
Tidak ingin menganggu istirahat Ana, kami berdua keluar dengan pintu sedikit terbuka agar kalau Ana meminta bantuan bisa mengetahui.
"Kamu beneran tidak tahu kalau istrimu sedang hamil, Nos?" tanya Rudi penasaran.
"Iya, Rudi. Aku beneran tidak tahu kalau Ana sedang hamil. Kalaupun tahu pasti tak kuizinkan dia kemana-mana," jawabku lesu.
"Ooh."
"Oh ya, kenapa kamu sama Ana bisa menangkap pelaku yang memata-matai perusahaanku? Kalian bersekongkol cari informasi sendiri tanpa sepengetahuanku?" uraiku bertanya.
"Hehehehhe, maaf bos."
"Hadeh."
Kami berdua sedang santai duduk dikursi yang sudah disediakan pihak rumah sakit.
"Apa yang kamu katakan itu bener, Bos!" respon Rudi menjawab sambil cegegesan.
Karena geram dan kesal, langsung saja kucekik leher Rudi, dengan cara memiting lehernya dengan tangan seperti memeluk.
"Aa ... ampun, Bos!" pinta Rudi.
"Kamu sekarang sudah melawan atasan, dan berani-beraninya sudah menuruti perkataan Ana. Kamu patutnya harus diberi pelajaran dan hukuman," tambahku berbicara pelan ditelinganya.
"Bos lepaskan dulu. Ampun Bos ... ampun. Aku akan jelaskan semua," desaknya meminta.
"Ciih, dasar penghianat," ejekku.
"Uhuuk ... uhuk," Suara batuk Rudi saat sempat pura-pura kucekik.
"Kamu benar-benar gila mau membunuhku, dengan cara mencekik leher. Sungguh teganya dirimu pada kawan sendiri," protes Rudi.
"Habisnya kamu ngesilin sih! Ana menyuruh kamu, ngak bilang-bilang sama Bos sendiri, jadi kamu patutnya harus lebih diberi pelajaran seperti yang tadi," sahut diri ini menjawab.
Eskspresi ketus. Pura-pura marah dan tidak ingin menatap wajah Rudi.
"Ya maaf, bos. Aku sebenarnya tidak mau membantu Ana, tapi dia terus saja mendesak, dan terlihat dia sangat khawatir sekali padamu," Keterangan Rudi membeberkan.
"Memang istriku Ana ini. Selalu saja tidak bisa diam duduk dirumah, dan berlebihan mengkhawatirkan keadaan orang-orang disekitarnya, tanpa peduli terhadap keadaannya sendiri," balasku menerangkan.
"Benar tuh, Bos. Setuju banget."
Cletak, kepalanya kujitak.
"Setuju ... setuju, kepalamu peyang "
"Heheheh, damai Bos."
"Oh ya Rudi, kamu telpon mamaku untuk datang kesini, dan kabarkan keadaan Ana sekarang, sebab aku tidak bawa handphone karena tadi buru-buru," suruh masih dalam keadaan geram.
"Baik, Bos. Kalau begitu aku ke sana dulu, untuk melakukan panggilan pada nyonya!" cakap Rudi berusaha pamit.
"Hemm, terima kasih."
Rudipun sudah menepjli untuk melakukan apa yang kusuruh, dan sekarang aku duduk beranjak masuk keruangan Ana. Duduk dan mendekati Ana, dengan cara mencium tangannya berkali-kali.
"Ana ... Ana, apa kamu baik-baik saja?" panggilku.
"Mas Adit!" jawabnya lemah.
"Kamu baik-baik saja 'kan?."
"Eeemm," jawabnya dengan menganggukkan kepala.
"Syukurlah kalau kamu ternyata baik-baik saja. Sungguh rasanya perasaanku tadi begitu ada desiran pisau yang terasa telah menusuk jantung, dan rasanya itu sungguh menakutkan dan mengelisahkan sekali, sebab sudah banyaknya darah yang mengalir dikakimu," terangku.
"Aku baik-baik saja, Mas!" ungkapnya dengan melempar senyum tipis, menandakan bahwa dia sehat, biar aku tidak berlebihan khawatir lagi.
"Kata dokter aku kenapa, Mas? Memang sedang sakit apa? Sehingga diriku mengeluarkan darah banyak sekali tafi?" tanya Ana yang membingungkan.
"Kamu beneran tidak tahu juga penyebabnya apa?" tanyaku heran.
Hanya gelengan kepala yang ditunjukkan Ana, yang menandakan bahwa dia memang benar-benar tak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Kata dokter kamu keguguran, sayang!" ucapku mengelus-elus pipinya.
