
Dug-dug-dug. Mungkin seperti itulah bunyi jantung seseorang yang duduk didepan cermin pandangannya menatap tidak percaya akan hari ini. Bahkan tangannya sudah dingin dan menghela nafas secara dalam berulang kali.
Berbagai gumaman terlontar dari mulutnya. Memilih menatap dirinya didepan cermin. "Sudah siap?" tanya seseorang yang datang membuat orang itu hanya menatapnya dari pantulan cermin. Kemudian mengangguk pelan. "Jangan grogi. Ingetin aja malam ini malam pertama lo, pasti gugupnya hilang" ucap orang itu menepuk pelan punggung orang itu dan meletakkan air minum di meja.
"Gue nggak tau harus gimana. Semuanya menjadi satu" ucapnya membuat orang yang bersamanya tertawa.
"Santai aja, bro" ucapnya lagi membuat Chan menggeram.
"Gue nggak bisa santai, Anj*!" umpat Chan yang kesal.
"Woy,,,,hari ini nikahan lo. Jangan marah-marah, dong. Noh,,,,lo disuruh kebawah sama penghulu. Semangat ye bro,,,demi malam pertama" ucap seseorang yang datang dan berdiri diambang pintu dengan wajah sumringah.
"Semangat bro,,,sukses malam pertama nya!" ucap temennya yang berada didalam kamar mereka.
Mereka bertiga keluar dari ruangan dan dilihatnya banyaknya sanak saudara yang wajahnya sudah sangat gembira. Berbeda dengan yang lainnya justru sang mempelai pria yang terlihat gugup. Hingga sebuah tepukan membuatnya memandang kearah orang tersebut.
"Yakin dan percaya diri. Maka semuanya akan dilancarkan" ucap Rey. Membuat Chan mengangguk.
"Atur nafas. Dengan tarik nafas dalam-dalam" ucap Bejamin lagi.
Iya,,mereka yang sejak tadi bersama Chan. Menertawakan sahabatnya yang gugup. Dan mengingatkan tentang malam pertama. Sedangkan Chan sedang was-was dengan kondisi nya apalagi sudah duduk didepan penghulu membuat keringat nya muncul di dahinya.
"Nak Chan santai, saja. Kalau anak muda bilang, relax."ucap sang mertua yang membuat mereka tertawa. Memang yang jadi penghulunya adalah pak surat dengan saksi dari pihak keluarga mempelai.
Namun, setelahnya semua diam ketika melihat Fiola datang dengan balutan kebaya putih dengan dihiasi pernak-pernik sehingga membuat kerlipan cahaya memenuhi tubuh Fiola. Bahkan Chan hampir ngeces melihat Fiola kalau tidak disengol oleh Papanya.
"Mingkem, kamu." bisik papanya Chan membuat Chan malu karena ketahuan sedang memandang calon istri.
Fiola duduk disamping Chan dan mereka melakukan segala persiapan yang dilakukan. Hingga bapaknya Fiola mengatakan kesiapan kepada Chan yang dibalas dengan tarikan nafas kemudian mengangguk.
Suara lantunan ikatan pernikahan terucap dari mulut Chan mendadak semua hening mendengar kan dengan seksama setiap kata yang muncul dari mulut Chan yang di lontarkan dengan sekali tarikan nafas.
Suara syahdu Chan menggema membuat yang hadir termangu dan takjub dengan lantunan suara Chan.
Untungnya nama Fiola tidak terlalu panjang sehingga membuat Chan memudahkan untuk mengucapkannya dalam tarikan nafas.
"Bagaimana, saksi. SAH!?" tanya sang penghulu kepada para saksi.
Tidak ada sahutan dari para saksi ataupun keluarga membuat Chan cemas dan khawatir jika harus mengulangnya lagi. Sudah habis keringat yang keluar dari tangannya.
Hingga suara lengkingan seseorang membuat mereka tersadar. "SAH!!" ucap orang itu membuat para saksi mengucapkan sah.
Akhirnya mereka semua bertepuk tangan dan para saksi tertawa. Mendengar hembusan nafas Chan. "Maaf, Chan. Kami terpana mendengar suaramu" ucap para saksi membuat Chan mengangguk.
"Horee.....rumah boneka!!" teriak seseorang membuat Chan menghela nafas dan memijat kepalanya.
Mereka yang mendengar itu sontak memandang orang itu dengan tatapan tidak percaya. "Hehehe,,maaf" ucap Cia kemudian menyembunyikannya wajahnya dibalik badan Daddy. Membuat mereka tertawa.
Sedangkan Chan berulang kali menghela nafas karena sudah selesai melatumkan janjinya. Sekarang mempelai sedang bertukar cincin dan melakukan persyaratan. Perhatian mereka teralihkan oleh Cia yang dengan senangnya mengatakan Hore.
"Gimana?. Cantik nggak, ibu gurunya?" tanya mamanya Chan yang duduk disamping Cia.
