Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
S2 #13


Terdengar sorak ria yang riuh membuat tidur Chan terganggu. Membuatnya menutup kepalanya dengan bantal Cia. Namun sebuah suara lembut tertangkap di indera pendengaran nya. "Aish,,,,gue sudah gila ya. Sampai suara nya bisa gue dengar di tempat ini" gumam Chan terduduk.


Chan menggeliatkan badannya dan menguap, kemudian keluar dari tenda "Akh!!!!" teriak seseorang yang berjalan dibelakang Chan dengan jemari menutup seluruh wajahnya.


Mendengar itu membuat Chan dengan cepat menariknya masuk kedalam tendanya. Untungnya tidak ada orang selain mereka disana.


Chan membekap mulut orang itu membuat orang itu memberontak dan ketika di rasa orang itu tenang Chan kemudian melepas bekapannya. "Ssttt!" ucap Chan yang menoleh sekilas orang itu kemudian menyembulkan kepalanya melihat sekitar. Ketika sudah aman Chan langsung menutup tendanya.


"Kamu!!" ucap mereka bersamaan ketika pandangan mereka bertemu. Chan terkejut sampai dia menjauh dari posisinya.


Begitupun orang itu yang beberapa saat kemudian menutup matanya kembali "Pakai bajunya!" perintah orang itu membuat Chan yang tadi termangu menjadi gelagapan mencari baju yang kemarin dia lepas karena kepanasan.


"Bajunya ada disamping kamu" ucap Chan membuat orang itu mengambil baju Chan lalu melemparkannya kearah Chan.


"Sudah?" tanya orang itu membuat Chan berdehem selain untuk menjawab itu juga sebagai tanda dirinya menenangkan hatinya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Chan yang kini mereka sudah duduk dengan nyaman walau masih ada jarak yang jauh bagaikan sudut dalam bangun ruang kubus.


"Mas Chan ngapain disini?" tanya balik orang itu membuat Chan menatapnya tajam.


"Jangan jawab pertanyaan saya dengan pertanyaan, Fio" ucap Chan pada gadis itu, Iya benar. Itu adalah Fiola.


"Aku lagi refreshing dengan anak-anak" ucap Fiola membuat Chan mengerjitkan dahinya. "Kalau mas sendiri?" tanya Fiola balik yang justru membuat ingatan Chan kembali tentang mengapa dia berada disini.


Dengan cepat otak di dalam kepala Chan mencerna jawaban "Lagi kemah" ucap Chan dengan cepat karena reflek mulutnya.


Fiola hanya manggut-manggut saja mendengar nya. "Aku keluar dulu, ya mas?" tanya Fiola yang hendak bangkit namun di cekal oleh Chan dan ditarik nya kedalam pelukannya.


Chan yang masih setengah sadar karena melihat Fiola ada disini membuatnya ingin memeluknya. Dia menganggap ini adalah mimpi.


Fiola terpaku karena Chan memeluknya dengan posisi yang tidak enak karena Chan membawanya kedalam pangkuannya. Fiola pun memberontak dengan menjauhkan tubuh Chan dengan dirinya. "Sebentar saja. Aku tidak mau terbangun dari mimpi indah ini" ucap Chan di ceruk leher Fiola.


Dia ngigo ya? batin Fiola karena ia merasa ini adalah bukan mimpi.


Mendapatkan perlakukan seperti itu membuat tubuh Fiola meremang merasakan hembusan nafas dari Chan "Mas??" ucap Fiola lembut dan Chan melepaskan pelukannya.


Cup


Chan mencium sekilas pipi Fiola. Membuat Fiola terpaku dan dengan cepat mendorong tubuh Chan yang memejamkan matanya.


Setelah terlepas Fiola dengan cepat keluar dari tenda tersebut dan menghampiri gerombolan anak-anak. Fiola sangat kesal dengan perbuatan Chan kepadanya hingga membuat dirinya tidak bisa mengungkapkan rasa kesalnya.


"Ish,,,,,!!" desis Fiola dijalan karena terlalu kesal.


"Ibu guru cantik!!" seru Cia yang melihat ibu gurunya datang. Membuat semua anak-anak dan gurunya menatap kearah Fiola.


Dengan cepat Fiola mengubah raut wajah kesalnya menjadi bahagia ketika berdekatan dengan anak-anak. "Ibu izin pinjam ibu nya dulu, ya?" ucap Fiola membuat anak-anak mengiyakan dengan serentak.


Fiola mengajak guru tersebut menjauh dari kerumunan anak-anak "Mbak saya mau pulang duluan, ya?. Badan saya lagi tidak enakan" ucap Fiola membuat guru tersebut memegang kening Fiola yang sedikit terasa hangat.


