
Merasa Chan mendekat bahkan sudah memegang tangannya membuat Fiola terkejut. Apalagi ketika melihat tatapan Chan yang takut terhadap bocah centil itu. Membuat Fiola menahan tawa.
Brugggg
Mendengar itu membuat mereka menatap orang yang sedang meringis. Kemudian beberapa menit nya tawa terdengar nyaring.
"Papa ngapain disana?" ucap mamanya Chan menghampiri suaminya yang sedang terduduk ganteng.
"Lagi makan rumput!" jawab sinis Papa nya Chan. Dan terbangun dengan bantuan istrinya dan membersihkan tubuhnya.
"Papa kita itu lagi proses lamaran. Ngapain malah manjat pohon segala" omel istrinya yang memapah suaminya untuk duduk di atas tikar.
"Sendirinya yang nyuruh naik. Dan sekarang sudah jatuh malah di omelin" gerutu papanya Chan dengan melongarkan kerah kemeja nya.
"Ini, Om. Minum dulu" ucap Fiola menyerahkan air kepada papa Chan.
Sedangkan istrinya malah asik memakan rujak tanpa perduli dengan kondisi suaminya. "Ini, pa?" ucapnya dengan menyuapi jambu kepada suaminya yang langsung diterima oleh suaminya.
Melihat itu membuat Fiola melongo karena secepat itu berbaikan. Tadinya aja ngegerutu sekarang sudah saling suap. "Jangan kaget dengan tingkah mereka. Kamu bakalan setiap hari melihatnya jadi kuatkan iman mu" bisik Chan yang menyadari pikiran Fiola.
Mendengar itu membuat Fiola menatap Chan penuh tanya dan Chan mengangguk. "Maka dari itu aku jarang ada dirumah dan lebih senang di apartemen. Karena kalau dirumah yang ada aku malah seperti obat nyamuk" ucap Chan membuat Fiola terkekeh.
"Khemm,!!" ucap pak Surat yang datang dengan pakaiannya yang sudah rapi. Hanya baju berkerah dan celana kainnya yang sedikit lusuh. Dan disampingnya adalah istrinya.
Pandangan mata kembali menatap orang yang berdehem. "Batuk, pak?" tanya Papanya Chan yang menyerahkan air minum kepada pak Narasi membuat mereka melongo melihatnya.
Kini mereka sudah duduk diatas tikar dengan didampingi oleh rujak yang tinggal biji dari jambu nya. Dengan wajah dan mulut yang merah karena kepedasan.
"Jadi gini pak, saya selaku" ucapnya terpotong akibat menahan pedas di mulutnya. "Ayah dari Chan. Ingin melamar putri bapak, Fiola. Untuk menjadi istri anak kami Chan" ucap Papanya Chan yang mulutnya mangap-mangap menhan pedas di mulutnya.
Mendengar itu membuat Fiola terkejut dan menatap Chan dengan penuh selidik yang dibalas dengan anggukan kecil. "Saya tidak berhak memutusnya. Karena yang nantinya menjalankan nya adalah putri saya. Jadi untuk itu saya serahkan saja kepada Fiola" ucap Pak Chan dengan berusaha menahan gejolak di hatinya.
Sekarang mata dari Chan dan orang tua Chan menatap Fiola dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecuali Chan yang sejak tadi senyumnya tidak luntur.
Fiola yang dibebankan pun menatap kedua orang tuanya kemudian menatap kembali orang tua Chan dan juga Chan. Fiola bimbang dan takut serta tidak tau harus bagaimana. Namun, usapan tangan dari kedua orang tuanya membuat Fiola menganggukkan kepalanya.
"Yes!!!" ucap orang tau Chan yang memeluk anaknya yang masih terpaku dalam kelinglungan pikiran mencerna anggukan dari Fiola.
Sementara orang tua Fiola bingung karena seharusnya yang mengatakan 'yes' adalah anak mereka. Tetapi, ini malah orang tua mereka yang semangat.
"Jadi kapan pernikahannya?" ucap Bapak Surat membuat orang tua Chan melepaskan pelukan mereka.
"Secepatnya. Minggu depan juga bisa" celetuk mamanya Chan membuat semua orang yang mendengar nya melongo.
"Saya permisi dulu. Mau menelpon seseorang" pamit papa Chan yang diangguki oleh mereka semua.
