
Hari ini adalah hari keberangkatan Rey. Yang membuat Cira justru tidak mau lepas dari Rey. Kemarin dia semangat tentang kepergian Rey ke luar kota. Nyatanya pada hari keberangkatan nya justru tidak mau lepas seperti perangko.
Kemana pun Rey pergi dia akan ikut. Bahkan sampai ke kamar mandi pun ikut. Membuat Rey tidak rela jauh dari istrinya.
"Yang, aku mau kencing dulu" ucap Rey berusaha melepaskan diri dari pelukan Cira.
Mereka sedang berbaring dari bangun tidur sampai saat ini sudah pukul 9 pagi. Cira tak mau melepaskan Rey.
"Aku ikut" ucapnya. Dengan nada manja.
"Baiklah" ucap Rey turun dari ranjang. Dan Cira mengikutinya dari belakang.
"Mas, mau itu" ucap Cira sembari menunjuk benda tumpul milik Rey yang sedang mengeluarkan air seninya.
"Yang, jangan macam-macam, ya. Sejam lagi aku mau mau berangkat, lho." ucap Rey memperingati namun Cira semakin menggelengkan kepalanya. "Kamu kenapa, sih, yang" Ucap Rey. Membuat Cira mengedikan bahunya tidak tahu.
"Mau es krim?" tanya Rey yang mengalihkan perhatian Cira kepada benda tumpul nya.
"Mau!!" ucap Cira semangat dengan menyeret Rey keluar dari kamar mandi. Dan untungnya dia sudah memasukan samurai nya.
Mereka kini sudah duduk di depan Alfa*mart dengan membawa sekotak besar es krim. Banyak orang memperhatikan mereka. Karena Cira keluar hanya memakai daster dan Rey yang memakai jas. Membuat orang-orang melihat mereka seperti majikan dan pembantunya.
"Mas. Kenapa, mereka memandang kita seperti itu?" bisik Cira dengan mulutnya tertempel sendok es krim.
"Tidak, tau. Ayo dimakan, keburu cair" ucap Rey sembari mengambil sendok dari mulut Cira.
"Apa lihat-lihat!!" ucap Cira galak ketika ada orang yang menatapnya. Dengan mengarahkan sendok es krim kepadanya.
Melihat hal itu membuat Rey tersenyum "Huu,,,iri ya?!!" ucap Cira kembali membuat orang itu segera masuk kedalam toko itu.
"Kamu ini, ya"ucap Rey gemas, mencubit pipi Cira dan menciumnya. Membuat para pengunjung di toko itu merasa iri.
"Ayo, mas. Pulang aja." ajak Cira dengan menarik paksa tangan Rey. Menuju mobil mereka.
Mereka melajukan mobilnya dengan Cira yang cemberut kesal dengan bersidekap dada. "Jangan cemberut, gitu dong, sayang" ucap Rey yang melirik Cira.
"Mas, batalin aja dinas, ya?" ucap Cira dengan wajah didekatkan ke Rey dengan wajah Poppy eyes.
Melihat tingkah istri, semakin membuat Rey tidak rela meninggalkan nya "Tidak bisa, sayang. Ini kesempatan untuk perusahaan" ucap Rey membelai rambut Cira.
"Yaudah, kawin aja sama perusahaan mu!" ucap Cira kesal.
Salah lagi batin Rey. Ketika melihat Cira marah kepada nya.
"Ayo, turun" ajak Rey ketika mereka sudah sampai dirumah. Dan terlihat mobil Chan yang sudah bertengger di depan rumah mereka.
"Mas, harus janji, ya. Di sana nggak boleh selingkuh. Harus tiap jam telpon aku. Pokoknya harus kabarin aku kapan pun dan dimana pun!!" ucap Cira dengan mengangkat jari kelingking nya. Dan dibalas oleh Rey.
"Mas, janji. Tapi kamu juga harus ingat makan. Dan istirahat. Mas, usahain akan pulang secepatnya." ucap Rey membuat Cira mencium pipinya.
"Lho. Kok, cuma pipi aja" protes Rey ketika Cira hanya mencium pipinya.
Rey segera mencium bibir Cira dengan ciuman lembut penuh sayang. Seolah tidak ada menabung untuk hari berikutnya.
Mereka ciuman di dalam mobil sedangkan di dalam rumah mereka ada yang menunggu dengan wajah kesalnya.
"Mas,,,"ucap Cira ketika ciuman mereka berhenti dan Cira memeluk tubuh Rey dengan erat, menghirup aroma tubuhnya. Sebagai amunisi ketika berjauhan.
"Udah jangan nangis, dong." ucap Rey dengan mengusap pelan kepala Cira. Yang masih menangis tersedu.
Mereka memasuki rumah dengan Cira yang terus bergelayut pada lengan Rey. "Aduh, Mbak Ijah, panas nih!" ucap Chan ketika melihat pasangan baru itu. Dan bertepatan dengan Mbak Ijah membawakan minuman.
"Sudah lama, Chan?" ucap Rey. Duduk di sebrang kursi Chan.
