Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Perih, mas?


Sudah seminggu pernikahan Cira dan Rey. Berbagai tingkah dari keduanya mulai terlihat dari bau kentut hingga bau kotoran bekas proses pencernaan makanan pun di keluarkan.


Seperti hari ini dimana Cira dan Rey saling berebut kamar mandi untuk membuang hajatnya. Akibat kemarin memakan makan yang pedas.


Mereka seolah lupa kalau kamar mandi tidak hanya satu tapi ada banyak. Tetapi mereka lebih memilih untuk meributkan satu kamar mandi yang ada dikamar mereka.


"Rey, cepat!!" ucap Cira menggedor pintu kamar mandi. Dengan memegangi perutnya yang mulas.


Cira ketika sedang kesal atau ada masalah ia akan memanggil tanpa ada embel-embel 'Mas'. Dan kata itu akan muncul ketika mereka sedang dalam keadaan tenang tanpa ada badai atau bencana.


"Sabar, yang"ucap Rey tertahan akibat mengejan untuk mengeluarkan seonggok batu. Keras tapi lembut dan cair.


"Cepatan!!"ucap Cira lagi sudah tidak sabaran. Dengan terus menggedor pintunya.


Rey yang sudah pasrah akibat seonggok tersebut tidak mau keluar. Memilih menyudahi acara bertapanya.


"Awas!!!"ucap Cira ketika Rey sudah membuka pintunya dengan memegang perutnya. Dan menghalangi Cira.


"Panas, perih, Yang." adu Rey pada Cira ketika Cira sudah masuk kedalam kamar mandi. Namun tidak ditanggapi oleh Cira.


Untungnya hari ini adalah hari Minggu. Mereka kemarin merayakan malam Minggu dengan gaya memakan makanan pedas. Hingga terjadilah perang didalam perut mereka.


Rey sedang membaluri perutnya dengan minyak telon bayi. Untuk mengurangi rasa mulasnya.


Cira keluar kamar mandi dengan wajah lesu dan lelah "Menang, yang?" tanya Rey.


"Menang, mas. Tiga nol. Nilai nya"ucap Cira seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang samping Rey.


"Sini, perutnya. Biar nggak mules lagi" ucap Rey membuat Cira membuka bajunya dan Rey membaluri perut Cira.


"Mas, anus ku panas dan perih"ucap Cira membuat Rey sedikit terkikik karena raut wajah Cira yang lucu.


"Kamu enak udah keluar. Aku belum, yang. Tadi nanggung. Eh, malah masuk lagi. Mending kalau masuknya ke Miss Vivi kamu kan enak, yang." ucap Rey dengan sedikit mesum membuat Cira menimpuk Rey dengan bantal.


Tangan Rey terus mengelus perut Cira. Merambat makin naik. Hingga mengelus ke hal yang enak. "Mas tangannya!"ucap Cira ketika tangan Rey sudah bermain dengan pu*tingnya. Dan memukul tangan Rey.


Ini orang udah tau lagi krisis. Bisa banget curi kesempatan batin Cira.


"Kan sudah hampir seminggu, Yang. Masa iya kamu masih bendera merah juga?" ucap Rey dengan wajah memelas lucu.


Memang dihari ke 3 pernikahannya. Cira kedatangan tamu tak diundang yang membuat Rey bermain solo di kamar mandi.


Dan masalah Gea masih terus berlanjut. Papi nya tidak tau dimana anaknya berada. Karena Papa Aditama menyembunyikan Gea di daerah yang terpencil dan mengganti identitas Gea.


"Ini keluarnya masih sedikit-sedikit, mas. Besok kayaknya udah bersih"ucap Cira seolah bagaikan cahaya matahari yang menyinari bumi. Membuat Rey tersenyum sumringah.


"Oke, deh. Tapi..." ucap Rey terpotong akibat perutnya kembali mulas membuatnya berlari masuk kamar mandi. Cira tertawa melihat tinggal Rey.


Mau mesum kena batunya kan batin Cira


"Huh,,,lega."ucapnya sembari memegang perutnya. Dan menghampiri Cira yang sedang duduk di sofa mengaduk teh.


"Perih,mas?"tanya Cira membuat Rey mengangguk. Dan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan berbantalkan paha Cira.


Rey memeluk pinggang Cira sembari membenamkan wajahnya di perut Cira "Panas, yang. Besok-besok aku nggak mau lagi ikut challenge itu. Lemes rasanya"ucap Rey dengan mencium perut Cira.


"Kapan isinya ini?" gumam Rey yang terus menciumi perut Cira di balik baju piyamanya. Dan Cira mengelus rambut Rey.


"Mas, aku mau minum teh. Nanti kamu kena. Panas, lho ini mas."ucap Cira Membuat Rey menatapnya dan kembali duduk.


"Ini mas"ucap Cira seraya memberika teh tersebut kepada Rey.


Mereka berdua menikmati malam bersama dengan teh yang tersaji dan perut yang terasa melilit.


Ngantuk pun melanda mereka membuat mereka tertidur di sofa dengan saling memeluk. Sempit. Tapi terasa nyaman.


Cit...cit...cit...


Suara cicitan burung terdengar membuat dua sejoli terbangun.


