Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Rey?


"Tidak!!. Mereka harus hidup. TIDAK!!" ucap Rey yang menangis. Hati nya sakit ketika dokter mengatakan bahwa mereka tidak sedang baik-baik saja.


Rey dengan cepat bangkit dan menghampiri Cira yang berbaring di atas brankar UGD. Wajahnya terlihat pucat dengan mata ayang terpejam. "Sayang, ayo bangun" ucap Rey dengan menggemgam tangan Cira.


"Sayang, nanti malam adalah perayaan ulang tahun mu. Tolong buka lah matamu, sayang!" ucap Rey dengan menciumi tangan Cira.


"Sayang bangunlah, Kamu masih berhutang satu hadiah untukku. Walau sebenarnya aku sudah tau. Tapi aku pengen dengar itu dari mulut mu." ucap Rey pilu dengan air mata membasahi pipinya.


"Apakah kamu tidak kasihan melihat Cia. Dia sudah sangat sayang kepadamu. Kalau dia bertanya dimana mommynya. Bagaimana aku harus menjawab nya, sayang." ucap Rey dengan membawa tangan Cira ke pipinya kemudian di ciumnya.


"SAYANG, BANGUN!!" ucap Rey yang sudah tidak kuasa menahan gejolak di hatinya.


"Rey, sudah. Biarkan Cira tenang. Ini sudah takdirnya" ucap Oma yang sudah datang. Mendengar kabar dari mbak Ijah membuat Oma dengan cepat ke rumah sakit tempat dimana Cira di bawa.


"Tidak, Oma. Dia masih berhutang penjelasan!!" teriak Rey tidak terima. Semua orang yang melihatnya merasa iba.


Karena Rey terlihat sangat frustasi dengan apa yang terjadi. "Sudah, Rey" ucap Oma lagi.


"Tidak, Oma. Cira bangun!!. Kamu harus kasih tau aku tentang kehamilan mu!!" Teriak Rey membuat Oma yang menangis memeluk tubuh Rey yang rapuh.


"Rey??. Rey?." ucap Oma ketika merasakan tubuh Rey yang merosot karena kesadaran Rey sudah menghilang.


"Rey!!" ucap Oma. dengan berteriak. Dan dibawanya tubuh Rey kedalam brankar kosong di samping Cira.


"Cira!!" ucap Rey berteriak tersadar. Dan terduduk.


Mendengar teriakan dari Rey membuat semua orang menghampirinya. Di sana ada Papa aditama, Oma Andra dan suaminya beserta keluarga Cira.


Rey mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. "Papa dimana, Cira. Semuanya baik-baik saja kan?. Cira tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Rey kepada Papanya membuat semua orang sedih. "Oma, Cira baik-baik saja kan?" tanya Rey lagi yang suaranya parau.


"Mas?" ucap Cira pelan yang baru keluar dari kamar mandi. Membuat Rey bangkit dari ranjangnya dan langsung memeluk Cira erat.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku takut kamu pergi ninggalin aku. Karena sifat aku" ucap Rey menangis di pelukan Cira membuat Cira mengelus punggung nya. Walau ia tidak mengerti apa maksud dari ucapannya.


"Kamu baik-baik saja kan. Anak kita sehat kan?" tanya Rey memegang perut Cira membuat mereka semua terkejut termasuk Cira.


"Mas, tau kalau aku lagi hamil?" ucap Cira membuat Rey membulatkan matanya. Karena baru tersadar akan ucapannya. Cira menatap mata Rey untuk mencari kebenaran nya.


"Hadeh,,gagal sudah usaha kita" gumam Oma membuat mereka keluarga Aditama dan Nugraha menghela nafas.


"I-iya" ucap Rey dengan menggaruk kepalanya. Lalu kembali memeluk tubuh Cira.


Cira yang mendengar nya langsung memukul punggung Rey. "Jahat banget, sih." ucap Cira kesal.


"Tapi mas kan udah jujur, jadi jangan tinggalkan, mas lagi ya" ucap Rey membuat Cira bingung.


"Kamu ini kenapa sih, mas. Baru sadar langsung aneh gini?" tanya Cira membuat Rey bingung juga.


"Kalian mau terus berdiri sambil berpelukan. Sementara disini ada keluarga kalian sedang menatap kalian!" ucap Andra sinis karena merasa terabaikan.


Mendengar itu membuat Cira dan Rey hanya menampilkan deretan gigi nya. Merasa malu akan tingkah mereka.


"Kamu kenapa bisa sampai pingsan di depan kamar hotel?" tanya Oma ketika Rey sudah terduduk di kursi rumah sakit.


Chan menemukan Rey di depan kamar hotel telah pingsan. Untungnya Chan keluar untuk mengambil keperluan pesta dibawah.


Dan ketika melihat Rey dengan cepat Chan memberitahu Oma dan membawa Rey ke rumah sakit. "Nggak tau, Oma. Tiba-tiba saja kepala Rey pusing dan setelahnya Rey nggak tau lagi" ucap Rey.