"Kamu pulangnya naik apa?" tanya ibu guru itu membuat Fiola terperangah.


"Naik mobil sama ponakan" ucapnya membuat ibu guru itu mengangguk lalu kembali ke kumpulan anak-anak.


"Ayah Chan bangun!!!"ucap Cia dengan menggoyangkan lengan Chan dengan cepat. Lalu mencubit pipinya membuat Chan tersadar.


Chan menggeliatkan tubuhnya dan menguap lebar tanpa ditutup "Ayo bangun ayah Chan. Sekarang kita akan menanamkan pohon setelah nya kita akan pulang" ucap Cia membuat Chan terduduk.


Chan lupa dengan hal yang dilakukan nya tadi. Mungkin karena terlalu indah dan bahagia membuatnya lupa akan kegiatan nya tadi.


"Iya, ayah Chan bangun." ucapnya kemudian mengambil handuk dan pergi ketempat cuci muka.


Setelah beberapa menit mereka semua kini sudah berkumpul untuk menanam pohon yang dibawa oleh Chan. "Mohon bapak-bapak nanti bergilir mencangkul untuk satu pohonnya ya" ucap guru itu membuat Chan menghela nafasnya.


Semua sudah menanam pohonnya dan sekarang giliran Chan yang harus mencangkul tanah agar bisa menanam pohon. Namun, baru memegangnya aja saja sudah dihiasi gelak tawa oleh orang-orang karena melihat gaya Chan yang lucu melihat Chan yang gagah harus memegang cangkul.


"Pak Chan, nggak cocok banget pegang cangkul." ucap salah satu bapak membuat Chan mendengus kesal.


"Memang ya, setiap orang punya kharisma nya masing-masing. Seperti pak Chan yang tidak cocok menyangkul tapi dia lebih cocok untuk memang pulpen. Kalau kita mah,,cuma unggas di comberan" ucap salah satu bapak yang membuat semua nya tertawa.


Chan masih berusaha mencangkul namun tidak bisa hingga membuat salah satu bapak geram yang melihat gaya Chan mencangkul tidak selesai-selesai.


"Pak Chan biar saya saja. Kalau pak Chan yang terus nyangkul bisa seminggu kita disini" ucap Bapak tersebut membuat Chan tersenyum kikuk karena malu.


Akhirnya kegiatan mereka selesai dan sekarang mereka sedang bersiap untuk pulang dengan membereskan perlengkapan mereka.


Didalam bis seperti biasa Chan lebih memilih tidur. Namun, ketika memejamkan matanya. Bayangan ketika dirinya melihat sosok pujaan hati mengganggunya. Berbagai persepsi muncul dalam benak Chan tentang nyata tidak nya hal yang dilakukan nya.


Namun, dibalik itu Chan bersyukur jika itu nyata ataupun mimpi. Chan tidak memusingkan hal tersebut dan memilih tidur dengan senyum terpatri di wajah yang berseri.


"Om? jangan senyum-senyum begitu, Cia takut" bisik Cia membuat Chan membuka matanya dan menatap Cia dengan bingung.


"Emangnya kenapa?" tanya Chan membuat Cia kembali berbisik.


"Soalnya kata temen Cia. Kalau habis berpergian itu sering ada yang ngikutin" bisik Cia membuat Chan berdecak.


"Jangan berpikiran aneh, kita berdoa dulu supaya selamat sampai rumah" ucap Chan yang membuat Cia mengangguk dan mereka berdoa bersama.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Chan dan Cia sudah sampai dirumah. Chan dan Cia langsung merebahkan dirinya atas karpet bulu yang ada di ruang keluarga.


Melihat itu membuat Cira kasihan lalu menyiapkan makanan kesukaan mereka. Sedangkan si kembar dan Rey sedang di kantor karena Cira hari ini ingin bebas dari mengurus si kembar yang banyak tingkah.


"Kalian mandi dulu. Setelah nya baru makan" ucap Cira membuat mereka dengan malas bangkit menuju kamar mereka untuk mandi.


"Hallo, mas?" ucap Cira karena suaminya menelpon.


"Iya, mereka sudah pulang. Mas nggak pulang untuk makan siang?" tanya Cia pada sebrang yang sedang berusaha mengurus baby Gio yang jahil.


"Iya, mas pulang. Ini lagi beresin perlengkapan kembar" ucap Rey membuat Cira terkikik karena ia tau bagaimana repotnya suaminya dalam membereskan perlengkapan kedua bayi itu.


"Mommy masak, apa?" tanya Cia yang sudah selesai mandi.


Mendengar itu membuat Cira terlontar kaget "Ini mommy bikin makanan kesukaan kamu" ucap Cira membuat Cia senang.