Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Cemong


Rey membawa si kembar ke taman dan makan siang bersama dengan Cia. Yang tadi mengeluh lapar. Mereka makan di temani dengan interaksi bayi aktif yang sejak tadi bergerak-gerak tidak kenal lelah.


"Ciluk.....Baaaaa" ucap Cia mengajak bermain si kembar yang tersenyum lebar.


Rey membereskan bekas makannya ke dapur untuk di cuci oleh mbak Ijah. "Mbak minta tolong cuciin, ya?. Saya mau jaga si kembar karena Cira lagi tidur kecapean" ucap Rey membuat Mbak Ijah mengangguk.


"Mas, sudah pulang?" tanya Cira yang turun dari tangga.


"Iya, kamu kok bangun, tidur gih. Si kembar biar aku yang ngurus. Kamu pasti kecapean jaga si kembar" ucap Rey menghampiri istrinya dan mencium keningnya.


Cira memegang kemeja Rey dengan manja "Mas....?" ucap Cira pelan dan manja dengan tubuh di goyang-goyang kan pelan.


Melihat itu membuat Rey gemas dengan tingkahnya yang manja "Apa?" tanya Rey membuat Cira manyun. Dan itu membuat Rey mencium sekilas bibir Cira. "Mau itu kan?" ucap Rey membuat Cira memukul pelan dada Rey.


"Sudah makan?" tanya Rey membuat Cira mengangguk. Lalu Cira mengalungkan tangannya di leher Rey. Dan tangan Rey yang memeluk tubuh Cira. "Nanti malam, ya?"bisik Rey membuat Cira malu dan memeluk Rey dan menenggelamkan kepalanya di dada Rey.


Rey tau maksud dari istrinya yaitu memberitahukan bahwa masa nifasnya sudah berakhir jadi sudah bisa bermain lagi.


"Ayo,, samperin anak-anak dibelakang" ucap Rey mengajak Cira untuk kebelakang.


Mendekati taman belakang mereka mendengar suara tawa Cia yang keras. Dibarengin dengan suara tawa si kembar. Membuat Rey dan Cira saling pandang kemudian tersenyum.


Cira dan Rey pun mengintip apa yang dilakukan Cia pada bayi kembar itu hingga mereka tertawa keras. Namun Cira dan Rey tidak melihat nya karena posisi Cia yang membelakangi mereka.


Mereka yang penasaran pun dan menghampiri mereka. Ketika melihat Cia dan si kembar membuat Rey dan Cira terkejut dan melongo melihat bagaimana kondisi mereka.


Iya, mereka wajah tercoret-coret pulpen dengan yang warna-warni membuat mereka tertawa. Bayi kembar itu tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Cia. Karena mereka tertawa ketika Cia tertawa.


Cia tidak menyadari bahwa Cira dan Rey berada dibelakang nya sedang menatap penuh kaget. "Hahaha...kalian cemong" ucap Cia menertawakan wajah cemong si kembar.


"Kalian ngapain?" tanya Rey membuat Cia terloncat kaget. Lalu langsung ngebirit kabur masuk kedalam kamar dengan tertawa.


Melihat itu membuat Cira dan Rey kembali termangu dengan sikap Cia yang lari dengan cepat. Kemudian perhatian Cira dan Rey kembali ke si kembar.


"Kalian lagi ngapain, sih?. cemong gini?" ucap Rey yang memperhatikan wajah si kembar yang seperti kucing dan anjing.


Sedangkan si kembar hanya tepuk tangan dan kaki yang gerak-gerak kesenangan. Padahal sudah di cemongin oleh kakaknya.


Cira yang melihat itu pun memfoto mereka untuk dijadikan kenang-kenangan masa bayi si kembar.


"Bentar ya. Daddy mau telpon Om Chan dulu. Habis itu kita mandi bersama" ucap Rey.


"Chan, gue nggak balik ke kantor soalnya lagi ngurus si kembar" ucap Rey pada disebrang telepon. Sementara di sebrang sedang menggerutu kesal.


Rey dan Cira menggendong baby kembar masing-masing. Menuju ke kamar membersihkan tubuh si kembar. Sedangkan si pembuat ulah tidak menampakan batang hidungnya.


Setelah selesai membersihkan wajah si kembar dan sudah terlelap akibat kelelahan tertawa. Dan Rey bangkit ke kamar Cia. "Sayang, mas mau lihat Cia dulu" pamit Rey yang diangguki oleh Cira.


Sesampainya di kamar Cia, Rey masuk dengan perlahan. Untungnya pintu kamar tersebut tidak dikunci. Cia sedang berbaring tengkurap menggambar hewan lucu.


"Khemm!!" dehem Rey disamping Cia membuat Cia terkejut dan menjatuhkan pensilnya.


"Daddy bikin Cia kaget aja" ucap Cia yang duduk dan mengusap dadanya yang terkejut.


Rey yang melihat itu gemas, mengusap kepala Cia. Dan mata menangkap gambar yang Cia buat membuat Rey tersenyum. "Lagi gambar apa?" tanya Rey membuat Cia mengambil gambarnya.


