Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Tengik


Pagi bersemu di rumah Cira dan Rey. Pagi ini diisi dengan Cira yang ingin melihat Rey memakai pakaian pemain baseball. Membuat Rey hanya bisa pasrah.


"Mas, Ayo!!" ajak Cira yang sudah berpakaian sama dengan Rey. Namun Rey Karen malu harus kekantor dengan pakaian seperti ini.


Dengan langkah lunglai Rey pun menaiki mobil yang akan membawa mereka ke lapangan tempur. Iya lapangan tempur dengan berjuta kertas.


Setelah beberapa menit mereka sampai pada sebuah gedung yang menjulang tinggi. "Mas, ayo!!" ajak Cira lagi yang sudah turun dari mobilnya.


Hari ini Rey memilih menggunakan supir karena ia tidak nyaman mengemudi menggunakan pakaian ini.


"Yang, pakai jalan direksi aja" ucap Rey membuat Cira menggelengkan kepalanya.


"Ayo, mas!!. Kita masuk" ajak Cira membuat Rey dengan pasrah mengikutinya.


Dari mobil mereka berdiam di depan loby. Para karyawan sudah berkerumun melihat melihat mereka. Cira turun dengan pakaian baseball berwarna pink ya. Membuat karyawan tersenyum.


"Yang, aku malu" bisik Rey yang sudah turun dan berjalan berdampingan dengan Cira yang wajah nya sudah pura-pura cool. Namun, di hatinya menggerutu.


"Tidak, apa-apa, mas. Anggap aja kita lagi mau meeting di lapangan. Lagian kamu nggak sendiri ada aku" ucap Cira membuat Rey mencium pucuk kepala.


"Ah,,,so sweet, banget si bos" ucap karyawan resepsionis. Melihat wajah bosnya. Membuat Cira mendekap Rey dengan erat.


"Itu, Bu bos, makin hari makin imut aja" ucap teman resepsionis itu.


"Tuh,kan, mas. Kita dibilang cantik dan ganteng. Kalau gitu nanti kamu pakai pakaian ini aja setiap hari kalau kekantor, mas" ucap Cira membuat Rey melongo. Untuknya mereka sudah memasuki lift. "Mas, kamu mau kan?" tanya Cira lagi memastikan membuat Rey mengangguk.


"Horee, Terima kasih, sayangku. Cup." ucap Cira dengan mencium pipi Rey. Membuat Rey gemas lalu mencium bibir Cira.


Hingga bunyi lift menyadarkan mereka dari ciuman yang mereka lakukan. "Kayaknya kita perlu nyoba lagi di kantor deh, yang" ucap Rey di keluar lift dan masuk keruangan ya.


"Ih,,nggak mau. Nggak enak kalau di kantor" ucap Cira kemudian duduk di kursi Rey. Membuat Rey duduk di kursi depannya.


Rey memeriksa berkasnya yang sudah menumpuk dengan teliti dan Cira justru menggambar berbagai jenis buah dan sayur.


"Mas, aku gerah" ucap Cira membuat Rey memandangnya.


Kalau gerah ya, tinggal buka aja. Atau tambahin suhu AC nya batin Rey menggerutu.


"Mas, aku mau pulang aja, ya. Atau nggak aku mau ke toko aja ya?" ucap Cira berdiri dan membuka bajunya membuat Rey membulatkan matanya.


"Kamu mau ngapain?" ucap Rey panik. Dan berlari menutup lalu mengunci pintu ruangannya.


"Mas, panas" ucap Cira lagi. Membuat Rey menaikan suhu ruangan. "Ah,,sejuknya" ucap Cira yang sudah melepas pakaian baseball nya. Yang hanya tersisa bra dan cela*na dal*amnya. Membuat Rey menelan saliva susah payah.


Godaan apa ini lagi, Tuhan batin Rey berteriak.


"Mas, nggak gerah pakai baju itu?" tanya Cira membuat Rey mengangguk. Bahkan dari rumah ia sudah merasa gerah dengan baju itu. Namun, karena istrinya menyuruhnya akhirnya dia hanya bisa pasrah dan akhirnya nyaman. "Buka aja, mas. Yuk, kita mandi bersama" ucap Cira membuat Rey tertegun memandang istrinya yang aneh.


Mandi bersama?. Aduh, sayang kamu tau nggak bahwa hal itu sangat berbahaya untuk Pinokio karena ia akan berbohong jika dia melihat tuan putrinya batin Rey frustasi dengan tingkah istrinya.


"Kamu mandi aja duluan, yang. Aku mau bereskan ini dulu" ucap Rey mengalihkan membuat Cira mengangguk lalu pergi ke ruangan istirahat untuk mandi.


"Huh, akhirnya. Sabar, ya pinokio. lagi 2 bulan aja" gumam Rey pada Pinokio ya yang sudah mulai menunduk setelah mengalami ketegangan.


Rey mengalihkan pikiran dengan membaca berkas. Hingga beberapa menit ia sadar istrinya belum juga keluar dari ruangan istirahat.


"Dia, ngapain lama sekali. Jangan-jangan dia terjatuh!" ucap Rey panik dan segera membuka pintu ruangan itu. Dan terlihatlah istrinya sedang berbaring dengan pakaian yang masih seperti tadi.


Rey menghampiri kemudian mencium wajahnya dan perut Cira kemudian menyelimuti tubuh Cira dengan selimut.


