
Hari ini adalah hari dimana kegiatan piknik sekolah diadakan. Dan Chan telah menyiapkan keperluan yang dibutuhkan Cia. Namun, untuk bekalnya sudah disiapkan oleh Cira. Chan memakai setelan trening dengan kacamata hitam dan jangan lupakan topi diatas kepalanya.
Chan terlihat sangat keren bahkan sampai membuat para guru kagum. Mereka ke tempat piknik menggunakan bis supaya lebih aman.
"Ciarabella Aditama" panggil guru yang mengabsen siswanya kemudian masuk ke dalam bis.
Cia yang dipanggil segera mengajak Chan mendekat "Silakan masuk ke bis" ucap guru tersebut.
"Ayah aku duduk di dekat jendela ya" ucap Cia yang melihat deretan kursi bis. Kemudian duduk kursi paling depan.
Setiap bagian pada bagian kanan terdapat deretan 3 kursi dan yang sebelahnya terdapat 2 kursi. Namun Cira justru memilih yang di tugas kursi.
Setelah semua naik, bis pun berlaju. Semua guru kembali mengecek siswanya. Setiap selesai ulangan akhir semester seluruh kelas akan mengadakan acara sama seperti hal nya kelasnya Cia hanya saja untuk dikelas rendah ditemani oleh orang tua dan dikelas tinggi tidak karena sudah bisa diatur.
"Baik,,, anak-anak karena semua sudah lengkap. Dan untuk mengisi perjalanan kita bernyanyi bersama" ucap salah satu guru.
Membuat semua siswa bersorak senang dan mereka mulai bernyanyi. Sementara Chan memilih untuk tidur. Dengan penutup mata yang dipasangkan Cia dengan berbentuk lucu seperti kelinci.
Chan tidur dengan nyenyak, karena bis menikung membuat kepala Chan ikut linglung dan menyender pada sebuah bahu disampingnya.
Chan sangat pulas. Mungkin karena waktu istirahat nya tidak teratur membuatnya tidur tidak nyenyak.
"Ibu guru, capek ya?" tanya Cia yang melihat Ibu gurunya yang tegang dan kaku, karena seorang yang bersender di bahunya.
Mendengar itu membuat ibu guru nya menatap Cia. Lalu menjauhkan kepala Chan dari bahunya. "Tidak, kok. Cia lapar?" tanya ibu guru itu membuat Cia menggelengkan kepalanya. "Yaudah, Cia tidur lagi ya. Kan masih jauh tempat nya" ucap ibu guru itu membuat Cia mengangguk dan memejamkan matanya.
"Aduh,,,kalian kayak pengantin baru" goda guru yang melewati kursi duduk Ibu guru cantik dan Cia.
"Apaan sih. Ini tadi ayahnya Cia tidak sengaja karena jalanan nya mengkol" jelas Bu guru cantik namun dianggap angin lalu oleh rekannya.
Bahkan ada yang sejak tadi diam-diam memotret keduanya. Sedang senyum puas melihat hasil jepretan nya.
Setelah melewati perjalanan yang panjang. Kini mereka sudah sampai bahkan Chan sudah terbangun karena dibangunkan oleh Cia. "Ayah,,,,nanti ambil barangnya ya" ucap Cia membuat Chan yang mengeliatkan badannya terhenti.
"Bantuin dong. Itu barangnya banyak Cia. Kamu sih,,,pakai ngajuin diri bawa yang begituan" cerocos Chan yang baru bangun langsung disuruh untuk membawa barang yang banyak.
Chan bangkit mengikuti orang tua murid yang lainnya sedang mengambil barang di bagasi bis. "Terima kasih lho, pak Chan. Berkat anak bapak kami semua jadi tidak perlu bawa barang lebih" ucap salah satu bapak membuat Chan kesal.
Chan hanya memasang wajah terpaksa "Iya bapak-bapak, anak saya itu kelewat baik" ucap Chan membuat para orang tua tertawa.
Mereka membawa barang ke tempat kemah. Ternyata Chan dibohongi oleh Cia karena sesungguhnya kegiatannya adalah berkemah. Chan merasa dikibuli oleh Cia. Membuatnya kesal ketika melihat barang yang mereka bawa.
