Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Bermalasan Ketika Cuti. SEASON 2


Ada rasa canggung juga jika Chandra kini mulai ikutan dekat denganku. Semua alasan akibat anak semata wayangnya, semakin bikin tak enak hati karena kelihatan akrab denganku juga.


"Wajahnya sangat mirip sekali. Apakah aku bisa melalui semua ini? Rasanya saat berada didekatnya airmata ingin mengalir saja. Andaikan itu kamu, kak. Pasti bukan airmata yang terjatuh, melainkan senyuman lebar akan hadir sebab senang berada didekatmu, hufffff!" Guman hati sedang mengambil nafas dalam-dalam.


Dihari cuti begini hanya bermalasan dikamar. Tidak menyia-nyiakan waktu agar bisa berkunjung pada Naya. Walau sering ketemu, tapi rasanya gembira saja bisa sejenak bermain dengan anak sendiri, walau badan sedang remuk redam sekalipun akibat kelelahan.


Mama dan papa kak Adrian tidak mempersalahkan atas kedatangan kerumah mereka sesuka hati. Mereka sudah menganggap anak sendiri. Banyak kemewahan yang berusaha mereka berikan, namun berusaha menolak sebab itu semua bukan hakku untuk memakai. Mama kadang sampai heran, karena aku ada hak sepenuhnya untuk memiliki tapi masih saja bersusah payah bekerja keras ditoko roti.


Selimut yang menghangatkan tubuh masih saja mengulung menempel dibadan. Rasanya masih enggan untuk sekedar membersihkan diri, ketika cahaya mentari sudah menyosong lewat celah jendela.


Dezzzt ... derrtt, tiba-tiba gawai telah berbunyi.


Tangan segera meraih handphone yang tergeletak diatas nakas. Tertera sebuah nomor yang tidak dikenal.


"Apa aku harus mengangkatnya, ya?" Keraguan.


"Ah, mungkin tidak usah saja, sebab ini nomor yang tidak dikenal." Kemantapan hati.


Derrtzzzzzzt, untuk kesekian kali gawai kembali berbunyi dan anehnya dari nomor yang sama.


"Angkat saja, Karin. Siapa tahu dari orang yang kamu kenal dan itu penting," rancau hati berbicara pada diri sendiri.


"Yap, aku mungkin harus mengangkatnya," Kemantapan.


Klik, layar gawai sudah kugeser untuk menyambut dari siapa gerangan yang menelpon.


[Hallo]


[Hallo juga, Karin]



"Bukankah ini suara ... suara--?" guman hati yang berusaha menebak suara seseorang diseberang sana.


[Maaf menganggu hari cuti kamu]


[Oh, tidak apa-apa. Kalau boleh tahu aku berbicara dengan siapa ya ini?]


[Ooh, iya lupa. Kalau ini tidak ada dalam daftar kontak handphone kamu]


[Emm, terus?]


[Kamu masak tidak mengenali suaraku, sih! Ini aku Chandra]


"Hidih, mau apa orang ini menelpon? Kenapa dia bisa tahu nomorku? Dari siapa dia mendapatkannya?" guman hati sedang bertanya-tanya.


[Hallo ... hallo, Karin]


[Eh, iya. Aku masih ada disini, kok]


[Baguslah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi beneran tidak menganggu kamu 'kan]


[Iya, tidak menganggu. Memang ada apa?]


[Apakah bisa keluar jalan-jalan sama kami sebentar saja hari ini, sebab Rara dari tadi merengek ingin kami semua berkeliling ke taman bermain, tapi dia minta untuk kamu ikut serta. Maafkan aku, jika ini adalah permintaan berlebihan]


[Gimana, yah!]


[Aku minta tolong sekali ini saja, sebab kalau Rara tidak dituruti pasti dia tidak akan mau makan dan ujung-ujungnya dia nanti akan sakit. Sebagai orangtua aku tidak tega melihat dia dalam keadaan lemah sebab penyakit telah mendatanginya]


"Waduh, aku harus jawab apa ini? Rasanya malas ketemu Chandra, karena takut saja tidak terkontrol lagi atas rasa sedihku, saat teringat kembali sama kak Adrian. Tapi jika menolak kasihan sama Rara. Hmm, apa yang harus kulakukan," rancau hati kebingunggan.