"Begini, Bu. Kami Minggu depan ada pernikahan saudara. Bagaimana kalau akhir tahun saja. Karena kami juga harus memberitahukan kerabat dan mempersiapkan biayanya" ucap pak Surat membuat mamanya Chan berpikir sejenak.
"Terima kasih. Karena sudah bersedia menjadikan anak kami menantu sekaligus anak untuk kalian. Tapi karena ini pernikahan putri kami jadi izinkan kami juga ikut serta didalamnya" ucap Ibunya Fiola senang.
Mamanya Chan berdiri dan memeluk tubuh besannya. Sedangkan Si pelaku hanya menunduk dan terkadang saling pandang tanpa disengaja. Mereka berdua merasa canggung.
"Letakan saja disana" ucap Papa Chan yang mengundang perhatian mereka.
Orang berjas hitam dan bersejejer membawa hadiah atau seserahan untuk Fiola. "Hati-hati meletakkannya" instruksi papa Chan.
Melihat itu membuat tetangga Fiola menatap takjub kepada mereka. "Papa lagi ngapain?" tanya Mamanya Chan yang bingung dengan ide suaminya.
"Ini buat seserahan untuk acara lamarannya. Udah papa siapin. Masa iya kita meminang anak orang tidak bawa seserahan. Mama sih,,kerjaannya cuma ke aja." omel papanya Chan terhadap istrinya yang hanya menyengir cantik.
"Besan!!. Ini adalah seserahan dari kami." ucap Papanya Chan yang memeluk pak Surat dengan senang. Sedangkan pak Surat masih terpaku dengan kejadian barusan.
"Terima kasih, sekali lagi" ucap ibunya Fiola.
Mereka kembali duduk bersama dan membahas pernikahan anak mereka yang akan diadakan akhir bulan. Karena pada akhir bulan mereka akan berbulan madu. Sekiranya itulah yang mereka bahas penting karena sisanya yang mereka bahas adalah keseharian mereka.
Kini Fiola dan Chan sedang menjauhkan diri dari para orang tua. Mereka berdua berjalan kearah sawah yang berada tidak jauh dari rumah Fiola. Mereka merasa canggung setelah acara lamaran tadi.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Fiola yang membuka suaranya.
Chan menatap Fiola dari samping kemudian kembali menatap hamparan sawah yang luas "Kan aku udah bilang akan ke rumah kamu ngelamar pada waktu weekend" ucap Chan enteng.
Fiola menatap Chan yang ternyata juga menyapanya membuat Fiola mengalihkan pandangan nya. "Kamu cantik kalau pakai gamis. Seperti ini." ucap Chan membuat Fiola malu dengan telinganya yang memerah.
Melihat itu membuat Chan tertawa. "Kamu bullshing" ucap Chan membuat Fiola mendengus dan mencubit lengan Chan.
"Aku kesal banget sama kamu. Seenaknya saja datang ke rumahku terus ngelamar. Dan pernikahan?. Kita bakalan menikah akhir bulan lagi. Kamu mikir nggak?. Kita itu baru kenal. Kalau seandainya aku jahat terus morotin kamu gimana?!" kesal Fiola dengan tangan terus memukul Chan dengan brutal untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tapi tidak kan. Aku tau kamu orangnya baik. Aduh......aduh....." ucap Chan yang semakin membuat Fiola kesal.
"Ish,,,,,!!!" kesal Fiola membuat Chan menangkap tangan Fiola dan mendekatkan wajahnya terhadap Fiola. Dan tatapan Chan yang mengunci gerakan Fiola.
Tatapan mereka beradu saling menyelami satu sama lain mencari keindahan perasaan dari mereka. Chan secara perlahan mendekatkan wajahnya kepada Fiola dan tanpa disadari mata Fiola mulai tertutup sejalan dengan terkikisnya jarak diantara keduanya.
Brug....
Suara itu menyadarkan mereka membuat mereka terasa canggung. Chan dan Fiola saling menatap lagi kemudian mengalihkan pandangannya.
"Hwua......mbak Ola!!" teriak seseorang membuat Chan dan Fiola mencari asal suara itu. Namun, pandangan mereka tertuju pada lambaian padi yang bergoyang membuat Chan dan Fiola mendekatinya.
"Hiks....Mbak Ola. Gio jatuh" ucapnya membuat Fiola dan Chan yang melihatnya terpaku karena wajah dan tubuh anak itu sudah dipenuhi lumpur.
Sedetik kemudian mereka menertawakannya membuat anak kecil itu kembali menangis dengan keras.