Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Main bola??


Seperti biasa pagi ini di isi dengan segala rengekan dan tingkah manja dari Cira. Mereka masih dirumah Papa Aditama. Dan Rey berangkat kerja dari sana. Namun, sosok istrinya ini ingin ikut ke kantor. Dengan alasan akan bosan dirumah karena Cia akan ke sekolah.


Dengan pasrah Rey pun mengalah dan mengajak istrinya. Bukannya Rey tidak ingin mengajak istrinya ke kantor. Tapi mengingat istrinya lagi hamil membuat Rey lebih waspada terhadap nya.


"Mas, aku mau ayam krispi" ucap Cira yang mencium mau ayam goreng. Membuat Rey tersenyum dan mengusap perut Cira.


Rey pun memarkirkan mobilnya di sebuah tempat makan cepat saji. Dan tanpa menunggu Rey, Cira sudah turun dan masuk kedalam membuat Rey menggelengkan kepalanya.


Walaupun tadi sudah sarapan. Namun, tidak membuat istrinya itu kekenyangan. Mungkin karena yang makan bertiga membuat mereka cepat sekali lapar.


Rey tersenyum melihat Cira yang berjalan dengan perut yang besar. "Pelan-pelan saja jalannya. Ayamnya tidak perlu dikejar kan sudah di masak" ucap Rey yang menuntun Cira. Lalu di dudukannya dan Rey mengantri untuk memesan makanan.


"Mas, sama sosis bakarnya 3!" teriak Cira membuat orang menatap mereka dengan tatapan terkagum.


Karena Pemiliki Bank Aditama datang untuk sarapan bersama sang istri yang perutnya sudah membesar.


Rey yang mendengar teriak istrinya mengangguk. "Ini pesanannya tuan putri" ucap Rey memberikan pesanan Cira.


Walaupun dia orang kaya tetapi dia tetap mengantri makanan karena ia tidak enak hati jika harus mendahului karena semua orang pasti juga lapar.


Cira berbinar matanya melihat makanan didepannya yang berwarna keemasan dan disambut dengan aroma yang membuat air liurnya meningkat keluar.


"Berdoa dulu" potong Rey ketika tangan Cira hendak mengambil ayam tersebut. Melihat itu Cira hanya menyengir saja. Kemudian berdoa bersama.


"Pelan-pelan makanannya" tegur Rey yang melihat istrinya makan dengan tidak sabaran. Seolah ia mampu melahap paha ayam itu dengan sekali lahap saja.


"Eunak, mas" ucap Cira dengan mulut penuh membuat Rey mengusap perut Cira kemudian beralih pada rambutnya.


"Minum dulu" ucap Rey memberikan air mineral pada Cira supaya sedikit bisa bernafas dan memperlancar proses pencernaan makanan nya.


"Mas, aku mau sosis lagi" ucap Cira membuat Rey tersenyum melihat makanannya sudah habis dalam sekejap. Padahal ia memesan 2 porsi ayam besar dan 3 sosis bakar.


"Berapa banyak?" tanya Rey.


"Mau 2 aja, boleh?" tanya balik Cira dan segera diangguki oleh Rey kemudian mencium pucuk kepalanya dan kembali memesan sosis bakar kemauan istrinya.


Setelahnya mereka pergi untuk dengan segera ke kantor. Karena jadwal hari ini ada meeting. "Nanti kamu jangan kemana-mana, ya. Aku ada meeting nanti setelah meeting kita beli makan lagi" ucap Rey yang diangguki Cira dengan mulut penuh dengan sosis.


Mereka sampai di perusahaan Rey yang disambut hangat oleh para karyawan. Mereka tersenyum bahagia apalagi ketika melihat Cira dengan perut buncitnya. Apalagi tingkah Cira yang semakin gemas karena memakan sosis bakar.


Mereka pun memasuki lift untuk keruangan Rey. "Mas, aku haus" ucap Cira dengan bergelayut manja pada lengan Rey.


Rey memandang istrinya dan melihat bahwa di sudut bibir istrinya ada mayones membuat Rey menciumnya untuk menghilangkan mayones tersebut.


Melihat aksi suaminya yang spontan membuat Cira sedikit terkejut. Kemudian menamplok punggungnya. "Mas nanti kalau ada yang liat gimana?!" kesal Cira dengan tingkah Rey.


"Masa iya aku pakai baju buat ngelapnya. Mendingan pakai bibir langsung bersih" ucap Rey membuat Cira tambah kesal. "Lain, ini kan di lift. Mau lebih juga bisa" goda Rey membuat jiwa Cira mendidih.


"Mas, kamu tau kan aku lagi hamil. Jangan pancing hormon aku dong" ucap Cira kesal. Mendengar itu membuat Rey tertawa.


"Memang itu tujuan, mas." ucap Rey dengan tawa yang gemas.


Mereka masuk keruangan Rey dengan canda tawa. Walau tadi diisi godaan dari Rey. "Mas aku haus pengen minuman Boba!!" ucap Cira yang sudah mendudukan dirinya di sofa karena kelelahan berjalan membawa perut yang besar.


