
Chan yang melihat Fiola berbicara dengan seseorang membuatnya dengan cepat membeli minum.
"Ini minumnya" ucap Chan yang kemudian duduk di kursi depan Fiola.
"Mas, istrinya ngidam ya" ucap Mbak itu lagi membuat Chan tersedak air liurnya sendiri.
Sementara Fiola berusaha sabar mungkin dengan segala persepsi orang itu. "Iya mbak. Maklum lagi hamil muda" ucap Chan membuat Mbak itu semakin semangat untuk berbicara dengan Chan bahkan sampai dia menggeser kursinya.
Mendengar ucap Chan membuat Fiola menatap Chan tajam. Dan menendang kakinya. Membuat Chan meringis dan memamerkan deretan gigi nya.
"Tuh,,kan. Mbaknya ini pakai bohong segala. Saya ini peramal lho mbak." ucapnya dengan bangga namun pembicaraan mereka terpotong karena makanan pesanan mereka sudah datang. "Kalian makan saja. Saya pamit. Saya doa kan kalian langgeng terus ya" ucap Mbak nya itu lalu meninggalkan Chan dan Fiola dengan rasa sejuta kecanggungan.
"Mas, kenapa bilang kalau aku itu hamil sih. Aku masih single ya" protes Fiola kepada Chan membuat Chan kikuk. Karena Fiola protes dengan menekan garpu di piring dengan keras seolah ingin menusuk Chan menggunakan garpu tersebut ditambah dengan tatapan matanya yang membunuh.
"Iya,,,biar mbak nya itu berhenti ngomong. Udah jangan dipikirkan. Mendingan makan" lerai Chan memakan makanannya dengan terus diawasi oleh tatapan tajam dari Fiola.
"Lain kali aku nggak mau makan dengan kamu lagi" putus Fiola namun Chan tidak perduli karena saat ini perutnya lapar akibat aroma nasi padang yang kuat akan rempah-rempah.
Mereka makan dengan aura yang berbeda. Namun, tanpa mereka sadari ada banyak pasang mata yang menatap mereka penuh curiga.
"Mas, itu bukannya Chan. Temen kamu ya?" ucap Indah. Iya, Indah dan Bejamin sedang sarapan bersama di tempat yang sama dengan Chan namun jarak mereka duduk sedikit jauh.
"Mana sih?" tanya Bejamin dengan pandangan mengedar pada penjuru tempat. Dan matanya menangkap sosok wajah dikenalnya. Dengan perempuan yang terlihat membelakangi nya sehingga wajahnya tidak terlihat. "Iya, sayang. Itu beneran Chan. Dia makan dengan siapa?. Jahat nih, orang tidak curhat ke gue kalau lagi dekat dengan cewek" ucap Bejamin kesal yang hendak bangkit namun ditahan oleh Indah.
"Jangan, mas. Kasih mereka waktu untuk bersama. Nanti kalau udah waktunya pasti dia akan curhat kok" ucap Indah membuat Bejamin mengangguk dan kembali makan.
Gue akan minta PJ sebuah mobil pajero kalau si cunguk itu tidak curhat ke gue selama besok batin Bejamin dengan senyum liciknya.
Melihat senyum licik calon suaminya itu membuat Indah menatap tajam. "Mas, kalau kamu berbuat jahat kepada Chan. Aku nggak mau nikah sama kamu" ancam Indah membuat Bejamin ketakutan.
"Jangan dong, sayang. Iya aku tidak akan jahat dengan Chan, deh. Tapi jangan batalin juga dong sayang" ucap Bejamin memelas membuat Indah mengangguk.
Ketiga laki-laki yang dulu penakluk wanita bagai singa sekarang sudah menjadi tikus yang takut dengan singa betina. Memang seganas atau senakal apapun seseorang jika sudah menemukan yang cocok maka akan membuat mereka berubah.
Sementara di meja makan Chan sudah selesai makan dan bersiap untuk mengecek lokasi sekolah. "Kamu tidak membeli cemilan, La?" tanya Chan yang melihat disebrang jalan aja yang jualan beraneka makanan.
"Sudah kenyang, mas" ucap Fiola kemudian memasuki mobil di ikuti oleh Chan.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai pada lokasi yang dituju oleh Chan. Sebuah lahan kosong yang jauh dari hiruk pikuk suara transfortasi.
