
Kali ini aku sebal dan rasanya amarah sudah mulai menguasai diri lagi, akibat Adit sudah mulai berubah drastis kepadaku.
Mencoba melihat keadaannya. Rasa kangen yang mengebu membuatku harus datang ke tempat dia bekerja. Beberapa hari tidaka bertemu..
"Hai sayang," sapaku berbasa-basi pada Adit.
"Salwa?."
"Kenapa dia kayak kaget melihatku? Aku bukan hantu, ekspresi yang menyebalkan," rancau hati tidak suka.
"Kamu?" ekspresi wajah Adit yang sudah terkejut.
"Iya ini aku! Apakah kamu sudah tak merindukanku, sudah beberapa hari ini kita tidak ketemu lho," Menjelaskan dengan manjanya, sambil ingin melingkarkan tangan ke lengannya.
"Maaf Salwa, lepaskan! Jangan kurang ajar. Banyak mata melihat nanti," ketusnya.
Sangat kejam dia menepis. Bikin kesal saja sikapnya sekarang. Harus menyembunyikan ketidaksukaan. Melempar senyum semanis mungkin. Berdrama ria lagi.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi? Bukankah kita bertahun-tahun memang sudah lama tidak bertemu," imbuh ucapnya memberi jawaban, dan berhasil membuatku terperangah.
"Justru aku yang bertanya? Apa maksud dari perkataan kamu barusan?" responku yang binggung.
"Kenapa malah membingungkan, sih!"
"Beberapa bulan ini kita berencana mau menikah loh! Apa kamu lupa?" ucapku mengingatkannya.
"Menikah? Denganmu? Kamu jangan mengada-ada kalau berbicara," tanyanya seperti sedang tidak percaya.
"Iya. Mana mungkin aku bohong sama orang yang sangat kucintai."
"Kamu jangan ngelantur kalau berbicara! Aku tidak mungkin ada niatan untuk menikah dengan kamu? Bukankah kita sudah lama tidak ada kontak, dan hubungan apa-apa lagi," jawab Adit yang semakin membuatku binggung.
Mulut terasa kaku ingin sekali membatah perkataannya. Tapi dari tangkapkanku atas ucapan Adit, sepertinya dia sedang melupakanku lagi. Tebakan pasti benar kalau dia sekarang sudah ingat semuanya.
"Oh ya. Bukankah kamu tahu, kalau aku sudah mempunyai istri dan namanya adalah Ana!" Tambahnya semakin membuatku geleng-geleng kepala ringan, akibat tak percaya.
"Aah, apakah Adit sudah kembali dengan ingatannya? Sehingga dia sudah lupa denganku? Aaah, sial. Begitu terlambat. Sepertinya iya. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, Adit. Itu janjiku," Bertanya dalam hati.
"Salwa, hallo ... hallo, Salwa?" panggil Adit saat diri ini sudah melamun.
"Enggak, aku cuma nanya apakah benar apa yang kamu katakan tadi?"
Adit yang sudah menatap wajahku dengan keseriusan.
"Ooh, lupakan ucapanku tadi. Itu semua hanya candaan saja, aku ke sini cuma ingin bersilahturahmi mengunjungi kamu saja, kok! Kamu tahu sendirilah kita sudah lama tida bertemu," balasku mengalihkan pembicaraan.
"Memang kamu ini, dasar! Dari dulu memang tidak pernah lepas dari dunia bercanda."
Mengenang masa lampau hal terindah bagiku. Banyak kenangan manis yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
"Iya ... ya. Dari dulu aku orangnya suka bercanda dan selalu humoris, dan kamu 'lah yang pasti sering jadi sasarannya," balasku mencoba mencairkan obrolan.
"Oh ya. Kamu sudah tahu 'kan kalau aku sekarang punya anak?" imbuhnya.
"Perempuan lho dia, cantik seperti ibunya," imbuh ucap Adit berusaha pamer, dengan menunjukkan foto di handphonennya.
"Benarkah itu? Wah, aku kok baru tahu, selamat ya," ucapku pura-pura baik padanya.
"Terima kasih, ya!."
"Ya sudah. Kalau begitu aku pamit dulu, ada kerjaan yang harus kukerjakan sekarang," ujarku berusaha pamit.
"Kok buru-buru amat. Aku belum cerita banyak hal sama kamu, rasanya kangen aja berbagi cerita sama kamu," respon Adit yang masih ingin mengajak ngobrol lagi.
"Lain kali aja kita ngobrol-ngobrol lagi. Aku benar-benar ingin pergi, dan rasanya sudah banyak kerjaan yang sedang menungguku," cakapku berpura-pura mencari alasan.
"Ooh baiklah. Tapi janji ya, lain kali kita akan saling ngobrol lagi," imbuhnya berkata.
"Baiklah."
"Kamu hati-hati dijalan," ujar Adit mengantarku sampai ke pintu ruangannya.
"Iya, terima kasih sudah mau mengantar."
"Iya, sama-sama."
Kali aku benar-benar sudah tenggelam dalam kemarahan. Rasa dendampun sempat menghampiri, yang mana sudah berkecamuk ingin sekali memberi pelajaran pada Ana.