
Rasa bahagia terus meliputi. Kerjaan dan pertemuan dengan Chandra telah membawa berkah. Dihati terasa ada sebuah ganjalan sesuatu keanehan, dan aku belum juga tahu apakah itu, yang jelas rasanya kehidupan sehari-hari terus saja berwarna, semenjak mendengarkan semua nasehat Chandra dan mengenalnya lebih dekat lagi.
Naya yang kini mulai disibukkan, sekarang hari-harinya tidak ada waktu luang sekedar untuk bertemu. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Chandra. Walau ada hari minggu ketika libur sekolah, namun dia harus disibukkan dengan beberapa les.
Walau hanya dengan setengah jam bisa mempertemukan mereka, tapi mungkin Naya tidak puas sehingga sering merengek. Dalam diri Naya itu adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun, makanya terus berusaha mempertemukan mereka walau sebentar.
"Gimana, Mbak?" tanya pegawai.
"Alhamdulilah, pesanan tadi ini lumayan banyak dan semoga berkah," jawaban yang sudah memberikan senyuman ramah.
"Iya, Mbak. Sampai kita kewalahan begini," simbat yang lain.
"Iya nih, alhamdulillah."
Ada sekitar enam pegawai, sedang membantu mengerjakan pemesanan kue kotak kecil untuk acara pernikahan. Ada sekitar lima ratus kotak yang harus kami selesaikan hari ini. Kerjaan yang sangat menguras tenaga, tapi demi pundi-pundi rupiah seletih apapun itu tetap harus dilakukan.
Sekian jam dan waktu terus berjalan, sampai jam tiga lebih lima belas menit kerjaan masih saja belum selesai. Tangan kami semua sudah cekatan untuk membereskan semuanya, agar jam empat nanti bisa selesai sesuai perjanjian pengantaran.
"Apa masih belum selesai menghiasnya?" tanyaku pada pegawai.
"Sedikit lagi, Mbak. Tinggal beberapa saja, kok."
"Oh ya sudah, kalau begitu alhamdulillah kita telah menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu."
"Iya, Mbak. Alhamdulillah."
"Emm. Kalau begitu aku akan siap-siapkan yang lain untuk segera kita mengantarnya, supaya nanti tidak ketetaran datang terlambat ke sana."
"Oke, Mbak."
Ada dua pegawai yang akan kuajak mengantar. Karena banyak, maka kami akan antar pakai mobil yang memang sudah disiapkan oleh Chris. Satu persatu kue yang ditata rapi didalam kantong kresek merah sudah kami masukkan dalam mobil. Satu pegawai wanita sebagai teman dan satu lagi pria sebagai sopir untuk mengantar.
Alamat yang dituju tidak susah mencarinya. Tempat tujuan sepertinya orang kaya, terlihat dari bangunan rumah yang mewah dan beberapa mobil telah berjejer rapi dihalaman rumah. Banyak orang sedang berlalu lalang menyiapkan segala pernak-pernik pesta pernikahan.
Mobil mulai memasukki area perkarangan rumah pelanggan. Kami bertiga langsung turun. Tangan mulai sibuk menurunkan dan segera menjinjingnya memasuki rumah.
"Apakah semuanya beres sesuai pesanan?" tanya orang yang memesan.
"Alhamdulillah semua beres, Mbak!" jawab keramahanku.
"Syukurlah, sebab acaranya besok pagi sekali akan kami pakai. Terima kasih sudah menyelesaikannya tepat waktu."
"Iya, Mbak. Sama-sama."
Egheem ... hemm, waktu kami sibuk menurukan kue yang masih ada dimobil, tiba-tiba dikagetkan oleh suara seseorang yang menghampiri kesibukkan kami. Ternyata orangnya aku kenal juga, walau kami baru sekali bertemu tapi masih ingat siapa beliau itu.
"Kamu pesan sama dia 'kah, Murni?" tanya mama Chandra.
"Iya, Bu dhe," jawab beliau ramah.
"Hadeh. Kenapa harus pesan kue sama toko mereka?" Wajah mama Chandra seperti tidak suka.
"Maksudnya apa, Bu dhe?" Orang yang memesan sudah kebingungan.
"Astagfirullah, apa maksud Tante?" simbatku beristigfar sebab kaget.
"Hilih, jangan pura-pura kamu. Aku tahu dimana toko tempat kamu bekerja. Toko yang sudah terkenal akan rasanya yang tidak enak dan pelayanan kurang baik," ucap beliau menambah tuduhan.
