
Fiola tidak sadar dengan ucapannya itu. Hingga beberapa detik baru tersadar ketika Chan sudah menyeretnya.
Samar-samar Fiola mendengar teriakan dari Cira membuat kebingungan semakin melandanya. Bahkan sekarang mereka sudah keluar dari perumahan. Suasana hening masih menyelimutinya. Fiola menumpu kepalanya pada tangan yang ditekuk dan bersender di pintu mobil.
Kepalanya terlalu pusing memikirkan orang disampingnya. Padahal mereka tidak dekat. Hanya beberapa kali pertemuan saja. Namun, sudah dengan berani membuat kepala Fiola pusing.
"Tunangan dengan siapa?" tanya Chan membuat Fiola tersentak.
"Ah??"Tanya Fiola yang tidak mendengar jelas perkataan dan maksud Chan.
Chan menghela nafas dengan pelan dan dalam "Kamu mau tunangan dengan siapa?" tanya Chan yang sedang berusaha untuk bersabar.
"Tunangan? siapa?" tanya Fiola balik yang merasa bingung dengan perkataan Chan.
"Katanya dirumah ada acara pertunangan. Dengan siapa kamu tunangan?" tanya Chan membuat Fiola ber-oh-ria.
"Itu saudara besok mau tunangan. Kenapa?" tanya Fiola balik.
Chan merasa bahwa hal ini bisa saja terjadi entah kapan jika tidak saatnya dia mengungkapkan hal yang sebenarnya tentang dirinya dan statusnya agar nanti tidak terjadi hal seperti ini lagi. Dan buruknya kemungkinan nanti Fiola akan di jodohkan dengan orang lain.
"Fi,,,?" tanya Chan membuat Fiola menatap Chan.
Mobil mereka berhenti di pinggir jalan untuk memudahkan mereka untuk berbicara. "Fiola, aku mau ngomong serius sama kamu" ucap Chan membuat Fiola mengangguk. "Cia itu bukan anak aku. Dan Cira itu juga bukan istriku. Aku tau kamu pasti salah paham dengan hal ini. Cia itu anak dari bos aku dan Cira. Cia memanggilku ayah karena dia sedang dalam misi" potong Chan karena tidak ingin menghancurkan misi Cia yang ingin mendekatkan mereka.
Mendengar itu membuat Fiola mengerjitkan dahinya bingung "Misi apa?" tanya Fiola.
"Untuk saat ini aku tidak akan memberitahukan mu. Mungkin nanti pasti akan aku beritahu" ucap Chan membuat Fiola mengangguk. Karena mungkin itu masalah keluarga nya. Jadi, untuk apa dirinya ingin tau.
"Jadi kamu tau kan bahwa aku ini adalah seorang single bukan duda atau apalah itu." terang Chan membuat Fiola mengangguk. "Fi,,,?" tanya Chan lagi membuat Fiola menatap mata Chan.
"Aku tau ini terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa tau kemana aku akan berlabuh. Jadi mau kah kamu menikah dengan ku?" tanya Chan spontan membuat Fiola termangu dalam bingungan.
"Ah?" ucap Fiola membuat Chan menghela nafas.
"Aku tau ini bukan hal yang romantis karena melamar mu di dalam mobil tanpa membawa bunga dan cincin. Tapi aku serius dengan lamaran ku, Fi. Secepatnya aku dan keluarga ku akam ke rumahmu" ucapan Chan membuat Fiola menjadi semakin bingung dengan ucapan dan tingkah Chan.
"Kamu ngelamar aku?"tanya Fiola yang menangkap maksud dari Chan yang sejak tadi dirinya tidak mengerti.
Chan mengangguk dengan semangat. "Tapi aku tidak menerima tolakan!" ucap Chan membuat Fiola tidak terima.
"Mana ada begitu. Begini ya bapak Chan. Saya senang dan bangga dengan keberanian bapak untuk mengungkapkan dan melamar saya. Tapi, saya masih mau mengejar mimpi saya. Lagian, saya sama bapak itu tidak cocok" terang Fiola membuat Chan sedikit sedih namun dalam secepatnya mengubah ekspresi nya menjadi biasa saja.
"Dalam hal apa saya dan kamu tidak cocok?. Kalau masalah mengejar mimpi kamu bisa mengejar mimpi sesudah menikah" ucap Chan membuat Fiola terkejut dan berpikir.
