Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
S2 #15


Didalam mobil Chan ikut bersama mobil orang tuanya karena mobilnya yang sudah lama tidak terurus harus mogok.


"Kamu kapan berniat untuk nikahnya sih?" tanya Mama Chan membuat Chan menjadi malas.


"Lagi proses Ma. Tunggu aja" ucap Chan membuat Mamanya menghela nafas.


"Kamu itu persis banget sih, sama papa mu. Yang sulit banget disuruh nikah padahal usia sudah matang dan juga sudah mapan. Buat apa mapan tapi tidak memiliki istri. Percuma tau nggak" celoteh mamanya yang memandang kearah luar jendela. Sementara papanya hanya menghela nafas saja.


"Tapi aku menikahi juga kan dengan mu?" goda papanya membuat mamanya memandang papanya tajam.


"Kata Mama, kamu juga kalau nggak dipaksa nggak bakalan mau nikah kan. Kamu dengan mudahnya langsung ngajak aku nikah. Untung kamu ganteng kalau nggak mana mau aku sama kamu, yang notabenenya aku tidak kenal" jelas mamanya membuat Chan dan Papanya terkekeh.


"Iya,,daripada nanti diambil orang lebih baik aku kawinin dulu, baru nikah" terangnya yang justru membuat mamanya Chan pipinya memerah. Sementara Chan yang melihat itu tertawa senang.


"Owh,,,jadi papa kawinin mama dulu baru nikah gitu?" tanya Chan membuat sang papa mengangguk dengan bangga.


"Kamu jangan tiru sifat bapakmu itu. Kalau kamu pengin serius langsung datangi keluarga nya" terang mamanya membuat mereka ayah dan anak mengangguk. "Eh,,,ibu guru yang dipilihkan Cia, kamu udah ketemu?" tanya Mamanya yang baru mengingat hal tersebut. Ketika tadi mengobrol dengan Cia.


"Nggak, ma. Soalnya kalau mau ketemu ada aja penghalangnya" terang Chan membuat mamanya mengangguk.


"Kenapa tidak cari aja asal usulnya kan kamu banyak punya detektif?. Nanti kalau udah ketemu kamu langsung ajak kawin!" ucap Papa Chan membuat sebuah cubitan panas mendarat di lengannya.


"Kamu ngajarin anak yang benar, dong. Masa anak mau dibikin menjadi orang jahat" kesal mama Chan terhadap suaminya.


"Nggak mau, pa. Biar Tuhan aja yang mendekatkan. Lagian kalau jodoh dan atas izin Tuhan pasti dipertemukan dengan jalanya tersendiri" ucap Chan dengan dewasa membuat orang tuanya yang justru tertawa mendengar ucapan dari anaknya.


"Ma, tanda-tanda orang sudah putus asa, ya begini. Ngomongnya kerohanian" ucap Papanya membuat Chan mendengus kesal. Dan orang tua itu malah menertawakan anaknya.


Tanpa terasa pagi menyerang bukan pagi dengan matahari terbit tapi ini pagi subuh, Chan harus terbangun akibat dari suara fedora. pintu yang terus meneriaki namanya. "Chan bangun!!" teriak sang ratu singa dari balik pintu.


Chan terbangun dan membuka pintu kamar dengan mata meremnya membuat sang ratu nyerocos ngomel "Ada apa, ma?" tanya Chan dengan suara khas baru bangun.


"Mandi cepat, bos kamu sudah nungguin di bawah" ucap Mamanya membuat Chan menguap.


"Ma,,,masih pagi buta ini. Mana ada bos bangun jam segini terus ke rumah asistennya" ucap Chan yang ingin menutup pintu kamarnya. "Aw,,,Mama sakit" ucap Chan yang telinga dijewer oleh mamanya membuat Chan mengaduh dan mengusap telinganya yang terasa panas membuat matanya terbuka.


"Makanya melek. Noh, lihat bos kamu sama anaknya datang" ucap Mama Chan yang membawa anaknya untuk melihat kearah bawah.


Chan yang melihat bosnya sedang duduk di sofa tamu hanya nyengir dan kemudian turun kebawah. "Ada apa, Rey?" tanya Chan yang sudah duduk didepan Rey.


"Ini Cia mau kesekolah dianterin dengan Lo" ucap Rey membuat Cia tersenyum senang ke arah Chan.


Sementara Chan melihat senyum Cia dengan ngeri, karena dirinya merasa akan ada badai hari ini.


"Sepagi ini, bro?" tanya. Chan membuat Rey menggeleng.


"Kamu ini, ya. Kalau jam segini kesekolah, mau sekolah bareng siapa?, hantu." ucap Mama Chan yang membawa teh hangat untuk Rey dan Cia.