[Eh, maaf. Gimana, yah! Sebab aku sekarang sedang santai ingin meluangkan waktu bersama anak]


[Hah, anak?]


[Iya, anak]


[Kamu beneran sudah punya anak?]


Suara Chandra begitu keras seperti kaget.


[Iya, aku sudah punya anak]


[Wah, berarti aku sudah menganggu kebersamaan keluarga. Maafkan aku kalau begitu, takutnya suami kamu akan marah]


[Eeh, tidak apa-apa, kok. Masalah suami--? Itu ... itu, maksudnya]


Kegagapan ucapan yang rasanya berat sekali untuk menjelaskan.


[Kenapa sama suami kamu? Apa dia sekarang sedang tidak ada dirumah? Kamu ingin pergi sama kami, tapi nanti takut kena marah?]


[Bukan ... bukan itu. Masalah suamiku--? Aah, lupakan saja]


[Maksudnya gimana, nih?]


[Sudah, lupakan saja]


[Lalu? Gimana atas tawaranku tadi?]


[Emm, gimana yah! Entar aku tanya dulu sama anak, kalau dia nanti mau langsung saja aku kabari kamu]


[Baiklah, tapi tidak pakai lama, karena takutnya Rara akan merengek terus nanti]


[Iya. Secepatnya nanti akan aku kabari]


[Ya sudah kalau begitu. Assalamualaikum, bye ... bye]


[Waalaikumsalam. Bye ... bye, juga]



Rasa dongkol sekali saat Chandra memaksa. Tidak ingin pergi tapi kasihan sama Rara. Namanya juga anak kecil kalau tidak dituruti pasti akan ngambek, bahkan kebanyakan kasus ada yang sampai terbawa sakit akibat tak terkabul keinginan.


Ujung-ujungnya bangkit juga dari kasur. Rambut yang sedikit berantakan akibat tidur, kini kubenahi agar lebih rapi. Gawai kembali kugeletakkan diatas nakas.


Habis kumandang adzan shubuh tadi sudah membersihkan diri, jadi sekarang melangkah ke kamar mandi hanya ingin membasuh muka saja.


Kran air kuputar. Perlahan-lahan air mulai kulemparkan pelan-pelan ke muka. Rasa dinginnya begitu segar. Sampai empat kali wajah kutetesi air bening itu. Wajah mencoba mengaca, melihat keadaan muka yang nampak semakin hari semakin kurus saja.


"Heeh, wajah sudah lama tidak terawat. Terlihat kurus, makin tua, dan pastinya kusam. Apa aku harus melakukan perawatan agar lebih kinclong? Tapi--? Heh, untuk apa melakukan itu semua, sedangkan percuma saja berias kalau tidak ada lawan jenis yang membuatku tertarik untuk mengenal cinta," keluh kesah dalam hati.


"Tapi kamu itu tetap cantik, walau sudah berubah dratis sekalipun atas muka kamu, Karin. Lagian kamu itu cantik ngak ketulungan, sehingga kak Adrian kemarin sampai klepek-klepek sama kamu, walau wajah tidak pernah tersentuh oleh riasan," guman hati berbicara pada diri sendiri.


Handuk yang tersangga diatas besi segera kuambil. Dengan perlahan wajah mulai tersapu handuk agar wajah segera kering.


Mama kak Adrian mungkin sudah tahu kalau aku tidur sampai kesiangan begini, pasti sedang merasakan lelah makanya tidak dibangunkan untuk ikut sarapan bersama. Perut yang terada melilit sebab belum terisi sama sekali, sekarang menuju dapur untuk mengambil beberapa camilan atau makanan yang bisa dimakan untuk segera menganjal, tapi sebelum itu menyeduh teh dulu.


Beberapa menit melakukan sarapan sendirian. Keadaan rumah sedang sepi. Papa kak Adrian pasti sedang bekerja, sedangkan Mamanya pasti sibuk dikamarnya. Karena ingin segera memberikan jawaban pada Chndra, maka harus menemui Naya untuk bertanya apakah dia mau atau tidak diajak jalan-jalan.