
Suasana di sebuah permukiman sangat ramai. Karena adanya acara masak bersama sebagai perayaan persetujuan di bangun nya sekolah untuk anak-anak.
Ibu-ibu sedang menyiapkan makanan. Dan bapak-bapak sedang bersih-bersih lahan. Chan dan Fiola ikut berbaur bersama. Gelak tawa terdengar membawa kebahagiaan tersendiri.
Bugh...
Suara terjatuh terdengar setelahnya disusul suara gelak tawa dari bapak-bapak. Mendengar itu membuat ibu-ibu kepo. "Ada apa, pak?" tanya salah satu ibu kepada suami yang datang untuk mengambil air minum.
"Itu, nak Chan terjatuh karena terpeleset oleh tanah yang basah" ucapnya membuat ibu-ibu itu berbondong-bondong melihat Chan.
Melihat ibu-ibu yang keluar dari dapur membuat Fiola mengerjitkan dahinya. Kemudian mengangkat bahunya. Dan melanjutkan memasak.
Sementara Chan yang duduk disebuah kursi dikerumuni oleh ibu-ibu tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan tentang keadaan Chan.
Sedangkan Chan dibuat pusing oleh ibu-ibu belum lagi kakinya yang mulai sakit. "Minum dulu air nya" ucap pak Mun, yang tadi mengambilkan air minum untuknya.
"Terima kasih, pak" ucap Chan kemudian meminum airnya.
"Ibu-ibu kalian masaklah dengan cepat supaya kami juga bisa makan dengan cepat" ucap pak Mun mengusir kerumunan ibu-ibu.
"Ada apa, Bu?" tanya Fiola ketika ibu-ibu tersebut sudah mengerjakan tugas kembali.
"Itu nak Chan tadi terpeleset. Kamu tidak melihatnya?" tanya ibu yang duduk di samping Fiola.
"Nanti saja, Bu. Lagian tidak ada yang jaga ini kalau ditinggal. Nanti dimakan kucing makanan nya" ucap Fiola membuat ibu itu mengangguk. "Gimana keadaannya, Bu?" tanya Fiola yang sedikit khawatir namun segera dia tepis.
"Baik-baik saja" ucapnya membuat Fiola mengangguk dan kembali menggoreng ikan nya.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya masakan mereka selesai juga. Dan para Bapak sudah duduk melingkar diatas tikar.
Chan memandang Fiola dengan tatapan penuh. Karena sejak tadi dia terjatuh belum ada ucapan dari mulut Fiola menanyai keadaan nya.
"Biasa aja liatnya, nak Chan. Fiola hanya milikmu seorang" bisik pak Mus yang duduk di samping Chan yang sejak mengikuti arah pandang Chan.
Mendengar itu membuat Chan malu dan segera menatap pak Mus. "Belum pak. Sebelum janur kuning melengkung. Dia itu masih bisa di embat, pak" ucap Chan yang justru ikut berbisik. Membuat pak Mus tertawa dengarnya.
"Tenang aja. Jika Tuhan berkata lain. Maka kita satukan dengan cara Dukun" ucapnya dengan tertawa puas yang diikuti oleh bapak yang lainnya.
Sementara Fiola bibir nya berkedut karena dibicarakan oleh Chan dan pak Mus. Mereka makan bersama dengan di iringi canda tawa. Suasana kekeluargaan sangat terasa membuat mereka bahagia.
"Nak Chan makan yang banyak. Ini ada ikan goreng bumbu rica-rica" ucap Ibu yang berada di depan Chan. "Fiola, ambilkan nak Chan ikan goreng nya" ucap ibu itu lagi membuat Fiola yang tadi makan dengan asik harus terganggu dengan perintah ibu tersebut.
"Tidak usah, Bu. Ini sudah cukup kok" ucap Chan yang piringnya sudah penuh oleh lauk pauk yang disajikan.
Mendengar itu membuat Fiola kembali makan karena ia sudah biasa makan bersama. Sementara Chan berusaha berbaur walau ia juga sering makan bersama keluarga besarnya seperti ini. Tapi karena ini dengan orang baru membuat Chan sedikit canggung.
Setelah selesai makan dan membantu membersihkan alat makan. Mereka izin untuk pamit pulang karena Chan harus menjemput anak dari bosnya.
"Kamu sekarang mau kemana?" tanya Chan pada Fiola yang sejak tadi hanya diam saja.
"Kita ke apotek dulu" ucap Fiola membuat Chan mengerjitkan dahinya.
