
Di dalam kamar Cia, sudah memakai bajunya dengan balutan dress lucu berwarna merah. Berjalan kearah meja riasnya yang sudah di duduki oleh Papanya dengan membawa sisir. Bersiap untuk mengepang rambut Cia.
"Papa, rambut Cia di kepang dua biasa aja ya?" tanya Cia karena Papa nya membawa 2 pengikat rambut yang lucu.
"Iya, kamu cantik kalau pakai ini. Akan terlihat lucu" ucap Papa nya yang memulai mengepang rambut Cia.
"Papa, hari ini kan libur, Cia pengen main ke rumah Aidan ya,Pa. Cia mau pamer ikan Cia yang sudah hamil."ucap Cia semangat.
"Ia nanti, papa antar. Tapi, ini rambutnya di kepang dulu. Biar cantik." ucap Papanya karena Cia tidak bisa diam. Geleng sana geleng sini.
"Pa..." ucap Cia mendongak kemudian dipotong oleh Papanya.
"Cia, Diam. Nanti ini nggak akan selesai katanya mau cepet-cepet ke rumah Aidan. Diam ya?" ucap Papanya dan Cia langsung terdiam. Karena ia sudah tak sabar untuk ke rumah Aidan buat pamer ikannya yang sudah hamil.
Setelah perdebatan dan sabarnya Papa Cia dalam menghadapi Cia yang tidak bisa diam ketika di kuncir rambutnya. Belum lagi mandinya lama, dengan alasan bebeknya belum tenggelam. Sampai tua pun itu bebek tidak akan tenggelam. Dasar Cia ini banyak banget alasannya.
"Pa, boleh nggak Cia bawa ikannya?" tanya Cia yang sudah di ikat rambutnya.
"Iya, boleh tapi nanti di taruh pada toples"ucap Papanya dengan menaburi bedak bayi ke wajah Cia.
Tanpa di sengaja, Papa Cia memberikan bedak bayi terlalu banyak di wajah Cia sehingga ia terlihat seperti hantu.
Belum sempat Papanya menghapus bedak tersebut Cia sudah lari menuju ke kamar Daddy nya.
"Daddy" panggil Cia dengan wajah masih belepotan oleh bedak.
Brak...
Dobrak Cia pada pintu tersebut akibat dia terlalu bersemangat akan melihat Daddy dan Mommy nya.
Semua orang yang ada didalam kamar tersebut melihat kearah pintu yang menampilkan Cia dengan pakai yang cantik namun dengan wajah yang belepotan bedak seperti hantu.
Dengan wajah seperti itu membuat mereka melonggo hingga akhirnya mereka semua tertawa. Bahkan suasana yang tadinya panas dingin menjadi hangat. Rey dan Cira pun tertawa melihat Cia yang seperti itu dan melupakan sejenak permasalahan yang mereka alami.
Cia tertegun melihat semua orang menatapnya seperti itu dan kemudian tertawa membuat Cia ingin menangis.
Untungnya Papanya datang dengan segera sebelum air mata Cia turun. "Ini bedak nya masih belepotan. Udah main lari-lari aja. Di bilangin, Daddy dan Mommy mu tidak akan kemana-mana, sayang." ucap sang papa dengan membenarkan bedak Cia yang tadinya belepotan.
"Ish.... Papa" rengek Cia dengan kaki di hentak-hentakkan ke dasar lantai membuat sepatu yang di pakainya berbunyi dan mengeluarkan cahaya warna-warni.
"Diam dulu, Cia." ucap Papanya dengan berusaha memperbaiki bedak di wajah Cia.
"Cia, mau sama Mommy aja, Pa" ucap Cia segera berlari ke arah Cira dan langsung duduk di antara Cira dan Rey.
Huh. Papanya hanya bisa menghela napas karena ulah Cia yang susah diatur. Membuatnya lelah dengan tingkah nya yang ada-ada saja di lakukan.
Saat Cia sudah duduk di antara mereka Cia dengan segera mengusap bedak tebal yang tidak teratur di wajah Cia. Membuat Cia tersenyum senang. "Mommy, kenapa kemarin tidak ajak Cia tidur bareng?" ucap Cia disela dibersihkan wajahnya.
Mereka yang melihat interaksi Cira dan Cia tersenyum senang. Karena mereka melihat seorang ibu dan anak.
"Cia katanya kamu mau ke rumah Aidan. Ayo Papa antar" ucap Papanya membuat Cia. Segera loncat dari sofa tersebut dan segera berlari.
Membuat Rey segera memegang Cia agar tidak terhantuk meja didepannya. "Pelan-pelan,Cia" ucap Rey namun di hiraukan oleh Cia. Yang sudah semangat untuk ke rumah Aidan.
"Dadada....Mommy, Daddy. Dan semuanya" ucap Cia dengan melambaikan tangannya. Lalu menggandeng tangan Papa.
"Kamu duluan aja ke mobil. Papa mau ngambil barang Papa dulu di kamar" ucap Papa nya lalu Cia mengangguk dan berjalan menuju mobilnya.
