Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Oma Ida


Masih betah berdiam di mobil karena ke kepoan Cira yang dalam akan kehidupan Cia membuat Rey tersenyum jahil "Ayo lanjutin nanggung" cerca Cira agar Rey melanjutkan ceritanya.


"Cie.....kamu perhatian banget sama hidup aku, jadi pengen ajak nikah aja." ucap Rey menjawil dagu Cira membuat Cira segera menepisnya lalu turun dari mobil dengan masih menggendong Cia.


"Eh,,Cia nya jangan di bawa Ra!" ucap Rey segera ikut turun dari mobil.


Cira yang baru menyadari hal tersebut sontak berdiam diri lalu memandang Cia yang kini sudah mulai terusik akibat goncangan Cira yang tadi sempat berlari.


"Daddy,,, Cia terbang" ucapnya karena merasa kakinya tidak menyentuh tanah dan badannya terasa melayang. Karena masih di alam bawah sadar dan ditambah dengan mimpi terbang. Lengkap sudah penyambungan mimpi dan kenyataan tersebut.


"Sssttt, bobok lagi ya Cia" ucap Cira menenangkan Cia. Namun bukannya kembali terlelap tapi malah mata terbuka lebar membuat Cira tersenyum geli melihatnya.


Setelah dari mengantarkan Cira kerumahnya ditambah dengan Cia yang ingin menginap disana harus di rayunya karena tidak enak dengan keluarga Cira ya...walau keluarga sudah pasti tidak keberatan akan Cia menginap tetapi tidak enak aja rasanya.


Dan untungnya Papa telepon dan memberitahu bahwa Oma Ida akan datang membuat Cia mengurungkan niatnya untuk menginap dirumah Cira.


#####


Tanpa terasa kini mentari sudah bersinar lagi dari ufuk timur dan bersiap untuk menyinari umat manusia dalam aktivitas. Seperti saat ini masih pagi Cia sudah ribut-ribut ingin segera ke bandara menjemput Oma Ida. Padahal Oma Ida baru sampainya jam 10 pagi.Ini mah....alasannya saja biar tidak kesekolah.


Akhirnya perdebatan mereka dimenangkan oleh Papa dan dengan terpaksa dan sedikit bumbu merajuk dari Cia akibat ketahuan akal bulus.


"Yuk berangkat" ajak Papa. Tapi Cia tak menanggapi karena sedang merajuk pada Papanya.


Rey akhirnya datang dengan pakai sudah rapi bersiap untuk kekantor. Rey yang melihat hal tersebut dan tersenyum saja.


"Wah...anak Daddy cantik banget" rayu Rey membuat Cia yang dipuji langsung melayang dong. Maklum saja mood anak kecil kalau dipuji akan segera hilang rasa kesalnya apalagi kalau dikasih mainan pasti langsung pasang wajah segembira mungkin sampai matanya keluar bling-bling.


"Makasi Daddy. Papa yang ikat" ucapnya tersenyum bangga. Nah...itu aja udah baikan sampai pasang senyum manis.


"Owh...pantesan. Tapi Cia nggak mau berangkat sama Papa? Kan udah di ikat rambutnya sampai jadi cantik gini. Kasian Papanya nanti telat. Sana gihh ...minta maaf sama Papa karena udah Cia marahi tadi" nasehat Rey yang membuat Cia segera menghampiri Papanya dan memeluk bahkan mencium pipi Papanya.


"Maafin Cia ya Pa" ucap Cia yang diangguki oleh Papa dan mendapatkan ciuman di pipinya.


"Yaudah, Yuk berangkat nanti telat lagi Cia ke sekolahnya" ajak Papanya dan segera menggendong Cia berjalan kearah mobil.


Sebelum mobil mereka melaju, Rey keluar dari rumah dan bersiap untuk pergi ke kantor. lalu melambaikan tangannya kearah Cia dan Papanya yang sudah melaju untuk berangkat kesekolah TK Cia.


Rey masuk ke mobilnya dan melaju pergi meninggal rumahnya menuju ke tempat ia bekerja mengadu nasib.


Setelah beberapa menit akhirnya Rey sampai di sebuah perusahaan. Seperti biasa Chan akan selalu berada didepan lobby dan menyampaikan aktivitas Rey hari ini dari meeting, Cek laporan dan tanda tangan sampai datang ke lokasi.


Tanpa dirasa mentari sudah berada di pucuk kepala. Saat sedang mengecek laporan sebuah telepon mengintruksi untuk segera dijawab.


"Hallo? Kenapa Pa?" tanya Rey pada disebrang sana.


"Kamu segera pulang, Oma Ida udah sampai dirumah" ucap disebrang


"Baik Pa, sekalian makan siang juga" ucap Rey yang bergegas merapikan meja kerjanya.


Rey segera keluar dari kantornya melalui jalan keluar masuk khusus petinggi agar tidak menggangu karyawannya.


