
Cira kembali memasak sate telur bersama Mbak Ijah. Namun, dering ponsel membuat Cira menghentikan aksi masaknya. Dan membuka ponselnya. Karena takutnya itu adalah Rey.
Namun, ternyata orang tidak dikenal yang menelpon nya. Dan terdaftar dalam panggilan tak terjawab. Dan setelahnya ada pesan yang masuk dengan mengirim sebuah foto.
Dimana dalam foto itu suaminya Rey sedang bertelanjang dada dengan seorang wanita yang wajahnya tertutup oleh rambut.
"Ini pasti bukan mas Rey" gumam Cira menolak foto itu dan segera di hapus oleh Cira.
Namun, kembali lagi ponsel Cira berbunyi. Ternyata ada alamat hotel lengkap dengan nomor kamarnya. Membuat pikiran Cira terganggu.
Tenang Cira. Rey tidak sedang keluar kota dan ini alamat hotelnya masih di kota ini batin Cira. Namun, tetap saja Cira merasa tidak tenang jika tidak membuktikan nya.
"Mbak sekarang kita pergi ke hotel ini, ya?" ucap Cira membuat Mbak Ijah bingung.
"Mau ngapain, Nyonya?" ucap Mbak Ijah yang sedang menunggu bumbu sate telurnya meresap.
"Mau ngebuktiin, foto ini mbak?" ucap Cira dengan menampilkan foto yang dikirimkan kembali oleh seseorang yang foto semakin jelas.
"Nyonya, itu tuan Rey?" tanya Mbak Ijah membuat Cira mengedikan bahunya. Dan mematikan kompornya. Lalu keluar rumah.
"Mang, kita ke hotel XXX" ucap Cira ketika mereka sudah berada didalam mobil.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah hotel yang terlihat sepi. Entah mengapa hotel kalau sepi terlihat horor.
Mbak Ijah ikut masuk ke hotel itu bersama Cira, sementara sang supir menunggu di basemen hotel.
"Selamat malam, nyonya" ucap Resepsionis yang menyambut kedatangan mereka.
"Kamar nomor 111 ada di mana ya?" tanya Cira.
"Ada di lantai paling atas, lorong sebelah kanan" ucap resepsionis itu membuat Cira menyuruh Mbak Ijah membawakan ponselnya.
"Terima kasih" ucap Cira dan Mbak Ijah kepada resepsionis itu. Kemudian menaiki lift.
"Nyonya yang tenang, ya. Nyonya kan lagi hamil. Kasihan nanti dedek bayinya ikut tidak tenang" ucap Mbak Ijah membuat Cira berpikir.
Aku lupa kalau aku sedang hamil. Maafkan Mommynya yang membuat kalian khawatir. Semoga kalian sehat disana batin Cira dengan mengusap perutnya.
"Iya, mbak" ucap Cira berusaha untuk tenang.
Apapun yang terjadi nanti aku harap semuanya baik-baik saja batin Cira.
Mereka akhirnya sampai di lantai tersebut dan langsung mencari kamar yang dituju.
"Mbak ini benarkan kamarnya?" tanya Cira dan Mbak Ijah mengeceknya untuk memastikan.
"Mbak, gimana ini. Kita tidak meminta kunci tadi?" ucap Cira ketika mereka sudah berada didepan kamar.
"Coba di buka aja dulu, nyonya. Siapa tau tidak di kunci" ucap Mbak Ijah membuat Cira membuka pintu itu.
####
Mendengar keributan yang terjadi membuat wanita itu terusik dan membuka matanya perlahan.
"Awch" ucap wanita itu dengan memegang kepalanya. Dan terduduk di atas ranjang.
Mendengar itu membuat mereka memandang kearah suara. "Kalian siapa?" tanya wanita itu ketika melihat ada orang dan wanita itu mengedarkan pandangannya. "Ini dimana?" tanya wanita itu.
Membuat Cira dan Rey saling pandang. "Mas, silakan kamu selesai urusanmu dengan dia. Aku mau pulang dulu" ucap Cira membuat Rey memeluknya. "Mas, lepas!!" ucap Cira lagi yang tangisnya sudah hilang. Rey tidak melepaskan pelukannya.
"Sayang, aku tidak kenal dia siapa. Dan aku tidak ngapa-ngapain sama dia" ucap Rey yang masih memeluk tubuh mungil Cira.
"Aku capek, mas. Mau pulang" ucap Cira dengan nada lesu. Membuat Rey melepaskan pelukannya dan membingkai wajahnya.
"Sayang, berani sumpah. Aku sama dia tidak ngapa-ngapain dan aku juga tidak kenal dengan dia" ucap Rey. Kemudian memeluk kembali Cira.