"Gue lupa saking senangnya" ucap Rey dengan menumpukan kepalanya di bahu Cira yang berada di sampingnya.


"Terus kenapa tadi Lo nangis. Pakai acara sebut nama Cira?" tanya Andra membuat Rey merasa malu.


"Ternyata itu gue cuma mimpi" ucap Rey sekenanya membuat Andra memukulnya.


"Yaudah, biarkan saja dia. Kita mendingan makan. Lapar gue habis nyeret dia" ucap Chan membuat mereka semua tertawa. Namun, tidak dengan Rey yang mendengus kesal karena di seret.


Beberapa jam kemudian. Orang-orang sudah pada pergi karena malam sudah semakin larut dan kini didalam kamar rumah sakit hanya ada Rey dan Cira.


Rey harus di rawat sampai besok karena kondisi lambungnya. Akibat sering terlambat makan.


"Mas, kamu mimpi apa sih?. Kata Oma kamu sampai nangis dan nyebut nama aku" tanya Cira ketika mereka sudah berbaring bersama di atas ranjang rumah sakit.


"Mas, mimpi buruk. Kamu dan dedek bayi ninggalin, mas sendirian. Mas, nggak mau kalau mimpi itu terjadi" ucap Rey dengan sendu. Membuat bulir di mata turun.


Membuat Cira membawa Rey kedalam pelukannya "Aku tidak akan pernah ninggalin, mas. Ya, kalau mas main cewek diluar maka aku akan pergi tanpa mas tau" ucap Cira membuat Rey belingsutan.


"Tidak. Mas, tidak akan main cewek. Walaupun ceweknya cantik dan bohai" ucap Rey membuat Cira tersenyum.


"Udah, ah. Aku capek mau tidur. Tadi mau masak sate telur puyuh terpaksa deh batal akibat dengar mas pingsan" ucap Cira kesal. Karena acara masaknya terganggu.


"Maaf, besok kita masak sate telur puyuh"ucap Rey membuat Cira mendengus lalu mencari posisi nyaman yaitu di ketiak Rey. Dan tanpa menunggu lama dia langsung tertidur lelap.


"Semoga saja mimpi itu tidak terjadi. Karena mas, takut kamu pergi ninggalin mas. Karena kamu adalah dunia, mas." gumam Rey mencium kening Cira dan ikut terlelap.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.59. Dan membuat semua orang sudah berada di ruang Rey dan Cira berkerumun dengan mengelilingi mereka.


"Lima, empat, tiga, dua, satu." bisik Bejamin membuat mereka semua tersenyum menahan tawa.


"Selamat ulang tahun Cirania Reyodra Aditama!" ucap semuanya membuat Cira dan Rey membuka matanya. Dan betapa terkejutnya Cira dengan kejutan yang diberikan.


"Ayo make a wish" ucap Mamanya Cira dengan membawa kue yang lilinnya sudah menyala.


"Semoga panjang umur dan persalinan dilancarkan" ucap Oma membuat mereka semua mengangguk.


Cira berdoa dan meniup lilin nya bersama Rey. "Selamat ulang tahun, sayang. Dan selamat kamu bakalan jadi Mommy" ucap Rey lalu mencium bibir Cira membuat mereka semua yang melihatnya berputar arah dan mendengus kesal.


"Masih ada orang, bro. Harap bersabar" ucap Bejamin yang masih membelakangi Cira dan Rey.


"Maaf kelepasan" ucap Rey membuat mereka kembali berbalik menatap Rey dengan tajam. Sementara Cira sudah malu-malu dengan membenamkan wajah di dada Rey.


"Udah, ah. Gue mau pulang ngantuk." ucap Chan membuat semuanya mengangguk.


"Kalau tau bakalan ujungnya di rumah sakit. Mendingan tadi gue tidur. Menyesal gue ngedekor pesta di hotel. ujungnya malah di rumah sakit" Kesal Bejamin.


Membuat mereka semua tertawa. Pesta perayaan yang ingin mereka hadiahkan untuk Cira malah gagal. Dan surprise kehamilan nya juga gagal. Namun, bagi Oma itu adalah yang terbaik.


"Ini adalah balasan dari calon anak kamu. Karena kamu pura-pura nggak tau kalau dia sudah hadir" ucap Pak Nugraha membuat mereka tertawa.


"Dan selamat merasakan kehamilan simpatik" ucap Mama Cira tertawa. Sedangkan mantu dan anaknya bingung mendengar perkataan Mamanya.


"Kami pulang, ya. Owh, iya. Ingat untuk kasih tau Cia. Kasian dia nggak ikut karena ketiduran" ucap Oma. Membuat Cira mengangguk.


Memang tadi yang ikut merayakan hanya Chan, Bejamin, Oma, Papa dan Mama Nugraha. Karena mereka yang menjaga Cira dan Rey tadi.