
Pagi ini Chan dan Fiola sedang mengantri untuk periksaan. Mereka deg-degan karena takut dan juga khawatir serta cemas akan hasil yang nantinya akan diberikan oleh dokter.
"Mas,,,aku takut" ucap Fiola yang duduk bersama Chan di kursi tunggu dan tangan yang saling menggenggam.
"Sebenarnya mas juga takut. Hehehe" ucap Chan terkekeh. Mencairkan suasana. Membuat Fiola ikut terkekeh.
Mereka mengantri untuk menunggu panggilan dari sang dokter. Banyak ibu-ibu hamil yang mengantri, ada yang bersama suami ada pula yang bersama saudara atau temannya dan ada pula yang sendirian.
"Mas,,,nanti kalau hasilnya gagal, gimana?" tanya Fiola membuat Chan mengusap genggaman tangan mereka.
"Berarti kita harus honeymoon lagi. Atau nggak kita harus buat lagi, setelah pulang dari sini" ucap Chan membuat Fiola mendengus.
"Jangan keras-keras ngomong. Malu tau" ucap Fiola berbisik. Ketika mendapat kan tatapan dari para ibu yang sedang mengantri.
"Ngapain malu, kan mereka juga udah pernah merasakan. Makanya mereka hamil kan?" ucap Chan lagi membuat mereka yang mendengar nya ikut malu dengan ucapan Chan.
Fiola hanya bisa tersenyum canggung kearah ibu-ibu. "Ibu Fiola Cantika?!" panggil suster membuat Chan dan Fiola berdiri.
Kemudian mereka memasuki ruang dokter tersebut. Dan kini mereka sudah duduk didepan Dokter "Selamat datang, ibu Fiola dan suaminya" sapa sang dokter. "Ada keluhan apa?" ucap dokter itu kembali.
"Jadi begini, Bu. Saya sudah telat datang bulannya sebulan yang lalu. Dan saya takut pakai alat tespek, soalnya sering nggak akurat" ucap Fiola sedangkan Chan pandangan menyapu ruang dokter tersebut.
Sang dokter hanya mengangguk "Baik kalau begitu, silakan berbaring dulu" ucap sang dokter menunjuk brankar yang berada di sampingnya.
Chan menuntun Fiola dan membantunya untuk menaiki brankar tersebut. "Permisi, ya. Saya buka bajunya" ucapnya lagi membuat Fiola mengangguk.
Chan tangannya sudah dingin, bahkan keringat sudah muncul di pelipis nya. Fiola yang merasakan tangan dingin suaminya tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Ibu, bapak. Selamat ya. Coba kalian lihat di dalam monitor ini. Ini adalah embrio atau janin. ukurannya masih sangat kecil. Dan ini baru berusia 3 Minggu. Ini adalah calon anak kalian" ucap sang dokter menerangkan setiap informasi yang termuat didalam layar monitor tersebut.
Baik Chan maupun Fiola termangu dan berusaha mencerna setiap ucapan yang muncul dari mulut sang dokter. Ada rasa haru dan bahagia yang mereka rasakan.
Bahkan Chan saja sudah menangis ketika mengerti ucapan sang dokter "Terima kasih, sayang." ucap Chan yang wajahnya sudah basah oleh air mata mencium seluruh wajah Fiola. Bahkan Fiola pun ikut menangis.
"Khemm" dehem sang dokter untuk menghentikan dua sejoli yang lupa dunia ketika sangat bahagia.
"Eh,,,ada dokter. Maaf dok, saya terlalu senang" ucap Chan membuat sang dokter mengangguk dan memaklumi nya.
"Jadi,, sekarang harus jaga kesehatan dan keselamatan. Untuk nanti jika ada gejala yang muncul seperti mual, atau muntah, segera hubungi saya. ,,,,,,,,,,,," ucap Sang dokter memberikan informasi dan resep untuk Fiola.
Chan sangat antusias mendengarkan ucapan sang dokter. Bahkan dia sangat cerewet membuat Fiola tersenyum canggung kepada sang dokter.
"Mas,,kamu mah bikin malu, aja" bisik Fiola ketika mereka sudah meninggalkan ruangan sang dokter.
