
Semua pekerjaan telah dibatalkan dan kini membuat kepalaku kian pusing tujuh keliling. Entah mengapa, semuanya begitu mendadak tak jadi mempekerjakan diriku. Yang sudah ada tanda tangan kontrakpun, tak habis dipikirkan oleh akal ikut membatalkan juga. Walau mereka telah membayar ganti rugi, tapi hati seakan meronta tak mau, sebab itu jalan ninjaku satu-satunya agar diri ini semakin dikenal dunia.
"Ah, sial ... sial, kenapa semuanya jadi begini? Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Kenapa semuanya seakan-akan berkerja sama untuk membatalkan pekerjaanku? Apa ada orang dibalik dalang ini? Heeeeh," keluhku menghembuskan nafas kuat-kuat saat sedang melamun dalam kamar.
"Bos, kamu lagi ngapain?" tanya Rohmat yang sudah main nyelonong masuk dalam kamarku.
"Lagi berpikir saja," jawabku santai.
"Memikirkan pekerjaan 'kah?" imbuh tanyanya.
"Emm."
"Apa menurut kamu ada kejanggalan atas semua ini? Aku merasa aneh sekali kepada mereka yang membatalkan, yang seakan-akan mereka telah bekerja sama untuk membatalkan semua. Apakah kamu rasa ada orang dibalik semua ini, sebab sedang tak suka atas kerjaanku?" tanya serius pada asisten.
"Aku juga merasa aneh gitu, sih bos. Masak semuamya dibatalkan begitu saja, tanpa ada alasan yang jelas dan akurat. Aku rasa pasti ada orang dibalik dalang ini," jawab Rohmat membenarkan.
"Kira-kira menurut kamu siapa ya, dibalik dalang ini?" tanyaku lebih serius lagi yang kini bangkit untuk duduk.
"Aku juga ngak tahu siapa itu, yang jelas pasti orang yang tak suka padamu, bos."
"Tapi perasaan, aku 'tuh tidak ada musuh. Lagian aku ini bukankah hanya model kecil yang lagi merangkak dari nol, ngak mungkin ada lawan yang syirik padaku atas ketenaran yang mulai melejit," cakapku merasa aneh.
"Entahlah, bos. Yang penting kamu yang sabar saja atas musibah ini. Semoga saja badai ini akan berakhir dan secepatnya mengembalikan pekerjaan kamu," tutur Rohmat menasehati.
"Huuuf, iya."
Hari berganti haripun telah berlalu menjadi bulan, namun keadaan tentang pekerjaanku masih tetap sama. Kini aku hanya jadi pengangguran dengan segundang kesibukkan, untuk mencoba menawarkan diri ke semua tempat supaya menerima jasaku sebagai model, dan anehnya mereka belum sempat membaca riwayat maupun melihat keahlianku dulu, secara mentah-mentah sudah menolak begitu saja. Kebingungan sempat melanda, sebab pekerjaan apalagi yang bisa kukuasai untuk menyambung hidup, selain hanya menjadi model. Mau mengandalkan hal lain contohnya memakai tenaga kuat untuk bekerja, tak aku kuasai.
Karena kesibukkanku yang mencari kerja, sampai akhir-akhir ini aku jarang sekali menemui Karin dan buah hatinya, sebab dalam otakku sekarang hanya mencari dan mencari terus pekerjaan, yang pantas kukerjakan untuk tetap bisa bertahan hidup, yang mana pendapatan kini mulai menipis. Hingga Rohmatpun sempat kuusahakan agar tak mau mengikutiku kerja lagi, tapi alhamdulillah dia masih saja tetap setia menemaniku walau tak aku gaji.
"Gimana, pak? Apakah saya dapat bekerja disini, sebagai model dalam pakaian toko bapak? Gaji tak saya permasalahkan, yang penting saya bisa diterima bekerja disini?" tanyaku tegang saat mencoba melamar pekerjaan.
"Benarkah, kamu mau menerima gaji berapapun yang kami kasih?" tanya pemilik toko pakaian khusus baju penikahan.
"Iya, pak."
"Baiklah, kalau begitu. Besok kamu bisa memulai pekerjaannya, sebagai langkah awal untuk melihat keahlian kamu," jawab bos utama menerima dengan baik.
"Benarkah itu? Terima kasih ... terima kasih, pak!" ucapku senang langsung menjabat tangan sang bos, dengan mengoyang-goyang tangannya secara kuat dan kasar, sebab saking gembiranya.
"Iya, sama-sama," jawabnya ramah.
Dengan suasana hati gembira, aku langsung cepat-cepat keluar dari ruangan bos itu, untuk segera menghampiri Rohmat yang menunggu diluar.
"Gimana, bos?" tanya Rohmat yang penasaran.
"Yes, alhamdulillah. Akhirnya aku diterima," jawabku sudah tersenyum lebar.
"Aaah, syukurlah. Akhirnya perjuangan kita tak sia-sia," jawab Rohmat yang ikut gembira.
"Ayo kita rayakan kebahagiaan ini dengan makan dikafe, gimana?" usulku mengajak.
"Wah, boleh ... boleh itu bos. Ayo!" ucap Rohmat setuju.
Perasaan gembira menghampiri kami, dengan tangan sudah sibuk merangkul bahu Rohmat, untuk segera mengajaknya keluar dari toko yang akan menjadi awalku bekerja lagi.
Kling, sebuah pesan telah masuk, yang sudah tertera nama dari si bos yang barusan menerimaku.
Aku yang sudah membaca pesan itu, merasakan dada mulai begitu panas, akibat amarah yang begitu terasa sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Ahhhh, buls*t. Semua tak bisa dipercaya, hanya ingin mempermainkan aku saja," Kekesalanku marah.
