Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Kembar?


Hari ini adalah hari pemeriksaan kehamilan Cira setelah membuat jadwal dengan dokter. "Mas, masih lemes" ucap Cira yang melihat Rey terlentang di sofa akibat dia baru saja muntah.


"Masih, yang" ucap Rey dengan mengusap perutnya membuat Cira ikut mengusapnya juga dengan memberikan minyak telon bayi.


"Yaudah mas istirahat, aja. Aku sama Kak Andra saja yang ke rumah sakit" ucap Cira bangkit. Dan mengambil tasnya. Membuat Rey dengan cepat menahannya.


"Biar mas saja yang antar. Lagian mas juga ingin tau kondisi dedek bayi" ucap Rey bangkit dengan yang dibantu Cira kemudian merapikan pakaiannya.


"Mas, yakin mau anterin aku?. Tubuh mas aja masih lemah, gini" ucap Cira membuat Rey menggeleng. "Yaudah, tapi pakai supir, ya?. Nanti kita kecelakaan gara-gara kondisi mas yang tidak stabil" ucap Cira lagi dan Rey mengangguk.


Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit. Jalanan begitu padat. Karena sedang jamnya berangkat kerja dan sekolah. Di perjalan rumah sakit. Cira terus mengusap perut Rey. Yang katanya rasanya mau muntah.


"Mau makan bubur?" tanya Cira karena tadi Rey tidak sarapan karena perutnya yang mual. Membuat Rey menggelengkan kepalanya. "Mang, turun didepan, ya. Saya mau beli bubur ayam dulu" ucap Cira membuat sang supir mengangguk.


Cira turun untuk memesan bubur yang nantinya di makan di dalam mobil. Ketika memesan bubur. Cira melihat Rey keluar dari mobil dengan menutup mulutnya. Dengan segera Cira menghampirinya.


"Mas?" panik Cira kemudian menuntun Rey ke wastafel yang ada di pinggir jalan. "Kamu, sih dibilangin. Jangan ikut" ucap Cira dengan mengusap pelan punggung Rey. "Udah, baikan?" tanya Cira lagi membuat Rey mengangguk.


Cira mengusap bibir Rey dengan tisu. Kemudian membawa nya duduk di kursi tukang bubur. "Kang, buburnya satu" ucap Cira membuat tukang bubur dengan cepat membuatkan bubur untuk Rey.


"Ni neng, buburnya" ucap kang bubur dengan menyerahkan bubur kepada Cira. "Maafnya kambuh ya neng" ucap Kang bubur. Membuat Cira mengangguk.


"Mang, kalau mau makan disini aja, dah buburnya. Biar nanti kita langsung ke rumah sakitnya" ucap Cira melihat supirnya memberikan minuman kepadanya.


"Tidak, nya. Saya sudah makan tadi bersama Ijah dirumah" ucap nya menolak. Membuat Cira mengangguk.


Cira menyuapi Rey dengan telaten. Walau Rey nya terkadang menolak. Namun, di paksa oleh Cira. Membuat Rey memakan bubur itu dengan ogah-ogahan. "Kamu makan juga, dong. Kasian dedek bayinya belum makan" ucap Rey dengan mengelus perut Cira.


"Tadi aku sudah makan, mas." ucap Cira dengan terus menyuapi Rey dengan bubur.


"Ya, makan lagi. Masa iya, orang hamil kurus gini" ucap Rey membuat Cira mendengus kesal. Dan menyuap bubur itu ke dalam mulutnya. Membuat Rey yang melihatnya tersenyum.


"Makin sayang deh" ucap Rey dengan menjawil pipi Cira gemas. Membuat Cira menjejal Rey dengan bubur ayam. "Peyan-peyan, yang" ucap Rey dengan mulut yang penuh bubur. Membuat Cira terkikik melihat pipi Rey yang menggembung berisi bubur.


Setelah acara makan bubur. Dengan segera mereka ke rumah sakit. Dan kondisi tubuh Rey pun sudah mendingan. Bahkan sudah bisa bercanda dengan Cira melalui goda-godaan jahilnya.


Mereka sampai di rumah sakit dan langsung menuju keruangan dokter OBGYN. "Aku ikut masuk!" semangat Rey yang sudah baikan karena habis muntahnya tadi.


"Selamat pagi" ucap Cira dan Rey memasuki ruangan itu dan disambut manis oleh dokter dan perawat yang bertugas.


"Kamu tidak bikin ulah lagi kan, Rey?" tanya dokter itu yang mengetahui dua Minggu lalu bahwa Rey pingsan membuat keluarga panik. Terutama Chan yang membawa Rey dengan menyeretnya. Karena badan Rey yang besar dan keadaan pingsan.


"Ada dok. Tapi saya bikin ulahnya tiap malam. Hingga menjadikan terbentuknya calon manusia yang tampan" ucap Rey dengan tidak tau malu nya. Membuat dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dan Cira merasa malu dengan kelakuan suaminya yang berubah.


