
Mereka akhirnya sampai pada perumahan yang akan di huni oleh Cira dan Rey, yakni di kawasan elit. Dengan interior klasik modern.
"Ini rumah kita, Mas?" ucap Cira yang sudah mulai membiasakan diri dengan memanggil Rey 'Mas' untuk menghormatinya sebagai suaminya.
Rey yang dipanggil 'Mas' merasa geli. "Ish,,, geli Ra. Dipanggil mas. Panggil honey lebih bagus, Ra" goda Rey membuat Cira memukul lengannya.
"Aduh...gini nih, kalau pengantin baru. Dunia serasa milik berdua yang lainnya cuma numpang" ucap Chan dengan berdramatisir.
"Bukan numpang tapi Lo itu kernetnya" ucap Cira membuat Chan tertawa.
"Kalian tidak ingin turun" ucap Chan membuat mereka berdua tertawa hambar.
Mereka pun keluar dan masuk kedalam rumah "Selamat datang!!!" ucap mereka semua yang ada didalam rumah tersebut.
"Selamat datang Mommy and Daddy" ucap Cia dengan langsung memeluk Rey.
Dan Rey segera menggendong Cia lalu mencium pipinya. Demikian juga Cira yang ikut mencium pipi Cia.
"Kalian kok, cepat banget keluar dari hotel?!"ucap Mamanya Cira.
"Iya, ma. Soalnya bosan di kamar terus" ucap Cira membuat mereka semua tertawa. Rey hanya menghela napas saja. Karena tau maksud dari tawa dan tatapan mereka semua.
"Udah, mau tetap diluar. Apa mau masuk?" ucap Oma Ida membuat mereka semua masuk kedalam rumah.
Cira melihat sekeliling terpana akan dekorasi rumah ini. "Nyaman kan, Ra?"tanya Oma Ida pada Cira yang melihat mata binar di wajah Cira.
"Banget, Oma. Soalnya ruangannya asri. Ada penghijauan gitu. Jadi tenang adem liatnya, Oma." ucap Cira sembari terus mengedarkan pandangannya.
"Kamu letakkan barangnya dilantai 2 kamar dengan pintu warna kuning"ucap Oma membuat Cira menganggukkan kepalanya.
Cia yang melihat Mommynya naik ke lantai atas pun mengikuti nya. "Mommy, Cia ikut!" ucap Cia membuat Cira mengangguk dan menggandeng tangan Cia.
Mereka. Keluarga inti Cira dan Rey sedang duduk bersama di ruang keluarga untuk sekadar bersantai ria, dengan di dampingi oleh teh dan jus buah.
"Rey, untuk besok kamu libur aja dulu ya?. Percuma juga kalau kerja besok nya juga hari libur kan?" ucap Papanya Rey.
"Iya, tuh. Kamu puasin dah lanjutin malam pertama" timpal Chan yang di barengi dengan tawa mereka semua.
"Pa. Kemarin Rey lihat Gea nangis di sebuah cafe kemudian di bawa oleh orang-orang suruhan Om Ardi Dan Rey juga sudah cari informasi nya. Ternyata Om Ardi pengen Gea menikah dengan rekan bisnisnya yang sudah memiliki istri 4, Pa." ucap Rey membuat mereka semua terkejut akan perbuatan Om Ardi yang memaksa anaknya menikah dengan hidung belang.
"Dasar. Si Ardi, anaknya dijadikan bahan taruhan. Nggak ngotak apa dia. Udah bikinnya susah penuh keringat dan tenaga. Eh, pas gedenya malah dijadikan bahan taruhan. Bikin esmosi aja tu, Anak!" ucap Oma Ida membuat mereka semua setuju.
"Rey tenang aja. Kamu nikmati masa pengantin baru aja. Nanti masalah Gea biar Papa dan Oma yang urus." ucap Papanya
"Ardi itu beda jauh banget sama kamu Adi" ucap Pak Nugraha yang memang sudah kenal dengan Ardi. Anaknya dari saudara Oma Ida.
"Iyalah beda, Om. Orang jalan lahirnya juga beda" ucap Chan dengan santainya. Membuat mereka bingung.
"Jalan lahir? maksudnya?" ucap Mamanya Cira yang penasaran.
"Iya, Tante tau lah maksudnya" ucap Chan sembari dengan mengusap perutnya kemudian membuat gerakan setengah lingkaran pada perutnya.
"Jalan lahir, Hamil maksud kamu?" ucap Oma membuat Chan memberikan dua jempol.
