Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Masalah boxer


Didalam mobil Rey duduk disamping Cira dengan menguatkan istrinya. Sementara Oma sibuk menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan bangsal persalinan untuk Cira.


"Mas, sakit!!" ucap Cira dengan meringis re*mas paha Rey.


Mendapat rema*san sang istri membuat Rey ikut meringis namun berusaha kuat. "Sabar sayang" ucap Rey dengan membelai rambut Cira kemudian ke perutnya.


"Atur nafasnya, Cira. Seperti kata instruktur senam hamilnya. Tenangkan diri, Cira" ucap Oma membuat Cira sedikit lebih tenang dan bisa mengatur nafasnya.


Mereka akhirnya sampai dirumah sakit yang sudah di sambut oleh dokter dan perawat. Cira ditidurkan dalam brankar kemudian mereka mengikuti keruangan bersalin.


Setelah Cira dimasukan kedalam ruang bersalin. Dokter menghampiri Rey yang sudah berada diluar karena Cira sedang diobservasi. "Kemarin sudah saya katakan untuk menginap dirumah sakit karena sudah munculnya flek dan itu tanda pembukaan" ucap sang dokter. "Saya mau periksa keadaan pasien kembali" ucap dokter itu lagi memasuki ruangan Cira.


Mendengar itu membuat jiwa Rey luruh karena takut. Apa yang terjadi dengan ibunya akan terjadi kembali kepada Cira.


Melihat cucu nya itu membuat Oma membangkitkan ya kemudian di dudukan di kursi tunggu "Semuanya akan baik-baik saja, Rey" ucap Oma membuat Rey mengangguk namun hatinya begitu cemas.


Tadi dia memang sedikit tenang. Tetapi, ketika dihadapkan dengan ruangan yang membuat ibunya meninggal. Seketika sekeblet kejadian datang bagaikan kaset lagu.


Ketika persalinan Andra dia tidak terlalu takut karena rumah sakitnya berbeda dan suasana berbeda. Tetapi untuk saat ini adalah ditempat yang sama dengan suasana ruangan yang sama membuat Rey mengingat kenangan pahit itu.


"Oma semuanya akan baik-baik saja kan. Cira pasti hidup kan, Oma." ucap Rey memeluk Oma. Dengan sendu Oma mengelus rambut cucunya.


"Rey!!" ucap Papa nya yang datang dengan wajah merah dan ngos-ngosan. Dia tau pasti anaknya akan mengingat hal pahit lagi.


"Papa?" ucap Rey pelan bangkit dan memeluk papanya dengan erat. "Papa, Cira disana, pa" ucap Rey dengan nada merengek. Membuat Papanya mengingat tingkah Rey yang waktu kondisi mamanya.


Mereka menjadi tontonan orang terutama Rey yang sejak keluar dari mobil hanya memakai boxer. Bahkan ada yang memotret nya.


"Rey!!. Kamu nggak pakai celana?" ucap Oma membuat Papa yang memeluk Rey menjadi melepaskan nya dan memandang anaknya lalu tertawa.


"Kamu ini menghilang citra mu saja. Yang katanya tampan tapi ke rumah sakit hanya pakai boxer. Apalagi boxer ketat. Kamu mau pamerin burung kamu kalau burung kamu itu berhasil cetakin 2 bayi kembar dengan sekali gol" ucap Oma membuat Rey hanya menggaruk kepalanya.


"Sana suruh Chan bawain pakaian" ucap Papanya yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.


"Atasan rapi bawah boxeran" gumam Oma menatap cucu nya yang tidak ada malunya itu


Acara sedih menjadi acara kesal. Karena ulah cucunya. Sudah nangis seperti anak kecil, sekarang pakai jas tapi bawahan pakai boxer. Membuat Oma dan papa hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Cklek


Seorang suster keluar dari ruangan "Bapak Rey silakan masuk kedalam menemani istrinya" ucap suster tersebut. Membuat Rey yang masih dipelukan papanya memandang papanya yang langsung diangguki.


Rey pun masuk kedalam dengan tubuh sedikit gemetar. Dan berulang kali menarik nafas dengan dalam. Berusaha menangkan pikirannya. Ketika membuka tirai, Rey melihat Cira yang tersenyum. Membuat Rey ikut tersenyum melihatnya.


Cira tau Rey pasti takut. Jadi dengan senyuman Cira berharap Rey bisa tenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Mas.." lirih Cira dengan mengatur nafasnya.


"Sayang..." ucap Rey kemudian mencium dahi Cira dan tangannya menggenggam tangan Cira. Dokter masuk untuk mengecek kembali jalan lahir si cabang bayi.


"Baru pembukaan 8. Prosesnya lama karena ini anak pertama karena aruh mencari jalan lahirnya" terang sang dokter membuat Cira dan Rey mengangguk.


Tiba-tiba perut Cira kembali merasakan sakit dan mere*mas tangan Rey dengan nafas tersengal menahan sakit. Melihat itu membuat Rey tidak tega. "Kita operasi saja ya, sayang. Aku tidak tega melihat kamu kesakitan begini" ucap Rey membuat Cira menggeleng kan kepalanya.


