
Hari ini semua pekerjaan yang dilakukan Chan dan Rey sudah selesai. Membuat mereka sangat senang dan buru-buru memesan tiket sekarang juga untuk kembali ke rumah hati mereka.
Bahkan Chan sudah sejak tadi senyam-senyum memandang kertas ditangannya. Coretan di dalam kertas itu seolah menari mengiri lantunan musik dari mulut Chan yang bersiul-siul.
"Yes,,,pulang!!" teriak Chan membuat Rey yang disampingnya memandang curiga terhadap Chan yang tidak seperti biasanya.
"Lo kesambet, ya??" ucap Rey penuh selidik. Membuat Chan mengedikan bahunya. "Lo udah pesan tiketnya kan?" tanya Rey lagi membuat Chan mengangguk.
Kemudian mereka merapikan kopernya dan bersiap ke bandara tanpa menunggu lagi. Ini yang dinamakan rindu. Membuat mereka dengan cepat ingin pulang.
"Akan aku habisi kamu sayang" gumam Rey yang memandang foto Cira.
Sedangkan Chan memandang no telepon seseorang. Membuat senyum di wajahnya tidak pernah pudar. "Selamat bertemu kembali, pujaan ku" gumam Chan.
Mereka berdua seperti anak yang baru mengenal Cinta sehingga membuat mereka menjadi gila.
"Lo udah bawa oleh-oleh nya kan?" tanya Rey membuat Chan mengangguk.
"Tenang bro itu yang terpenting" ucap Chan membuat mereka kembali kepada pikirannya masing-masing.
Mereka sekarang sudah sampai di negaranya sendiri dan bergegas pulang karena hari sudah malam sudah pasti semua sudah tidur.
Terutama Rey yang sudah tidak sabar. Rey memasuki rumah yang sudah sepi. Untungnya tadi sudah memberitahukan mbak Ijah untuk memberikan pintu rumah kepada satpam agar lebih mudah.
Rey mandi dikamar mandi bawah, kemudian dia masuk kedalam kamar dan dilihatnya Cia tidur dengan Cira. Kemudian Rey memindahkan Cia di kamarnya.
Rey mengecup pelan pipi Cia kemudian meninggal kamarnya untuk masuk kedalam kamar Cira.
Rey ikut berbaring disamping Cira dan memeluk nya erat dengan mengendus bau yang sangat dirindukan oleh Rey.
Mendapat perlakukan itu membuat Cira menggeliat dan membuka matanya. "Tangan?" ucap Cira dengan segera membalikan tubuhnya.
"Rey!!" pekik Cira yang memeluk erat tubuh yang dirindukan nya.
"Ssstttt. Nanti mereka bangun" ucap Rey kemudian memeluk Cira erat dan mereka tertidur.
Pagi menyerang bumi. Langit sedang cerah, secerah wajah Chan yang bangun pagi dengan senyuman di wajahnya. Ia sudah siap dengan pakaiannya
"Hallo?. Hari ini jadi kan kita bahas sekolah untuk anak-anak" ucap Chan yang menuruni dengan telepon terpatri di telinganya.
"Baiklah kalau begitu aku jemput?" ucap Chan dengan senyuman manisnya. "Baiklah, sampai berjumpa nanti" akhir Chan.
Tingkah Chan tak lepas dari pandangan kedua orang tuanya yang bertanya-tanya. "Kamu sehat nak?" tanya Mama Chan yang khawatir dengan anaknya yang kemarin malam pulang kerja sekarang paginya seperti kemasukan bidadara dari khayangan.
"Sehat, ma." ucap Chan yang memakan roti yang sudah disiapkan mamanya. "Aku berangkat sekarang ya, ma. Mau ketemu seseorang dulu" ucap Chan dengan mencium pipi mamanya dan papanya membuat orang tuanya saling pandang heran dengan tingkah anaknya.
"Pa, itu anak kita atau anak nya mbak icem?" ucap Mamanya yang heran sampai mengatakan Chan anaknya mbak icem yang notabene nya adalah seorang janda tua yang kehilangan anak dan suaminya ketika menaiki pesawat terbang.
"Hus,,mama ini. Iya, anak kita lah. Kamu lupa dia susah didapatkan dan mahal. Kita harus ke luar negeri dulu baru itu anak mau berkembang biak." ucap papanya membuat mamanya tertawa.
"Becanda, Pa." ucap Mamanya Chan yang duduk disamping suaminya dengan memberikan senyuman yang sangat manis.
Chan keluar dari rumah sampai memasuki mobil dengan mulut yang bersiul bahagia dengan tangan memutar-mutar kan kunci mobil di jari telunjuknya.
"Selamat pagi Aden Chan" ucap sopir pribadi papa Chan yang sedang menyiapkan mobil untuk papanya.
