Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Aku yang hanya diam menyaksikan


Kedekatan mereka terlihat memuakkan, hingga rasanya kian membenci akibat rasa api kecemburuan kian membakar. Bukan aku tak bisa berontak ataupun mengeluh atas semua ini, namun keadaan Naya yang masih lemah membuatku hanya bisa terdiam terbungkam.


"Apakah luka ini tidak engkau ketahui, Karin?Apakah kau begitu bahagia jika dekat-dekat dengan, Adrian? Apakah aku memang tak pantas untukmu? Kenapa cintaku yang begitu mengebu ini, seakan-akan kau lupakan begitu saja?" tanya hati yang galau saat melihat canda tawa Karin bersama Adrian.



Mungkin aku hanyalah pohon, yang tak bisa meneduhkan hatimu.


Mungkin aku hanyalah Air, yang tak bisa menyirami kekeringan dalam hidupmu.


Mungkin aku hanyalah angin, yang tak bisa memberikan kesejukan perasaanmu kini.


Mungkin aku hanyalah Es, yang tak bisa membekukan hatimu untuk tetap jadi milikku.


Rasa cinta ini begitu kuat, namun hamparan debu kian menerpa, hingga debu itu semakin lama menjadi tumpukan kotoran yang harus dibersihkan, namun karena kekuatanku yang melemah membuat debu itu terbiar saja, dengan netra hanya bisa menyaksikan saja.


"Permisi, bolehkah aku masuk?" tanyaku saat bertandang.


"Oh, kamu Chris. Ayo masuk ... masuk kesini," jawab Karin ramah.


"Hey, Adrian!" sapaku mencoba ramah.


"Emm."


"Aku akan pergi sebentar, mencari keperluan milik Naya anak kita," ucap Adrian mencoba pamit.


Deg, lagi-lagi kata (anak) itu begitu menusuk hati. Entah mengapa aku begitu benci sekali dengan kata itu, yang padahal itu tak bisa dipermasalahkan sebab memang Naya adalah anak Adrian, namun mengapa harus dikatakan didepanku, yang kelihatan memang sengaja untuk memanasi saja.


"Iya, kak. Hati-hati saja dijalan," jawab Karin ramah.


Aku hanya melirik dengan tatapan sinis ke arah Adrian, begitu juga dengan dirinya berbalik menatap penuh keanehan. Kini dia pergi begitu saja, tanpa sepatah kata ingin berbicara padaku, mungkin rasa hati yang dongkol akibat masa-masa permusuhan diantara kami masih tersimpan dihatinya.


"Bagaimana dengan keadaan, Naya?" tanyaku berbasa-basi pada Karin.


"Alhamdulillah, keadaannya semakin hari semakin baik-baik saja. Namun hanya harus dirawat dirumah sakit, untuk memulihkan beberapa luka akibat operasi kemarin," terang Karin.


"Oh, begitu!" jawabku singkat.


Tak banyak kata-kata lagi keluar dari mulut ini, yang bisa mencairkan suasana yang terasa kaku. Entah mengapa, rasanya malas sekali hanya sekedar berbincang pada Karin seperti hari-hari kemarin.


"Kamu kenapa, Chris?" tanya Karin, dengan menepuk tanganku pelan, saat duduk diruang VIP rumah sakit.


"Eh, tidak ada apa-apa, kok!" jawabku sudah terbuyar atas lamunan.


"Benarkah itu? Tapi mengapa aku merasa aneh sekali, saat kamu lebih banyak diam kali ini?" cakapnya yang mulai curiga.



"Iya, Karin. Aku beneran tidak apa-apa, kok!" jawabku ramah sambil tersenyum.


"Aku sebelumnya minta maaf, atas kesibukkan diriku yang sering dirumah sakit, hingga tak ada waktu untuk menemui kamu. Maaf juga sudah merepotkan kamu, yang harus bolak-balik menjenguk Naya diwaktu kesibukkanmu bekerja," jawabnya tak enak hati.


"Jangan katakan itu, Chris. Walau ada kak Adrian diantara kami, namun kamu juga sangat kami perlukan, sebab kau adalah pria yang akan menjadi suami sekaligus ayah bagi Naya," tutur Karin penuh kelembutan.


"Benarkah itu? Tapi aku tetap tak enak hati sama Adrian, jika tiap waktu selalu datang kesini terus. Tapi tetap terima kasih kepadamu atas pengertiannya," Kepura-puraanku tak enak hati.


"Kamu jangan khawatirkan itu, sebab ada aku disini," balas cakap Karin tak pedulikan mengenai Adrian.


"Hemmm, ok 'lah."