"Oma,,,tolong urus mereka ya. Adi mau ngantar Cia, ke rumah Andra biar tidak mengganggu kalian sidang." ucap Papanya kepada Oma. "Oh, iya, Gra. Aku setuju apapun yang menjadi keputusanmu selagi itu masih logis. Tapi jangan turuti kemauan Mamiku yang memiliki pikiran aneh-aneh" ucap Aditama dengan menepuk pelan punggung temannya. Yang diangguki olehnya.
Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Papa nya, Rey menegang, karena ia sudah tidak ada harapan untuk berbelas kasih dan papanya sudah melimpahkannya kepada Papanya Cira.
Setelah kepergian Pak Aditama, Suasana kembali tegang. "Karena Papa kamu melimpah keputusan kepada Om. Jadi bagaimana menurut, Oma. Sebaiknya kita gimanain anak kita yang sudah salah ini" ucap Pak Nugraha. Melihat kearah Oma, untuk menanyakan pendapat dan persetujuannya.
"Saya, selaku Oma dari Rey sangat menyalahkan perbuatan mereka. Menurut Oma sebaiknya kita nikahkan saja mereka" ucap Oma membuat Cira dan Rey saling pandang dan kemudian menghela nafas pasrah akan apa yang terjadi.
"Pendapat yang bagus, Oma. Saya setuju dengan Oma. Tapi saya inginkan pernikahan mereka di tutupi dan mereka harus di ungsikan agar mereka bisa mengerti akan sebuah menghargai dalam sebuah hubungan" ucap Papa Cira membuat Cira dan Rey terkejut yang berarti mereka akan di ungsikan ke sebuah desa atau bahkan negara yang terpencil.
"Pa....Mama setuju kalau mereka menikah. Tapi, Mama tidak setuju kalau Mama harus berpisah jauh dengan Cira, Pa" ucap Mama Cira dengan wajah sedih, karena belum siap berpisah jauh dari anaknya.
"Tapi, Ma. Ini hanya sementara, paling tidak hanya 1 tahun aja, Ma. Biar mereka saling mengerti satu sama lain,Ma. Papa dan Mama dulu juga gitu kan bahkan lebih parah dari ini kan?" ucap Papanya Cira yang membuat Mamanya teringat akan perjuangan hidup mereka sejak awal pernikahan, karena Orang tua mereka waktu itu sedang masa sulit akibat kebakaran perusahaan yang mereka bangun.
"Baiklah, Pa" ucap Mamanya. Cira merasa sedih ketika melihat raut wajah sedih Mamanya, Karena Cira pernah diceritakan masa-masa pernikahan mereka.
"Pernikahan kalian akan dilakukan besok secara kekeluargaan.Tanpa mengundang rekan bisnis ataupun wartawan." ucap final Papanya Cira.
Oma yang mendengar hal tersebut tersenyum tipis. Karena rencananya berjalan lancar walau tadi ada sedikit penolakan dari Mamanya Cira. Namun segera terselesaikan. Di dalam pikiran Oma sudah kembali memiliki ide yang lebih menarik lagi.
"Baik, besok pernikahan kalian diadakan jam 10 pagi. Sehingga masih ada waktu untuk persiapannya. Sinta, untuk baju pengantin Cira, gimana?" ucap Oma.
Sinta berpikir sejenak. Namun Rey segera menanggapinya. "Oma Rey, sudah punya baju nya" ucap Rey membuat mereka semua melongo. Karena ternyata Rey sudah mempersiapkannya.
"Jangan bilang, itu baju pengantin yang mau digunakan ulat keket tetapi gagal. Pokoknya Oma tidak setuju kalau cucu mantu Oma pakai baju bekas dia.!" ucap Oma tegas.
Mereka mendengar perkataan Rey terkejut. Mereka beranggapan Rey masih mencintai mantan kekasihnya itu. Terutama Cira yang sedang bergulat dengan pikirannya akan berbagai pertanyaan tentang masa lalu Rey.
"Bukan Oma, ini baju khusus yang Cia persiapkan untuk Mommynya nanti waktu acara pernikahan Rey, Oma." ucap Rey dengan pelan. Namun masih di dengar oleh mereka semua. Oma mengangguk setuju begitupun yang lainnya.
"Baik, untuk persiapan lainnya akan dipersiapkan oleh sekretaris saya" ucap Pak Nugraha yang mengulurkan tangannya, tanda persetujuan akan pernikahan ini. Dan di balas oleh Oma.
Rey dan Cira termangu akan apa yang terjadi setelah ini. Karena mereka tidak bisa membela dirinya karena tidak ada bukti ataupun ingatan dalam diri mereka. Sehingga memilih pasrah adalah jalan yang terbaik untuk mereka. Berserah diri pada Tuhan adalah jalan yang terbaik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kasih bunga dan vote yang banyak untuk pernikahan Rey dan Cira.
Doa kan misi Oma selanjutnya berjalan lancar
Salam Manis dari Cia yang wajahnya kayak hantu. Putih semua wajahnya hanya terlihat mata dan giginya aja. Hahahaha💜💜💜.