"Silakan letakan disini, bapak-bapak" ucap salah satu guru membuat mereka meletakan barang mereka di sana. "Untuk tendanya. Silakan bapak-bapak bangun tenda masing-masing dan itu tendanya" tunjuk guru itu membuat mereka mengangguk. Namun, tidak dengan Chan yang justru ngedumel dalam hatinya.
"Ayo,, bapak-bapak" ajak salah satu bapak yang paling semangat.
Chan mengambil salah satu tenda dengan kasar karena ia harus melewati hari liburnya dengan mengikuti perintah bosnya.
Mereka membangun tenda dengan canda dan tawa, saling mengejek. "Yeyyy....!!" sorak mereka karena berhasil membuat tenda.
"Dimana anak-anak?" tanya Chan pada salah satu bapak yang sedang membersihkan tangan.
"Mereka sedang melihat-lihat tempat ini" ujar bapak tersebut sambil menunjuk kumpulan anak-anak yang sedang duduk-duduk dibawah pohon rindang dengan wajah tertawa.
Pandangan Chan mengikuti arah yang dituju. Matanya samar-samar melihat sosok yang akhir-akhir ini selalu menghiasi pikirannya. Namun, Chan menepisnya. Mana mungkin dia disini dalam benak Chan menolak.
"Ayo, kita mengemasi barang untuk dibawa ke tenda" ajak bapak itu dan mereka mengemasi barang yang dibawanya untuk diletakan didekat tenda supaya bisa dijangkau.
Dan mereka beristirahat dengan canda dan tawa. Gerombolan anak-anak datang dan berlari menghampiri mereka. Suara riuh perkataan anak yang bercerita kepada orang tuanya memenuhi kegiatan mereka.
"Ayah,,ayo kita kesana" ajak Cia pada Chan kearah guru-guru yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
"Ngapain, sih?" tanya Chan karena malas untuk disuruh lagi.
"Ayo....." ajak Cia yang menarik tangan Chan supaya berdiri. Dengan paksaan akhirnya Chan bangkit dan mengikuti Cia kearah kumpulan para guru.
"Permisi, ibu. Apakah ibu guru cantiknya ada?" tanya Cia kepada ibu guru membuat mereka salah pokus menatap karena pandangan mereka justru mengarah pada Chan. Sedangkan Chan wajahnya sudah ditekuk malas.
"Eh,,iya Cia?. Ibu guru cantiknya lagi izin ke rumah saudara nya yang ada didekat sini" ucap guru itu yang tersadar dari pandangan jahatnya.
"Ish,,,gagal lagi dong" desis Cia lemas karena tidak bertemu dengan guru cantiknya.
"Apanya yang gagal, Cia?" tanya guru tersebut membuat Cia tersenyum sampul.
"Tidak ibu. Cia mau makan boleh?" tanya Cia membuat guru itu mengangguk dan memberikan makanan kepada Cia dan juga untuk Chan.
Semua guru mengetahui siapa yang mereka panggil ibu guru cantik, karena para guru juga memanggil guru tersebut begitu.
Chan dan Cia menuju tendanya yang ternyata para orang tua dan anak-anak sedang makan bersama. Dan Chan mengikuti mereka.
Mereka bercanda-ria dan bernyanyi. Karena nuansa malam sore sangat indah dengan didampingi oleh sinar jingga yang terpatri diatas air danau yang indah.
Hingga malam bertemu dan suasana perkemahan semakin seru. Namun, anak-anak justru harus tidur karena sudah waktunya untuk tidur. "Ayah Chan,, telpon mommy dong" ucap Cia yang sudah mulai merindukan mommy nya.
"Ngapain telpon Mommy kan sudah ada om Chan. Kalau Cia tidak bisa tidur, Om Chan bisa ceritain dongeng. Begini-begini om Chan pandai dongeng lho" ucap Chan yang membanggakan dirinya membuat Cia terkikik.
"Ayah Chan bisa dongeng. Nanti kayak Daddy kalau ngedongengin pakai bahasa purba cuma hmmm....Hem.... gitu aja" ucap Cia membuat Chan merasa tertusuk.
"Ya,,, memang begitu lah cara dongeng para bapak-bapak" ucap Chan membuat Cia memeluk tubuh Chan.
"Ayah Chan tadi Cia disana sama ibu guru cantik melihat ikan yang besar sekali" cerita Cia yang membuat Chan justru mengantuk dan tanpa disadari matanya terpejam membuat Cia yang juga lelah bercerita akhirnya tertidur dengan memeluk tubuh Chan.