Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kerinduan Yang Jauh. Season 2


Seperti mawar merah kau menusukku


Dengan mengingat dia yang sudah tiada.


Seperti tato,kau mengukirku lebih dalam lagi


Saat aku mencoba untuk melupakanmu.


Sayang, tidak bisakah melihat


Wajahku itu dimatamu?.


Lihatlah kedua mataku yang terjatuh


Dalamnya sebuah kesedihan.


Kumohon jangan lupakan


Perpisahan yang sulit dihari itu.


Janganlah terpuruk dalam kesedihan


Kumohon berbahagialah lagi.


Aku mencintaimu


Dan sangat menyayangimu.


Mungkin inilah kata yang tak akan


Kuucapkan lagi padamu.


Cuma kamu ....


Yang kucintai dan segala bagiku.


Maafkan aku yang mencintaimu


Dan tidak bisa mengubah keadaan.


Namun ingatan hanya dirimu


Yang sangat paling kusayangi.


Hingga untuk berpaling


Akan terasa sulit sekali bagiku.


Kumohon, jangan ingatkan kembali


Rasa sakitku yang pilu waktu itu.


Aku benci dan kini aku membencimu


Aku terpaksa melakukannya agar bisa melupakanmu.


Yang jelas kamu sudah terukir dihatiku


Namun kucoba tuk menghapusnya.


Namun sama sekali tidak mudah


Dan selalu saja gagal dan tak bisa.


Aku sangat merindukanmu


Maaf yang masih mencintaimu.


Cuma dirimu yang kunanti


Sampai detik dan waktu ini.



Sampai detik ini masih mengingat wajahnya. Dia adalah wanita yang selama ini kucintai, tapi tidak bisa kugenggam yaitu Karin.


Sudah hampir setahun tidak tahu kabarnya, bukan tidak mau menghubungi, tapi jika mendengar berita tentangnya pasti rasa sayang ingin akan semakin membucah, dan pastinya akan membuat gawat diriku sendiri.


Kenangan kami begitu manis, sehingga tidak mudah menghapus begitu saja. Hatinya yang masih terikat dengan Adrian tidak ingin kupaksakan, sebab merasakan juga apa yang dia alami saat begitu sulit diposisinya itu.


"Aku sangat merindukanmu, Karin! Apakah aku mampu mendengar suaramu saja?"


"Pasti tidak akan tahan ingin bertemu kamu, sedangkan dirimu pasti terganggu sekali akan kehadiranku. Maaf jika aku melakukan ini? Mungkinlah ini jalan terbaik untuk kita."


"Heeh, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku merindukanmu tapi tidak ingin menganggu kamu. Telephone dia ... tidak ... telephone ... tidak?" Jari-jari berusaha berhitung dalam kegalauan.


Layar gawai yang terpegang tangan, sedang kugeser-geser melihat beberapa foto kami berdua yang kala itu nampak mesra.


"Huuffff, telephone dia saja, ah! Kalaupun tidak tahan dengan rindu ingin bertemu dia, pikirkan lagi caranya nanti, yang terpenting sekarang mendengar kabarnya masih baik-baik saja apa tidak, sangat ingin kudengar," Kemantapan hati ingin segera menghubungi.


"Bismillah. Semoga Karin dalam keadaan baik-baik saja."


Tut ... tut, gawai mulai kusambungkan. Walau kami berbeda negara, alhamdulillah sinyal baik-baik saja, untuk sekedar bercakap-cakap menggunakan kartu luar negeri.


"Aaah, apakah dia sudah tidur jam segini?" tanya dalam hati ketika tidak sabar, agar Karin segera mengangkatnya.


Waktu dengan Indonesia hanya berbeda bebarapa jam saja. Mungkin efek perbedaan waktu di negara kelahiran sudah merangkakkan waktu pertengahan malam, makanya susah untuk Karin mengangkatnya.


Tut ... tut, mencoba mengulang panggilan lagi.


[Hallo]


"Alhamdulillah, akhirnya kamu mengangkatnya juga!" Kegembiraan hati.


[Hallo juga, Karin]


[Emm, kalau tidak salah dengar-dengar dari suara, apakah kamu Chris?]



[Iya, Karin. Ini Chris]


[Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama aku bisa mendengar suaramu lagi, Chris. Gimana kabar kamu?]


[Alhamdulillah, aku baik. Kalau kamu gimana kabarnya?]


[Alhamdulillah aku juga baik]


[Syukurlah kalau begitu]


[Iya , Chris. Kapan kamu akan kembali ke negara Indonesia?]


[Kurang tahu, Karin. Banyak pekerjaan disini yang tidak bisa aku tinggalkan]


[Yah, sayang sekali. Padahal aku sangat merindukan dan ingin sekali bertemu kamu]


"Hah, apakah yang dikatakan Karin barusan tidak salah aku dengar. Benarkah yang dia katakan tadi?" guman hati yang tidak percaya.


[Benarkah itu? Kok sama dengan keinginanku]


[Wah, benarkah itu? Lalu apakah kamu tidak ingin mengabulkan keinginan kita?]


[Entahlah, Karin. Belum ada rencana itu. Maaf ya!]


Mulut berbohong sekali agar Karin tidak berharap banyak, padahal dalam hati tidak tahan lagi untuk segera menemuinya.


[Kenapa harus meminta maaf, Chris. Kamu tidak salah disini, mngkin akulah yang patut disalahkan, sebab terlalu mengabaikan kamu waktu itu]



Suara Karin terdengar mulai sendu.


[Tidak ada 'lah, Karin. Aku sangat memahami keadaan kamu waktu itu. Kita adalah teman, jadi tidak usah dipusingkan lagi atas kedekatan kita]


[Tapi, Chris. Tetap saja aku tidak enak sama kamu. Gara-gara aku terlalu hanyut dalam kesedihan, sampai melupakan kamu dan lebih parahnya kamu sekarang malah semakin jauh. Seharusnya aku menyadari kalau kamu itu sangat membantuku untuk melupakan kak Adrian, tapi aku malah menyia-nyiakan perhatianmu itu. Jadi disinilah seharusnya yang meminta maaf adalah diriku]


Penuturan Karin sudah membuat hati sedikit berbunga-bunga. Tidak menyangka jika dia sekarang menyadari atas perjuanganku selama ini.


[Santai saja, Karin. Semua masalah tidak mudah diselesaikan, termasuk hatimu yang kehilangan, jadi aku bisa memahami semua waktu itu]


[Iya, Chris. Tetap saja minta maaf dan terima kasih atas segalanya]


[Iya, sama-sama]


[Oh ya, gimana kabar Naya dan toko sekarang?]


[Naya, alhamdulilah baik. Toko aman-aman saja dan semakin maju banyak orderan]


[Alhamdulilah kalau semua baik]


[Iya, Chris]


[Ya, sudah. Pasti disitu sudah malam banget. Kamu istirahatlah, pasti lelah dan besok kerja 'kan?]


[Iya. Kamu juga harus istirahat]


[Emm, kalau begitu bye ... bye. Selamat malam dan istirahat]


[Hmm, bye ... bye. Malam juga]


Sambungan sudah terputus. Berkali-kali nafas kuhembuskan. Rasanya sesak saja menahan rindu yang berjauhan negara.


Kesabaran demi kesabaran harus terjaga. Mungkin harus banyak melatih diri, agar bisa menerima semua takdir yang sudah digariskan. Kalau kita berbelok ataupun membantah, takdir tak akan berubah selama yang mengendalikan belum menghendaki.