Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
S2 #20


Namun, tanpa mereka sadari sepasang orang yang sejak tadi memperhatikan mereka menahan tawa. "Pa, mantu kita ternyata sama kaya kita juga ya?. Bar bar!" ucap Mamanya Chan yang diangguki oleh papanya Chan.


"Pantesan saja anak itu ngebet pengin kawin ternyata dia sama kayak papa" ucap Papanya Chan membuat mamanya menatap tajam kearah suaminya itu yang hanya menampilkan deretan gigi nya.


"Nikah papa. Memangnya papa yang langsung kawinin mama, tanpa nikah dulu" ucap Mamanya mengingat kejadian dulu. Membuat suaminya terkekeh.


"Yaa,,kalau tidak begitu, mama pasti nggak mau nikah dengan papa kan?. Pasti mama nikah dengan orang jongos itu!" kesal papa mengingat sosok masa lalu istrinya itu. Membuat istrinya tertawa.


"Tapi yang menang sekarang siapa?" tanya mama nya Chan membuat Papanya tersenyum bangga.


"Akulah" akui dirinya berbangga. "Ayo,,,kita kesana" ajak papa Chan yang diangguki oleh istrinya.


"Jambu nya mana, Fi?" tanya mama Chan yang saat ini sudah berada di antara mereka. Membuat mereka menatap tak percaya pasangan suami-istri tersebut.


Sedangkan Fiola yang mengusap pan*tatnya yang mencium tanah terasa sedikit ngilu. Mendengar itu Fiola menatap tak percaya pada mereka hingga matanya beberapa kali mengerjap tak percaya.


"Om, Tante?" ucap Fiola dengan pelan.


"Kalian mau ngerujak, ya?" tanya Papanya Chan ketika melihat jambu yang merah menggoda di atas alas tikar.


"Eh,,,ibu perkenalkan ini orang tuanya Chan" ucap Chan kikuk mendengar itu membuat ibunya Fiola mengangguk.


"Saya Narasi, Ibunya Fio,,," belum selesai bicara kedua orang tua Chan sudah duduk diatas tikar dan memakan jambu air dengan santai. Membuat mereka semua melongo melihat tingkah mereka.


Mereka yang ada disana terkejut dengan tingkah mereka. Pasalnya mereka berpakaian rapi dan formal sekarang duduk dengan santainya.


"Fiola sambalnya mana?" tanya mama Chan membuat mereka yang tadinya melongo sekarang malah tertawa. Sedangkan Chan merasa kesal dengan orang tuanya.


"Ini bukannya ngelamar malah ngerujak"gumam Chan yang dengan lesu berjalan kearah dimana orang tuanya duduk.


"Kamu ini, jadi gadis, kok nggak ada alim-alimnya. Itu kan ada orang tuanya nak Chan." omel ibu Fiola terhadap anaknya dengan menarik tangan anaknya kearahnya dan berbisik. "Kamu ini kalau mau ada tamu itu bilang-bilang, kan ibu bisa siapkan makanan atau nggak cemilan" bisiknya lagi membuat Fiola mengerutkan dahinya.


"Fiola tidak tau kalau mereka kesini. Lagian itu si Chan nggak ada bilang apa-apa, Bu" protes Fiola ketika disalahkan oleh ibunya.


"Sama aja, sekarang kamu kesana pamit untuk mandi" ucap Ibunya Fiola dengan mendorong anaknya.


"Punya anak gadis gini amat. Dulu kayaknys saya nggak begini" gumam ibunya Chan masuk kedalam rumah untuk mengambil sambal yang sudah dibuatnya.


"Ibu itu siapanya. Calon besan, ya?" tanya Tetangga Fiola ketika ibunya Fiola memasuki rumahnya.


"Bukanlah, mana mau mereka berbesanan dengan orang kecil. Mungkin mereka mau bahas sekolah yang dibangun itu. Mereka itu kan orang gedongan" ucap Ibunya Fiola membuat tetangganya mengangguk setuju. "Kamu lanjutin masaknya ya. Biar ibu bawa ini dulu kesana" ucap Ibunya Fiola membawa nampan yang berisi sambal rujak.


Namun, ketika ibunya Fiola berpapasan dengan anaknya "Pakai baju yang bagus dan sopan. Ada tamu mau pakai daster?" gerutu ibunya Fiola yang langsung dibalas dengusan oleh Fiola.


"Ini sambal rujaknya" ucap ibunya Fiola yang langsung diserbu mama dan papa nya Chan. Mereka dengan lahap memakan rujak buatan ibunya Fiola.


