Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Lagi


Rey membuka pintu dan terlihatlah seorang pelayan yang membawa troli makan untuk mereka.


"Terima Kasih" ucap Rey ketika melihat pelayan perempuan itu melihat kearah ranjang.


Di waktu yang salah batin pelayan perempuan.


Pelayan tersebut yang ketahuan pun memilih segera pergi. Agar tetap berkerja disini.


"Terima kasih, tuan" ucap pelayan itu.


Rey yang melihat Cira sedang menendang-nendang selimut pun merasa senang. Hingga sekeblet kejadian tadi memenuhi pikiran Rey.


Ayolah, isi dulu perut. Masalah itu nanti saja batin dan pikiran Rey yang berusaha mengalihkan agar tidak tercemar.


"Ra? makan"ucap Rey membuat Cira menyembulkan kepalanya.


"Makan?"ucap Cira yang pikirannya sudah berlarian kemana-mana.


Rey yang mengerut kan dahinya bingung akan ucapan Cira "Iya, Makan, Ra"ucap Rey. Hingga tanpa disadari pikiran nya menangkap sinyal ucapan makan dari Cira. "Makan nasi, Ra. Bukan makan yang ada di otakmu" ucap Rey.


Cira hanya dengus kesal akibat ucapan Rey. Ia membuka selimut dengan kasar dan duduk berhadap dengan Rey di sofa.


"Bajunya, Ra"ucap Rey ketika tidak sengaja matanya bertemu dengan gundukan Cira akibat bajunya terbuka.


Cira yang memang sudah kesal hanya memutar bola matanya malas "Biarin aja. Udah lapar nih"ucap Cira santai dengan mencomot udang tepung.


"Mau ngulang adegan tadi? atau mau yang lebih dari tadi?!" ucap Rey dengan bersidekap dada memandang tajam Cira.


Mendengar hal tersebut membuat Cira tersedak "Huk....huk....huk..." mulutnya lemes banget sih batin Cira seraya terbatuk.


"Nih minum" ucap Rey dengan menyodorkan minuman kearah Cira yang langsung diminum nya hingga tandas. "Makan nya hati-hati jangan ngebatin mulu" ucap Rey membuat Cira ternohok.


"Lagian mulut Lo lemes banget ngomongnya" ucap Cira disela makannya.


Rey hanya mengangkat bahunya tidak perduli. Memilih makan dengan nikmat tanpa memandang Cira. Karena jika memandang Cira maka yang dilihatnya adalah gunung milik Cira.


"Kenyang" ucap Cira seraya bersendawa.


Rey yang mendengar sendawaan Cira hanya geleng-geleng kepala. Ini anak nggak ada jaim-jaimnya sebagai cewek batin Rey.


"Hoam, ngantuk banget" ucap Cira seraya bangkit dan menuju tempat tidur. Namun, segera dicegah oleh Rey. Membuat Cira Mengerutkan dahinya bingung.


"Gosok gigi dulu, baru kembali tidur. Cira saja tau, masa Mommy nya nggak tau" ucap Rey membandingkan Cira dengan Cia.


Cira bukannya kesal tapi malah termangu karena Rey memanggilnya 'Mommy' sedikit ada rasa bangga dan bahagia, sih. Tapi Cira segera menepisnya. "Iya!"ucap Cira seraya ke kamar mandi.


"Giliran ada Cia aja, langsung keluar sifat ke ibuannya. Kalau nggak ada udah kayak macan kurang makan. Galak." gumam Rey seraya ikut masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi.


Cira terkejut ketika melihat Rey masuk ke dalam kamar mandi. "Minggir" ucap Rey membuat Cira memberikan ruang kepada Rey untuk menggosok giginya.


"Buyat....Buyat...Buyat" ucap Cira mengikuti kartun anak kembar dari negeri sebrang. Seraya menggosok giginya.


Rey yang mendengarnya hanya bisa tidak memperdulikan apa yang dilakukan Cira. "Kamu gosok gigi apa gosok arang? Lama banget" protes Rey karena Cira yang duluan gosok gigi tapi dirinya yang duluan selesai.


"Iya, gosok arang biar jadi mutiara"ucap Cira kesal kemudian mendahului Rey keluar kamar mandi.


Rey keluar dari kamar mandi dan melihat Cira yang sudah tertidur dengan membelakanginya. Rey mendekat kemudian duduk disisi ranjang sebelah Cira.


"Ra?" panggil Rey namun tidak digubris oleh Cira. "Aku tau kamu belum tidur, Ra?" ucap Rey membuat Cira segera berbalik dan betapa terkejutnya Cira melihat wajah Rey tepat berada didepannya dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya terasa diwajahnya.