Setelah memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang dan tak lupa Rey mampir ke supermarket untuk sekedar membeli buah sebagai tanda maaf karena tidak bisa menyemput Oma Ida dibandara tadi.


Akhirnya Rey pun sampai dirumahnya yang sudah terdengar ocehan dari Oma. Sudah dipastikan makhluk yang ada disana sudah bersiap untuk pergi namun terhalangi oleh petuah Oma.


"Selamat datang Oma!!!" ucap Rey yang berlari kemudian memeluk Oma Ida yang sedang duduk di kursi sofa meminum teh dengan gaya orang barat.


Plakkk


Sebuah jitakan melayang tepat mengenai kening Rey. membuat Rey mengaduh. "Kamu ini kebiasaan, nanti Oma terkena virus gimana?!! kan kamu habis dari luar!!" ucap tegas Oma Ida membuat Rey hanya nyengir kuda saja. "Mandi dulu baru peluk Oma" ucapnya lagi.


"Iya Oma yang cantik tapi sudah keriput"ucap Rey segera berlari ke kamarnya supaya tidak mendapatkan geplakan dari Oma lagi.


"Kebiasaan. Begini kalau rumah tanpa perempuan semua pada berantakan nggak ada yang tertata rapi. Nggak Si Batu, nggak Si tengik semua pada milih jomblo. Seneng apa serba sendiri, padahal banyak cewek yang mau, malah sok jual mahal. Kalau gini terus kapan punya cucu lagi coba. Awas aja kalau sampai mereka nggak ada yang mau nikah, Oma jual mereka." gerutu Oma panjang lebar sembari kesana kemari melihat kondisi rumah seperti Intel yang siap menggerebek rumah mereka.


"Oma lagi apa?" tanya Cia yang baru keluar dari kamarnya untuk ganti baju yang melihat Omanya sedang merapin sebuah guci yang tergeser dari tempatnya.


"Lagi benerin ini" ucapnya, Cia langsung mengarahkan pandangannya kearah guci yang sudah benar posisinya.


"Kan itu sudah benar Oma. Ngapain dibenerin lagi?" tanya Cia membuat Oma memandang Cia.


"Cia, Oma nanya, Papa atau Daddy mu sudah ada yang punya pacar?" tanya Oma penasaran lalu masuk ke kamar Cia untuk membahas hal tersebut.


"Kalau Papa Cia nggak bolehin pacaran!. Daddy?? udah ada Mommy" ucap Cia membuat Omanya membelalakkan matanya terkejut akan ucap Cia.


"Mommy??. Siapa???" tanya Oma lagi yang kini makin serius.


"Itu Mommynya Cia Oma. Orangnya cantik, baik dan sayang banget sama Cia" ucap Cia dengan wajah berbinar senang."Dan Cia juga sayang banget sama Mommy. Oma tau nggak, Mommynya Cia itu punya kucing yang lucu banget!. Tapi Cia lupa namanya siapa. Pokok lucu dan imut tapi lebih lucu dan imutan Cia sih" ucapnya lagi dengan bangga mengakui dirinya cantik dan imut.


Oma didalam pikirannya sudah terbang jauh memikirkan setiap ucapan Cia. Dan sebuah ide aneh melintas di otaknya membuatnya tersenyum jahat.


"Oma jangan senyum gitu serem" ucap Cia dengan wajah takut, membuat Omanya tertawa. "Oma kenapa sih? Daddy!!!" takut Cia lalu segera keluar kamar dengan memanggil Rey.


Rey yang mendengar teriakan Cia segera memakai baju dan membuka pintu. Saat pintu terbuka terlihat wajah Cia yang ketakutan dan sudah menangis.


"Kenapa sayang??" tanya Rey yang menggendong Cia dan Cia membenkan wajahnya diceruk leher Rey.


"Takut. Oma kemasukan hantu" ucap Cia disela tangisnya. Rey yang mendengarnya langsung berjalan kearah kamar Cia.


Sementara Oma Ida bingung kenapa Cia tadi berlari ketakutan dan memanggil-manggil Daddy nya. Tak mau terjadi apa-apa dengan Cia, Oma memilih keluar dan tanpa terduga berbarengan dengan Rey yang ingin membuka pintu juga. Membuat mereka sedikit terkejut.


"Oma sadarkan??" tanya Rey yang menyelidiki Oma dari bawah sampai atas untuk melihat adanya pergerakan set*an yang Cia maksud.


"Oma sadar, kenapa?" tanya Oma melihat raut wajah Rey dan Cia yang bersembunyi dibalik ceruk leher Rey. "Itu Cia kenapa gitu??" tanya Oma lagi dan menyetuh punggung Cia membuat Cia menjerit ketakutan.


Oma melonggo melihat tingkah Cia yang tadi baik-baik saja tapi sekarang sudah menjerit ketakutan seperti itu. Ada apa?? ini batin Oma bertanya-tanya.