"Benarkan atas penjelasanmu itu, Mas?" tanyanya.
Raut wajah sedih sudah mengalirkan lelahan airmata.
"Kamu jangan menangis, sayang!" kuusap airmatanya.
Tangisanya kian pecah saat memeluk erat tubuhnya. Inilah yang tidak kuinginkan. Rasanya diri ini sudah terhujan ribuan panah, ketika melihat airmata yang tersayang terus saja jatuh.
"Maafkan aku, Mas. Diriku tak seharusnya menghilangkan anak ini. Aku benar-benar meminta maaf atas kegagalan menjaga amanat ini, maaf ... maaf! Sungguh aku tak tahu sama sekali jika sedang hamil, kalaupun tahu pasti diri ini akan menjaga dengan baik. Maaf ... sungguh maafkan diriku," tangisannya yang kian menjadi-jadi mengeluarkan airmata.
"Sudah ... sudah, kamu jangan menangis. Mas sudah memaafkan kamu, semua itu pasti atas kehendak dan takdir yang maha pemberi hidup, bahwa anak yang kamu kandung tidak bisa dibesarkan oleh kita. Kamu jangan merasa bersalah begitu, yang terjadi biarlah terjadi, jangan kamu sesali itu semua, tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, sebab semua itu sudah direncanakan Allah untuk menguji kesabaran kita," ucapku berusaha menenangkannya.
"Aaaaah ... maafkan aku .... aaahh. Sungguh aku telah gagal menjadi istri yang tidak bisa membuat kamu bahagia. Tak sepatutnya kamu ngomong begitu, Mas! Kamu boleh menyalahkanku sepuasnya, sebab memang dirikulah disini yang telah salah, mengakibatkan anak kedua kita telah pergi, yang tak bisa bahagia hidup ditengah-tengah kita," Tangisan Ana yang masih saja menyalahkan diri sendiri.
Tubuhnya kian erat kupeluk. Rambut yang tergerai kuelus pelan. Rasanya akan susah menangkannya.
"Sudah, sayang! Janganlah kamu terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Mas juga telah salah atas semua ini, sebab membuat kamu khawatir atas kasus perusahaan Mas, sehingga kamu ikut campur dalam urusan kejadiaan perusahaan," balik kataku mengalihkan pembicaraan menyalahkan diri sendiri.
"Enggak ... enggak ... enggak, Mas! Akulah seharusnya disalahkan atas semua ini, yang telah tak hati-hati menjaga anak kita," responnya masih sedih.
"Sudah ... kamu jangan menangis lagi. Kita lupakan yang sudah terjadi, dan doakan saja semoga anak yang telah hilang, bisa membawa berkah bagi kita dialam akhirat nanti. Anggap saja tabungan, kelak kalau kita sudah tiada," jawabku melepaskan pelukan, sambil mengusap pelan airmatanya.
"Terima kasih, Mas. Kamu benar-benar suami yang selalu pengertian atas semua kesalahanku. Sungguh rasanya malu sekali pada dirimu, yang selalu sabar menghadapi sifatku, atas seringnya membuat masalah dan mengecewakan hatimu," ungkapnya tak enak hati.
"Kamu tahu sebuah arti kekuatan cinta? Itulah yang terjadi padaku sekarang, cintaku padamu sungguh besar melebihi diriku sendiri, sehingga bisa mengalahkan semua rasa ego, amarah, sabar, ikhlas, dan juga kelemahan. Semua itu akibat rasa cinta yang ada diantara kita, sehingga apapun yang menghadang diantara jurang-jurang kehidupan, bisa kita tebas dan lalui dengan rasa cinta itu sendiri. Jadi percayalah semua masalah yang menghadang, akan bisa terselesaikan kalau kita ingat cinta, dan kalaupun lupa pasti tiap hari akan ada pertengkaran, saling tak percaya, rasa curiga, dan pastinya saling adu mulut yang bisa meretakkan rumah tangga yang terbina. Jadi kamupun harus selalu ingat cinta Mas yang besar ini, biar kita bisa bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga," penerangan panjang lebarku.
"Iya mas, aku percaya bahwa kamu selalu mencintaiku," respon Ana yang sudah merentangkan tangan, supaya aku mau dipeluknya.
Tanpa ragu kusambut permintaannya, yang langsung mendekap erat pelukannya itu, sambil tangan mengelus-ekus pelan belakang punggungnya, sebab airmata Ana terus saja mengalir.