
Senyuman kuusahan agar selebar mungkin, biar tak nampak rasa kesedihan yang hadir sekarang. Tamu tampak menyambut hangat jabatan tangan yang terulur. Mereka berbisik-bisik seakan-akan kagum melihatku.
"Siapa mereka? Kenapa Mama harus menyuruhku untuk kenalan? Apa maksudnya ini?" Sambil duduk pikiran berusaha mencerna akan perintah Mama.
"Pekernalkan, Chris. Ini teman Mama, dan yang disebelahnya itu putri gadisnya bernama Mia. Mereka baru saja pindah ke sini lagi, setelah sekian lama sempat tinggal diluar kota."
"Salam kenal, Tante, Mia." Tangan bertangkup didada.
"Iya, Chris. Tidak usah sungkan-sungkan begitu untuk berkenalan lagi, sebab Tante sudah kenal kamu lama semenjak masih sekolah SD, cuma lama tidak melihat kamu dan sekarang sudah banyak perubahan jadi bujang tampan sekali."
"Heheeh, Tante bisa saja."
Langsung duduk disamping Mama.
"Oh ya, Chris. Mia ini teman kamu bermain sejak kecil lho. Kalian dulu akrab banget. Cuma tidak lama, sebab harus terpisahkan oleh jarak kota," Mama menjelaskan.
"Oh, begitu. Chris, sayangnya tidak ingat lagi siapa mereka. Mungkin efek banyaknya yang dipikirkan jadi lupa semua. Maaf ya, Tante."
"Iya, Chris. Tante memahami, kok."
Senyuman manis terpaksa kuberikan.
"Kalian bisa akrab lagi lho sekarang, 'kan sudah bisa bertatap muka," suruh Mama.
"Iya, Tante." Gadis manis didepanku hanya tersenyum malu-malu.
"Jangan iya saja, Mia. Chris lagi kosong tuh!" Mama sudah berbicara yang tidak kumengerti.
"Hah, kosong apaan sih maksud Mama itu?" guman hati kebingungan.
"Masak sih, Jeng. Pria setampan Chris masak masih kosong."
"Beneran, Jeng. Bisa tanya sama anaknya sendiri."
Mereka kelihatan akrab banget, bagaikan bukan teman berbicara tapi seperti keluarga sendiri.
"Benarkah itu, Chris?" tanya Mama Mia.
"Eh, hehehe. Iya, Tante." Kepala belakang hanya kuusap, masih tidak memahami yang dibicarakan.
"Nah, 'kan. Berarti Mia ada kesempatan untuk bisa dekati Chris, lho!" Mama tersenyum aneh ke arahku. Mencoba menyiratkan sesuatu, tapi otak ini begitu lemot mencerna.
"Apa-apaan sih, Mama ini!" jawab tidak suka.
"Kan benar, Nak. Kamu sekarang lagi sendiri, tidak ada pasangan."
"Hmm."
"Baguslah kalau begitu. Mia juga lagi tidak punya pacar. Boleh banget nih, kalau kalian bisa berjodoh."
"What?" Kekagetan yang spontan langsung membulatkan wajah.
"Iichh, kenapa kamu kelihatan kaget begitu?" keluh Mama.
"Bukankah bagus diumurmu yang tidak muda lagi, jika sekarang memiliki pasangan. Lagian kalian diwaktu kecil dulu, sempat bermimpi bisa bersama-sama kelak lho," Lagi-lagi Mama menjelaskan masa lalu yang terlupakan.
"Tapi itu 'kan masa lalu, Tante. Masa sekarang mana bisa ditagih. Lagian mungkin Chris sekarang didepan tidak punya pasangan, tapi siapa tahu kalau dibelakang sudah ada," simbat Mia terasa mencoba membantu, untuk keluar dari zona merah.
"Iya juga, sih. Tapi Tante berharap banget kalau Chris sekarang bisa punya pasangan dan bisa menikah. Sedih rasanya melihat dia kemarin, saat semua telah terencanakan namun semua telah gagal," Mama sudah tertunduk merasakan kesedihan, mengenang masa depanku yang hancur ketika bersama Karin.