"Mas, tau. Mungkin mas salah disini. Karena berbohong sama kamu. Untuk itu mas, minta maaf. Karena mempermainkan kepercayaan mu. Tapi tolong jangan tinggalin, Mas." ucap Rey membisik menahan tangis. Membuat hati Cira terenyuh mendengar suara parau suaminya.
Sebenarnya dia juga tidak percaya akan itu. Tapi entah mengapa hatinya terasa panas dan tidak terima jika suaminya berbohong.
"Mas?" ucap Cira terdengar lirih membuat Rey melepaskan pelukannya dan memandang Cira dengan tatapan khawatir.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan. Apa ada yang sakit?" ucap Rey membuat Cira mengangguk. Dan mere*mas lengan Rey.
Sementara Mbak Ijah sedang mengurusi wanita itu karena wanita itu di wajahnya banyak lebam dan bekas darah di sudut bibirnya. Dan kaki yang terikat oleh tali.
"Mbak Ijah, tolong urus dia. Saya mau mengantar Cira ke rumah sakit" ucap Rey dengan segera membopong Cira yang sedang merintih kesakitan.
"Mas, sakit" ucap Cira karena perutnya terasa sakit.
"Sabar, sayang." ucap Rey menenangkan Cira. Walau dirinya juga sebenarnya panik namun ia berusaha untuk tenang.
Tuhan lindungilah mereka. Maafkan atas kesalahan hamba batin Rey meminta pertolongan kepada Tuhan.
Akhirnya mereka sampai di lobi dan untungnya supir Cira sudah berada di depan hotel sehingga membuat mereka bisa dengan cepat ke rumah sakit.
"Yang kuat, sayang. Demi anak kita" ucap Rey dengan mengusap pelan perut Cira.
"Mas, sakit" lirih Cira membuat hati Rey berdebar takut. Dan membuat pikirannya kacau.
"Sabar sayang" ucap Rey dengan menciumi kembali kening Cira. Air matanya meluruh namun segera di usapnya.
Rey takut apa yang terjadi pada mamanya kini terjadi pada istrinya. Tuhan jangan ambil dia. Aku tidak sanggup. Jika kau mengambilnya. Untuk kali ini saja aku mohon jangan ambil dia,Tuhan batin Rey pedih.
"Mas?" ucap Cira pelan dengan mata hampir tertutup. Membuat hati dan pikiran Rey semakin kacau.
"Pak, ayo cepat!!" bentak Rey membuat supir itu melajukan mobilnya cepat. Karena hari sudah malam membuat jalanan melenggang. Sehingga memudahkan mobil untuk menyalip dan melesat.
"Sayang, jangan tutup matamu." ucap Rey dengan menepuk pelan pipi Cira agar kesadaran istrinya tetap terjaga.
"Mas, aku mau tidur" ucap Cira membuat hati Rey merasa hancur. Kata itu adalah kata yang menyakitkan untuk Rey.
"Tidak, sayang. Jangan tidur." ucap Rey menangis. Dan tangan Cira terulur untuk menyentuh wajah Rey dan mengusapnya. Dan ketika tangan itu menyentuh bibirnya dengan cepat Rey mencium tangan Cira.
"Mas, aku mencintaimu." ucap Cira dan matanya terpejam. Membuat Rey panik dan menangis.
"Tidak, Ra. Jangan tinggalkan aku." ucap Rey dengan berteriak.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat Rey turun dan berlari sambil berteriak. "Dokter!!" teriak Rey membuat perawat dan dokter menghampirinya dan membawakan brankar untuk Cira yang segera di larikan ke ruangan UGD.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter yang memeriksa Cira.
"Istri saya lagi hamil. Dan mengeluh sakit perut" ucap Rey yang berada di samping Cira.
"Baik, saya periksa dulu." ucap Dokter itu membuat Rey cemas.
"Dokter selamatkan mereka." ucap Rey membuat dokter itu mengangguk.
"Harap tenang pak Rey. Kami akan berusaha. Dengan sekuat tenaga." ucap Dokter. Membuat Rey merasa lebih tenang.
Rey keluar dari bilik pemeriksaan. Hatinya takut dan khawatir. Hingga menangis. Membuat orang yang melihatnya merasa iba dan kasihan karena Rey berpakaian acak-acakan. Karena tadi dia memakai pakaian nya dengan terburu-buru.
Tuhan selamatkan mereka. Jangan kau ambil dia dariku. Aku tau, aku tidak becus menjadi suami. Tapi tolong selamatkan mereka Tuhan batin Rey dengan mengusap wajahnya kasar.
"Rey!!" ucap Seseorang membuat Rey yang tadi menunduk memandang orang yang menghampiri nya.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan keduanya" ucap dokter.
DUAR !!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAI GYUS...
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 🇲🇨
FOLLOW IG KU YA : dellaiciousi