
Tak dapat lagi kulukiskan rasa. Rahmat dari Allah telah datang dengan adanya kebahagiaan kita dalam ikatan sebagai adik kakak, namun kini semua suasana berbeda sekali, saat peristiwa malam yang tak diinginkan. Cobaan demi cobaan telah datang, kini semua bersama namun hanya terbatas sekali atas hubungan kami, saat jarak telah memisahkan akibat ujian telah tiba.
Apakah aku yakin bisa melalui ini semua tanpa dirimu lagi. Kuterus panjatkan do'a pada yang kuasa, agar cinta ini tetap utuh untukmu Karin, walau tanganmu tak dapat lagi kugenggam.
Tatapan kosong yang kini terus saja terjadi padaku, saat bayangannya terus-menerus berseliweran hadir dalam pikiran. Kisah cinta abadi adalah kekasih yang selalu menjaga kehormatan cinta, namun hanya mimpi belaka saat tak bisa tergapai.
Apakah aku ini hanya mentari, yang tak bisa memberikan cahaya hati ini maupun menghangatmu?.
Apakah aku ini hanya pelangi, yang sudah menghancurkan semua warna kebahagiaanmu?.
Apakah aku ini hanya sang bulan, saat sinarnya cinta ini tak bisa menerangi hatimu?.
Apakah aku hanyalah bintang, saat cintamu hanya berkelip sekejap, hingga cinta yang kuberikan kini hilang dalam kegelapan?.
"Bagaimana agar kau mengerti? Bagaimana agar hatimu terbuka untukmu? Manusia selalu saja ada tempatnya salah, termasuk diriku ini, Karin. Tapi kenapa semua tak bisa diperbaiki? Apakah aku terlalu tak berguna lagi untukmu?" rancau hati yang kian terpuruk mengenai hati.
...Dalam mimpiku, aku bermimpi...
...Tentang kekasih itu dirimu...
...Tambatan hati yang telah pergi...
...Hanya dirimu tak ada lagi...
... Hanya wajahmu yang terukir didalam hatiku...
...Abadi dan tak akan pernah terganti...
...Hanya kaulah cinta dalam hidupku...
...Meskipun langit tlah memisahkan cinta kita...
...Aku kan selalu untukmu...
...Cintamu akan selalu bersemi dihidupku...
...Malam-malamku tanpa dirimu...
...Terbuai sepi, dihias rindu...
...Resah didada, ingin berjumpa...
...Kutak berdaya terbang kesana...
...By Rossa ( Cinta dalam hidupku)...
"Hei Ayah?" sapa panggil Naya.
"E'eh, kamu rupanya sayang. Sudah selesai belajarnya?" tanyaku yang baru sadar dari melamun.
Karena keasyikan memikirkan tentang Karin, sampai tak sadar dan mengetahui semua para siswa-siswi disekolahan Naya, kini sudah bubar untuk pulang sekolah.
"Iya, Ayah."
"Enggak kok, sayang. Ayah baik-baik saja, kok!" jawabku berbohong.
"Benarkah itu? Heeh, apakah Ayah kecewa saat bunda kini sudah jarang bertemu sama Ayah, dan malahan asyik bersama om Chris?" tanya kepolosannya.
"Hmm, tidak ada hubungannya sama bunda dan om Chris, sayang. Ayah memang lagi pusing memikirkan pekerjaan saja, kok!" Kebohonganku berbicara, sambil mengelus pelan pipi chubbynya.
"Ooh. Naya pikir ini mengenai Bunda. Hmm, padahal Naya berharap sekali ingin melihat Ayah bisa bersama-sama Bunda, tapi sayangnya om Chris sudah duluan bersama bunda," Suara sendu Naya bercerita.
"Memang kenapa, sayang? Bukankah om Chris orangnya juga baik dan menyayangi Naya juga?" tanyaku penasaran.
"Memang betul, Ayah. Tapi Naya seakan-akan tidak ingin jauh-jauh dari Ayah, hingga pastinya Naya ingin Ayah tetap bersama Naya," ucap anak sendu.
"Sini ... sini, sayang!" ujarku memanggil, supaya Naya mau duduk dipangkuanku.
"Itu tidak baik, sayang. Om Chris itu orang baik, makanya dia sekarang orang yang pantas untuk bersama Bunda. Naya jangan sedih begitu, ya. Walau Ayah tak bisa bersama Bunda, namun kasih sayang Ayah tak akan pernah pudar. Ayah akan menyayangi Naya selamanya, jadi jangan khawatir kalau Ayah tak bersama kamu, sebab Ayah mulai hari ini akan menjadi Ayah kamu beneran. Mau tidak?" jelasku diiringi tercambuk oleh rasa sedih.
"Benarkah, Ayah? Hore ... hore, maka sekarang hari-hari Naya akan mulai dengan penuh kebahagiaan," jelasnya begitu sumringah bahagia.
"Iya, sayang!" jawabku langsung memeluk penuh kasih sayang tubuh mungilnya.
"Oh Tuhan, kenapa darah dagingku berkata demikian? Apakah ini yang dinamakan ada kontak bathin antara diriku dan Naya? Hingga dia juga berharap sekali untukku bisa bersama Karin? Terima kasih, Nak. Kamu kini adalah salah satunya orang yang menjadi pelipur laraku, ketika sedih ini begitu menusuk hati," guman hati yang berbicara pada diri sendiri, dengan tetesan embun ingin rasanya segera menyeruak keluar.
Pelukan pada Naya semakin kueratkan, yang rasa-rasanya kini aku memang tak bisa berjauhan pada anak sendiri. Rasa nyaman itu memberikan ketenangan yang begitu terasa, hingga pelukanpun rasanya tak ingin cepat-cepat kulepaskan.
Setelah puas memeluk, rasanya mulai aneh sekali saat lama sekali Naya dalam pelukan, namun tak ada pergerakan ataupun ocehannya yang biasa terjadi.
"Hei Naya ... hei sayang ... hei bangun ... hei!" panggilku berulang kali saat kaget melihat Naya sudah memejamkan mata dengan tangan terkulai lemas.
"Astagfirullah, hei sayang ... hei, ada apa dengan kamu? Bangun ... bangun Naya, jangan buat Ayah takut begini!" Kepanikanku saat tak ada simbatan jawaban dari Naya, yang padahal pipi sudah berulang kali kutepuk agak kuat supaya dia bangun.
Semua usaha untuk membangunkannya ternyata sia-sia, sehingga dengan cepat aku membopong tubuhnya untuk segera kumasukkan kedalam mobil. Mesin dengan tergesa-gesa sudah kuhidupkan, agar bisa membawa Naya ke rumah sakit, sebab tubuhnya yang lemah membuatku cukup khawatir dan panik.
Tut ... tut, gawai kini kuusahakan tersambung dengan Karin, dengan earphone sudah bertengger ditelinga.
[Hmm, ada apa?]
[Cepatlah ke rumah sakit xxx sekarang, sebab aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Naya sekarang, karena yang jelas Naya kini tak sadarkan diri]
[Apa? Yang benar, apa yang kamu katakan?]
[Tidak usah banyak tanya, yang jelas cepatlah datang ke rumah sakit sekarang, paham]
[Iy ... iya ... iya, kak. Aku akan secepatnya ke sana]
Kepanikan kian kalut setelah sekian menit, namun tak ada pergerakan lagi pada Naya. Karena takut, kini kuperiksa deyut nadi pada pergelangan tangan Naya dan syukurlah masih ada. Namun netra yang tak terbuka, membuat laju mobil kian kutambah tancapan gasnya, supaya cepat-cepat sampai kerumah sakit.