"Saya miskin dan bapak kaya. Jadi keluarga dan kita tidak cocok pak"ucap Fiola pelan membuat Chan menatap Fiola tajam.
Fiola yang ditatap begitu menundukkan kepalanya karena tatapan tajam Chan seakan menusuknya.
"Kalau itu yang menjadi permasalahan nya. Saya akan perkenalkan kamu dengan ibu saya" terang Chan melajukan mobilnya membuat Fiola menatap Chan tidak percaya.
"Pak?. Chan!."ucap Fiola yang khawatir karena Chan sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
Mendengar teriakkan Fiola membuat Chan memelankan sedikit kecepatan mobilnya."Kamu ini apa-apaan, sih. Bawa mobil seperti itu. Pantas saja kemarin hampir nabrak." omel Fiola dengan kesal. Namun, membuat Chan menyunggingkan bibirnya keatas.
"Kenapa panggil saya bapak?.Kemarin kamu panggil saya Mas?" ucap Chan membuat Fiola mendengus.
"Karena kamu adalah ayah dari murid saya" ucap Fiola dengan santai.
"Kan saya sudah kasih tau kalau saya itu bukan ayahnya Cia. Jadi kamu harus panggil saya MAS"ucap Chan membuat Fiola mendengus.
"Tetap saja, kamu adalah bapaknya Cia" ucap Fiola tidak mau kalah dengan perdebatan mereka.
Chan menyunggingkan senyuman. Ide jahil Cia meluncur bebas di pikiran "Baiklah, bundanya Cia" ucap Chan dengan nada menggoda. Mendengar itu membuat Fiola menatap Chan tajam.
Namun, belum sempat protes mobil yang dikendarai mereka sudah berhenti di rumah yang mewah dan modern. Dan terlihat didepan teras seseorang sedang menyiram bunga dengan daster dan rambut yang disanggul.
"Ayo turun?" ajak Chan membuat Fiola menatap Chan kembali dengan tatapan sedikit takut.
Chan turun dan membukakan pintu untuk Fiola "Ayo turun. Tidak apa-apa" ucap Chan menenangkan membuat Fiola menarik nafasnya dalam kemudian turun.
Chan mengajak Fiola kepada orang yang menyiram bunga itu "Mama?" ucap Chan membuat mamanya menatap Chan dan Fiola dengan tatapan bingung.
Sebenarnya mamanya Chan tau kalau anaknya datang dan dirinya lagi malas aja menyapa anaknya itu. Tapi mamanya tidak tau kalau anaknya membawa anak gadis. Membuat Mamanya Chan sedikit bingung karena kagetnya.
"Siapa?" tanya mamanya Chan entah kepada siapa. Namun, Chan menatap mamanya jengah. Karena sedikit kemungkinan mamanya itu tidak tau apalagi kemarin bertemu dan mengobrol di pernikahan Bejamin dengan Cia dan Bejamin.
"Mama jangan sok tidak tahu deh,,, Keliatan banget bohongnya" gerutu Chan melihat tingkah mamanya.
"Ya,,,kan. Biar kerasa view nya" ucap Mama Chan. Sedangkan Fiola hanya melihat interaksi anak dan ibu itu dengan tatapan bingung.
Chan memutar bola matanya malas. "Justru mama, bikin Fio takut" ucap Chan membuat mama Chan menatap Fiola dalam.
Fiola yang ditatap merasa kikuk "Santai saja sama mama. Ayo,,,kita masuk. Mama sudah buat kue bolu buat kalian" ucap Mama Chan yang kini menggandeng tangan Fiola masuk ke rumah meninggalkan Chan dengan wajah cengonya.
"Mama,,,,Chan kok ditinggal!!" rengek Chan yang berlari menghampiri mamanya. Sedangkan mamanya tidak perduli dengan Chan dan justru mengobrol manis dengan Fiola yang hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jadi kapan?" tanya papa Chan yang turun dari lantai dan melihat anak, istri dan calon mantunya.
Chan yang tau maksud orang tuanya tersenyum "Weekend, pa" ucap Chan membuat papanya tersenyum. Sedangkan mamanya sudah sangat tersenyum lebar dengan langkah cepat membawa nampan berisi kue dan jus kehadapan mereka.
Kini mereka duduk di ruang keluarga dengan Fiola yang merasa malu, kikuk dan hanya tersenyum dan berbicara ketika diajak berbicara.