
Mereka akhirnya sampai dirumah Rey dan Cira. Dan dokter Dina pun ikut bersama mereka. Dan itu membuat jiwa kebingungan dari Rey dan Cira muncul.
"Mas, aku kok penasaran dengan mereka" bisik Cira kepada Rey. Namun, segera di angguki oleh Rey. Dan Mereka segera masuk kedalam rumah.
"Happy birthday, Cira" teriak mereka ketika Cira membuka rumahnya. Cira terkejut mendengarnya.
"Kejutan di rumah sakit, nggak romantis" ucap Rey di belakang Cira. Membuat Cira geli dan malu.
"Eh, dia siapa?" tanya Oma ketika melihat dokter Dina yang berada di belakang Cira dan Rey. Yang sedang menatap mereka semua dengan tatapan malu dan gugup.
Mendengar hal itu membuat mereka yang berada di dalam rumah langsung keluar dan memandang dokter Dina dengan tatapan yang sulit di artikan.
Oma bahkan sampai mengelilingi dokter Dina untuk melihatnya. Calon mantu ini batin Oma yang menelisik dokter Dina.
Sementara Pak Aditama hanya acuh tak acuh saja. Dengan tatapan keluarganya. Karena memang dia tidak ada apa-apa dengan dokter Dina.
"Kamu siapa?" tanya Oma dengan menatap tajam ke arah dokter Dina. Membuat dokter Dina merasa takut. Karena tatapan Oma yang tajam dan seram.
"Saya Dina. Temannya Aditama." ucapnya membuat Pak Nugraha tertawa mendengarnya.
Dokter Dina tidak merasa asing dengan Pak Nugraha "Kamu Nugraha si kurus?" tanya Dokter Dina membuat mereka semua menatapnya penuh kebingungan. Bahkan Mamanya Cira sudah mendekap suaminya. Dengan erat.
"Kita bicaranya di dalam saja, yuk" ucap Cira yang menyadari bahwa mereka masih diluar.
Mereka akhirnya masuk kedalam rumah dan mengobrol di ruang tamu. Cira dan Andra sedang membuatkan minuman dengan di bantu mbak Ijah.
Terdengar gelak tawa dari ruang tamu membuat Cira dan Andra saling pandang kemudian mengedikan bahunya.
"Iya, semenjak menikah, jadi makan terus dan jadilah seperti ini" ucap Pak Nugraha dengan tertawa. Membuat mereka ikut tertawa.
"Setiap makan selalu nambah, karena masakan istriku paling enak. Dan nurun ke Cira. Kamu harus makan masakan istriku" ucap Pak Nugraha lagi dengan membanggakan masakan istrinya. Membuat mamanya Cira malu, karena di puji oleh suaminya.
Memang benar dulu sebelum menikah Pak Nugraha kurus kerempeng. Dan setelah menikah menjadi lebih berisi. Makanya mama nya Cira menjadi was-was dengan Pak Nugraha karena postur tubunya yang sangat ****y dan hot daddy benget.
"Owh,,jadi anak kamu itu Cira. Berarti janji kalian udah terpenuhi dong. Menikahkan anak kalian" ucap Dokter Dina. Membuat Papa Aditama dan Papa Nugraha mengangguk dan saling merangkul.
"Jadi kamu ini teman kuliahnya mereka?" ucap Oma yang mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Iya Tante. Sama Sinta juga" ucap Dokter Dina. Yang tidak mengetahui bahwa Mamanya Rey sudah tiada. Yang dia tau hanya tentang Cia yang merupakan anak dari Aditama dan Shinta tanpa tau bagaimana dan dimana Shinta berada.
"Owh, iya. Sinta mana?" tanya Dokter Dina membuat mereka semua diam dengan pandangan sedih. Membuat dokter Dina merasa bersalah.
"Sinta sudah pergi jauh" ucap Oma. Membuat Dokter Dina berngerjitkan alisnya bingung. Melihat hal itu membuat Oma bingung juga "Jadi Aditama belum memberitahu kan kamu?" tanya Oma lagi membuat dokter Dina itu menggeleng kan kepalanya.
"Dia sudah almarhumah. 5 tahun lalu. Ketika melahirkan Cia. Karena faktor umur dan penyakit lainnya" ucap Oma menjelaskan membuat Dokter Dina merasa sedih. "Sudah, jangan sedih. Dia sudah tenang disana." ucap Oma lagi memecahkan keheningan.
Untungnya anak-anak sudah dipindahkan ke taman belakang sehingga tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Lho, kok. Diam?" tanya Andra yang melihat mereka semua diam. Dan meletakkan minuman yang dibawanya di meja.
"Mas, makan bubur dulu" ucap Cira membuat Rey bangkit dan menghampiri Cira yang sedang di dapur menyiapkan makanan untuk Rey.
"Mas, ada mbak Ijah" bisik Cira membuat Rey mendengus kesal. Dan melepaskan pelukannya. Dan itu membuat Mbak Ijah tersenyum melihat tingkah suami istri muda itu.
