
Detak jantung Chan melaju cepat seperti lari maraton. Wajahnya begitu dekat dengan Fiola sehingga ia bisa melihat bulu mata yang lentik dengan hidung yang minimalis ditambah bibir yang menggoda ingin di cumbu apalagi sekarang Fiola sudah memejamkan matanya.
Cklek
Suara sabuk pengaman yang sudah terkunci membuat Fiola membuka matanya. Dan yang pertama kali dilihat adalah mata Chan yang memandangnya.
Melihat itu membuat Chan segera kembali pada posisi nya. Dan mengatur nafasnya. Sabar Chan bukan saat nya batin Chan mengingatkan dirinya.
"Kita mau kemana?" tanya Chan membuat Fiola merasa canggung.
"Ke taman jalan XX" ucap nya dengan tergugup.
Chan mengangguk dan melajukan mobilnya. Suasana didalam mobil terasa canggung dan sepi. Walau terkadang Chan melirik ke arah Fiola yang kini sedang memegang sabuk pengaman nya dengan erat dan pandangannya lurus ke depan.
Setelah melewati perjalanan yang canggung dan sepi kini mereka sudah sampai. Fiola turun dari mobil di barengi oleh Chan. Dan mengambil barang-barang yang dibawa Chan.
"Ini buat apa?" ucap Chan yang mengikuti langkah Fiola semakin masuk kedalam taman.
"Mbak Fio!!" teriak anak-anak yang berlarian menghampiri Fiola dan Chan.
Mereka mengerumuni Fiola dan Chan "Mbak Fio ini siapa?" tanya salah satu anak memandang kearah Chan dengan tatapan penuh tanya. Dan diikuti oleh yang lainnya.
"Ini Om Chan, Salim dulu?. Dia yang bawain ini makanan lho?" ucap Fiola membuat mereka semua mengerumuni Chan dan memberikan salim. Chan melongo dibuatnya.
"Terima kasih ya, Om" ucap semua anak-anak membuat Fiola tersenyum.
Mereka terdiri dari 10 orang 6 laki-laki dan 2 perempuan usianya sekitar anak sekolah dasar kelas 2 dan 3. Mereka tidak sekolah akibat orang tuanya tidak mampu untuk membiayainya. Sehingga Fiola berniat membantu mereka.
"Mereka siapa?" bisik Chan membuat Fiola merinding.
"Nanti aku jelasin" bisik Fiola kemudian menuntun anak-anak untuk duduk di pinggir taman dan membentangkan tikar piknik.
Chan merasa bingung, dia hanya mengikutinya saja apapun yang diperintahkan oleh Fiola. Seperti membentangkan tikar. "Om, pacarnya Mbak Fio, ya?" tanya salah satu anak yang mendekati Chan yang sedang duduk di taman dengan bertopang dagu.
"Kamu masih kecil, sudah ngomongin pacaran. Sekolah ya benar dulu" ucap Chan dengan mengacak rambut anak laki-laki yang bertanya kepadanya.
Chan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk membawakan sembako, dan uang, yang akan diberikan untuk anak-anak yang tidak sekolah ini.
"Mas,,bisa minta tolong, ambilkan air disana?" tunjuk Fiola pada wastafel air minum yang disediakan oleh pihak pemerintah.
Chan yang mendapat perintah dari Fiola langsung bangkit dan mengajak satu anak yang tadi bertanya untuk membantunya. "Om, mbak Fiola cantik, ya?" ucapnya membuat Chan menatap anak tersebut.
"Iya, Cantik. Kenapa?" tanya Chan dan mengarahkan botol minum ke keran air untuk diisi.
"Nanti kalau sudah besar, aku akan menikah dengan mbak Fio" ucapnya membuat Chan menatap anak itu tajam.
"Eh,,bocah ingusan. Kalau kamu sudah besar dan sudah dipastikan mbak Fiola itu bakalan sudah tua, tauk!" ngegas Chan membuat Anak itu tidak perduli dengan ucapan Chan.
