
Pekerjaan kini kulanjutkan untuk membersihkan lantai, dan terlihat mas Adit sudah keluar dari ruangannya, yang tak tahu dia akan pergi kemana? Kaki perlahan-lagan mencoba mengikutinya, dan ternyata suami hanya meminta dibuatkan kopi kepada office boy.
Saat mas Adit sedang menyeruput kopi, tiba-tiba dia sudah menatap tajam ke arahku. Dan perlahan-lahan mendekatiku, yang tengah berdiri memperhatikannya.
"Ya ampun, mati aku ... mati ... mati. Jangan sampai Mas Adit curiga, dan nyamperin kesini!" kegelisahanku saat langkahnya kian mendekat.
Karena takut ketahuan sama Mas Adit, langsung saja langkah kaki berusaha pergi, agar diri ini tak ketahuan lebih jauh olehnya.
"Tunggu!" panggil Mas Adit, yang membuatku kaget.
"Aduh mati ... mati. Jangan sampai Mas Adit bertanya-tanya lebih," Ketakutanku dengan tangan sudah berkeringat dingin.
Kepala kutundukkan secara kuat, biar suami tak melihat wajahku.
"Kamu pegawai baru 'kah? Kok kayaknya ngak pernah lihat kamu," tanya mas Adit merasa curiga.
Mulutnya terdengar sedang menyeruput. Netranya sibuk terus mengawasi.
"Eeh ... iya, pak!" jawabku pelan.
"Perasaan tadi, kamu itu orang yang lagi mengepel didepan ruangan kerjaku, tapi kok sekarang berada disini! Ada hal pentingkah disini? Dan kulihat kamu dari tadi memperhatikanku? Apa ada hal yang penting ingin kamu bicarakan, atau ada pertanyaan lain yang ingin disampaikan padaku?" tanya Mas Adit.
"Eeh ... enggak kok, Pak. Aku lagi tak memperhatikan anda, cuma tadi mau minum kopi juga, tapi tak enak ada Bapak sedang disana. Aku memang orang yang membersihkan disekitar ruangan anda tadi. Sebenarnya tadi rasa ngatuk sedang menderaku, sehingga kesini cepat-ceoat dengan niat hati ingin minum kopi, tapi keburu anda tadi berada disana, jadinya tak enak sebab ada bos besar," jawabku berbohong pada suami sendiri.
"Oooh."
"Kalau begitu aku permisi dulu, Pak." Ucapku berusaha pamit.
"Oh iya-iya."
"Tunggu dulu!" cegahnya berusaha menghentikanku.
"Ya ampun, ada apa lagi ini?" gumanku dalam hati.
"Iya pak, ada apa lagi?" tanyaku mulai grogi lagi.
"Gak ada apa-apa lagi? Cuma nanya aja, apa kamu ngak jadi bikin kopi? Katanya tadi sedang ngantuk, dan ingin membuat kopi," tanyanya.
"Eeh ... nggak jadi Pak, nanti saja. Rasanya ngantukku sudah mulai hilang. Aku permisi dulu, Pak!" ucapku berusaha pamit.
"Iya."
Langkah sudah tergesa-geda pergi, sebab aku tak mau Mas Adit bertanya-tanya lagi.
"Huuuf ... huffff," tarikan nafasku yang merasa lega.
Dert ... kring ... dert ... kring, gawai sudah berbunyi, dan disitu tertera nama mas Adit sedang video call.
"Mati aku! Apa lagi ini?" mulutku yang berbicara kesal.
Dengan terburu-buru langsung saja langkah pergi ke ruangan ganti milik pegawai kebersihan. Dan secepat kilat, tangan sedang membuka kancing baju pegawai kebersihan, sebab ingin ganti baju biasa, biar mas Adit tak curiga. Tangan berusaha menyisir rambut yang sudah berantakan, akibat terkena baju saat ganti tadi.
Dert ... kring ... dert, telephone masih saja sibuk berbunyi.