"Iya" ucap Rey yang ikut duduk disamping Cira kemudian mengangkat kaki Cira di pangkuan nya untuk di pijat secara pelan. "Pesan pakai aplikasi aja" ucap Rey membuat Cira mengangguk. "Berat, ya?" tanya Rey.


Mendengar itu membuat Cira memandang Rey dan tersenyum. Untungnya dia sudah selesai memesan minumannya. "Sedikit. Mungkin karena dua, jadi agak terasa berat dan karena pertumbuhan dan perkembangan dari bayinya membuat tubuhku rasanya mudah sekali pegal dan lelah" ucap Cira


"Anak Daddy yang sehat ya. Jangan buat mommy lelah. Nanti kalau udah keluar Daddy ajak main bola, deh." ucap Rey dengan mengusap perut sang istri kemudian menciumnya.


"Main bola?. Kalau anaknya semua cewek gimana?" tanya Cira membuat Rey tersenyum senang.


"Iya tetap. Akan aku ajarkan main bola juga. Supaya nanti bisa kaya Ronaldowati" ucap Rey dengan tertawa. Membuat Cira kesal karena iya tau anaknya akan seperti apa jika perempuan main bola. Karena dia dulu waktu kecil diajarkan main bola karena selalu mengikuti kemana pun Abang Wisnu bermain.


"Terserah, mas saja." ucap Cira.


"Udah mendingan?" tanya Rey membuat Cira mengangguk. "Aku mau kerja dulu. Mendingan kamu istirahat saja, yang" ucap Rey membuat Cira mengangguk dan menurunkan kakinya dari pangkuan Rey.


Cira hendak memeluk Rey namun perut besarnya menghalangi membuat Rey dan Cira tertawa karena tidak bisa saling memeluk. "Perut kamu makin besar saja" ucap Rey disela tawanya.


"Iya mas, Aku kadang sampai nggak percaya" ucap Cira tertawa dengan mengusap perutnya. Rey pun mengecup kening sang istri. Lalu kembali ke mejanya untuk membereskan berkas yang banyak perlu perhatiannya.


Setelah beberapa menit menunggu bahkan Boba pesanan Cira sudah mulai habis dan rasa bosannya kembali datang. Membuat Cira beberapa kali menghela nafas. Hingga dering ponsel menyadarkan Cira dari rasa bosannya.


"Oma?" gumam Cira dengan raut wajah yang sumbringah bahagia mendapatkan telepon dari sang Oma.


"Hallo, Oma?" Ucap Cira mengangkat teleponnya.


"Aduh,,cucu Oma. Makin cantik aja. Gimana kamu sehatkan?" tanya Oma.


"Sehat Oma. Kabar Oma disana gimana?" tanya Cira balik. Kemudian Rey sudah duduk disampingnya entah sejak kapan untuk ikut mendengarkan kabar Oma.


"Buruk sayang. Karena Oma kangen cicit Oma" ucap Oma. "Suami kamu mana?" ucap Oma ketika mode panggilan dirubah dan menampilkan wajah berkeriput dari Oma Ida yang memiliki jutaan ide nakal dan jahil. Sehingga anak dan cucu nya memiliki gen nakal dan jahil.


Cira mengarahkan kamera ke arah suaminya yang sedang bekerja sangat pokus walau tadi sempat teralihkan kearahnya. "Ganteng banget kalau sedang pokus kerja" ucap Oma membuat Cira memutar bola matanya malas.


"Oma..... lama ya di Amerika" ucap Cira dengan mengelus perutnya.


Melihat itu membuat Oma tersenyum "Cicit Oma kangen, ya?" ucap Oma. Membuat Cira mengangguk. "Sabar ya. Tugas Oma sebentar lagi selesai dan segera pulang kesana" ucap Oma membuat Cira senang. Bukan dirinya tapi anak dalam kandungan nya yang senang. Mungkin nanti anak nya bakalan lebih cerdik dari Omanya dalam hal menjahili orang.


Setelah perbincangan Cira dan Oma yang berlanjut membahas tentang kehamilan Cira. Hingga tanpa di sadari oleh Rey yang sejak tadi pokus tiba-tiba tidak mendengar suara berisik istrinya.


Ketika mengarahkan pandangannya. Membuat Rey tersenyum karena Cira tertidur di sofa membuat Rey tidak tega dan memilih untuk membawa Cira ke dalam ruangan istirahat.


"Ini yang berat Mommynya atau anak-anak nya sih" ucap Rey seraya mencium seluruh wajah Cira.


"Anak kamu" gumam Cira di tidurnya untuk mencari posisi yang nyaman untuk meletakkan perutnya.


Mendengar itu membuat Rey tersenyum dan menciumi perut Cira "Yang penting sehat ya nak. Jaga mommy jangan di bikin susah, ya sayangnya Daddy" ucap Rey kembali menciumi perut Cira sebanyak dua kali kiri dan kanan.