
Sudah berlalu hari dimana Fiola diajak kerumahnya oleh Chan. Setelah hari itu baik Chan maupun Fiola tidak pernah bertemu bahkan untuk membahasa proyek sekolahnya pun tidak.
Fiola tidak terlalu menanggapi perkataan Chan yang katanya akan datang bersama keluarga nya. Karena di dalam diri Fiola menganggap Chan itu hanya bercanda.
Dan besok adalah hari Minggu, dan karena hari ini libur Fiola membantu orang tuanya mengurus kebun mereka yang terletak di belakang rumahnya. Iya, hanya kebun yang digunakan untuk menanam sayur dan buah untuk keperluan sendiri.
"Fi,,,kamu kapan nikahnya?" tanya Mbak sepupu Fiola. Siti.
"Boro-boro nikah, ti. Orang pacar aja nggak punya. Nyesel bapak dia sekolahin tinggi-tinggi tapi jomblo. Padahal bapak sudah pengin gendong cucu" serobot bapak Surat dengan wajah jengkelnya menatap Fiola.
"Yeh,,,bapak. Bukannya bersyukur anaknya dapat di kuliahin dan lulus dengan tepat waktu. Masalah jodoh sudah ada ngatur kali, pak. Tunggu aja" ucap ibu nya Fiola membuat bapaknya tertawa melihat wajah Fiola yang kesal dengan bapaknya.
"Ibu sebenarnya juga pengen dapat cucu kan?. Fiola ini sudah 23 tahun Bu. Dan di usia segini bapak sudah membawa pacar bapak ke rumah Bu" ucap Pak surat yang keceplosan membuat Ibu Fiola menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Sedangkan Pak surat yang ditatap begitu hanya menggaruk tengkuknya. Dan hal itu membuat Fiola dan sepupunya tertawa ngakak melihat tingkah sepasang suami istri tersebut.
"Beda zaman kali pak" timpal Siti. Fiola sedang asik memakan pisang gorengnya. Dengan menonton ayah, ibu dan sepupunya berdebat.
"Alah,,,zaman tidak pernah berubah cuma manusia aja yang berubah. Buktinya pakaian aja yang dulu muncul lagi, cuma modelnya aja yang berbeda" terang Bapak Surat tak mau kalah dengan ponakannya.
Namun, Siti hendak membalasnya sudah diserobot oleh Fiola "Bapak kalau ajak debat tidak akan kalah, ti. Karena dia dulunya sering ikut lomba debat makanya suasana debatnya ngikut sampai sekarang" ucap Fiola membuat bapaknya tersenyum bangga sedangkan istrinya hanya menampilkan wajah bosannya. Karena suaminya itu selalu berbangga diri karena pernah ikut lomba debat antar kecamatan waktu SMA.
"Fi,,,kata anak-anak nanti sore kita ada kegiatan bersih-bersih wilayah, dan katanya lagi bakalan ada tetangga baru yang ikut. Dengar-dengar katanya ganteng, lho, fi" ucap Siti membuat Fiola membelalakkan matanya.
"Bagus, tu, fi. Kamu ikutan saja. Siapa tau disana kamu dapat suami" ucap Bapak surat semangat.
"Bapak,,,ngebet banget Fiola punya suami. Bapak emangnya nggak sedih nanti ditinggal Fiola?. Terus nanti siapa yang bikinin bapak gorengan kalau Fiola nikah?" ucap Fiola dengan nada menggoda membuat Pak Surat tertawa.
"Kan masih ada ibuk mu yang setia menemani bapak dan menuruti keinginan bapak" ucap Pla surat dengan menoel dagu istrinya membuat mereka semua tertawa.
"Alah,,,palingan bapakmu bakalan nangis kejer ditinggal sama kamu, Fi" ucap Ibunya Fiola membuat mereka semua tertawa. Namun, tidak dengan pak Surat karena merasa direndahkan oleh istrinya.
"Kan ibuk bisa bujuk bapak di kasur" ucap pak Surat tanda filter membuat sebuah cubitan melayang dan membuat pak surat meringis. Sedangkan Fiola dan Siti tertawa puas.
"Udah,,,ah. Ayo kerja lagi. Ini biar cepat selesai nya!" perintah Ibu Fiola membuat mereka semua mengangguk dan melakukan pekerjaan masing-masing.
*****
Tanpa terasa pagi ini adalah hari libur yang keluarga Fiola lakukan untuk membersihkan rumah. Sedangkan bapak surat sebelum matahari terbit sudah ke sawah. Sementara dirumah menyisakan Fiola dan ibunya serta jangan lupakan Siti dan anak tetangga yang entah mengapa hari ini nempel banget dengan Fiola.