Aku tak mau membuat Karin khawatir terhadapku juga, karena cukup masalah mengenai anaknya saja sudah buat dia pusing, apalagi masalah sepele mengenai hati kami. Mungkin Karin tahu sekali aku kini agak berubah, sebab akhir-akhir ini dia selalu dekat dengan Adrian.


"Maafkan aku, Karin, Kejujuran memang dibutuhkan sekarang, namun aku tak mau rasa cemburuku ini jadi bebanmu juga. Diriku kini begitu dilanda kebingungan, apakah langkah kita akan menikah adalah benar, sedangkan aku lihat kau nampak lebih bahagia bersama Adrian?" rancau hati saat menatap Karin tanpa didengarnya, ketika sedang repot mengurusi Naya sudah bangun tidur.


Tatapanku terus saja kosong seperti tak ada kekuatan lagi, walau hanya sekedar bercengkrama dengan Karin lagi.


*******


Bintang-bintang yang berkelipan dibalik awan, nampak cantik dan elok sekali bagaikan wajah sang pujaan hati. Namun kelamnya kabut awan malam telah menutupi hingga tak terlihat terang, yang kini sama seperti dengan hatiku ketika bisa terpancar aura kebahagiaan, namun didalam hati begitu tertekan oleh rumitnya percintaan.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mama saat aku melamun dekat kolam, memandangi keindahan langit malam.


"Chris lagi galau, Ma!" jawabku sendu.


"Maksudnya? Galau tentang apa? Bukankah Karin kini telah menjadi milikmu seutuhnya?" tanya keanehan Mama pada diriku.


"Memang betul, Ma. Tapi Chris merasa tak enak hati pada Adrian," jawabku termenung kembali kisah diantara kami.


"Memang siapa Adrian itu?" tanya imbuh Mama.


"Dia adalah pria yang menodai, sekaligus pernah tak memperdulikan Karin diwaktu dulu. Dia kini muncul lagi diantara kisah kami."


"Lha terus apa yang menjadi kekhawatiranmu? Bukankah Karin sudah setuju akan menjadi pengantin wanita kamu? Lagian pria bernama Adrian itu bukankah hanya masa lalu, tapi kenapa kamu harus tak enak hati begitu?" Kebingungan Mama yang terus bertanya.


"Semua apa yang dikatakan engkau benar, Ma. Tapi Karin nampak akan bahagia jika bersama Adrian itu. Aku kini begitu bingung, apakah aku harus melepaskan, Karin? Tapi rasanya berat saat aku sangat mencintainya," jelasku sedih.


"Ooh, itu masalahnya. Masalah melepas atau tidak itu adalah urusan kalian berdua, Mama hanya mendukung saja atas keputusan kamu nanti. Hati itu tidak bisa dipaksakan, sebab ujung-ujungnya kalian itu bakalan tidak bahagia. Tanyakan semuanya pada hatimu yang terdalam, apakah kau ikhlas untuk melepaskan Karin atau tidak. Jangan dipaksakan bila itu sakit, namun lebih baik kamu sakit hati sekarang, dari pada nanti kalian sudah berumah tangga malah isinya sakit hati melulu. Mama yakin sekali, bahwa kamu pasti akan bahagia jika melihat Karin juga bahagia, walau awal-awalnya akan ada tak terima maupun kesedihan," terang Mama dengan beberapa nasehat.


"Iya, Ma. Mama benar sekali, tapi entahlah. Chris belum sejauh itu berpikir, sebab hati yang sakit masih tarasa begitu tertancap tak bisa kucabut. Nanti kalau Chris sudah baikkan atas perasaan ini, insyallah akan mengambil langkah apa atas hubungan ini," jawabku yang masih bingung.


"Baiklah, Chris. Semoga saja keputusan kamu nanti, akan membawa kebaikkan untuk kalian semua. Jangan sampai ada dendam diantara Adrian dan kamu, sebab itu tak akan ada manfaat, karena ujung-ujungnya pertengkaran tak akan selesai-selesai akibat dendam itu sendiri. Kamu harus tanya pada Karin dari hati ke hati, dan semoga saja nanti kamu akan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginanmu," imbuh ucap Mama.


"Iya, Ma. Pasti itu. Semoga saja kami bertiga akan baik-baik saja dalam membawa hubungan ini," cakapku sudah tersenyum ramah.


"Amin ya robbal alamin. Iya, Nak. Mama akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian," jawab beliau.


"Terima kasih, Ma."


Kunci atas semua jawaban ada pada Karin, jadi aku akan menemuinya untuk membicarakan kisah ini semua. Rasanya hati begitu menganjal, jika semua kisah pelik ini tak terselesaikan.