Dokter pun menyuruh Cira untuk berbaring di brankar dan memulai pemeriksaan dengan mendekatkan alat USG yang sudah berisi jelly diatas perut Cira.


"Ini adalah anak kalian. Dia masih sebesar biji kacang hijau atau berukuran 2 milimeter" ucap Dokter sembari mengarahkan alat USG.


Cira dan Rey pun melihatnya merasa terharu. Bahkan tanpa di sadari Rey meneteskan air matanya. Namun Cira merasa ada yang aneh dengan monitor yang menampilkan bulatan abstrak. "Dokter kenapa ada dua bulatan?" tanya Cira membuat Sang dokter tersenyum sampul.


"Anak kalian kembar" mendengar ucapan dokter membuat Rey seketika menegang. Begitupun dengan Cira.


"Kembar?" ucap mereka Cira dan Rey bersamaan dengan raut wajah tak percaya.


Dokter pun mendengarkan detak jantung anak mereka sebagai bukti bahwa anak mereka benar adanya dan kembar. Mendengar itu dengan cepat Rey memeluk tubuh Cira dan mereka menangis mendengarkan detak jantung anak mereka.


"Maaf, dok. Kesenangan jadi hampir khilaf" ucap Rey dengan menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Dokter pun memaklumi karena tidak hanya mereka saja yang begitu. Tapi hampir seluruh pasien pasti bahagia mendengar kehamilan istri mereka.


Setelah acara memalukan yang dilakukan mereka akhirnya Cira dan Rey keluar dari rumah sakit itu dengan perasaan senang sekaligus malu. Mereka di perjalan hanya diam. Dan akhirnya mereka sampai di parkiran rumahnya.


"Mas, sih. Main nerobos aja" ucap Cira kesal karena hampir melakukan hal yang memalukan di ruang dokter tadi.


"Ya, mas kan senang sayang. Habisnya bibir kamu tidak cukup untuk di cium saja. Pengennya di perdalam lagi" ucap Rey yang membuat Cira terkejut.


Cira yang hendak protes harus tertahan karena Rey dengan cepat melu*mat bibir Cira. Untungnya mereka sudah masuk di parkiran rumah mereka. "Lanjutin ke kamar yuk?" ajak Rey yang justru di balas anggukan oleh Cira.


Melihat anggukan istrinya membuat Rey dengan cepat membuka pintu dan membawa Cira ke dalam kamar untuk melakukan ritual yang mengenakan.


.


.


.


.


.


.


Hari terus berlalu. Setelah pemeriksaan kehamilan Cira dan mengetahui bahwa mengandung bayi kembar. Seluruh keluarga merasa senang akan hal itu. Dan masalah papa Aditama dan Tante Dina tak pernah bertemu lagi. Karena kesibukan mereka. Dan Karena Papa Aditama sedang berada di Amerika bersama Cia Karen Oma Ega sedang sakit.


Namun, kapal Bejamin dan Indah semakin hari memunculkan gelagat aneh dari keduanya. Terutama Bejamin yang menjadi lebih sering ke toko Cira. Walau hanya sekadar untuk mengambil kue pesanan ibundanya.


Sementara Cira dan Rey sedang memulai pergulatan panasnya di siang bolong tepatnya di ruangan kantor.


"Mas..." desah Cira ketika Rey menggaulinya dengan hentakan yang pelan namun pasti. Yang justru semakin pelan membuat Cira semakin kenikmatan bagai ikan lele di taburi garam.


Chan selaku sekretaris dan asistennya hanya bisa pasrah saja dengan kelakuan bosnya itu. "Sudah dua jam, ini. Mereka nggak keluar juga" gumam Chan kesal. Karena banyaknya pekerjaan dan mereka malah asik-asik mencetak gol.


"Hmm"Gumam Chan menerima telepon dari teman jailangkung nya itu.


"Jemput gue, dong. Di toko Cira" ucap disebrang. Membuat Chan menghela nafas.


"Baiklah" ucap Chan pasrah. Karena kalau dia tetap disini, bisa-bisa otaknya meledak akibat terlalu panas. Mendengar desah-desus bosnya. Yang terlalu keras.


Chan pun bergegas untuk ke toko Cira dengan berjalan kaki. Karena tempatnya dekat. Ketika mengedarkan pandangannya. Ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dia memakai masker.


Dengan cepat Chan menahannya "Gea?" tanya Chan membuat orang yang di tahannya terkejut dan berbalik badan untuk menatap Chan.


"Iya, pak?" ucap orang itu dan membuka masker.


Dan Chan terkejut karena orang itu bukan yang di harapkan. "Maaf, saya salah orang" ucap Chan yang merasa bersalah dan malu karena ia salah orang.


Tidak mungkin juga dia disini batin Rey.


Orang itupun mengangguk dan pergi meninggalkan Chan. "Kenapa gue jadi kepikiran Gea. Ini mah gara-gara si kunyuk itu main api di kantor. Gue jadi kepikiran hal aneh-aneh" gumam Chan kemudian kembali berjalan untuk ke toko Cira