Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Oma......hiks


Sementara dirumah Mbak Ijah sedang menenangkan Cia yang sudah bangun ketika mendengar deru mobil ada orang tuannya. Dan langsung berlari menghampirinya. Namun, mobil Rey dan Cira sudah keburu keluar dari rumah.


Sehingga mereka tidak melihat Cia terbangun "Huuhuhuu,,mommy, Daddy..." panggil Cia menangis membuat Mbak Ijah yang baru masuk ke rumah dan melihat Cia menangis didepan pintu.


Dengan cepat mbak Ijah menghampiri Cia "Non Cia. Sama Opong di rumah ya. Karena dedek bayi mau lahir" terang mbak Ijah semakin membuat Cia menangis membuat Mbak Ijah kelimpungan menenangkannya.


Opong adalah nama kesayangan Cia untuk mbak Ijah. Karena Mbak Ijah giginya ada yang sudah hilang jadi Cia memberikan nama tersebut.


"Huuuuuhuuuuhuuu, Oma jahat tidak bangunin Cia" ucapnya sambil menangis.


Mbak Ijah menuntun Cia untuk masuk ke kamarnya. Dan membuatkan susu coklat untuk Cia "Diminum ya non Cia. Biar tenang"ucap Mbak Ijah membuat Cia mengangguk.


"Opong ngelahirin itu sakit ya?" tanya Cia membuat Mbak Ijah mengangguk.


"Hwa,,,,mommy......." tangis Cia pecah melihat anggukan mbak Ijah.


Mbak Ijah dibuat kelimpungan dengan Cia yang kembali menangis. "Sudah atuh non nangisnya. Kan mau jadi kakak" ucap Mbak Ijah membuat Cia berhenti menangis tetapi masih sesenggukan.


"Mommynya Cia pasti kesakitan di sana,,,hwa.....hiks...." tangis Cia yang ingat mommy nya bakalan kesakitan mengeluarkan dedek bayi nya.


Mbak Ijah hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Cia yang lucu. "Besok kita jenguk dedek bayinya yuk" ucap Mbak Ijah membuat Cia mengangguk. "Nah, ini baru kakaknya si kembar" ucap Mbak Ijah lagi membuat Cira berhenti nangis. "Ayo, tidur lagi, non. Biar besok bisa jagain adik kembar nya" mendengar itu membuat Cia tidur walau masih sesenggukan dan hidungnya mampet karena menangis.


"Mommy, Daddy..." gumam Cia membuat Mbak Ijah yang mengelus pucuk kepala Cia tersenyum.


Keluarga ini sangat penyayang dan harmonis batin Mbak Ijah.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dan mbak Ijah sudah berkutat di dapur dengan memasak makanan yang akan dibawanya ke rumah sakit untuk majikannya.


Dan menyiapkan pakaian Cira dan Rey. Karena mereka tidak membawa baju ganti. Mereka hanya ingat membawa perlengkapan si kembar.


"Hwuaaaaaa, Mommy......." tangis Cia yang baru bangun membuat Mbak Ijah berlari menghampirinya.


"Ada apa, non?" tanya Mbak Ijah.


"Mau mommy,,,, hiks" tangis Cia membuat Mbak Ijah tersenyum. Karena Cia bangun langsung ingat dengan Mommynya.


"Masih jam setengah enam. Dan di rumah sakit juga masih tutup. Kita ke rumah sakitnya jam 7 aja ya, non." bujuk mbak Ijah membuat Cia mengangguk lalu turun dari ranjang dan mandi dengan mata bengkak dan hidung merah.


Mbak Ijah turun menuju dapur untuk kembali memasak. Dan menyiapkan makanan dalam rantang untuk para majikannya yang sedang berada di rumah sakit.


Sementara Cia sudah selesai mandi. Teringat tentang dirinya memiliki ponsel di dalam laci yang digunakan hanya untuk kepentingan. Karena Mommynya melarang nya bermain ponsel setiap hari.


Dengan cepat Cia mencari nomor Oma. Hingga beberapa menit tersambung lah dan terdengar suara Omanya. "Oma...... ! hiks" ucap Cia keras dan kembali menangis.


"Oma,, mommy mana. Cia pengin ngomong sama mommy hiks...hiks..." ucap Cia merengek meminta berbicara dengan Mommynya.


"Hallo sayang?" ucap Cira yang terlihat seperti orang baru bangun.


"Mommy!!" teriak Cia dengan keras.


"Sayang kenapa nangis?" tanya Cira lembut membuat Cia yang menangis menjadi tambah menangis.


"Mommy,,Cia kangen" ucapnya dengan kembali histeris menangis.


Dan dilihatnya Cia yang sedang menangis sambil menelpon. Membuat Mbak Ijah menghela nafas tenang.