Setelah sampai di apotek, Fiola turun dari mobil dan masuk ke dalam apotek. Sedangkan Chan hanya terdiam didalam mobil dengan pandangan mengikuti Fiola memasuki apotek hingga dia keluar membawa kantong kresek.
"Sini kakinya?" ucap Fiola yang sudah masuk kedalam mobil.
Mendengar itu membuat Chan menatap Fiola dengan curiga. "Lukanya belum diobati kan tadi?. Sini biar aku obati" ucap Fiola lagi membuat Chan tersadar dan memberikan kakinya kepada Fiola.
Chan sudah mengganti pakaian karena tadi terjatuh terkena lumpur. Untungnya Chan selalu membawa cadangan pakaian didalam mobilnya. Sehingga sekarang Chan hanya memakai celana jens selutut.
Fiola dengan telaten memberikan obat pada luka di lutut Chan. Walau Chan meringis perih namun tidak dihiraukan oleh Fiola.
"Sudah selesai, mas" ucap Fiola membuyarkan lamunan Chan yang sejak tadi melihat wajah Fiola.
"Eh,,,terima kasih" ucap Chan kemudian memasukkan kakinya kembali ke tempat semula.
"Nanti di olesi dengan rutin ya. Biar tidak berbekas. Dan jangan di kenai air dulu. Tadi aja mandi sudah kena air kan?. Selanjutnya sebelum kering dan hilang jangan dikenai air" ucap Fiola membuat Chan mengangguk dan tersenyum.
Chan melajukan mobilnya menuju ke rumah Fiola. Kemudian ke sekolah untuk menjemput cilcomblang.
"Ayah Chan!!!!" teriak Cia ketika melihat mobil terbuka dan menampilkan Chan dengan pakaian kaos polosnya dan celana jens selutut ditambah dengan sendal. Walau terlihat biasa. Namun mampu membuat ibu-ibu disana menatapnya takjub sampai mulutnya terbuka.
"Adeh,,,,ayah lagi" gumam Chan kesal dengan panggilan yang diberikan Cia.
"Kok ayah Chan yang jemput. Daddy kemana?" tanya Cia yang memasuki mobil di ikuti oleh Chan.
"Lagi kerja" ucap Chan kemudian melajukan mobilnya.
"Owh,,,. Ayah Chan tidak beruntung hari ini. Soalnya ibu guru cantik tidak sekolah" ucap Cia sedih. Namun Chan justru bahagia karena ia tidak harus diseret lagi untuk melihat ibu gurunya.
Cantik apanya pasti ibu guru cantik itu badannya gemuk dan sudah tua. Atau bahkan sudah Jan*da batin Chan yang mengerti kejahilan dari seorang Ciarabella Aditama. Cucu dari seorang Oma Ida dan Oma Ega yang jahilnya sampai mendarah daging.
"Ayah Chan besok ikut piknik, yuk" ajak Cia membuat Chan mengerjitkan alisnya.
"Dengan siapa?" tanya Chan.
"Dengan guru dan teman-teman Cia disekolah. Karena besok hari Sabtu jadi sekolah mengadakan piknik dengan orang tua siswa sebagai wujud kekeluargaan" terang Cia yang berusaha mengingat informasi yang tadi diberikan oleh gurunya.
"Kan ada mommy atau Daddy. Kenapa harus ajak Om?" tanya Chan membuat Cia menggelengkan kepalanya.
"Mommy sibuk jaga si kembar dan Daddy kerja. Kalau ayah Chan kan pengangguran" ucap Cia tertawa. Membuat Chan mendengus.
"Om juga kerja Cia. Jadi ajaklah Oma ke piknik sekolah" ucap Chan membuat Cia memandang Chan sedih dengan mata yang sudah tergenang air mata.
Melihat itu membuat Chan mengangguk pasrah. Dan membuat Cia mencium pipi Chan yang sedang menyetir. "Terima kasih ayah" ucap Cia.
Mendapat itu membuat Chan tersenyum "Om harus menyiapkan apa buat besok?" tanya Chan membuat Cia mengambil kertas di kantong bajunya dan menyerahkannya pada Chan.
"Ini apa?" tanya Chan yang mengambil potongan kertas yang berisikan daftar bawaan yang harus dibawa. Ada pohon, karpet, buah-buahan dan yang paling aneh itu adalah cangkul. "Ini kenapa ada cangkul?. Kalian mau piknik apa gali kuburan?" heran Chan membuat Cia tersenyum.
"Pokoknya bawa aja, Ayah" ucap Cia membuat Chan menghela nafas panjang. Pasrah dengan anak bosnya itu.