Bagaimana Fiola tidak malu, hal yang ditanya Chan adalah posisi bercinta yang aman untuk istri yang sedang hamil. Padahal hal itu bisa di cari di artikel. Tapi Fiola berusaha memaklumi nya kalau ini adalah hal pertama untuk mereka.
"Nggak apa-apa, justru bagus. Langsung bertanya pada ahlinya. Nanti kita ke rumah mama, ya buat kasih surprise" ucap Chan membuat Fiola mengangguk. "Berarti hari ini kamu istirahat aja, ya" ucap Chan lagi. "Terus sorenya kita ke rumah bapak. Kamu mau menginap disana?" tanya Chan yang pengertian terhadap istrinya.
Karena ketika seorang istri sedang hamil, maka dia akan lebih senang bercerita tentang kehamilan bersama ibunya, mana yang baik dan buruknya sehingga tidak canggung.
"Memangnya boleh, mas?" tanya Fiola membuat Chan mengangguk dengan senyum yang tidak luput dari semenjak sang dokter mengatakan dirinya hamil.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil "Aduh,,, ternyata anak ayah sudah disini, ya. ayah seneng banget kamu sudah hadir, sehat-sehat ya sayangnya ayah dan bunda" ucap Chan yang mengusap perut Fiola kemudian menciumnya.
"Iya,,,ayah" ucap Fiola dengan mengusap perutnya.
"Tapi untungnya tidak mual ataupun muntah, ya mas. Cuma kayaknya kamu juga ngidam deh, mas. Soalnya kita lapar aja, dan pengen makan" ucap Fiola membuat Chan mengangguk.
Chan melajukan mobilnya, mereka akan melanjutkan rencana ke rumah orang tuanya Chan untuk memberitahukan berita bahagia. "Mas, aku pengen beli donat untuk hadiah mama dan papa" ucap Fiola membuat Chan mengangguk.
Mereka berhenti di tempat penjual donat dengan berbagai varian. Bahkan Fiola sudah membeli 2 box donat, yang satu untuk dirinya dan yang satunya lagi hadiah.
Fiola dengan lahap memakan donatnya dengan sesekali menyuapi Chan yang sedang menyetir. "Hummm....donatnya manis sekali" ucap Fiola dengan wajah yang ceria.
"Iya,,donatnya enak. Ditambah lagi dengan bentuk yang lucu-lucu, jadi gemes" ucap Chan membuat Fiola mengangguk.
Akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Chan. Mereka langsung disambut oleh sang mama. "Kalian jahat banget, mama sendirian lho,,,dirumah nggak ada diajak ngobrol" ucapnya dengan menuntun Fiola duduk di sofa.
"Papa mana, ma?" tanya Chan membuat sang mama mendengus.
"Kamu lupa. Gara-gara kamu libur, papa yang harus masuk kerja" kesal sang mama membuat Chan tersenyum. "Ini buat mama biar nggak kesal lagi" ucap Chan menyerahkan donat yang dibawanya kepada sang mama.
"Wah,,,kamu bawa donat kesukaan mama." ucapnya ketika membuka donat yang berbagai macam bentuk lucu.
"Ini juga untuk mama" ucap Fiola yang menyerahkan hasil USG nya membuat sang mama terpaku diam memandang hadiah yang Fiola berikan.
"Cuma satu?" tanya sang mama membuat Fiola dan Chan mengangguk.
"Maaf ya ma. Mama pasti kecewa karena nggak jadi kembar" ucap Fiola membuat sang mama Chan meneteskan air matanya.
Dan hal itu membuat Fiola menjadi sedih dan menatap Chan dengan wajah yang sudah banjir air mata.
Chan yang melihat istrinya menangis pun memeluknya "Hus,,,jangan nangis, ya. Mama itu cuma terlalu senang aja, sampai nggak bisa berkata apa-apa" ucap Chan dengan memberikan semangat pada sang istri.
Mama Chan yang baru tersadar dan melihat mantunya menangis menjadi terkejut "Eh,,kenapa nangis?" tanya mamanya Chan dengan mengusap kepala Fiola dengan lembut.
"Ini Fiola nangis, karena dikiranya mama sedih karena mendapat cucu cuma satu tidak kembar" Terang Chan membuat sang mama tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.