"Ng-nga-pain" ucap Cira gugup karena jarak mereka.


Tuhan,,jangan sekarang batin Cira.


Rey tidak menjawabnya justru memandang lekat mata Cira. Hingga sebuah kecupan mendarat pada kening Cira "Selamat malam" ucap Rey dan segera tidur dengan membelakangi Cira.


Cira yang terkejut pun memegang keningnya. Beneran kan ini batinnya.


"Iya beneran" ucap Rey. Membuat Cira melemparkan bantal kearah Rey.


Mereka pun tertidur dengan nyenyak. Dan mempersiapkan tenaga untuk besok pindah rumah.


####


Mentari pun menampilkan sinarnya dari balik celah jendela. Membangunkan orang yang tertidur dengan nyenyak. Rey membuka matanya terlebih dahulu.


Cira merasa terusik akan sentuhan ringan seseorang segera membuka matanya. Rey yang melihat pergerakan Cira segera berpura-pura tidur agar tidak ketahuan.


"Ganteng"ucap Cira ketika melihat wajah Rey.


Iya gue tau gue ganteng. Makanya Lo nggak nyesel nikah sama gue batin Rey mendengar ucapan Cira.


Cira segera ke kamar mandi untuk menunaikan rutinitas setiap pagi dengan menabung di kamar mandi.


"Pengen pup" ucap Cira dengan berlari. Rey yang melihat Cira ngebirit ke kamar mandi pun tertawa pelan.


"Huh,,lega" ucap Cira setelah selesai proses menabungnya dan keluar kamar mandi dengan menepuk pelan perutnya.


"Jorok" gumam Rey yang sedang merapikan kopernya.


"Eh,,,kamu tau nggak kalau pagi-pagi itu enaknya menabung sehingga perut kita bisa di isi lagi dengan makan dan tidak bikin kembung atau pun sembelit" ucap Cira dengan berjengking tangan di hadapan Rey.


"Tau" ucap Rey santai membuat Cira kesal. Kemudian menyeret kopernya dan memasukan bajunya dengan kasar.


"Punya suami gini amat, nggak ada kesan romantis nya" gumam Cira disela memasukan barang-barang ke kopernya.


Greb. Sebuah tangan memeluk tubuh Cira membuat Cira terkejut hingga menjatuhkan bajunya. Dan Cira pun berbalik.


"Rey?" ucap Cira karena yang memeluknya adalah Rey. Suaminya.


"Hemmmm" ucap Cira terpotong karena Rey sudah melu*mat bibir Cira. Hingga Cira pun terjatuh di atas ranjang dengan Rey yang terus menciumnya penuh gairah dan nafsu.


Cira pun menikmati dan membalas ciuman Rey dengan mengalungkan tangannya dileher Rey.


Hingga dering ponsel menyadarkan mereka. Rey segera bangkit dan mengangkat telepon tersebut. Sedangkan Cira masih termangu dengan menyentuh bibirnya. Kemudian dadanya yang terasa berdetak lebih cepat.


Lagi dan jantungku batin Cira.


Back to berkemas batin Cira dengan menyemangati dirinya.


Cira sudah selesai mengemas baju nya dan juga Rey. Siapa sih yang nelpon lama banget batin Cira.


"Jaga dia, nanti saya akan kesana" samar-samar Cira mendengarkan percakapan mereka.


"Mau kemana dia?" gumam Cira.


Rey pun datang dengan wajah dinginnya. "Sudah" tanya Rey.


Kembali mode cool batin Cira melihat perubahan ekspresi Rey.


"Sudah!" balas Cira cuek.


Rey membawa kopernya dan Cira. Untuk check out dari hotel yang semenjak resmi dibuka semakin ramai pengunjung.


Mobil sudah tersedia untuk mengantarkan mereka ke rumah mereka. "Hai...pengantin baru" ucap seseorang di dalam mobil yang sudah menurun kan kaca mobilnya ketika melihat Rey dan Cira.


"Hai...juga bujang lapuk" ucap Cira dengan melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobil tanpa menunggu Rey yang sedang memasukkan koper mereka ke dalam bagasi mobil.


"Kakak ipar, gimana malam pertama nya?" tanya Chan semangat.


"Lancar" ucap Rey menimpali pertanyaan Chan ketika sudah berada didalam mobil. "Lo mau mati disini atau dimana?" ucap Rey kesal karena Chan tidak menjalankan mobilnya.


"Kakak ipar, mohon bersabar ya mengahadapi makhluk kasar. Kalau perlu jimat atau solusi aku punya kak" ucap Chan kepada Cira yang hanya tertawa menanggapi nya. Sedangkan Rey hanya mendengus kesal tidak perduli.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.