Hingga waktunya telah tiba dimana Chan mengantarkan Cia kesekolah dengan wajah yang sejak tadi menguap karena terbangun dipl pagi buta.


"Om Chan ngantuk ya?" tanya Cia membuat Chan mengangguk. "Maaf ya, Om. Pasti gara-gara Cia, Om jadi tidurnya terganggu" ucap Cia menunduk dan mere*mas roknya membuat Chan gemas dan mengusap kepala Cia.


"Bukan karena Cia, kok. Om kemarin malam tidur larut karena main game setelah pulang dari acara rumahnya om Beja" terang Chan membuat Cia menatap dengan senyum yang lebar.


"Bu guru cantik!!!" seru Cia membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepala supaya bisa melihat sosok ibu guru yang dipanggilnya.


Mendengar itu membuat Chan dengan cepat membanting stir nya karena terkejut dengan ulah Cia. Hingga dia hampir menabrak guru yang dipanggil Cia tersebut.


Semua orang yang melihat hal tersebut kaget dan melongo. Bahkan orang yang dipanggil Cia syok dan mematung di pinggir jalan dengan nafas seolah hilang akibat melihat mobil yang hampir menabraknya.


Jarak mobil dengan tubuh ibu guru itu hanya beberapa senti saja. "Om!!" pekik Cia karena takut. Semua orang tersadar dan langsung mengerumuni Ibu guru tersebut berserta mobil yang dibawa Chan.


"Pak, mohon keluar" ucap seorang bapak-bapak yang mengetok kaca mobil Chan dan membuat Chan yang terbengong dan mengatur nafasnya tersadar. Kemudian membuka pintu mobilnya dan langsung menghampiri ibu guru Cia.


Sedangkan Cia sudah turun dan melihat ibu gurunya "Ibu guru cantik ini minum airnya dulu" ucap Cia yang memberikan air minumnya kepada gurunya yang langsung di minum sampai habis.


"Pak, lain kali kalau bawa mobil itu hati-hati. Untung saja mbaknya ini tidak tertabrak" terang salah satu ibu-ibu yang mengerumuni Ibu guru tersebut.


Chan meminta maaf atas kelalaiannya dan masuk ke kerumunan untuk melihat si korban. Namun, sebelum masuk Chan menyuruh kerumunan untuk bubar karena ia akan bertanggung jawab dengan membawa nya ke rumah sakit.


"Maaf, saya tadi tidak sengaja karena tiba-tiba saja mendengar ponakan saya teriak" ucap Chan memandang gadis yang sedang menunduk mengatur nafasnya.


"Ibu guru maafin, Cia. Kita ke rumah sakit saja." terang Cia yang berada di samping ibu gurunya.


Ibu guru itu mendongak dan menatap Cia kemudian mengulas senyum manisnya "Cia lain kali jangan seperti itu lagi, ya. Itu sangat berbahaya. Dan bisa membuat orang terluka, mengerti?" ucap ibu guru tersebut membuat Cia mengangguk dan kemudian memeluk tubuh ibu guru tersebut.


Chan yang sejak tadi hanya menyaksikannya merasa kepo dengan wajah ibu guru itu apalagi suaranya sangat lembut membuat jiwa Chan berkeliling merasakan ketidak asingan dalam dirinya.


"Mari saya bantu untuk berdiri"ucap Chan membuat Ibu guru mengalihkan pandangannya kearah Chan.


Mereka berdua terkejut dengan situasi dan kondisi yang mempertemukan mereka. Dari Chan yang tanpa sengaja menabrak bapaknya dan sekarang dengan tidak sengaja dirinya yang hampir di tabrak. Rencana Tuhan yang sulit ditembak.


Melihat keduanya terdiam dengan saling pandang membuat Cia juga ikut menatap keduanya dengan senyum yang merekah. Namun, Cia merasa sedih ketika ibu gurunya yang lebih dulu mengalihkan pandangan kearah lain.


"Ayah Chan, pelan-pelan ya?." ucap Cia ketika Chan mengulurkan tangan untuk menuntun ibu guru Cia itu masuk kedalam mobil.


Namun, dalam pikiran ibu guru Cia itu sedang dilanda hawa kebingungan karena ucapan Cia yang menyebut Chan 'Ayah'.


Setelah masuk kedalam mobil. Chan melajukan mobilnya dan suasana didalam mobil terasa canggung. "Tidak perlu ke rumah sakit. Kita langsung aja kesekolah" ucap Ibu guru memecahkan kesunyian dan kecanggungan itu membuat Chan melirik kearah belakang dari kata spion.


"Ibu guru harus diperiksa dulu. Cia takut ada yang luka" ucap Cia yang menatap ibu gurunya sedih.


Cia duduk di belakang menemani ibu gurunya sementara Chan didepan layaknya seorang supir. Supir genit yang sering curi lirik kearah belakang.