Rey kembali berkerja hingga ketukan pintu menyadarkan nya. "Masuk" ucap Rey dingin.


"Pak ini laporan statistik dari bank daerah setempat" ucap karyawati itu dengan menyerahkan laporannya.


"Terima kasih" ucap Rey membuat karyawati itu keluar dari ruangan tersebut.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 12 siang namun, sang istri belum juga bangun membuat Rey memesankan makanan untuk dirinya dan istrinya.


"Iya," ucap Chan.


"Sayang, kamu tidak berniat untuk makan siang?" bisik Rey pada telinga Cira karena sekarang ia sudah ikut berbaring dengan memeluk tubuh istrinya.


Cira yang merasa terusik pun membuka matanya. Dan tersenyum ketika melihat wajah suaminya "Mas, ganteng banget deh" ucapnya dengan tangan mengelus rahang Rey.


"Kan, aku memang udah ganteng, yang. Bahkan dari kecil" ucap Rey bangga.


"Tengik" ucap Cira membuat Rey mencium bibirnya.


Hingga suara ketukan pintu melepaskan mereka dari lilitan pergulatan lidah. "Mas, ada orang" ucap Cira membuat Rey bangkit.


"Kamu tunggu,dulu. Mungkin itu Chan membawa makan siang" ucap Rey dan membuka pintu dengan menampilkan Chan.


"Ini makan, Lo" ucap Chan dengan memberikan bungkusan makanan kepada Rey. Lalu melenggang pergi.


"Yang, sini makan, dulu" ucap Rey membuat Cira menghampirinya.


Dan mereka makan siang bersama di kantor Rey. Setelahnya mereka kembali pokus pada pekerjaan nya Rey dengan berkasnya dan Cira sedang berpikir untuk membuat menu baru.


Hingga Sore menjelang membuat Rey meregangkan otot-otot nya. Sementara Cira jangan ditanya lagi. Dia sudah tidur dan jangan lupakan juga dengan tempat makanan yang berceceran di meja sofa.


"Ini makin tembam aja" ucap Rey dengan mengelus pipi Cira yang sudah mulai sedikit berisi.


Rey tidak enak membangunkan istrinya dan membawa Cira ke mobil dengan bridal style. Karena sudah sore dan hampir petang, perusahaan sudah mulai sepi.


"Chan, kau belum pulang?" tanya Rey uang melihat Chan keluar dari ruangannya.


"Hari ini gue boleh nginep dirumah, lho. Nggak. Bokap sama nyokap gue mau datang. Malas gue lihat mereka yang egois"ucap Chan membuat Rey mengangguk.


"Pakai mobil gue aja" ucap Rey membuat Chan mengangguk dan berjalan bersama Rey.


"Akhirnya, Lo dapat juga, ya. Cewek tengil yang marahin lho karena menolak cewek di toilet" ucap Chan tertawa membuat Rey tersenyum dengan memandang wajah tidur Cira.


"Iya, juga. Gue aja nggak kepikiran bakalan nikah sama dia. Dan sekarang malahan bakalan punya anak. Kadang gue itu suka nggak nyangka aja" ucap Rey membuat Cira mengeratkan pelukannya di leher Rey.


Melihat itu membuat Chan tersenyum "nempel kayak cicak jadinya. Dulu aja kalau nggak keburu tamat. Mungkin udah Lo ajak musuhan kayak Tom and Jerry" ucap Chan mengingat kenangan mereka waktu semasa SMA.


"Bukan cicak lagi udah kayak kulit" ucap Rey tertawa. Lalu memasukan Cira kedalam mobil di pintu belakang yang sudah di buatkan seperti kasur.


"Gimana rasanya nikah?" tanya Chan setelah mereka sudah di dalam mobil.


"Dibilang enak sih iya, tapi ini kan masih baru. Nanti kedepannya belum tahu gimana" ucap Rey dengan mengedikan bahunya.


"Benar juga. Gue kadang kepikiran pengen nikah, karena merasa ditinggalkan oleh Lo yang nikah duluan. Gue kan berasa kesepian" ucap Chan berdramatisir membuat Rey memandang temannya ini dengan tatapan aneh. "Gue masih cowok, ya." ucap Chan yang mengetahui maksud dari tatapan Rey.


"Ya, lho nikah aja sama tunangan, Lo itu" ucap Rey santai. Membuat Chan berdiam.


"Di rumah, Lo ada makanan nggak? gue lapar nih" ucap Chan yang mengalihkan topik pembicaraan.


Rey tahu kalau Chan mengalihkan topik. Dan karena Rey itu tidak pemaksa. Karena dia tau sikap Chan. Maka dari itu dia menunggu Chan yang mengatakannya secara langsung.


"Lo, udah numpang. Malah ngelunjak" ucap Rey sedikit keras. Membuat Cira terbangun.


"Mas, lapar!!" ucap Cira yang baru bangun dan mengucek matanya.


"Yaudah, kita mampir ke resto aja" ucap Rey dan membuat Chan dan Cira tersenyum sumringah.


"Lho, kak Chan, kok ikut?" tanya Cira yang baru menyadari keberadaan Chan.


"Gue mau nginep lagi. Capek di apartemen sendiri" ucap Chan membuat Cira membulatkan matanya.


"Makanya nikah, kak. Kan nggak kesepian."ucap Cira membuat Chan mendengus kesal.