
Setelah kenyang, akupun mendekati Ana yang sudah bersedapkan tangan didada, sambil muka ditekuk cemberut.
"Jangan marah 'lah, sayang. Wajah kamu itu kian lucu saja kalau cemberut gitu!" bujukku.
Bisa brabe jika kemarahannya itu bertahan lama. Bisa-bisa tidak akan dapat jatah malam, maka dari itu harus segera mencairkan kekesalan dia.
"Ciih, aku ngak marah tapi lagi kesel aja," jawabnya cepat.
"Bukannya itu sama."
"Gak sama!" tekannya menjawab.
"Dari tulisan saja beda, apa lagi artinya."
"Ya ... ya, kamu benar. Maaf ya, oke! Kamu jangan marah lagi ya sayang," ujarku manja, menyandarkan kepala dibahunya.
"Hhhhhhh," Hembusan nafasnya pasrah.
"Ya sudah, aku mau pulang saja. Tugasku sudah beres mengantarkan makanan, jadi ngak ada kerjaan lagi, selain secepatnya pulang kerumah."
Terdengar masih ada hawa marah.
"Yah ... yah, buru-buru amat, sih!."
"Lha ... terus? Aku tidak mungkin mau menunggui Mas bekerja disini?" tuturnya yang sudah berdiri.
"'Kan gak pa-pa, sekali-kali nunggu Mas bekerja."
"Hadeh, aku yang nanti bisa bosan."
"Mas begitu rindu tahu! Rasanya ingin memandang wajahmu terus," rayuku yang kini memeluknya dari belakang.
"Tiap hari kita 'kan terus bertemu, takkan rindu terus. Toh akupun takkan kemana-mana, jadi Mas gak usah merindu mengebu begitu, kalau kemarin sih bisa dipahami sebab kita terpisah," jelasnya.
"Entah Ana, walau kita tiap hari bertemu dan tiap waktu bersama, aku masih saja selalu rindu ingin bersamamu terus," ungkapku yang mencium pipinya.
"Manjanya mulai kumat ini!."
"Hehehhe. Tahu saja."
Tok ... tok ... tok, pintu ruangan diketuk.
"Lepaskan pelukanmu, Mas! Sepertinya kamu ada tamu," desaknya.
"Gak mau, Ana. Aku mau memelukmu terus," tolakku.
"Ya ampun Mas, ada tamu itu! Gak malu apa nanti dilihat orang, jadi lepaskan dulu pelukannya, siapa tahu orang itu penting yang mau ketemu kamu."
"Ngak mau."
"Nanti deh, Ana akan memberi pelukan terlama kalau pulang kerja."
"Benarkah itu? Oke, aku akan menangih janji kamu nanti malam," Semangatnya menjawab.
"Ciih, kalau soal gituan aja langsung cepat dah! Cepat lepaskan dulu," sindirnya.
"Hahahaha, ya harus cepat, 'kan Mas suka," jawabku sambil melepaskan pelukan.
Tok ... tok ... tok, pintu diketuk lagi.
"Iya masuk saja," perintahku menyetujui.
Ceklek, pintu sudah terbuka lebar.
Klek ... klek ... klek, suara sepatu hak tinggi sedang berjalan.
"Kak Nola?" sapaku.
Aku dan Ana yang sedang duduk disofa, terheran melihat kedatangan kak Nola.
"Hai Adit, hai Ana! Apa kabar?" sapanya balik.
"Kami baik, Kak!" jawabku berusaha ramah.
Wajah kami sama-sama memandang. Mengartikan sesuatu tentang wanita yang barusan ingin bertamu, sebenarnya ada apa kesini?.
"Tumben-tumben kamu ada disini, Ana?" basa-basi Kak Nola bertanya.
"Ooh, baguslah kalau begitu. Kamu istri pengertian, dan Adit laki-laki setia, berarti kalian itu cocok sekali, dengan takdir yang telah ditentukan," pujinya.
"Patutnya memang haruslah cocok, karena kami memang pasangan setia sehidup semati akan tetap saling mencintai," terang Ana.
"Oh ya, tumben juga Kak Nola ada disini, bukannya ini waktunya orang kerja?" tanya Ana balik.
"Aku ada perlu sama Adit. Biasalah, masalah pekerjaan," jawabnya santai.
"Ooh."
"Kalian ngobrolah dulu, sebab aku mau ke toilet sebentar," Alasanku berusaha pamit.
"Iya mas, pergilah! Sepertinya kamu sudah tidak tahan," ucap Ana saat aku sudah meringis menahan sakit perut.
Karena toilet dekat sekali dengan ruangan kerja, jadi aku bisa mendengarkan apa yang diobrolkan mereka berdua.
"Semoga bisa terkuak semua dan tidak terjadi apa-apa sama, Ana."
"Kamu ternyata tak pantang menyerah, walau aku tahu bahwa disebalik semua masalah diperusahaan mas Adit akibat ulahmu," cakap Ana terus terang.