"Bu ini sambalnya enak sekali. Kapan-kapan boleh dong,,saya dibuatkan, calon besan" ucap Mamanya Chan membuat ibunya Fiola terkejut.


"Calon besan?" beo ibunya Fiola membuat Orang tua Chan mengangguk senang.


Brak...!!


Suara benda terjatuh mengalihkan pandangan mereka. Sedangkan orang itu langsung ngebirit masuk. Melihat hal itu membuat mereka melongo. "Bapak?!" ucap Ibunya Fiola.


"Ibu saya permisi dulu. Mau susul suami saya" pamit ibu Narasi mengejar suaminya.


"Bapak?" panggil ibu Narasi yang dihiraukan oleh suaminya.


Cklek


Fiola membuka kamarnya karena dirinya sudah selesai mandi dan dilihatnya bapaknya wajahnya ditekuk dan marah. "Bapak kenapa, Bu?" tanya Fiola yang merasa bingung dengan tingkah bapaknya.


"Nggak tau, pulang-pulang sudah begitu" ucap ibunya Fiola membuat Fiola menghela nafas.


"Bapak?. Ini Fio,,mau masuk boleh?" tanya Fiola yang mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Akhirnya bapak surat membuka kamarnya. Dan Fiola masuk bersamaan dengan ibunya. "Bapak kenapa?" tanya Fiola ketika sudah berada di depan pak Surat yang duduk di kursi.


"Bapak.....?" ucapnya dengan malu "Bapak terkejut karena mereka akan mengambil kamu dari bapak. Kan bapak belum siap!!" teriak Pak surat di akhir kalimatnya membuat ibu dan anak itu terkejut.


"Ish,,,jadi bapak takut anaknya diambil orang?" tanya ibu Fiola membuat pak Surat mengangguk malu yang menunduk. "Hadeh,,,gini ya pak. Kalaupun Fiola pergi jauh. Fiola akan tetap jadi anak kita. Dan Fiola juga pasti tidak akan meninggalkan kita" ucap ibu Narasi membuat pak surat sedikit tertegun.


Fiola hanya menatap kedua orang tuanya bingung dengan pembahasa mereka. "Kalian ngomongin apa sih?" tanya Fiola membuat orang tuanya menatap Fiola datar beberapa detiknya tersenyum aneh.


Melihat itu membuat Fiola ngeri. Dan memilih keluar dari kamar orang tuanya. Namun, ketika sudah sampai didepan rumahnya suara tawa dan teriakan terdengar nyaring.


"Ayo,,,papa, itu ambil jambu nya yang merah. Itu diatas papa!" ucap Mama Chan yang memerintah suaminya.


Sedangkan Chan dan yang lainnya hanya menatap dan tertawa melihat orang berpakaian rapi memanjat pohon jambu dengan santainya. "Mama ini bisanya ngomong aja. Papa lagi berusaha juga ini, ma!" teriak Papa Chan merasa terganggu dengan teriakan istrinya.


"Lagian ngapain, Tan?" ucap Fiola yang mendekati ke arah mereka. Semua orang menatap Fiola dengan tatapan yang berbeda ada yang kagum, ada juga yang terpana sampai matanya tak berkedip.


"Eh,,,??" ucap Fiola karena risih dengan tatapan mereka semua. Bagaimana tidak. Fiola memakai gambis dengan warna yang kalem. Menambah aura kecantikan dari Fiola.


"Mingkem!"ucap Mama Chan yang mengusap wajah anaknya Chan dengan wajah tanpa dosanya.


Membuat Chan tersadar "Cantik banget mantu mama" ucap mamanya Chan menghampiri Fiola dan mendudukkannya disamping Chan.


Fiola mengerjitkan dahinya karena bingung dengan ucapan mamanya Chan. "Mama!!. Papa nggak bisa turun!!" ucap Papa Chan yang masih berada diatas pohon jambu seperti koala dengan jas mahalnya.


"Loncat aja, pa!" ucap Mama Chan dengan santainya tidak perduli dengan suaminya.


Pandangan Chan tidak pernah lepas dari Fiola yang bersinar terang. "Cantik" gumam Chan dengan mata berbinar.


"Iya, Om juga ganteng" ucap salah satu anak kecil yang berada di samping Chan membuat Chan tersadar dan menatap anak kecil yang berusia 8 tahun dengan mata berkedip genit. Membuat Chan merinding.


Chan menjauhkan dirinya dari anak tersebut namun anak itu malah semakin mendekatkan diri. Dan Chan pun semakin mendekat dengan Fiola bahkan memegang lengan Fiola.