Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istri Yang Hilang>> Hati Gembira 2


Kling, suara lif telah dipencet Mas Adit, dan sekarang terbuka, dan setelah itu kami masuk ke dalamnya.


"Kamu kecil-kecil berat amat sih!" ledeknya.


"Ya iyalah. Habis melahirkan itu, biasanya badan perempuan akan bertambah melar. Kenapa? Mas Adit gak suka?" tanyaku.



"Bukan gak suka, cuma berat banget nih! Aku mengendongmu. Lihat! malam-malam dingin begini, peluh sampai bercucuran akibat capek mengendong," jelasnya.


Badannya terus membungkuk. Tidak peduli jika suami kelelahan, sebab diam-diam memberi hukuman akibat terlalu respon sama si janda Nola itu.


"Hihihi, maaf, Mas. Sini! Aku lap peluhnya," tangan sudah mengelap pelipis amas Adit, menggunakan tisu yang kuambil dari tas kecilku.


"Gimana? Sudah tak capek lagi 'kan, setelah magic tisuku mengelap peluh mas."


"Ya ... ya, sudah gak berkeringat lagi. Tapi badan terasa masih capek lho! Kamu itu ngomong aneh tahu, masak cuma gara-gara di lap tisu bisa hilang capeknya, memang penyihir," balasnya heran.


"Kalau ini, cuuuuuup." Kukecup pipi kanannya.


"Nah, kalau itu memang bisa menghilangkan rasa capekku," ungkapnya.


"Dasar."


"Aku memanglah penyihir, tapi penyihir cinta yang bisa merubah dirimu yang kaku itu, luluh untuk mencintaiku," gombalan rayu mulai keluar.


Sekali-kali merayu bolehlah. Suami biar tambah sayang. Harus tetap mesra hubungan kami, jadi tidak malu jika gantian diriku mengucapkan kata romantis.


"Masak?."


"Iiiiish, dibilangin ngak percaya."


"Hihihi, ok. Aku percaya kalau kamu penyihir cinta, yang bisa membuat orang jatuh cinta."


Leher mas Adit sudah kugoda dengan meniup-niup tengkuknya, dan dia berulang kali memiringkan kepala untuk menutupnya, mungkin dia sudah merasa geli. Kegilaanku makin tak terkontrol, yang melekatkan bibir dilehernya, dengan cara mencium pelan-pelan.


"Hihihihi, tapi enakkan? bukankan Mas suka yang enak-enak," jelasku.



"Bukan yang kayak begitu yang kumaksud, tapi-?" Suaranya tertahan.


"Tapi apa?" tanyaku berpura-pura.


"Yang enak dan hangat itu lho!" jawabnya.


"Hangat? Ya berendam di airlah, pasti hangatnya akan terasa. Apalagi yang mendidih dijamin sekujur tubuh hangat langsung."


"Dih, yang ada melepuh semua. Bukan itu yang kumaksud, tapi yang hangat hareudang-hareudang itu lho! Nanti kalau sudah sampai kamar akan kukasih contoh dan praktekkan.


"Iiiiih, dasar manusia mesum," ucapku yang langsung turun tiba-tiba, dari gendongan mas Adit.


"Hahahahha, aku memang lebih suka yang mengarah ke mesum gitu-gituan!."


"Udah .. udah, capek ngomong sama Mas Adit, gak habis-habis selalu mengarah ke situ, akupun bisa-bisa tertular sama tingkah dan ucapan Mas itu,"Mulut sudah maju monyong membalas ketidaksukaan.


"Hihihihi, biarlah tertular. Kalau Mas sedang meminta kode, gak usah repot-repot ngerayu kamu," tambahnya berkata.


"Heeeh, capek dech! ngomong sama kamu itu, Mas."


Kling, suara lif sudah terbuka.


Secepatnya aku melangkah keluar, dengan kaki sudah berlarian kecil mencoba meninggalkan mas Adit.


"Tunggu Ana! Awas kamu ya!" ujarnya yang sudah mengejarku.


"Tangkap kalau bisa, kalau dapat akan kuberi sesuatu," teriakku saat sudah lari jauh, sebab ketakutan dikejar dan ditangkap mas Adit.


Kaki terus berlarian, dan Mas Adit tidak mau mengalah mengejar. Kami sudah tertawa terbahak ceria. Dilorong hotel kami sudah membuat suara berisik. Untung saja tidak ada penghuni hotel yang komplain. Hati hari ini cukuo bahagi sekali sebab suami sudah mengerti akan perasaanku yang cemburu padanya.