"Apa maksudmu? Kalau ngomong jangan sembarangan, dan aku tak tahu apa yang kamu maksudkan?" elak kak Nola menjawab, terdengar oleh telingaku walau dalam toilet.
Masih saja menguping, mungkin dengan kutinggal wanita bisa bebas dan mengakui semuanya.
"Kamu ngak usah pura-pura, dan aku cuma mengingatkan bahwa semua kebusukan pasti akan terbongkar jua, termasuk rencana jahat kamu itu," balas Ana mantap.
Salut sama istri yang masih saja tidak kenal takut. Kak Nola sebagai wanita yang lebih tua dari Ana, tak menyurutkan niatnya untuk terus menyalahkan dia.
"Terserah apa yang kamu tuduhkan padaku, yang jelas aku takkan mungkin menghianati Adit, ingatlah itu! Sebab Adit sudah kuanggap sebagai adik sendiri," balas kak Nola.
Deg, akupun kaget atas penuturan kak Nola barusan, dan itu sudah membuatku cukup binggung apa yang sebenarnya terjadi ini?.
"Apa maksudmu?" tanya Ana binggung.
"Kamu ngak perlu tahu apa yang sebenarnya yang kulakukan. Yang jelas aku tak akan tega membuat Adit terpuruk atas perusahaannya," jawab kak Nola yang sudah menyimpan rahasia.
"Oke! Aku sedikit percaya atas penuturan kamu itu, tapi yang jelas aku akan mencari pelaku, dibalik semua penukaran kain yang jelek kemarin," tantang Ana.
"Silahkan."
Aku sebenarnya sudah lama selesai buang air besar, tapi berniat tak ingin segera keluar, sebab ingin mendengarkan percakapan mereka berdua, yang siapa tahu ada sesuatu yang terbongkar atas ulah kak Nola.
"Ooh ya, Ana. Aku tahu, bahwa kamu kemarin yang sudah telah mengerjaiku, yaitu dengan membakar baju dan menceburkan diriku ke dalam kolam renang," tuduh kak Nola.
"Benarkah?" jawab enteng Ana.
"Ingatlah! Aku akan membuat perhitungan padamu, sebab hampir mencelakai, dan lebih tepatnya ingin membunuhku," ucap kak Nola memberi peringatan.
"Silahkan saja, tapi kamu juga perlu ingat, bahwa kamu itu sudah menjadi seorang pembunuh, yaitu telah menghilangkan nyawa anak yang kukandung. Jadi yang akan lebih condong membalas itu adalah aku. Kalau boleh kamu itu harus berhati-hati padaku lagi, sebab siapa tahu aku akan menghancurkan kamu lebih sakit dari apa yang kulakukan kemarin," ancam Ana yang tak mau kalah.
Sedih mendengar penuturan Ana, yang mengenang masalah anak kami yang sudah ditenpatkan yang terbaik disisiNya.
Ceklek, pintu kamar mandi telah kubuka, sebab aku takut atas ketegangan mereka berdua, takut-takut kalau mereka saling menyerang dan berantem. Aku tak mau Ana terluka gara-gara masalah sepele.
Wajah kak Nola sudah memerah seperti ketakutan, tapi beda dengan wajah Ana yang terlihat menyeringai kecil seperti menang.
"Ada apa ini? Kok kalian saling terdiam?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Gak ada apa-apa, Mas. Kami hanya membahas masalah perempuan saja. Oh ya, aku akan pulang sekarang saja, sebab kak Nola sepertinya ingin sekali berbicara sama kamu," jelas Ana berusaha pamit.
"Ooh ya sudah, kamu hati-hati dijalan," jawabku sambil menyodorkan tangan agar dicium takzim.
Sebenarnya ingin mengantar, tapi ketika ada tamu tidak enak jika meninggalkan dan tidak menemui, maka nanti sekertaris Rudi yang akan kusuruh.
"Permisi, Kak Nola. Ingat kata-kataku yang tadi, ya!"
Selesai ritual berpamitan, namun Ana kelihatan belum puas berbicara pada kakak kelasku itu.
"Oh ya, jangan sampai ngak tidur nyenyak, akibat takut. ingatlah, aku pasti akan membuat perhitungan dengan kamu, camkan itu!" Kepedasan perkataan Ana mengancam, sebelum melenggang pergi.
"Apa maksudnya, Ana?" tanyaku pura-pura heran.
"Gak ada apa-apa, Mas. Ya sudah aku beneran pergi, yah! Jangan terlalu kelelahan kerja" jawab Ana, dengan mata melotot ke arah kak Salwa.
Tangan lembut itu membelai lembut pipi ini.
Setelah Ana melenggang pergi pulang, akupun membicarakan tentang pembagian keuntungan penjualan. Walau aku mengalami kerugian, untuk sementara ini tak apalah, yang penting masalah mencari tahu apa yang sebenarnya kak Nola inginkan, bisa lancar terlaksana. Kak Nola hanya banyak terdiam, tidak seperti biasanya selalu ceria, dan kemungkinan sudah kepikiran akibat ancaman Ana tadi.