"mamamamammmm" ucap anak itu yang menyuapi Fiola empeng di tangannya.
Sekarang Fiola sedang duduk di depan rumah dengan menjaga anak tentangnya. Bersama para bocil di kompleknya.
"Kamu aja yang makan, ya?" ucap Fiola menyerahkan kembali empeng kepada anak tersebut.
"Mbak Ola,,, ini gimanain?" tanya bocil yang sedang bermain karet. Namun tangannya justru terlilit karet karena salah membuat pola.
"Seharusnya lepasin yang ini" ucap Fiola dengan membetulkan pola bocil tersebut.
Hingga terjadilah pertengkaran antara bocil yang memperebutkan sebuah boneka. Melihat itu membuat Fiola ingin berteriak. Namun, dia menarik nafas untuk menenangkan dirinya.
"Ada yang mau jambu, nggak?" ucap Fiola membuat semua anak-anak tersebut diam dan bersorak mau. Bahkan akan tetangga yang nempel terhadap Fiola berkata mau dengan ucapannya yang lucu.
"Baiklah biar Mbak Ola naik ke pohon kalian tangkep di bawah, ya?" ucap Fiola lagi membuat anak-anak semakin semangat.
Fiola memulai memanjat pohon jambu air. Setelah menitipkan anak kecil tersebut kepada Siti.
"Tangkep!!" seru Fiola dengan melempar jambu air nya membuat anak-anak yang menangkap nya panik sekaligus senang.
"Itu Fi,,di atas mu sudah merah" ucap Siti membuat Fiola menatap ke atasnya dan melihat buah yang ditunjukan.
"Permisi" ucap seseorang didepan pagar rumah, membuat Fiola menatap orang itu. Namun, tidak dipedulikan. Karena dirinya menganggap itu seles obat yang berpakaian rapi.
"Wah,,,,Om keren banget" seru anak-anak mengerumuni Chan. Dengan tatapan yang penuh kekaguman.
Chan yang dikerumuni merasa kaget apalagi anak-anak nya banyak. "Om mau ketemu siapa?" tanya salah satu anak yang curiga dengan tingkah Chan. "Om penculik ya?" ucap anak itu lagi membuat seluruh anak-anak menjauh dari Chan.
"Om bukan penculik. Om cuma mau ketemu Fiola" ucap Chan. Membuat anak-anak itu mengangguk dan langsung menyeret Chan kesebuah pohon jambu air.
Mendengar keributan yang ada didepan rumahnya membuat ibunya Fiola dan tetangga Fiola keluar dari rumah. Dan betapa terkejutnya mereka melihat Chan datang ke rumah. "Eh,,,ada nak Chan. Ada janji dengan Fiola, ya?" tanya Ibunya Fiola yang menghampiri Chan. Dan Chan hanya bisa mengangguk.
"Anak-anak kalian tau dimana mbak Ola, kalian?" tanya ibu nya Fiola kepada para bocil. Yang kini tangan mereka sudah mengarah ke atas pohon jambu.
"Anak-anak kalian tau dimana mbak Ola, kalian?" tanya ibu nya Fiola kepada para bocil. Yang kini tangan mereka sudah mengarah ke atas pohon jambu.
Mereka semua mengikuti arah tangan para bocil dan betapa terkejutnya, Chan dan ibunya Fiola melihat Fiola naik ke atas pohon jambu yang besar.
"Fiola!!" teriak Ibu nya membuat Fiola menatap kebawah dan betapa terkejutnya Fiola ketika matanya bertemu dengan mata yang kini menatap Fiola dengan wajah cengo nya. "Turun!!" teriak ibunya Fiola membuat Fiola dengan pasrah dan malu turun dari pohon. Namun, sebelum nyampai pada pijakan kaki nya terpeleset hingga membuat dirinya terjatuh.
Bruk....
"Haduh!" ucap Fiola ketika pantatnya sudah mendarat mulut diatas tanah yang di hiasi oleh rumput-rumputan.
"Astaga Fiola!!" omel mama nya Fiola yang geram dengan tingkah anaknya itu. Namun, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka nahan tawanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...Hai....Gyus... sebenarnya part ini untuk besok, tapi Author salah pencet eh,,,malah terkirim nya sekarang....
...Panik? Iya panik lah. Modal Update besok malah terkirim hari ini. Tapi tidak apalah anggap aja ngasih bonus ke kalian. Jadi kalian juga kasih bonus ya...Apalagi itu Fiolanya pakai gaya monyet 😅....
.
.
.
.
.
.Terima kasih 💜💜💜💜