"Selamat pagi, juga pak" ucap Chan dengan senyum lebarnya. Membuat sang supir bingung dengan tingkah Chan yang seolah ketika di lewat ada taburan bunga dan klip-klip bintang bertaburan.
Sementara dirumah Chan sedang bingung dengan tingkah anak mereka. "Kenapa, mang?" ucap papa Chan yang menghampiri sang supir yang memandang bingung kearah pagar rumah.
"Itu, Aden kenapa ya, pak?" ucap Sang supir membuat Papa dan mama Chan tersenyum.
"Dia lagi jatuh cinta, mang" ucap Mamanya Chan membuat sang supir mengangguk.
"Pantesan aja tadi waktu lewat auranya beda banget kayak ada bunga bermekaran ditambah dengan klip-klip bintang, Bu" ucap sang supir membuat orang tua Chan tertawa kemudian memasuki mobilnya dengan diikuti oleh sang supir.
Chan melajukan dengan santai hingga kemacetan melandanya membuat mulut yang tadinya bersiul merdu dan bahagia kini berbusa oleh umpatan.
"Bang*sat" umpat Chan ketika macet membuat waktunya bertambah lama. Karena ada kecelakaan beruntun di persimpangan jalan membuat jalanan menjadi macet.
Hingga beberapa menit kemudian jalanan sudah mulai berjalan walau hanya sedikit tapi setidaknya dapat berjalan.
Setelah melewati macet tersebut dengan cepat Chan menambah laju kendaraan nya supaya cepat sampai.
"Maaf nunggu lama, ya?. Tadi macet ada kecelakaan" ucap Chan pada seseorang yang kini sudah berdiri di halte bis.
"Tidak kok. Aku juga baru sampai. Tadi harus bantu bapak menata buah di gerobak nya" ucapnya kemudian memasuki mobil Chan. "Kemana kita sekarang?" tanyanya lagi.
"Kita cek lokasi tempat yang mau dijadikan sekolah" ucap Chan membuat orang yang duduk disampingnya mengangguk. "Pakai sabuk pengaman nya" ucap Chan.
"Eh,,maaf" ucap orang itu kemudian memasang sabuk pengaman nya.
Chan melajukan mobilnya meninggalkan halte bis tersebut. Keadaan didalam mobil sunyi tidak ada yang berbicara. Namun, mulut Chan terasa gatal ingin berbicara.
"Kamu sudah makan, La?" tanya Chan membuat Orang yang tadi memandang kearah luar kaca mobil menjadi menatap Chan.
"Sudah, tadi dirumah"Ucap nya membuat Chan memutar otak nya.
"Temani aku sarapan dulu tidak masalah kan?. Aku tadi belum sempat sarapan" ucap Chan membuat Fiola mengiyakan nya.
Hati Chan berbunga ketika Fiola mau diajak menemaninya sarapan. Chan berhenti ditempat biasanya dia sarapan yaitu di restoran nasi padang.
Melihat itu membuat alis Fiola mengerjit karena nasi Padang tidak cocok untuk sarapan bagi orang kaya seperti Chan yang seharusnya sarapan di restoran dengan menu breakfast.
Melihat keterbingungan dari Fiola membuat Chan mengerti "Kamu heran ya mengapa kita berhenti dirumah nasi Padang?. Karena saya tidak bisa sarapan hanya dengan sepotong roti dengan susu ataupun kopi." ucap Chan membuat Fiola tersadar dan mengangguk.
"Ayo keluar saya sudah sangat lapar" ucap Chan lagi membuat Fiola turun dari mobil dan mengikuti Chan yang memasuki rumah makan tersebut.
"Kamu yakin sudah sarapan?" tanya Chan membuat Fiola mengangguk. "Tapi saya tidak bisa makan hanya sendiri. Jadi saya akan pesankan kamu juga" ucap Chan membuat Fiola merasa tidak enak.
"Tidak usah. Saya sudah makan tadi, mas" ucap Fiola namun tidak di perdulikan oleh Chan yang kini sudah menarik tangan Fiola untuk duduk di kursi yang disediakan.
"Kamu mau minum apa?" tanya Chan.
"Saya air putih aja, mas" ucap Fiola membuat Chan mengangguk kemudian berdiri dan mengambilkan minuman untuk dirinya dan juga Fiola.
"Mbak, suaminya ganteng dan perhatian sekali sih!" ucap seseorang di samping meja mereka. Membuat Fiola tersentak kaget.
"Dia bukan suami saya. Dia...."belum selesai Fiola berucap sudah disanggah oleh orang itu.
"Serempet terus mbak." ucap orang itu lagi dengan senyum jahilnya membuat Fiola menyatukan alisnya kemudian menggeleng melihat tingkah ibu yang berbicara padanya.