"Daddy!" ucap Cia dengan berlari kearah Rey. "Daddy, Cia bakalan punya adik ya?"ucap Cia yang sudah duduk dipangkuan Rey. Membuat mereka semua melongo.
"Kata siapa?" tanya Rey pada Cira yang sudah berbinar matanya.
"Om Chan, Dad"ucap Cia seraya menunjuk Chan membuat Rey memandangnya tajam. Sedangkan yang lain tertawa.
Chan!!. batin Rey menggeram
Awas, Lo Chan karena udah menodai pikiran anak gue. Gimana mau bikin 5 kalau satu saja butuh perjuangan kayak gini. batin Rey
"Cia, kalau mau cepat-cepat punya adik Cia harus nurut ya. Jangan ganggu Daddy dan Mommy mu ya?"ucap Andra membuat Rey menatap tajam kearah Andra karena telah menodai pikiran anaknya.
Cira akhirnya turun dengan wajah lebih segar akibat sudah selesai mandi. "Mommy!!"ucap Cia dan menyuruh Cira duduk disamping Rey.
Cira pun akhirnya duduk disamping Rey. "Kalian ngomongin apa? seru banget"ucap Cira seraya mencomot kue yang ada dimeja.
"Cia pengen adik katanya. Lima."ucap Mamanya Cira membuat Cira tersedak kue mendengar ucapan Mamanya.
Gila. Lima. dikira anak ayam kali batin Cira.
"Kamu ini baru ngomong begitu aja udah tersedak. Hahaha" ucap Mamanya membuat mereka semua tertawa.
"ish,,Mama"ucap Cira kesal.
"Kakak ipar harus waspada terhadap Rey karena Rey banyak ditempeli berbagai macam ulat." ucap Chan menasehati Cira.
"Biarin aja nanti aku jual atau masak ulat nya. Hahaha" ucap Cira tertawa.
"Tenang aja mommy masih ada Cia. Kalau Daddy di tempeli ulat biar Cia yang ambil. Cia kan berani sama ulat" ucap Cia polos membuat mereka gemas. Karena ulat yang dikatakan Chan itu berbeda dengan ulat ada di otak Cia.
"Gemes deh, Mommy sama kamu" ucap Cira seraya mengecium pipi Cia.
"Udah, siang. Kami pulang ya." ucap Papanya Cira.
"Yah...Appa. Cia belum main sama Appa" ucap Cira sedih.
Melihat cucu nya yang sedih pak Nugraha dan istrinya merasa sedih "Yaudah karena Appa sama Amma dirumah sendiri. Mendingan Cia main kerumah Appa, Mau?" ajak Pak Nugraha membuat Cia menghampiri nya.
"Cia nggak jadi main ke rumah Aidan?" ucap Andra. Membuat Cia bingung mau pilih yang mana.
Melihat anaknya yang bingung. Papanya pun menyarankan dengan mengikuti Papanya saja. "Cia sekarang ikut Papa aja. Besok pagi ke rumah Aidan terus sorenya ke rumah Appa, gimana?" ucap Papanya. Membuat Cia mengiyakan nya.
Mereka semua sudah pergi dan kini dirumah tersebut hanya ada mereka berdua. Rey sedang mandi karena merasa gerah akibat cuaca yang terlalu panas.
Sedangkan Cira mencoba membuat kue. Karena ingin mencoba dapur baru. Ia tidak perlu ke pasar untuk membeli keperluan rumah karena Oma dan Mamanya sudah menyiapkannya.
Masalah ART mereka akan bekerja setiap hari Minggu. Hanya untuk membersihkan rumah. Kalau urusan masak sudah Cira mengendelnya.
"Ra?" ucap Rey yang turun dari tangga yang hanya memakai celana kolor ya.
Mendengar Rey memanggilnya. Segara Cira menampakkan dirinya. "Iya?" ucap Cira sedikit terkejut karena Rey hanya memakai celana kolor ya saja.
"Masak yang banyak ya? soalnya ada tamu yang bakalan datang kesini." ucap Rey duduk di mini bar.
Cira segera menyodorkan air kepada Rey dan langsung di teguknya "Tamu? Siapa?" tanya Cira.
"Itu anaknya Om Ardi"ucap Rey membuat Cira hanya ber-oh saja. Dan kembali pada masak kuenya.
"Lagi bikin apa, Ra?" ucap Rey tepat di telinga Cira. Membuat Cira terkejut akan tindakan Rey.
Aduh...jantungku batin Cira.
"Masak air" ucap Cira sembari menjauh dari Rey dengan gerakan mengambil nampan.
"Biar Mateng" ucap Rey sedikit tertawa.