"Santai aja, nyonya. Saya juga pernah begitu. Maklum masih muda" ucap Mbak Ijah, membuat Cira malu dan itu justru membuat Rey tersenyum.
"Iya mbak. Karena maklumlah belum sempat pacaran. Jadi mau pacaran halal dulu" ucap Rey membuat Cira mencubit pelan lengannya.
"Boleh, aja tuan. Asalkan jangan sampai mbak liat kalian lagi buka projek. Nanti mbak jadi pengen" ucap Mbak Ijah membuat Rey tertawa. Dan Cira juga tertawa.
"Mas?" bisik Cira ketika tangan Rey mere*mas dadanya dari arah belakang. Namun, Rey malah tersenyum jahil. Kemudian kembali mencium leher Cira dan mengendusnya. Membuat Cira geli.
"Yang, kita ke hotel, yuk?" ajak Rey yang menumpukan kepalanya di pundak Cira. Mendengar ajak kan sang suami membuat Cira tau maksud dan tujuannya.
"Nggak sopan, mas. Ada tamu dirumah kita malah ke hotel" ucap Cira membuat Rey mendengus kesal. Dan menggigit leher Cira layaknya seorang vampir. Membuat Cira berteriak kaget.
"Mas!!" ucap Cira keras karena terkejut akan tindakan Rey yang menggigitnya. Dan itu membuat Mbak Ijah dan Rey tertawa. "Lepas, mas. Aku mau ngambil sate telur puyuh"ucap Cira yang menggerakkan badannya supaya Rey lepaskan ya. Namun, Rey justru semakin erat. Membuat Cira pasrah.
Rey masih memeluk tubuh Cira mengikuti kemana Cira berjalan. Dan itu membuat Mbak Ijah tidak berhenti tertawa."Aduh,,mbak jadi pengen kawin" ucap Mbak Ijah membuat Cira dan Rey tertawa.
"Kalian tidak tau malu, ya. Bermesraan di dapur bahkan ada mbak Ijah lagi!" ucap Pak Aditama dengan berjengking pinggang melihat kelakuan suami istri baru itu.
"Bilang aja iri. Sana gih, sama dokter Dina" ucap Rey membuat Pak Aditama membulatkan matanya.
"Dasar anak durhaka. Dia itu teman papa"Ucap pak Aditama lalu melenggang pergi dengan perasaan dongkol. Membuat mereka yang melihatnya tertawa.
"Mas, lepas. Pengap" ucap Cira membuat Rey akhirnya melepaskan pelukannya. Membuat Cira bisa bernafas lega.
Punya suami over romantis gini. Nggak tau tempat dan malu batin Cira menggelengkan kepalanya.
"Ayo, semua kita makan siang" ajak Rey pada mereka semua yang ada di ruang tamu.
"Saya pulang dulu. Soalnya ada pasien saya yang lagi kritis" ucap Dokter Dina pamit membuat mereka semua mengangguk.
"Kamu biar dianterin sama Aditama saja. Karena dia yang mengajak kamu ke sini" ucap Oma dengan mengedipkan sebelah matanya kepada Papa Aditma yang di bales dengan dengusan.
"Kapan-kapan kamu mampir ke rumah kami, ya. Kita adakan pesta kecil-kecilan" ucap Mama Cira yang sudah mulai sedikit bersahabat dengan Dokter Dina. Dan diangguki oleh Dokter Dina.
"Cia ikut Papa!" ucap Cia membuat semuanya memandang Cia sedang tatapan penuh selidik. "Cia nggak mau Papa berduaan dengan tante dokter" ucap Cia membuat mereka gemas. Karena Cia sedang cemburu kalau papanya dekat atau perhatian dengan wanita lain selain keluarga.
"Yaudah, Tapi Cia harus bawa bekal, ya. Kan sudah waktunya makan siang" ucap Rey membuat Cia mengangguk. Dan menyusul Cira ke dapur agar dibuatkan bekal.
Melihat tingkah Cia membuat Rey tersenyum "Tante maaf ya. Jika Cia tidak sopan. Karena dia akan begitu kalau merasa papanya akan berpindah sayang darinya" ucap Rey membuat dokter Dina mengangguk.
"Tidak apa-apa, Rey. Wajar saja karena Cia selalu disayang oleh Papa. Jadi dia merasa tersaingi" ucap Dokter Dina membuat mereka semua tersenyum.
Aku harap dia akan memberikan kasih sayang kepada Cia. Sinta apakah ini tujuanmu mempertemukan Aditama dengan Dina. Agar Cia bisa menjadi lebih baik dan dapat di atur. batin Oma dengan mata berkaca-kaca.
Mama kami sayang kamu. Dan posisi Mama tidak akan tergantikan. Mama akan tetap berada di hati kami. Apakah Mama yang mengirimkan Tante Dina kemari agar bisa membantu kami menjaga Cia. batin Andra merasa sesak.
Mama, jika memang mama mengirimkan Tante Dina untuk Cia dan papa. Rey minta tolong luluhkan hati Cia. Batin Rey.