Pletak, dengan kasar handphone kini telah kulempar kuat dibadan kursi mobil, hingga kesing dan penutupnya sudah berserakan dimana-mana, saking kuatnya diriku membanting. Rohmat yang kaget, tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, saat tahu sekali bahwa aku begitu dikuasi oleh kemarahan yang mengebu-gebu.
Saat emosi mengusai jiwa, tanpa banyak ucapan aku langsung menaiki anak tangga rumah, untuk masuk segera ke kamar.
Braaak, dengan kasarnya aku membanting kuat pintu, dengan tubuh ikutan juga kubanting secara kuat dipembaringan, hingga pantulan springbad terasa memantul nyaman sekali.
"Kenapa semuanya jadi begini? Apa yang harus kulakukan sekarang, saat pekerjaan dibatalkan semua. Aah ... Aaah, gimana ini? Keuanganku semakin hari semakin tipis. Apakah aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini? Apakah aku harus kembali meminta bantuan orangtua? Ah ... ah, tidak ... tidak, aku tidak akan meminta bantuan mereka yang sudah membuatku sakit hati. Aku harus tetap bertahan dalam kondisi seperti ini. Kamu harus tetap berjuang Chris, walaupun keadaan terburuk sekalipun. Aku yakin sekali kamu bisa melewatinya, Chris!" ucapku dalan hati menguatkan pada diri sendiri.
*******
Karena aku bosan dirumah, akhirnya kini mobil kuluncurkan untuk mendatangi kekasih hati dan si kecil Karin yang selalu kurindukan. Namanya kini sungguh cantik sekali sesuai wajahnya, yaitu Naya caca kandriana.
Dengan modal menipis, aku kini mendirikan usaha kecil-kecilan toko roti untuk menyambung hidup. Walau tak seberapa pendapatannya, tapi boleh 'lah untuk mencukupi kebutuhanku sehari-hari yang kian membengkak. Dengan dua tiga pegawai, kini toko kuserahkan pada mereka, hingga akupun dapat santai bekerja tanpa repot-repot untuk menguras tenaga.
Pasca Karin melahirkan, aku kini belum bisa menepati janji untuk menikahinya segera, sebab kondisi keuangan yang lagi ambrul radul tak bisa melamarnya segera. Pernikahan adalah janji sekali seumur hidup untuk mengarungi kebahagiaan, jadi aku harus mempersiapkan dengan nuansa sedikit indah, bagus dan pastinya mewah. Namun hingga sampai sekarang rencana itu kutunda dulu, sampai keuangan membaik lagi.
"Hey, sayang. Gimana kabarnya?" tanyaku pada bayi Karin yang masih kelihatan mungil itu.
"Hei juga, om Chris!" balik sapa si kecil, dengan Karin yang menjawabnya.
Nampak Naya kini rewel sekali, dengan tangisannya yang tanpa henti terus menerus mengeluarkan airmata, hingga Karin dan bu Fatimah sudah kerepotan dibuatnya, yaitu untuk mencoba menenangkan tangisan si Naya cepat mereda.
"Sini ... sini, biar ikut om Chris saja. Siapa tahu si cantik Naya ini lagi rewel, akibat rindu sama om. Iya 'kan?" ucapku tersenyum manis, untuk mencoba mengambil alih dari gendongan tangan bu Fatimah.
Entah mengapa Naya semakin menguatkan tangisan, dengan tingkah polah seperti orang yang sedang gusar.
"Ada apa ini, buk?" tanyaku pada bu Fatimah saat Naya masih tak berhenti menangis.
"Saya juga tidak tahu nak, Chris. Dari kemarin-kemarin Naya rewel sekali," jawab beliau tak tahu.
"Apakah dia sakit?" tanyaku sambil meraba kening si Naya, untuk memeriksa suhu tubuh.
"Aku juga tidak tahu, Chris!" tutur Karin yang kelihatan sekali ada semburat kecemasan.
"Dia tak panas pun. Tapi, lihat! Kenapa nafasnya tersengal-sengal kayak mengambil nafas saja susah sekali. Bibir, wajah dan kulit agak kebiruan dan sedikit ada bintik hitam gini? Ada apa ini sebenarnya? Dan aku rasa berat badan anak kamu dari kemarin ngak naik-naik, kayak ringan saja dihari kemarin-kemarin," Kecurigaanku saat mengendongnya.
"Iya, Chris. Diapun kalau meny*s* nafasnya selalu berat, seperti tak bisa menghirup udara dengan benar," ucap Karin lesu begitu khawatir.
"Kenapa kamu ngak bilang dari kemarin-kemarin. Kalau begitu kita coba periksakan saja si Naya ke dokter, biar kita nanti akan mengetahui apakah dia baik-baik saja atau tidak?" usulku.
"Tapi, Chris. Aku tak punya biaya untuk memeriksakannya," jawab Karin lemah.
"Kamu jangan pikirkan itu dulu, biar aku yang menanggung semuanya nanti. Yang penting sekarang kita coba periksakan dulu anak kamu, sebab takutnya ada penyakit yang dia derita sekarang," bantahku supaya Karin nurut.
"Benar, Karin. Jangan pikirkan biaya dulu, kita bawa Naya kerumah sakit dulu, sebab siapa tahu benar apa yang dikatakan Nak Chris. Kalau tak ada biaya, biar nanti pakai tabungan ibu saja. Ayo cepat, kita bawa Naya pergi sebelum terlambat," ujar bu Fatimah yang ikut mengusulkan membawa ke rumah sakit.
"Baik, bu, Chris. Terima kasih atas bantuan kalian."
"Iya, sama-sama. Ayo," ajakku.
Akhirnya kami bertiga membawa Naya segera kerumah sakit memakai mobilku, untuk segera mendapatkan perawatan apa yang sebenarnya terjadi padanya.