"Ini tempatnya, mas?" tanya Fiola yang melihat lokasinya dari mobil. Kemudian terbengong.
"Gimana, pas tidak?" tanya Chan membuat Fiola tersentak dari lamunannya.
"Gimana ya mas. Lahan ini kayaknya terlalu jauh dari rumah mereka. Mendingan kita cek lokasi yang didekat permukiman mereka aja?" ucap Fiola membuat Chan mengangguk kemudian memutar mobilnya untuk ke tempat tujuan Fiola.
Chan hanya menuruti perkataan Fiola yang sudah seperti sapi yang di cocok hidungnya. Nurut saja.
"Ayo kita turun" ajak Chan.
Mereka turun bersama dan mengambil sebuah keranjang belanja. Kemudian Fiola menyusuri bahan pangan.
"Kamu beliin mereka apa?" tanya Chan yang ikut dibelakang Fiola dengan membawa keranjang.
"Beli kebutuhan yang diperlukan mereka" ucap Fiola membuat Chan mengikuti mereka.
Namun saat hendak berbelok tanpa disengaja pandangannya bertemu dengan sosok yang baru-baru ini menempel dengannya. Karena tidak ingin ketahuan membuat Chan kembali pada rak yang sama.
Alamak, ada cilcomblang. Bisa bahaya kalau Fiola tau ketika sosok itu memanggilku ayah. Padahal diriku masih lajang. Batin Chan dengan berusaha berpura-pura memilih bahan makanannya.
"Mas?" panggil Fiola ketika tidak mendapati Chan dibelakangnya membuat Fiola mencari keberadaannya. "Mas, ngapain disana?" ucap Fiola yang melihat Chan berjongkok dengan terbengong.
"Eh,,,ini mau pilih gula yang bagus untuk mereka" gugup Chan dengan memamerkan gula ditangannya.
Fiola mengerjitkan dahinya bingung kemudian mengambil gula yang dimaksud Chan "Ini garam, mas. Kamu kenapa sih?" tanya curiga Fiola membuat Chan hanya tersenyum kaku.
"Sayang...." ucap Chan tanpa disengaja ketika melihat Fiola menyeret lengan bajunya.
Mendengar itu membuat Fiola berhenti dan menatap tajam kearah Chan. Fiola tidak suka dengan orang-orang yang sangat mudah mengatakan sayang padahal mereka baru kenal.
"Maaf keceplosan" ucap Chan menutup mulutnya dan memberikan tanda dua jari membuat Fiola menatapnya sinis.
Mereka akhirnya selesai berbelanja. Sejak tadi hati Chan tidak tenang. Karena melihat sosok Cilcomblang yang membuat jiwanya tidak tenang. Berharap untuk saat ini Tuhan selalu melindungi nya agar tidak ada malapetaka membuat langit runtuh.
Tapi memang Tuhan sedang memberkati hati Chan membuat mereka tidak bertemu mata dengan Cilcomblang tersebut.
Akhirnya mereka sampai juga pada tujuan mereka yaitu permukiman orang yang hidup menengah kebawah. Mereka disambut antusias oleh mereka terutama ibu-ibu dan anak-anak.
Mereka duduk di sebuah kursi yang melingkar sehingga membuat mereka mudah untuk bercengkrama dan menambah hubungan kekeluargaan.
"Ibu-ibu saya dengan teman saya. Membawakan bahan pangan untuk ibu-ibu. Nanti mohon mengantri untuk mengambilnya." ucap Fiola membuat mereka serempak menjawab 'iya' dengan senang hati.
"Neng, itu siapa ganteng banget. pacar, neng?" tanya salah satu ibu-ibu membuat suasana semakin ramai dengan argumen mereka.
"Bukan. Dia ini yang akan membangunkan sekolah untuk anak-anak. Dan kita sedang mencari sebuah bangunan yang bisa dijadikan sekolah" ucap Fiola membuat para ibu-ibu ber-oh-ria.
"Iya, ibu-ibu. Jadi saya mohon bantuannya dan kerjasama nya dalam pembangunan sekolah ini" ucap Chan membuat ibu semakin riuh. Apalagi wajah tampan nya membuat ibu-ibu takjub dan kagum dengan garis wajah yang bagai dewa Yunani.