"Ayo, pakai bajunya. Kita jenguk dedek kembarnya" ucap Mbak Ijah membuat Cira senang. Dan mematikan sambungan telepon nya.


Sementara di rumah sakit. Rey dibuat bingung dengan Cira. Bahkan Oma sedang memegang telinganya. "Kalian kenapa?" tanya Rey.


"Anak kamu itu, suaranya seperti toa!" ucap Oma membuat Rey yang kesadarannya setengah hanya mengangguk saja.


"Sayang" ucap Rey yang tadi malam tidur di sofa dan lebih tepatnya tidak tidur karena menjaga anaknya yang sering terbangun karena lapar ataupun pup.


Cira yang melihat suaminya dengan wajah berantakan mata panda merasa kasihan. Lalu menepuk samping ranjangnya agar Rey tidur didekatnya.


Melihat respon sang istri dengan cepat Rey tidur disamping Cira dan memeluk Cira. "Kamu harus puasa selama 2 bulan" ucap Oma membuat Rey yang tadi menikmati aroma tubuh Cira menjadi menatap Omanya penuh tanya.


"Maksudnya, Oma?" tanya Rey.


"Ya, kamu puasa. Tidak melakukan hubungan suami istri selama 2 bulan" ucap Oma duduk di sofa membuka buah apel.


Mendengar itu membuat Rey sedih "Bukannya 40 hari, Oma. Kenapa jadi 2 bulan?" tanya Rey yang tidak terima di tambahkan jadwal puasanya.


"Kamu aja tahan selama 3 bulan. Ini cuma 2 bulan masa tidak" ucap Oma membuat Rey bangkit dari tidurnya dan menatap Oma.


"Itu beda Oma. Rey tahan karena ada anak Rey, Oma. Tapi sekarang kan sudah tidak ada jadi bebas dong" ucap Rey membuat Oma melempari buah yang sudah dikupas dan dipotong nya. Karena kesal dengan cucunya.


"Anggap saja demi anak kamu. Kamu ini emangnya tidak kasian dengan Cira yang itunya dijahit?" tanya Oma membuat Rey menatap Cira kemudian mengangguk karena kasian terhadap Cira yang kini sedang tertidur karena kemarin megadang untuk menyusui dedek kembar.


"Baiklah Oma. Tapi setelahnya boleh dong?" tanya Rey lagi membuat Oma mengangguk.


"Asalkan jangan sampai kecolongan aja. Kalau mau kasih jarak sampai umur dedek kembar 3 atau 4 tahun. Baru kasih adik" ucap Oma membuat Rey membulatkan matanya.


"Oma, Rey belum kepikiran mau kasih dedek kembar adik. Soalnya masih was-was dengan proses persalinan yang membuat Rey banyak luka Oma" ucap Rey sembari memperlihatkan bekas kuku jari Cira di lengannya.


"Belum seberapa dengan pengorbanan istri kamu" ucap Oma membuat Rey mengangguk dan kembali ikut merebahkan tubuhnya disamping Cira dan memeluk nya.


Baru saja Rey memejamkan matanya suara tangis kedua bayi terdengar memenuhi ruangan tersebut. Dengan sigap Oma menggendong baby G yang menangisinya paling kencang. Membuat sang adik Baby J ikut menangis.


"Rey, bangun. Itu gedong baby J nya, Rey." ucap Oma pelan supaya tidak membangunkan Cira. Oma membangun Rey dengan menarik pipinya keras membuat Rey membuka matanya dan mendengar suara tangis anaknya.


"Ututuy...cucu Oma yang ganteng, haus, ya?" ucap Oma pada bayi yang belum genap sehari itu.


"Ini Oma" ucap Rey memberikan botol susu kepada Oma. Susu yang sudah di simpan Cira. Karena asi Cira yang keluar sangat banyak.


Mereka pun menyusui si kembar dengan botol dot. Bayi-bayi ganteng itu sangat kuat minum susu untungnya air susu Cira mengikuti kapasitas banyaknya minum untuk bayi kembar tersebut.


"Mommy!!!" teriak Cia dari arah pintu membuat mereka yang didalam terkejut. Bahkan baby kembar yang tadinya sudah diam menjadi kembali menangis.


"Pelan-pelan, non" ucap Mbak Ijah yang mengikuti langkah Cira dari belakang.


"Huhu...Daddy... kenapa mommy tidak bangun" ucap Cia ketika melihat Mommynya memejamkan matanya. membuat dia menangis.


Melihat tingkah Cia ditambah suara tangis dedek kembar yang bersamaan membuat jiwa Oma berkobar panas. Bahkan Rey tidak memperdulikan Cia karena anaknya sedang menangis.