Melihat Cira yang matanya sembab membuat Chan tertawa "Hahaha, kasian" membuat Cira kembali menangis kencang.
Rey menatap tajam Chan karena membuat Cira kembali menangis. "Mas, jangan pergi. Biarkan Chankul yang kesana aja" ucap Cira disela tangisnya dengan menunjuk ke arah Chan.
"Nggak, bisa. Kan bosnya suami mu" ucap Chan kembali membuat Cira menangis keras.
"Mas. Chankul jahat" ucap Cira dengan nada manja sedihnya.
Chan yang melihat tingkah tidak biasa Cira menatapnya dengan menelisik "Dia kenapa. Bisa begitu?" tanya Chan kepada Rey yang dibalas dengan mengedikan bahunya.
"Udah, dong. Jangan nangis. Masa Mommynya Cia nangis." rayu Rey membuat Cira sedikit tenang. "Nanti, Oma bersama Cia akan kesini dan menginap. Jaga diri. Ingat makan. Jangan ngemil es krim malam-malam nanti batuk" ucap Rey menasehati Cira. Karena sudah waktunya untuk berangkat.
"Mas, jangan lupa telpon aku terus ya" ucap Cira ketika mereka sudah berada di depan rumah. Dan semua koper Rey sudah berada didalam mobil. Karena kemarin selesai bercinta Rey menyiapkan segala keperluan keberangkatan nya.
"Iya, sayang" ucap Rey memeluk Cira dan mencium seluruh wajah Cira. Dan ******* pelan bibir itu.
Cira sudah nangis karena akan ditinggikan selama seminggu oleh suaminya. Karena ini pertama kali mereka berpisah. Dan itu sangat berat untuk mereka yang sedang kasmaran.
"Mbak, jaga Cira, ya. Ingatin juga untuk makan" ucap Rey memberikan petuah kepada IRT. "Mang, nanti anterin kemana pun Cira pergi. Jangan biarkan dia menyetir sendiri dan jaga rumah dengan baik" ucap Rey kepada satpam dan supirnya. Mereka hanya mengangguk kan kepalanya.
"Aku berangkat, ya" ucap Rey memeluk Cira lagi. Berat memang namun, karena kewajiban membuat Rey harus sabar.
Cira kembali nangis. Namun, kali ini tangisnya tidak keras. Chan yang melihat pemandangan itu sedikit terharu. Karena perubahan sikap dari Rey yang lebih hangat. Dan melihat mereka yang saling mencintai.
"Bye.....mas" ucap Cira melambaikan tangan ketika Rey sudah memasuki mobil. "Hati-hati" ucap Cira lagi dan Rey melambaikan tangannya.
Setelah mobil Rey tidak terlihat Cira kembali nangis dan memeluk mbak Ijah. Membuat Mbak Ijah menuntun Cira masuk kedalam rumah. "Nyonya mau saya buatkan coklat panas?" ucap Mbak Ijah membuat Cira berbinar dan tangis seketika hilang dan mengangguk.
Membuat Mbak Ijah bertanya-tanya. Kenapa majikan begitu. Ketika mbak Ijah membuatkan coklat panas. Ponsel Cira berdering dengan menampilkan nama suaminya.
"Hallo, mas?" ucap Cira mengakat telepon dari Rey. Dan Rey mengubah mode panggilan menjadi video call.
"Kangen" ucap Rey yang baru beberapa menit pergi. Meninggalkan Cira.
"Huek" ucap Cira mual dengan segera berlari menuju dapur. Meninggalkan Rey dengan wajah khawatir dan cemas.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" ucap Rey disambungkan video. Yang hanya menampilkan langit-langit rumahnya.
Rey sayup-sayup mendengar suara muntahan dari Cira. Membuat Rey tidak tenang meninggalkan istrinya.
Mbak Ijah yang melihat Cira muntah segera menghampiri nya. "Nyonya kenapa?" tanya Mbak Ijah. Namun karena kepala nya yang pusing membuat Cira pingsan.
Oma Ida yang baru datang dibuat panik ketika melihat Cira pingsan. Dan dengan segera memanggil Pak satpam dan supir untuk membawa Cira menuju ke mobil untuk segera ke rumah sakit.
Sementara sambungan telepon Cira yang masih terhubung dapat mendengar ucapan mbak Ijah membuat Rey panik, gelisah dan khawatir.
"Chan, aku turun disini, kamu saja sendiri ke sana ya aku mau lihat keadaan Cira dulu" ucap Rey yang sudah sangat panik. Dan mematikan sambungan telepon.
"Tapi Rey. Ini tidak bisa ditunda lagi. Lagian disana sudah ada Oma dan Mbak Ijah jadi pasti Cira baik-baik saja. Tenang ya, Rey" ucap Chan sembari menenangkan Rey. Yang cemas dan khawatir dengan memandang kearah luar.
Sebenarnya Chan juga khawatir dan cemas dengan keadaan Cira. Namun, perjalan kali ini sangat penting. Yang membuat perbank an milik keluarga Rey akan berkembang pesat. Dan ini juga untuk masa depan nanti. Untuk anak dan cucu mereka.