[Hallo mas, assalamualaikum]
Sapaku berbasi-basi padanya.
[Walaikumsalam, kemana sih? Lama banget ngangkatnya? Garing tahu rasanya, akibat nunggu telephone yang lama gak diangkat]
[He ... he, maaf mas. Tadi aku sibuk sedang mencuci baju, dan membersihkan rumah. Handphone didalam kamar, jadi aku tak dengar kalau gawai sedang berbunyi]
Penjelasanku dengan beribu alasan, untuk tetap berbohong.
[Ooh ya sudah. Kemana Aliya? Aku ingin melihatnya, sebab rindu sangat nih padanya]
[Maaf ya mas, kamu tidak bisa lihat Aliya. Tadi mama datang kesini, mau ngajak Aliya bermain. Sebab katanya beliau sedang kesepian dirumah, jadi sudah memboyong Aliya untuk dibawa kerumah beliau]
[Ooh, ngak pa-pa. Mungkin mama butuh hiburan anak kecil, sebab anaknya cuma satu dan itupun sudah menikah pulak, jadi beliau senang saja saat mendapatkan cucu]
[Mungkin mas]
[Ooh ya, kamu lagi dimana sih ini? Kayaknya mas tak asing lagi sama tempat kamu, berdiri sekarang?]
Klik, tiba-tiba gawai kumatikan, sebab mas Adit sudah mulai curiga. Dan langsung saja tangan menekan tombol tanda telepone, untuk segera menelpon mas Adit, biar dia tak khawatir akibat gawai tiba-tiba kumatikan.
[Hallo mas, maaf ya tadi tiba-tiba mati. Sinyalnya lemah nih disini!]
[Oh gak pa-pa. Ya sudah kalau begitu, mas mau kerja lagi, tadi hanya ngecek kamu sama Aliya saja]
[Oh, oke ... oke! Lanjutkanlah pekerjaan kamu, assalamualaikum]
[Iya, walaikumslaam]
"Hhhhh, aman ... aman, akhirnya tak diketahui mas Adit," gumanku dalam hati merasa lega.
Pakaian khusus kebersihan kupakai lagi, agar segera melanjutkan pekerjaan biar tak kena marah sama atasan.
Sruuut ... sruut, tangan sudah sibuk mengelap kaca perusahaan.
Rasanya capek juga setelah beberapa bulan tak pernah gerak untuk bekerja, baru ngepel saja rasanya badan sudah pegal-pegal.
Aah ... hidup sudah kaya, tapi malah memilih jalan sengsara. Tapi tak apalah, semuanya tetap harus terjalani, toh ini semua demi kebaikan rumah tangga kami, yang takut akan kegenitan si janda Nola menggoda mas Adit.
Klek ... klek, suara kuat sepatu hak tinggi seseorang sedang berjalan.
Matapun sudah terbelalak, akibat kaget siapa yang datang. Ternyata dugaanku tak salah, pasti si janda bahenol akan datang terus, dengan alibi melakukan perjanjian kesepakatan bersama perusahaan mas Adit.
"Ya salam, apa yang tengah menyelimutinya?" Kekagumanku yang terheran-heran.
Pakainnya yang berwarna merah menyala, senada dengan gincu bibirnya yang lebar berwarna pink pulak, sungguh itu membuatku merasa bergindik ngeri dan jijik. Tak menyangka hanya demi kepentingan bisnis, dia sudah berbahenol berdandan seperti anak muda.
Akupun yang melihatnya sudah dibuat jengkel, dan tak buang-buang waktu langsung aku mengikutinya dari belakang. Tangan secepatnya menekan tombol gawai, untuk menelpon sekertaris Rudi, yaitu agar mau membantu menjalankan aksi pengintaian. Sebab diriku tak bisa masuk begitu saja dalam ruangan mas Adit, untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan nanti, jadi sekertaris Rudilah kukorbankan untuk menjadi mata-mata.