
Sore hari ini Cira dan Rey sedang menuju ke rumah Andra dan Kerta. Karena sesuai dengan janjinya terhadap Cira. Hingga akhirnya Rey harus dengan cepat menyelesaikan pekerjaan. Tanpa sempat mandi dirumahnya. Karena Cira sudah tidak sabaran. Entah apa yang mereka janjikan sehingga Cira semangat sekali kerumahnya Andra.
"Mas?" ucap Cira yang menyandarkan kepalanya di bahu Rey yang sedang menyetir mobilnya.
Cira pun mengendus badan Rey dan dahinya mengerjit ketika mencium bau baju suaminya "Mas, kok bau parfum perempuan?" ucap Cira yang kembali memastikan bau parfum tersebut. "Iya ini parfum perempuan, mas?" ucap Cira pasti.
"Masa, sih. Mas tadi nggak ada dekat dengan perempuan, kok" ucap Rey membuat Cira bangkit lalu menatap Rey dengan tajam.
"Kalau nggak ada dekat. Terus kenapa bisa ada bau parfum perempuan" ucap Cira kesal dengan tangan bersidekap dada.
Rey berusaha mengingat kejadian hari ini. Dan menepikan mobilnya. Lalu menciumi baju nya. Bergantian dengan tubuh Cira. "Ini kan bau parfum kamu, sayang?" ucap Rey membuat Cira menatapnya. "Kamu lupa tadi pagi kamu larang aku pakai parfum aku. Jadi harus pakai parfum kamu" ucap Rey lagi membuat Cira mengingat nya lalu tersenyum.
"Tapi kok bau nya jadi gini?" tanya Cira membuat Rey menautkan alisnya bingung.
"Gini gimana. Kamu pakai nya gimana?" tanya Rey balik membuat Cira menciumi bau badannya sendiri.
"Aku malah bau minyak telon, mas?" ucap Cira dengan menyodorkan baju nya pada Rey.
Rey malah hilang fokus terhadap dada Cira yang terlihat membuatnya menelan salivanya. "Sayang" ucap Rey dengan suara berat membuat Cira kembali duduk di posisinya karena ia tau bahwa Rey sudah berubah dengan mata berkabutnya.
"Mas,.." ucap Cira lirih ketika Rey sudah mendekat kan wajahnya dengan wajah Cira.
Dengan cepat Rey sudah meraup bibir manis itu untungnya jalanan sepi jadi tidak begitu menganggunya. "Mas,," ucap Cira disela ciuman Rey dengan mendorong Rey.
"Kamu jangan begitu lagi, ya?. Apalagi ini sudah semakin besar saja" ucap Rey dengan meremas pelan buah mangga Cira membuat Cira terpekik akibat terkejut dengan tindakkan Rey.
Sementara Rey kembali mengecup singkat bibir itu. Dan mengelus rambut Cira "Mas, ih!" ucap Cira kesal mencubit lengan Rey.
Rey tertawa dengan melajukan mobilnya kembali dengan tangan mengusap perut Cira yang besar itu. Sementara Cira sedang makan buah yang sudah disiapkan tadi untuk perjalanan dengan sesekali menyuapi Rey.
Mereka akhirnya sampai dirumah Andra yang sudah disambut oleh Andra dan Kerta. Mereka para ibu berpelukan namun terhalang oleh perut besar mereka dan mereka tertawa karena merasa lucu dengan perut yang besar.
"Perut kamu makin besar saja" ucap Andra mengusap perut Cira.
"Iya kak. Bahkan aku sudah tidak kuat buat berjalan terlalu berat" ucap Cira mengusap perutnya. "Kak kapan lahirannya?" tanya Cira.
"Kata dokternya lagi seminggu lagi" ucap Andra dan mereka duduk di sofa.
"Ini stroler bayinya" ucap Rey yang membawa stroler bayi sesuai keinginan adiknya itu.
Mereka berbincang mengenai kehamilan masing-masing. Sedangkan para suami bermain game dengan asiknya.
Tanpa merek sadari malam pun tiba. Kini mereka sedang makan bersama di meja makan. "Tante, Cia nya kok tidak diajak?" tanya Aidan.
"Cia nya besok sekolah jadi tidak ikut" timpal Rey membuat Aidan mengangguk dan memakan puding susunya.
"Honey kenapa?" tanya Kerta ketika melihat istrinya meringis pelan.
"Tidak mas" ucap Andra dengan berusaha menahan gejolak di perutnya.
"Kamu tidak kenapa?. Kita ke rumah sakit aja?" ucap Rey yang khawatir dengan keadaan adiknya.
Namun, Andra menggelengkan kepalanya karena sakitnya sudah hilang. Memang sejak tadi perutnya terasa tidak nyaman. Kontraksi menyerangnya namun dengan jarak waktu yang jauh.
"Kak, mendingan kita ke rumah sakit aja. Siapa tau itu kontraksi, kak" ucap Cira membuat Kerta bangkit dari kursinya dan menatap istrinya.
