomongin masalah itu. Lagian bukankah kodrat seorang laki-laki memang harus sedikit mesum, untuk menarik lawan jenisnya bisa nyaman."
"Iya sih, memang pria itu kalau berkata-kata masalah kayak gituan selalu agak blak-blak'an, dibandingkan dengan wanita yang sedikit agak malu-malu," jawabnya.
"Contohnya seperti kamu," tebakku.
"Ciiiieh."
"Kenyataan 'kan? Kalau kamu sering kayak gitu. Sedangkan kamu sering dicium Mas saja, kayak sering malu-malu kucing, dan itu sering banget," bongkarku.
"Gak juga," Nyolotnya dia menjawab singkat.
"Apa perlu Mas bukti'in," jawabku sambil menarik tangan Ana, sehingga badannya yang tak siap menabrak ditubuhku secara cepat.
"Eeeiiit, pagi-pagi jangan aneh-aneh," cegahnya.
Dia mencoba menghindar, namun dia kalah telak saat mengunci tubuhnya dengan kupeluk erat.
"Mau membuktikan ngak juga begini kali."
"Ngak pa-pa kali, 'kan kita sudah halal jadi sah-sah saja."
"Sudah ... sudah, Mas berangkat kerja sono!" Perintahnya mencoba menghindar.
"Tadi aja ngedumel Mas tidak boleh berangkat pagi, sekarang malah berbalik menyuruh pergi. Sungguh kejam. Jangan bilang kamu sudah malu, karena Mas ingin membuktikan dengan cara mencium kamu," Tidak patah semangat terus mengodanya.
"Hehehehe, udah ah! Berangkatlah kerja," cegegesannya yang mau melepaskan diri dalam pelukanku.
"Eeiiit ... eeeiit, mau kemana? Tantangan malu-malunya belum terpenuhi nih!" cegahku.
"Ya ampun, udah mas. Berangkatlah kerja sana! Tadi katanya mau menyelesaikan masalah kantor cepat-cepat," Alasannya yang mencoba menghindar.
Cuuuup, saat mulutnya tengah cerewet berbicara, tanpa permisi langsung kudaratkan ciuman.
"Gak usah banyak menjawab dan bicara lagi. Hanya ini yang kubutuhkan sekarang, cuuup!" ciuman terus saja kulanjutkan.
Aku tak mau melepaskan tautan bibir kami begitu saja, sehingga membuat Anapun sedikit gelagapan, tak bisa menandingi nafsu ciumanku yang kian mengebu-gebu.
Dia sekarang terlihat begitu menikmati, yang awalnya ada sedikit penolakan, tapi berkat paksaanku akhirnya dia pasrah juga. Lehernya yang jenjang putih dan halus, tak lupa kutelusuri juga untuk terus menciuminya pelan. Aku melihat wajah Ana sudah memejamkan mata, menikmati detik demi detik kelakuanku yang terus mengila mencumbuinya.
"Gimana?" tanyaku sudah menghentikan aksi, yang sudah sedikit terbawa hasrat.
Hanya diam yang dilakukan Ana, dan terlihat wajahnya sudah memerah seperti malu-malu.
"Benerkan apa yang Mas katakan tadi? Kamu itu suka malu-malu tapi mau," godaku sambil membongkar rahasianya
"Ya ... ya. Aku kalah, kamu yang menang," jawabnya sewot.
"Hahahaha, akhirnya kamu mengakuinya juga."
"Gak usah malu-malu lagi, sayang. 'Kan semua dilakukan bersama Mas, dan itu atas dasar cinta, jadi buat apa malu-malu! Toh semua itu adalah kewajiban istri untuk melayani keinginan suami. Bukankah suami akan bahagia jika istri tak pernah menolak apa yang menjadi keinginan suaminya, jadi pinta Mas padamu, mulai hari ini pasrah dan lepaskan semua yang menjadi rasa canggung itu, dan kamu tak perlu malu lagi, sebab semua itu terlakukan atas dasar sayang," jelasku memberi nasehat.
"Iya mas, aku akan berusaha biar kita tak canggung, bila melakukan apa yang kamu inginkan," jawabnya menyetujui.
"Terima kasih, Ana." Ujarku yang sudah memeluknya erat.
"Engkau adalah harta yang paling terindah yang dikirimkan Tuhan untukku. Sungguh aku dulu begitu menyia-nyiakan berlian yang indah, demi kerikil jalanan yang hanya merusak cinta dan hidupku. Maafkan aku, Ana! Kamu begitu berharga dalam hidupku sekarang, sampai kapanpun kamu adalah wanita nomor satu dalam hatiku, dan tiada lagi perempuan diluaran sana yang dapat mengantikanmu. Mama benar-benar tak salah mengirimkan bidadari yang cantik dan sebaik dirimu, sungguh aku begitu beruntung memilikimu, cuuuuup!" Kukecup keningnya perlahan dengan penuh perasaan.
"Akupun sama sepertimu, Mas! Keberuntunganku begitu indah, saat Tuhan mengirimkan suami yang setia, baik hati, tampan, tapi agak mesum," jawabnya yang masih tak lepas dari kucium kening.
"He ... he, tahu aja kamu itu."
"Ya sudah aku mau berangkat sekarang. Oh ya, kalau nanti malam tidak ada kerjaan, kita makan diluar aja gimana?" tanyaku.
"Terserah, Mas saja! Asalkan kamu bahagia, pasti semua yang Mas inginkan akan kujalankan," jawabnya menyetujui.
"Heeem, terima kasih."
Setelah sarapan pagipun aku langsung meluncur ke perusahaan. Waktu masih menunjukkan pukul 5.00 pagi, dan diriku sudah meluncur bekerja disaat jalanan masih sepi, untuk orang-orang melajukan kendaraannya. Karena menyetir ngebut, diri inipun tak butuh waktu lama untuk datang.