"Biarin saja. Toh juga tua ataupun muda mbak Fiola tetap cantik" ucapnya membuat Chan geram.
"Ehehhe,," tawanya membuat Chan dengan cepat berlari meninggalkan anak itu. Sementara anak itu yang melihat Chan melesat dibuat melongo.
Om Chan kenapa lari seperti itu batin anak itu.
"Fiola. Anak itu kerangsukan" ucap Chan yang ngos-ngosan karena tadi berlari. Dan langsung duduk mepet dengan Fiola. Chan parnoan karena pernah menonton film horor tentang taman di pohon beringin.
Anak-anak yang melihat itu tertawa bahkan Fiola juga ikut menertawakan tingkah Chan. Dan anak yang tadi bersama Chan tersenyum melihat tingkah Chan yang ketakutan.
"Om..... Chan......" ucapnya dengan nada seram. Membuat Chan yang ketakutan langsung memeluk Fiola dari samping.
Padahal ini siang hari tapi karena parno membuat Chan takut sampai tubuhnya bergetar. Fiola yang merasakan tubuh Chan bergetar mengusap punggung nya "Sudah tidak ada apa-apa mas" ucap Fiola membuat Chan yang menelusup kan kepalanya di ketiak Fiola mendongak hingga mata mereka bertemu.
Namun, karena malu baik Chan maupun Fiola sama-sama memutuskan kontak mata mereka. Dan kini mereka terasa canggung.
"Enak ya, Om. Belum muhrim sudah main peluk-peluk aja" ucap Anak yang tadi membuat Chan ketakutan.
"Dasar bocah" ucap Chan melemparkan keripik kearah anak yang mengejeknya dengan tertawa.
"Ayo,,kita berdoa sebelum makan" ucap Fiola membuat mereka duduk dengan rapi.
Sudah biasa bagi Fiola untuk membagikan sedekah untuk anak-anak yang bekerja. Karena dia sendiri tidak mampu untuk membantu menyekolahkan mereka jadi dengan sedikit membantu mereka untuk mengisi tenaga mungkin sedikit berguna.
Setelah selesai berdoa mereka makan diisi dengan canda dan tawa. Chan dan Fiola juga ikut makan walau sesekali mereka saling lirik.
"Kalian tidak sekolah?" tanya Chan. Ketika mereka sudah selesai makan bersama.
"Iya, Om. Karena orang tua kami tidak punya biaya" ucap salah satu anak perempuan. Membuat Chan mengangguk.
"Bos!!!" teriak anak buah Chan yang sedang membawa perlengkapan sesuai apa yang diinginkan oleh bosnya.
Anak buah Chan yang datang sebanyak 10 orang untungnya mereka berpakaian santai jadi tidak terlalu menarik perhatian di taman tersebut.
"Om mereka siapa?" tanya perempuan itu lagi.
"Itu anak buah, Om." ucap Chan yang melambaikan tangannya untuk menyuruh anak buahnya mendekat.
Anak-anak merasa senang melihat banyaknya bahan pangan dan juga buku serta pakaian yang baru. Fiola yang melihat itu hanya terbengong saja.
"Masing-masing ambil dua tas, ya. Satu pakaian dan buku yang tas satunya lagi berisi bahan makan. Nanti sepulang dari sini kasih ke orang tua kalian. Dan Om juga sudah mendaftar kan kalian disekolah yang Om kelola" ucap Chan membuat semua anak bersorak bahagia dan berhamburan memeluk Chan.
"Terima kasih banyak, Om" ucap anak itu semua dalam pelukan Chan.
Fiola yang melihat itu tersenyum senang. Pandangan Chan dan Gila bertemu membuat mereka berdua tersenyum penuh arti. Dan tatapan Fiola seolah mengucapkan terimakasih.
Hari ini Chan tau bahwa ternyata tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terkadang Tuhan hanya memberikan apa yang kita butuhkan saja.
Baru dua kali bertemu dengan Fiola dirinya merasa diajak ke alam lain untuk melihat luasnya dunia.