"Honey,," ucap Andra tertahan dengan menahan rasa sakit yang kembali menyerangnya.
Melihat itu membuat mereka panik. Bahkan Aidan yang tadi makan dengan lahap sudah berlari ke kamarnya orang tuanya. Mengambil perlengkapan. Karena Andra sudah memberitahukan segalanya kepada Aidan jika Mamanya sakit perut mau melahirkan.
Kerta dengan segera memanggil supirnya untuk menyiapkan mobil untuk dibawa ke rumah sakit. "Kalian disini jaga Aidan ya." ucap Kerta membuat Rey dan Cira mengangguk.
Dengan cepat Rey memapah Andra untuk ke mobil karena Andra tidak ingin digendong. "Setelah mereka masuk kedalam mobil Rey menyerahkan peralatan yang sudah diambilkan oleh Aidan. Dan mereka langsung melesat menuju rumah sakit.
"Tante, mama mau melahirkan, ya?" tanya Aidan. Mereka sudah duduk di sofa.
"Iya sayang, Aidan mau adik apa?" tanya Cira membuat Aidan berbinar. Dia memang sangat senang dengan kehamilan mamanya. Karena ia bosan dirumah tidak ada yang diajak main.
"Iya Tante, Aidan pengen adik perempuan biar bisa di ajak bertengkar" ucap Aidan membuat Cira terkejut.
"Kalau mau bertengkar bukannya harus dengan adik laki-laki ya?. Kenapa Aidan ingin adik perempuan?" tanya Cira lagi.
"Nanti kalau adiknya cowok bakalan berebut Mama dengan Papa dan adiknya. Nah, kalau adiknya cewek kan Aidan nggak punya saingan" ucap Aidan membuat Rey dan Cira melongo mendengar nya.
"Lah, kalau cowok bisa diajak main bola, Ai" ucap Rey menimpali.
"Aidan nggak suka dedek cowok kalau sifatnya seperti Papa. Malesan, mau diajak main malah tidur" kesal Aidan dalam bercerita membuat Cira dan Rey tersenyum.
"Yaudah, apapun adiknya semoga Mama dan adiknya sehat dan selamat ngelahirin dedek bayinya" ucap Cira membuat mereka semua mengaminkannya.
Setelah menunggu beberapa jam. Bahkan Aidan tidak bisa tidur karena ingin Mamanya. "Tante, Aidan kangen Mama" ucap Aidan yang sudah merasa bosan bermain dengan Rey. Membuatnya ingat dengan mama dan papa.
"Mas, sudah telpon papa?" tanya Cira yang baru mengingat orang tuanya.
"Lupa sayang" ucap Rey membuat ia segera merogoh kantong celananya mencari keberadaan benda pipih canggih tersebut. Membuat Cira menggeleng kan kepala nya.
"Mas, kita ke rumah sakit aja, yuk. Kasian Aidan, mas." ucap Cira membuat Rey mengangguk.
Mereka akhirnya memilih untuk menghampiri Andra dan Kerta di rumah sakit. Karena kasihan dengan Aidan yang tidak bisa tidur. Dan Cira juga sudah menelpon keluarga Andra dan Kerta untuk memberikan kabar bahwa cucu mereka akan segera lahir.
Cira, Rey dan Aidan menyusuri rumah sakit sesuai dengan alamat yang dikirimkan oleh Kerta. "Sini sayang" ucap Rey yang melihat ruangan bersalin dari Andra.
Cira berjalan dengan tergopoh-gopoh seperti menyeret badannya untuk berjalan. Perut besarnya terasa mau meledak. Bahkan pegawai rumah sakit, pasien dan penunggu pasien yang mereka lewati merasa ngeri dengan Cira berjalan dalam keadaan perut besar.
"Mas capek" ucap Cira duduk di kursi tunggu depan ruangan Andra. Melihat itu membuat Rey tersadar akan keadaan istrinya.
"Ya Tuhan, sayang. Maaf kan mas ya" ucap Rey yang ikut duduk disamping Cira. Dengan Cira mengatur nafasnya yang sesak.
"Aidan kamu masuk dulu ya. Om mau ngejaga Tante Cira dulu" ucapnya pada Aidan yang sejak tadi mengikuti langkah mereka. Aidan mengangguk lalu langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
"Sayang maafin aku, ya. Mau minum?" tanya Rey yang kasihan melihat istrinya. Dia mengutuki kebodohan nya yang mengajak istri berjalan di rumah sakit ini.
Setelah nafasnya teratur, Cira mengusap perutnya yang besar itu "Mas haus" ucap Cira membuat Rey mengangguk dan pamit untuk membeli air.
Setelah kepergian Rey keluarga Kerta datang dengan wajah yang sulit dijelaskan antara khawatir dan bahagia. Dan berbarengan datangnya dengan Papa.
Belum sempat mereka bertegur sapa pintu ruangan terbuka menampilkan Aidan dengan wajah menahan tangisnya.
Membuat semua orang yang menunggu diluar terkejut. Dengan cepat Mama dari Kerta langsung memeluk cucu kesayangan nya yang menangis.