Wajah melirik ke arah Ibu kandung. Ada guratan kesedihan yang mendalam. Tangan rasanya ingin menyentuh agar beliau tenang, tapi kuurungkan sebab tak ingin menambah rasa kesedihan itu.
"Jeng, tidak usah sedih begitu. Mungkin belum berjodoh dan waktunya Chris untuk menikah."
"Sebagai orangtua cukup berdoa dan pasrahkan saja sama sama Allah, atas jalan kehidupan anak-anak kita kelak."
"Iya, Jeng. Pasti itu."
"Kamu lihat sendiri bagaimana Mama Mia ini kalau orangnya baik. Pasti kamu juga bisa menebak kalau Mia juga anak manis dan baik." Tangan Mama sudah menepuk perlahan-lahan tangan yang terpangku dipaha.
"Iya, Ma."
"Kalian kenalan 'lah dulu. Tidak usah buru-buru, sebab niat yang grusa-grusu (Cepat-cepat) itu tidak baik." Tante sudah mengingatkan.
"Iya, Ma." Mia menjawab dengan suara penuh keanggunan.
Wanita idaman dan impian setiap pria. Pasti siapapun yang mendekati akan langsung jatuh hati.
Netra kami diam-diam saling mencuri pandangan. Tak sengaja saat menatap sorot matanya, Mia pun juga ikutan sedang melihat ke arahku.
Obrolan orangtua yang sangat nyaman dan menyenangkan. Walau semua mengarah ke pembicaraan tentang wanita, namun aku tak akan serta merta langsung pergi sebab tidak enak sama tamu.
"Bagaimana kalau kita sekeluarga makan malam. Lagian Chris baru saja datang, mungkin kita bisa merayakan sedikit, atas rasa syukur dia telah sampai ke sini dengan selamat, gimana?" Ide tanya Mama.
"Wah, itu ide bagus. Setuju sekali," saut Mama Mia.
"Baguslah kalau begitu, Jeng. Ajak suami kamu juga."
"Sipp 'lah."
"Tapi sedikit agak berantakan. Gimana nih!."
"Berantakan gimana, jeng?"
"Tadi bibi sempat memberitahu, kalau bahan dapur sedang menipis."
"Bagaimana kalau Mia saja yang belanja saja, Tante."
"Wah, sayang bagus sekali. Maaf jika merepotkan kamu."
"Tidak apa-apa, Tante. Mia sudah terbiasa. Kalau Mama sibuk, pasti Mia yang akan melakukan semua itu."
"Wah, anak yang patut diandalkan. Tante, suka sama anak gadis yang serba bisa begini." Pujian yang bertubi-tubi terlontar.
"Aah, Tante. Terlalu memuji, 'kan jadinya nanti besar kepala, nih!" Mia berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu serius dalam obrolan.
"Bisa saja kamu ini, Mia."
Semua Mama sedang tertawa kecil. Senang akan apa yang dikatakan Mia barusan. Hanya senyuman kecut yang terlempar, bagiku tidak lucu tapi kalau tidak ikutan nanti bisa dikatain tidak menghargai.
"Kamu antar Mia ya, Chris!" suruh Mama.
"Tapi, Ma. Chris lelah banget ini, 'kan tadi baru sampai."
"Tahan dulu, Nak. Kasihan kalau Mia pergi sendirian nanti."
"Ngak pa-pa, Tante. Takutnya ngerepotin. Mia bisa ajak bibi saja nanti."
"Ngak ngerepotin kok, Mia. Chris, biasa kok melakukan ini juga. Ya Chris, antar Mia sebentar saja," pinta Ibu kandung.
"Hmm, ya sudahlah. Chris akan antar."
"Terima kasih, atas pengertiannya."
"Emm."
Tidak enak kalau niat baik Mia tidak ditanggapi. Sedangkan dia akan buang tenaga untuk membantu acara kami, masak aku tidak ingin membantu malah akan merepotkan.
Rasanya benar-benar capek sekali badan. Sendi-sendi bagaikan telah terlepas dari badan, namun permintaan Mama harus dituruti agar tidak terlalu kecewa dan malu sama tamu.