Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Orang Asing


Hari ini adalah hari kepulangan papa. Mereka sedang menunggu di bandara. Karena Cia merengek ingin menjemput papa. Dengan terpaksa Rey dan Cira mengikuti kemauan nya.


Datang ke bandara membuat mereka de Javu akan titik awal yang membawa perubahan dalam hidup mereka.


Suasana yang ramai semakin membuat mereka merasa terlempar ke dalam kejadian awal pertemuan dimana Cia memanggil Cira 'Mommy'.


"Sayang, kamu tau nggak. Setiap mas ke bandara selalu ingat kejadian itu" tanya Rey membuat Cira menatapnya lekat dan bingung.


"Kejadian apa?. Aku kan nggak kenal kamu dan nggak pernah bertemu di bandara juga kan?" ucap Cira membuat Rey menyentil kepalanya yang sejak hamil entah mengapa terkadang menjadi mudah Lola (Loading lama).


Cira meringis di sentil. Kemudian dia membalas dengan mencubit lengan Rey. Membuatnya meringis. Sedangkan Cira tersenyum devil.


"Mommy, itu ada anak kecil menangis!" tunjuk Cia pada anak kecil yang menangis di pojokan tempat ruang tunggu bandara. "Ayo mommy, kita samperin dia. Lalu kasih ke satpam ganteng di sana" ucap Cia lagi.


Mendengar ucapan Cia yang mengatakan satpam ganteng dengan segera Cira mengikuti arah tangan Cia. "Sayang, kamu masih kecil sudah tau orang ganteng" ucap Cira gemas dengan mencium pipi Cira.


Berbeda dengan Rey yang kesal karena dua cewek dihadapan nya ini mengobrol kan satpam ganteng. Yang memiliki tubuh kekar, putih dan tinggi dengan wajah yang memakai masker. "Kamu masih kecil tidak boleh. Bicara begitu" ucap Rey kesal.


Mendengar itu membuat mereka mendengus lalu meninggalkan Rey dengan segera menghampiri anak kecil itu. "Hai?" sapa Cira ikut berjongkok supaya sejajar dengan anak itu.


Cia memandang anak itu dengan tatapan berbinar karena walaupun menunduk tapi Cia bisa melihat wajahnya sangat lucu dengan hidung yang meler dan memerah itu.


Mendengar sapaan dari Cira anak itu segera mendongak dan menatap Cira dengan takut. "Kalian siapa?" tanya anak itu dengan berusaha mengusap air matanya.


"Aku Cia" ucap Cia yang mengulurkan tangannya.


Melihat uluran tangan Cia membuat anak itu ragu untuk membalasnya. Apalagi ini bandara. Namun, karena senyuman manis yang diberikan oleh Cia membuat anak itu mau mengulurkan tangannya. "Aku Excel" ucap nya.


"Ini mommy ku" ucap Cia memperkenalkan Cira. Memang ketika kita ingin membantu maka harus dengan bantuan anak kecil karena anak kecil akan berkata jujur. Dan anak itu akan mudah untuk mengutarakan apapun pada anak yang kelihatan sebaya dengannya.


"Sini biar Tante. Bantu cari orang tua kamu" ajak Cira membuat Anak itu bangkit dan memegang tangan Cira supaya tidak hilang lagi.


"Kamu mau kemana?" tanya Cia sambil berjalan. Menuju pusat informasi.


"Aku mau ke Inggris menjenguk nenek yang lagi sakit" ucapnya membuat Cia mengangguk.


"Nama orang tua kamu siapa?" tanya petugas bandara. Karena Cira tadi sudah memberitahukan bahwa ada anak yang kehilangan keluarganya.


Anak itu pun memberitahukan petugas nama orang tuanya. Baru satu kali berbicara sudah ada seorang ibu yang sedang tergopoh-gopoh mendekatinya.


"Mommy!!" teriak anak bernama Excel itu. Yang ternyata itu adalah ibunya yang sudah menangis dalam pelukan anaknya.


"Maafkan Mommy" ucap wanita itu.


"Terimakasih sudah menjaga anak saya" ucap nya kepada mereka lalu diangguki ya.


Cira kemudian berpelukan kepada Mommynya Excel. "Ini buat kamu ya" ucap Excel menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk ikan paus. Dan memakaikannya pada Cia lalu mereka berpelukan.


Suara perhatian bahwa penerbangan mereka akan segera berangkat membuat Excell dan mommy nya segera pamit dan mereka hilang dari pandangan mereka.


"Sayang?" panggil Rey yang sudah berada disampingnya bersama dengan Papa Aditama. Melihat itu Cia dengan segera memeluk papanya lalu mereka saling melepas rindu.


...****...


"Ini pemberian Excel, pa. Anak yang menangis di bandara tadi" ucap Cia dengan mengamati kalung yang diberikan oleh Excel.