"Mas, bangun kamu nggak kerja"ucap Cira seraya menggeliat untuk memulihkan otot-otot nya.


"Lemes banget, yang"ucap Rey seraya menelusup kan wajahnya di dada Cira.


"Ini hari Senin, mas. Kamu harus kerja"ucap Cira lagi yang kini sudah melepaskan diri dari rengkuhan Rey di sofa.


Ya Tuhan, imut banget seperti kucing batin Cira gemas.


"Tapi, jadwal kamu banyak, mas." ucap Cira dengan membelai wajah Rey.


"Lemes banget, yang."ucap Rey


"Nanti siang aku bawa kan kue, gimana?" rayu Cira membuat Rey mengangguk. Dan mengulurkan tanga nya agar Cira menarik tubuhnya.


Cira yang tau kode dari Rey segera menariknya. Namun, bukan Rey namanya jika tidak memiliki nilai kejahilan di setiap hari nya.


Rey menarik Cira dengan kuat sehingga Cira terjatuh diatas tubuhnya. "Mas!!"pekik Cira mengusap hidungnya akibat berbenturan dengan dada bidang Rey.


"Syarat kedua" ucap Rey membuat Cira kesal. Karena sejak saat itu Rey terus mengerjainya dengan syarat tersebut.


Pernah satu hari Rey meminta dirinya untuk menciumnya setiap sejam sekali. Walau itu diluar rumah atau pun didalam rumah.


Seminggu mengenal Rey. Bagaikan angin yang berhembus. Kadang hembusannya dingin terkadang juga panas. Tetapi tetap menyejukan.


Cira yang sudah biasa pun mencium bibir Rey. Karena kalau ia mencium yang pipinya maka akan bertambah menjadi mencium dibibir dua kali.


Rey masih dingin ketika diluar rumah, Namun, akan hangat ketika bersama pawangnya.


"Udah, ayo buruan. Dari tadi Chan sudah meneleponku katanya hari ini ada meeting"ucap Cira membuat Rey segera bangkit dan kembali mencium bibir Cira.


"Baik, sayang"ucapnya ngebirit ke dalam kamar mandi.


Baru mau menyiapkan baju untuk Rey suara teriakan dari dalam kamar mandi terdengar membuat Cira hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Ada apa, yang?" ucap Cira membuat Rey yang sedang terlanjang hanya terkekeh saja.


"Ini berdiri"ucap Rey dengan menunjukan di bawah pangkal pahanya.


Cira yang sudah biasa akan tingkah Rey hanya mendengus saja. "Terus mau di apain?. Dipotong atau di masak?"ucap Cira dengan sedikit nada kesal.


"Dimasak, yang"ucap Rey senang.


Dimasak pakai punya kamu biar cepat matang batin Rey.


Iya. Dimasak pakai air panas biar melepuh batin Cira kesal.


"Ini" ucap Cira seraya menyerahkan sabun batangan pada Rey membuat senyum Rey luntur.


"Yah,,kok sabun yang?. Pakai punya kamu aja"ucap Rey membuat Cira keluar dari kamar mandi.


"Yang. Sayang!!"panggil Rey. Namun tidak dihiraukan.


Ini seperti merawat baby Monster batin Cira. Menyiapkan baju yang akan dipakai Rey. Kemudian ke dapur menyiapkan sarapan untuk mereka.


Cira selama seminggu ini masih pengangguran. Akibat ia diberhentikan paksa oleh Papanya. Sehingga rencananya ia akan membuka toko kue bersama Wati.


"Yang, dasi ku mana?!!"Teriak Rey dari kamar.


Cira mengeluarkan nafasnya kasar. Ada lagi yang hilang batin Cira.


Cira masuk kedalam kamar dan melihat Rey sedang membongkar lemari. Membuat Cira murka.


"Mas, bisa tidak kalau nyari barang itu yang rapi. Itu dasi kamu di ranjang, mas!" ucap Cira dengan berjengking pinggang menatap Rey tajam.


"Galak amat sih" gumam Rey seraya mengambil dasi dan memasang dilehernya.


"Ayo, sarapan"ajak Cira yang diikuti oleh Rey dari belakang. Sudah persis seperti anak ayam yang mengikuti dari belakang kemana induknya pergi.


Mereka duduk di meja makan yang sudah tersaji menu sarapan. Menu hari ini adalah Nasi goreng karena itu lebih mudah untuk dibuat dalam waktu yang lumayan singkat. Akibat Rey tidak bisa sarapan tanpa nasi.


"Mas, nanti aku mau pergi sama Wati, untuk mencari tempat toko kue" ucap Cira membuat Rey mengangguk.


"Kamu sih, yang. Nggak mau pakai toko dari Papa aja. Padahal tempatnya strategis,lho" ucap Rey membuat Cira menggeleng.


"Tapi disana terlalu jauh, mas"ucap Cira.


"Yaudah, nanti aku coba suruh Chan mencari toko yang dekat dari kantor"ucap Rey membuat Cira mengangguk.


Mereka pun sudah selesai makan dan Rey juga sudah berangkat ke kantor. Tinggallah Cira dengan kesibukannya dirumah berberes akibat kelakuan Rey yang mengacak-acak lemari.