"Cantik, kayak Cia" ucap Cia yang tidak tau malunya mengatakan itu. Membuat Mamanya Chan terkekeh mendengarnya.
"Chan mama ingin ini, satu!" ucap Mamanya Chan yang mengangkat tubuh Gio. Membuat mereka tertawa.
"Ibu juga pengen yang itu satu, fi" timpal ibu Narasi membuat mereka kembali tertawa.
Namun, tidak dengan Fiola dan Chan yang justru memerah karena malu. Orang tua mereka tidak tau kondisi. Ini baru beberapa menit mereka sah menjadi pasangan suami istri sudah disuruh memiliki anak. Pandangan Chan dan Fiola beradu kemudian mereka tersenyum canggung.
"Ini buku nikah kalian" ucap sang aparat KUA. Membuat Chan dan Fiola mengambilnya dan membukanya. Senyuman terbit di wajah Chan dan Fiola.
Hingga akhirnya acaranya sudah selesai dan saat ini adalah sesi foto bersama. Dan dengan tidak tau malunya Cia berada di tengah pengantin baru. "Cia mau disini, aja. Biar om Chan nggak jahatin, ibu guru cantik" ucap Cia dengan bersidekap dada memandang Chan.
Membuat Chan hanya pasrah. Bahkan kedua orang tua anak itu hanya mengedikan bahunya. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, jika anak itu sudah berulah.
Mereka akhirnya berfoto bersama. Dan untungnya bocah itu dirayu oleh Daddy-nya sehingga melepaskan Chan dan Fiola untuk bebas berduaan.
"Daddy. Nanti Cia nikahnya sama siapa?" tanya Cia yang sudah berada didalam gendongan Rey. Menyaksikan yang lain bersua foto.
"Kamu maunya sama siapa?" tanya Rey membuat Cia berpikir sejenak.
"Mau yang sama Ken" ucap Cia membuat Rey mengangguk. Karena sudah tau maksud nama yang disebut kan Cia. Yaitu pasangan boneka Barbie nya yaitu bernama Ken.
Akhirnya mereka keluar dari tempat tersebut dan anti malamnya adalah acara resepsi. Karena mamanya Chan sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. Bahkan membiarkan anak mereka untuk beristirahat sejenak.
"Hari ini, langsung gas pol, ya Chan?" bisik mamanya Chan membuat Chan terkejut. Dan Fiola yang mendengar nya hanya merasa malu.
"Apaan sih, ma. Kita itu lagi ke capean" ucap Chan membuat sang mamanya hanya mengedikan bahunya saja.
"Fi,,,,kamu nanti harus semangat, ya. Biar cepet jadinya. Masa kalah sama Siti. Dia sekali di tancap langsung berakar, lho." bisik ibu Narasi membuat Fiola memerah.
"Ish,,,,ibu. Ngomong apa, sih. Fiola dan Chan itu mau pacaran dulu" kilah Fiola membuat ibunya tertawa.
"Pacarannya nanti bisa sambil ngurus anak, Fi. Kalau kamu mau pacaran dengan suamimu, Ibu bisa jagain anak kamu, kok. Atau kalau ibu sibuk kan masih ada mama mertua mu" ucap Ibu Narasi membuat Fiola hanya mengangguk.
Kini mereka semua kembali ke hotel dan pasangan pengantin baru itu. Sedang duduk didalam mobil dengan perasaan canggung dengan status baru mereka.
"Fi?" tanya Chan membuat Fiola menatapnya. "Aku lapar,,," rengek Chan karena sejak subuh tadi perutnya belum terisi karena saking groginya sampai perutnya tidak merasakan lapar.
Mendengar itu sekita membuat Fiola melongo karena ia berpikir Chan akan memintanya hak nya nanti setelah sampai di hotel ternyata hanya lapar.
"Eh,,,kamu mau apa?" tanya Fiola lagi memastikan membuat si sopir terkikik melihat nya.
"Lapar, fi. Mau makan. Aku dari kemarin belum makan" rengek Chan lagi membuat Fiola bingung harus ngapain.
Sementara si sopir sedang senyum-senyum mendengar rengekan Chan yang terdengar ambigu untuk mereka yang baru saja menikah.
"Nak Chan lapar apa ini?" ucap sang sopir membuat Chan tersadar kemudian kembali pada sikap awalnya. Membuat Fiola menatapnya bingung. Sementara sang supir terkekeh saja.
"Saya lapar nasi, pak. Bapak jangan berpikiran yang macam-macam !. Saya beneran lapar banget dari kemarin nggak makan dengan karena grogi. Dan sekarang saya sudah sedikit tenang jadi perut saya ingin cepat diisi nasi. Lebih baik, bapak segera bawa kami ke tempat makan. Karena saya sudah sangat, LAPAR!" ucap Chan kesal membuat Fiola dan sang sopir hanya menertawakan wajah Chan yang kelaparan.
Sang sopir pun melajukan mobilnya mencari tempat makan yang cocok untuk Chan dan Fiola.