"Anda jangan bilang sembarangan ngomong, ya. Kalau toko kami memang tidak enak, mana mungkin berita nama toko kami bisa dikenal sampai ke kampung sini dan banyak yang memesan. Dasar aneh!" Pegawai laki-laki kini ikut membela.
"Halah, membual amat kalian ini. Bilang saja tidak laku, tapi kalian masih saja mengelak," cakap beliau tidak mau mengalah.
"Wah, anda ini benar-benar kurang ajar banget. Beraninya sudah menfitnah toko kami dengan keji," Pegawai laki-laki sudah maju satu langkah, saat wajahnya nampak ada guratan mulai emosi
"Sudah ... sudah!" cegahku menghadang.
"Tapi, Mbak. Tante ini ngelunjak banget menfitnah toko kita."
"Benar itu. Belum tahu keadaan toko kita yang terkenal, tapi main sembarangan saja menfitnah," simbat pegawai perempuan yang tidak terima juga.
"Hilih, kalian ini banyak omong. Sekarang pergi dari sini dan bawa balik semua kue kalian yang menjijikkan itu," suruh beliau kejam.
"Kok gitu sih, Tante?" Kekagetanku atas keputusan beliau.
"Iya, Bu dhe. Kenapa harus dibatalkan, sedangkan kita tidak ada waktu untuk memesan lagi," keluh orang yang punya acara.
"Diam kamu. Masalah itu akan aku urus nanti. Yang penting sekarang batalkan semua kuenya. Kamu tidak ingin 'kan ada gunjingan dari tamu, sebab kue tidak sedap dan tak layak dikomsumsi?" suruh beliau pada yang punya acara.
"Tapi, Bu dhe, itu--!" Yang punya acara kelihatan berat mengambil keputusan.
"Mau nurut sama Bu dhe, atau mau melihat hancur acara ini, tapi kamu ambil semua kue mereka?" acam beliau pada yang punya acara.
Kami bertiga hanya mlongo mendengarkan perdebatan mereka. Sepertinya Mama Chandra kini sudah berhasil mencuci otak yang punya hajat, dengan cara membisikkan sesuatu ditelinga beliau.
"Heeh, baiklah."
Aku harus siap-siap menerima keputusan orang yang sudah memesan.
"Maafkan kami ya, Mbak. Harus membatalkan semuanya," Tidak enak hati yang punya acara, yang sudah menangkupkan kedua tangan didada.
"Tapi ini banyak banget, Mbak. Tidak bisa membatalkan begitu saja," keluhku tidak terima.
"Halah, kuenya masih utuh dan belum kami cicipi sama sekali, jadi masih bisa dibalikkan 'lah!" Mama Chandra membantu menjawab.
"Tapi ini banyak banget. Kalian benar-benar tega, kami sudah capek-capek membuatnya agar tepat waktu dan tidak bikin anda kecewa. Ya sudah 'lah, sekian dan terima kasih sudah membuang waktu kami. Semoga acaranya lancar dan tidak ada kendala," ketusku menjawab.
"Ayo kita pergi dari sini" cakapku pada kedua pegawai.
"Tapi, Mbak. Ini banyak banget, masak harus dibawa pulang lagi," keluh pegawai perempuan.
"Nanti kita pikirkan. Sekarang ambil kembali semua kue itu dan segera masuk mobil. Kita harus pergi dari sini sebelum diusir kasar lagi oleh mereka," suruh pada pegawai.
"Hmm, benar. Cepat pergi dari sini. Hssttt ... husst. Lihat muka miskin kalian bikin eneg saja," usir Ibu Chandra kasar.
"Astagfirullah, masih saja ada orang seperti ini didunia. Apa maksud beliau menfitnah toko kami barusan? Ada apa ini? Kenapa dia tega pada kami, padahal kami semua menguras keringat mencari rupiah demi keluarga. Sabar ... sabar," guman hati yang merasa heran.
Sesuai keinginan, kue kembali kami bawa pulang. Walau sedikit agak kecewa, tapi nasib hari ini sedang tidak berpihak, maka harus menerima dengan berlapang dada. Mungkin harus meningkatkan lagi kesabaran. Semoga nanti ada ganti rezeki lebih dari ini, asalkan ilmu sabar dan ikhlas harua dikuasai.