"Ini normal pak merasakan sakit. Karena si bayi sedang mencari jalan lahirnya" ucap Dokter membuat Rey mengangguk.


"Tapi berapa lama, dok. Istri saja harus menanggung sakit ini" ucap Rey membuat Cira mere*mas kembali tangan Rey hingga kuku tangannya menancap di tangan Rey.


Mendapat itu membuat Rey kembali memandang Cira "Sayang, masih sakit" ucap Rey dan Cira hanya bisa mengangguk.


Rey menyulurkan tangan nya mengusap pelan perut Cira "Cepatlah, keluar sayang. Kami sangat menantikan diri kalian" ucap Rey membuat Cira kembali meremas bahkan menggigit lengan Rey.


"Seperti sudah waktunya" ucap dokter yang datang dan memeriksa jalan lahir anak-anak Rey dan Cira. "Pembukaannya sudah lengkap. Ini berkat perkataan ayahnya sehingga dedek bayinya ingin cepat keluar" ucap dokter dengan senyum bahagia.


Hingga beberapa menit kemudian terdengar tangis bayi merah mungil. Tangisnya seakan mengguncang dunia. "Terima kasih sayang" ucap Rey menciumi Cira dengan tak hentinya mengucapkan kata syukur.


"Bayinya laki-laki sangat tampan seperti ayahnya" ucap sang dokter memperlihatkan bayinya pada Cira dan Rey kemudian dibersihkan oleh perawat.


"I love you, sayang. Terima kasih sayang" ucap Rey dengan menciumi Cira menerus.


Hingga beberapa menit kemudian terdengar lagi tangis bayi yang terdengar begitu lembut "Selamat bayi kalian yang kedua juga laki-laki persis seperti ibunya" ucap dokter dengan memperlihatkan bayi dengan wajah yang manis.


"Terima kasih sayang" ucap Rey menangis dengan hidung mereka bertemu. Cira hanya mengangguk bahagia.


Kedua bagi itu kini sudah didekap kan pada dada Cira untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Kedua bayi merah dengan wajah ganteng-ganteng. Menyusui dengan lahap.


Melihat itu membuat Rey dan Cira menangis. Bahkan rasa sakitnya melahirkan sudah hilang. Bahkan trauma yang Rey alami sudah hilang ketika melihat bayi merah yang menggemaskan itu.


"Mas, siapa nama bayi kita?" ucap Cira dengan masih memandang bayi-bayi nya.


Merasa suaminya tidak bicara. Cira memandang suaminya yang ternyata juga memandangnya. "Tidak tau sayang. Aku lupa menyiapkan nama untuk mereka" ucap Rey dengan mengusap tekuk nya.


Melihat itu membuat Cira menggelengkan kepalanya "Kita panggil baby G sama baby J aja"ucap Cira membuat Rey tersenyum senang.


"Hai,,baby G yang ganteng" ucap Rey dengan mengelus pipi anaknya yang sedang menyusu dengan lahap. "Aduh,,,baby J marah ya. Karena tidak dipanggil ganteng" ucap Rey yang melihat baby J sedang menyusu dengan anteng.


Nama bayi kembar mereka untuk saat ini adalah baby G untuk sang kakak. Dan baby J untuk anak kedua mereka.


"Ayo,, " ucap dokter membawa para bayi keluar ruangan. Untuk diperlihatkan oleh keluarga dan Cira dimasukan didalam ruangan biasa. "Yaampu bapak Rey. Kenapa tidak memakai celana?" ucap perawat yang baru menyadari kondisi Rey yang berantakan dengan hanya memakai boxer saja.


Mendengar itu dengan cepat Cira menatap tajam kearah Rey. Karena sebelum ke rumah sakit tidak mau memakai celana. Rey dengan cepat menutup tubuhnya dengan tirai yang ada di ruangan tersebut.


Akhirnya dokter dan perawat tersebut keluar dari ruangan Cira setelah memberikan ilmu tentang merawat bayi dan menyusui. Dan bahkan Rey sudah memakai celana.


"Sayang?" ucap Rey manja ketika para bayi sudah terlepas dari Mommynya. Mendengar itu membuat Cira memilih untuk tidur untuk memulihkan kembali tenaganya.


Rey menghela nafas melihat istrinya yang merajuk. "Hai... anak-anak Daddy" ucap Rey pada anaknya yang masih tertidur dengan membelai pipi mereka.


Plak..


Tangan Rey langsung di pukul ketika menyentuh anak-anaknya yang sedang terlelap. "Jangan ganggu mereka. Aku capek mau tidur" ucap Cira menatap tajam kearah Rey.


"Mas, kan mau main sama mereka." ucap Rey dengan kembali menjulurkan tangannya untuk membelai pipi anaknya. Namun dengan segera ditepis oleh Cira.


"Jangan!" ucap Cira penuh penekanan membuat Rey yang melihat hanya bisa menampilkan deretan gigi nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


T


A


M


A


T


.


.


.


.


.