"Wah,,,bagus banget kalungnya" ucap Cira yang memperhatikan kalung yang digemgam Cia.


"Daddy bisa membelikan kalung yang banyak buat kamu" ucap Rey yang kesal karena Cia lebih suka pada kalung pemberian dari orang asing ditambah dengan wajah yang berbinar senang ketika memandang kalung itu.


"Kamu ini, mas. Kamu cemburu ya?" tanya Cira yang gemas dengan tingkah suaminya yang cemburu.


"Tidak" bantahnya dengan pandangan pokus pada jalanan tapi sesekali melirik Cia dibelakang. "Kalungnya jangan di cium Mulu" ucap Rey membuat mereka semua tertawa.


"Daddy tau nggak anak cowok tadi itu dari Inggris, Lo. kapan-kapan kita liburan kesana yuk" ajak Cia yang senang. Membuat Cira dan Papanya yang mengetahui bahwa Rey cemburu ditambah perkataan Cia barusan semakin membuat tawa mereka semakin keras.


"Kamu jangan pacar-pacar dulu. Masih kecil juga." ucap Rey yang kesal. Tetapi itu membuat Cia tertawa.


"Mommy. Pacaran itu seperti Om Bajaj dan Tante Indah, ya?" tanya Cia polos membuat Cira dan Papanya membulatkan matanya sementara Rey sudah mendengus mendengarnya.


"Iya, sayang. Tapi itu dilakukan ketika Cia sudah besar seperti Tante Indah" terang Cira membuat Cia mengangguk senang.


Tanpa menunggu perubahan musim. Pembicaraan Cia sudah berubah kembali ke menceritakan kesehariannya bersama Mommy dan Daddy-nya dirumah.


Mereka akhirnya sampai di rumah Papa Aditama dengan Cia yang sudah digendong papanya. Sementara Rey membawa barang papanya yang sudah seperti supir mereka.


"Mas, lain kali bahasa jangan gitu. Cia kan masih belum mengerti" tegur Cira yang berdampingan berjalan bersamaan untuk memasuki rumah.


"Iya tadi aku kelepasan. Karena nggak suka Cia lebih suka pemberian orang asing dari pada pemberian aku" ucap Rey seraya mengecup pipi Cira.


"Mas, kita menginap disini kan?" tanya Cira membuat Rey mengangguk.


"Berarti nanti kita coba di kamar aku ya sayang" bisik Rey membuat Cira mencubit lengannya dan mereka tertawa memasuki rumah dan sudah ditunggu oleh Cia dan Papa Aditama.


"Kalian istirahat lah. Nanti malam kita akan ada pesta kecil-kecilan dirumah" ucap Papa Aditama lalu masuk kedalam kamarnya bersama Cia meninggalkan Rey dan Cia.


Melihat mereka pergi dengan cepat Rey membopong Cira menuju kamarnya untuk melakukan apa yang telah Rey bisikan itu.


"Mas, nanti kedengaran oleh mereka" ucap Cira yang malu karena Rey sudah membuka bajunya dan bersiap untuk melakukan ritual nya.


"Tenang saja. Kamu disini bebas teriak sekencang-kencangnya karena kamar ini kedap suara apa lagi dilakukan dikamar mandi." ucap Rey yang membuka baju Cira.


Namun, tangannya segera ditepis oleh Cira "Tapi..." ucap Cira terpotong karena Rey sudah melahap habis bibir tersebut.


Mereka melakukan kegiatan panas mereka disiang yang sudah terik semakin menambah aura panas di dalam kamar itu. Semenjak kehamilan Cira yang usia sudah memasuki trimester kedua membuatnya selalu bergairah sehingga ketika Rey menggoda nya maka akan menimbulkan kegiatan yang berlanjut.


Dan itu semakin membuat Rey semangat untuk terus menggoda nya. Mereka melakukannya sesuai dengan anjuran dokter mengenai posisi yang cocok dan baik untuk ibu hamil. Dan posisi yang dianjurkan dokter lah semakin membuat Rey bahagia.


"Mas, aku udah capek" ucap Cira yang berada diatas Rey membuat Rey tersenyum senang melihat pemandangan didepannya itu. "Tapi masih pengen" ucap Cira malu-malu.


Rey yang melihat Cira begitu merasa kasihan dan juga senang. Karena istrinya sangat menggoda dengan perut buncit dan di bagian tertentu yang membesar.


Mereka akhirnya mengakhiri permainan nya karena sudah mendapatkan kepuasan yang maksimal. Cira yang lelah langsung tertidur dengan memeluk Rey.


Melihat istrinya yang kelelahan Rey menaruh bantal di belakang punggung Cira supaya Cira merasa lebih nyaman. Dan Rey pun ikut menyusul istrinya di dalam mimpi.