Cia memperlihatkan gambarnya adalah sebuah keluarga besar sampai memenuhi kertas gambar tersebut. Namun, anehnya di gambaran Cia posisi mereka tidak teratur melainkan berkelompok.


Rey mengerjitkan dahinya karena kurang mengerti dengan gambaran Cia "Ini siapa?" tanya Rey yang justru penasaran dengan gambar orang yang tubuhnya kurus seperti garis lurus.


"Ini om Chan, pa" jawab Cia membuat Rey tambah bingung.


"Terus yang disampingnya siapa?" tanya Rey lagi. Membuat Cia mendengus kesal karena Daddy bertanya terus.


"Jadi Daddy. Biar Cia jelaskan. Yang disamping om Chan adalah pasangan Om Chan. Yang ini papa dan Oma. Kalau yang ini Daddy, mommy dan dedek kembar. Yang di bawah ini Keluarga kak Andra. Terus yang di tengah-tengah adalah Cia" ucap Cia membuat Rey mengangguk.


"Tapi Daddy tidak terima. Daddy kan keren, tampan dan perut Daddy tidak besar gitu. Kenapa Cia gambarnya perut Daddy besar sekali dan apa ini pakai kumis" protes Rey pada gambar Cia.


"Ih,,nanti juga Daddy akan begitu seperti kepala sekolah Cia yang perutnya besar terus ada kumis dan jenggot nya" ucap Cia membuat Rey menggelitik nya. Membuat Cia tertawa keras akibat kegelian dan meminta ampun.


Namun, Rey tidak perduli dan terus menggelitiknya hingga Cia berteriak keras memanggil Cira. Membuat Rey menghentikan aksinya. "Ayo, tidur, sayang" ajak Rey yang merebahkan tubuhnya disamping Cia.


Dan Cia memeluk daddy nya ikut tertidur. Hingga mereka terlelap. Cira masuk ke kamar Cia karena tadi mereka sangat ribut tetapi sekarang sudah sepi karena mereka tertidur.


...~TAMAT~...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk pembaca Mommy untuk Daddy. Sekarang kita masuk kedalam misi Cia mencarikan bunda untuk ayah Chan.


.


.


.


.Selamat berkecimpung dalam dunia Chantong yang berdrama.


...#####...


Hari sudah malam Chan baru pulang dari kantor akibat pekerjaan yang banyak ditambah bos sialannya menyuruh nya mengurus pekerjaannya yang sengaja dia tumpuk.


Chan memasuki mobilnya dan meninggalkan area perkantoran. Tubuhnya lelah jiwa panas membuat dia beberapa kali memijat kepala nya karena pusing.


Namun dipersimpangan jalan tiba-tiba sebuah gerobak nyelonong nyebrang membuat Chan tidak sempat mengerem mobilnya.


Brak...


Chan dengan segera turun dari mobil dan menghampiri orang yang ditabraknya. "Maafkan saya pak, saya tidak ngeliat" ucap Chan merasa bersalah dan membantu bapak itu untuk bangkit karena tertimpa oleh gerobaknya.


"Tidak apa-apa, salah bapak juga tidak melihat ke kanan kiri" ucapnya membuat Chan merasa iba.


"Gerobaknya taruh disini saja, pak. Nanti orang suruhan saya akan mengantarnya ke rumah bapak. Sekarang kita ke rumah sakit dulu" ucap Chan membuat bapak itu menggeleng.


"Tidak nduk, bapak baik-baik saja. Lagian ini cuma lecet sedikit" ucap bapak tersebut membuat Chan merasa khawatir.


"Tidak pak. Bapak harus diperiksa ke dokter karena takut adanya infeksi." ucap Chan membuat bapak itu pasrah dan ikut masuk ke dalam mobil Chan untuk diantar ke rumah sakit.


"Bapak siapa namanya?" tanya Chan ketika mobil itu sudah melaju menuju rumah sakit.


"Nama bapak Suratman, sering dipanggil pak Surat" ucap bapak surat tersenyum.


Chan pun tersenyum mendengar nama bapak tersebut "Saya Chan pak" ucap Chan memperkenalkan dirinya.


"Nak Chan anak gedongan ya?" tanya Bapak menatap Chan dengan penuh selidik. Membuat Chan menggelengkan kepala nya.


"Saya cuma bekerja di perusahaan teman, pak." ucap Chan membuat bapak surat mengangguk.


Mereka berbicara panjang lebar hingga tanpa mereka sadari sudah sampai didepan sebuah klinik. Chan menuntun Pak Surat turun dari mobil dan menuju klinik tersebut.


Setelah diperiksa, ternyata dokter mengatakan bahwa kaki pak surat mengalami keseleo dan beberapa memar dan luka di siku dan lutut.


Chan menyarankan agar pak surat di periksa lebih lanjut ke rumah sakit. namun ditolak karena ia memilih di pijat oleh tukang pijat. Akhirnya Chan mengiyakan dan mengantar pak surat ke rumahnya.